Saturday, September 15, 2012

Smart Parenting Reflection

Sebagai orang tua mungkin kita sering dibuat marah-marah, sering dibuatnya kesal karena anak-anak rewel, bikin rumah berantakan, berkelahi dengan adik/kakak. Kita mungkin juga sering kehilangan kesabaran karena anak-anak makannya lelet, "susah makan" dan menumpahkan air kemana2. Atau kita juga mungkin jadi naik pitam karena anak-anak disuruh mandi nggak mau, disuruh belajar ogah-ogahan, disuruh beresin mainan malah kabur. Tidak sekali mereka membuat kepala kita pusing bahkan mungkin karena berbagai macam ulah. Kita mungkin juga sering kecapeean karena baru pulang kerja mereka ngajak main, mintain bikinin ini itu... .... Tapi parents, semua itu tidak akan lama, karena anak-anak tak selamanya kecil Mereka tak selamanya menangis, Mereka tak selamanya bermain, Mereka tak selamanya membutuhkan kita. Suatu saat mereka akan melepaskan tangan kita saat kita mengenggam tangannya, menghapus ciuman kita sesaat stlh dia kita cium, menghindar saat dia kita peluk. Suatu saat mereka akan mandi sendiri, makan sendiri, tidur sendiri. Mungkin suatu saat teman lebih penting bagi mereka dan saat itupun kita hanya bisa merindukan. Nanti kita akan merindukan masa2 sulit dulu. Rindu ingin ngelonin mereka, rindu ingin memeluknya, rindu mendengar celotehanya. Biarlah hari ini kita lelah, karena kelelahan bersama kelucuan mereka itu lebih baik dari pada tak ada celotehan, tangisan, teriakan sama sekali di rumah kita..... Bersyukur, bersabar, mengasihi adalah kuncinya. Kelak Dia Sang Pencipta akan menambahkan berkat dan memberikan hikmat-Nya untuk memudahkan segala urusan kita sebagai orang tua yang diinginkanNya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pengkotbah 3:11) .

Tuesday, August 28, 2012

Quo Vadis Ibukota RI 2012

Pertama-tama saya ingin menyampaikan kalau blog ini tidak bermaksud membela siapa pemimpin dki jakarta berikutnya, namun muncul dari keprihatinan dari proses pilkada putaran kedua di kota terbesar / Megapolitan DKI Jakarta bahwa tetap saja terjadi isu SARA yang sangat fatal dan berpikir sangat sempit serta mengutamakan primordialisme. Ini ditandai dengan stereotype serta kenaifan seperti penggunaan simbol agama yang melambangkan "kesucian" dalam berpolitik pragmatis, serta proses penghancuran identitas keanekaragaman kebhinekaan dengan mendeskreditkan suku tertentu masih terjadi. Menafikan keragaman budaya yang menjadi kekayaan daerah Ibukota Jakarta ini juga sama bahayanya dengan pembiaran tanpa pengaturan yang jelas, dan tegas. Multikultur Megapolitan DKI Jakarta tidak berbeda dengan negara demokratis terbaik di dunia, yang menjadi best practice demokrasi yaitu Amerika Serikat dimana dengan masyarakat Amerika Serikat yang sangat cerdas dan elegant baik dari kalangan mayoritas dan minoritas secara berani mereka memilih Barack Obama sebagai President USA dari minoritas dan pertama kalinya presient kulit hitam pertama sejak Amerika merdeka lebih dari 200 tahun lalu. Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah sikap dan cara berfikir primordial bukanlah suatu ideologi yang patut, krn hanya mengutamakan golongan tertentu, kepentingan sesaat (dan sesat) tertentu, tentunya sangat berbahaya bagi indonesia. Mengapa hal ini menjadi isu dan keinginan kandidat tertentu untuk memenangkan persaingannya? Mari direnungkan bersama, quo vadis Jakarta dan quo vadis Indonesia.. Selanjutnya, ada link di bawah ini sebagai fakta aktual untuk memberi masukan terkait kredibilitas "calon pemimpin incumbent atau kuda hitam" yang Anda harapkan bagi Kota Megapolitan DKI Jakarta kedepan. Silakan Broadcast message ini guna memberi wawasan, mencerdaskan dan memberikan kesadaran pentingnya mengupayakan kehidupan kebhinekaan tunggal ika di tengah-tengah hiruk pikuk kesibukan masyarakat postmodern kota Megapolitan DKI Jakarta. http://m.jpnn.com/news.php?id=137445 http://us.m.viva.co.id/news/read/343700--isu-sara-di-pilkada-bawa-perpecahan

Wednesday, January 25, 2012

Kisah Sri Sultan Hamengkubuwono IX ditilang Polisi

Kisah ini sudah pernah ditampilkan pada berbagai situs website, tapi karena ceritanya sungguh menarik, sayang jika tidak di-share ke lebih banyak orang. Semoga menggugah hati banyak orang. (Demi kenyamanan membaca, tulisan yang aslinya sangat panjang ini kami persingkat dengan tak mengurangi maknanya).

Suatu pagi di pertengahan tahun 1960-an pada pukul setengah enam pagi, polisi muda Royadin yang berpangkat brigadir polisi, sudah berdiri dengan gagah di tepi posnya di kawasan Soko. Dari arah yang berlawanan dengan arus kendaraan lainnya, tampak sebuah sedan hitam berplat AB. Brigadir Royadin memandang di kejauhan, sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju ke arahnya. Dengan sigap, ia menyeberang jalan di tepi posnya. Tangannya diayunkan ke depan untuk menghentikan laju sedan hitam itu. Sedan tahun 50-an itu berhenti di hadapannya.

Saat mobil menepi, Brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat. "Selamat pagi! Boleh ditunjukkan rebuwes!" Pada masa itu, surat mobil masih diistilahkan rebuwes.

Perlahan, pria di dalam sedan menurunkan kaca samping secara penuh. "Ada apa, pak polisi?" tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget. Ia mengenali siapa pria itu. "Ya Allah... Sinuwun!" kejutnya dalam hati. Gugup bukan main, tapi itu hanya berlangsung sedetik. Naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna. "Bapak melanggar verboden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah!" Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Yogya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Setelah melihat rebuwes, Brigadir Royadin mempersilakan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan, namun Sri Sultan menolak.

"Ya... saya salah. Kamu benar, saya pasti salah!" Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggenggam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa. "Jadi...?" Sinuwun bertanya. Pertanyaan singkat, namun sulit bagi Brigadir Royadin untuk menjawabnya.

"Em... emm... Bapak saya tilang, mohon maaf!" Brigadir Royadin heran, Sinuwun tak juga memakai kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya. Jangankan begitu, mengenalkan dirinya sebagai pejabat negara dan raja pun, beliau tidak melakukannya.

"Baik... Brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya. Saya harus segera ke Tegal!" Sinuwun meminta Brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang.

http://m.andriewongso.com/artikel/aw_corner/4803/Reaksi_Sultan_HB_IX_Saat_Ditilang/#.Tx7Q_CxI-Co.facebook