Financial Habits (Kebiasaan Keuangan)
Dikemukakan di berbagai buku bahwa kebiasaan kita yang telah dilakukan terus-menerus akan menjadi karakter kepribadian kita. Orang yang baik keuangannya bisa dibilang adalah orang yang terbiasa dengan memanajemen keuangannya dengan baik. Karena itu kita dianjurkan menjalani kebiasaan keuangan yang baik tersebut.
Kebiasaan Keuangan yang baik seperti :
1. Menabung
Hanya dengan menabung kita menjadi tenteram kehidupan kita. Kita nyaman karena pengeluaran kedepan sudah ada di tabungan. Menabung adalah tangga menuju ke kemakmuran kita.
2. Cerdas berbelanja
Cerdas berbelanja yaitu menghindari belanja berlebihan, berbelanja sesuai dengan kebutuhan dan budget. Dengan Cerdas berbelanja kita dapat menabung lebih banyak sehingga ada cukup dana berlebih untuk berinvestasi.
3. Mencatat pengeluaran pemasukan
Mencatat pengeluaran adalah suatu metode untuk kita agar mudah mengendalikan pengeluaran kita. Kita dapat mudah melihat bagaimana pengeluaran kita pada suatu hari. Dengan pencatatan kita dapat melihat lebih detil setiap perputaran keuangan dan memperbaiki kebiasaan keuangan yang kurang baik.
4. Menghindari hutang
Hutang terutama hutang konsumtif dapat merugikan kita karena bunga hutang sangat memberatkan kita. Bunga kartu-kredit yang sering kita pakai berbelanja misal sebesar 3 % perbulan saja jika disetahunkan menjadi berbunga 36%. Bunga itu lebih tinggi daripada deposito bahkan investasi di pasar modal. Hutang ini harus dikendalikan untuk mewujudkan kondisi finansial yang baik.
5. Mengendalikan pengeluaran
Berbagai cara bisa dilakukan dengan mencatat pengeluaran. Sebagai contoh dengan sistem amplop sehingga kita tidak sembarangan dan disiplin memakai dana di mesin atm, kita dipaksa memakai dana di amplop pada sistem tersebut.
6. Menjaga keamanan finansial keluarga
Bisa dilakukan dengan menerapkan pembelian asuransi seperti asuransi jiwa serta asuransi kesehatan. Asuransi jiwa berfungsi melindungi keluarga dari kehilangan nafkah sumber penghasilan seseorang yang menjadi tumpuan keluarga jika dia meninggal dunia. Asuransi kesehatan berfungsi sebagai perencanaan resiko karena sakit dan pengganti nafkah karena pemberi nafkah tidak bisa bekerja saat sakit.
7. Berinvestasi
Berinvestasi ada berbagai macam cara bisa dengan membeli emas logam mulia, menabung di deposito, membeli reksadana dan saham. Komponen Investasi tersebut memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan serta resiko, sehingga tergantung daripada profil kita sebagai investor.
Dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan tersebut semoga kita dapat menuju kebiasaan finansial yang baik dan kita dapat menjadi pribadi yang lebih positif.
Article by: Arief Bachtiar,SKom, RPP®
Monday, August 22, 2011
Menyampaikan BAD NEWS kepada Tim Anda
Menyampaikan the Bad News Kepada Karyawan Anda
Siapapun bisa melihat kalau keadaan ekonomi dunia yang belum juga stabil di tahun ini sedikit banyak memberikan pengaruh untuk pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dalam negeri. Sampai dengan Januari 2009 sendiri, diperkirakan ada sekitar 20 juta pengangguran di seluruh dunia (ILO). Sementara di Indonesia sendiri jumlah pengangguran akan meningkat sebanyak 8.87% akibat krisis global ini.
Lay off atau pemutusan hubungan kerja seringkali jadi salah satu langkah strategi yang harus dilakukan perusahaan untuk tetap bertahan di dunia bisnis. Beberapa orang harus ´pergi´ demi efisiensi agar perusahaan tetap bisa hidup. Hal ini mungkin terjadi juga di perusahaan tempat Anda bekerja. Manajemen memutuskan beberapa orang bawahan Anda terpaksa harus ´dirumahkan´ akibat produktifitas yang tidak mencapai target dan pasar yang sedang tidak ´sehat´.
Sebagai atasan karyawan tersebut, Andalah yang pertama kali menyampaikan berita ini kepada mereka, sebelum langkah selanjutnya di lakukan oleh manajemen. Memang tidak ada cara yang baik untuk menyampaikan berita buruk. Namun sebagai leader yang sudah sepantasnya juga berperan sebagai good communicator, ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk meminimalkan dampak buruk akibat hal ini, sehingga walaupun mereka merasa kecewa karena telah mengalami pemutusan hubungan kerja, kekecewaan mereka tidak bertambah dengan cara manajemen dan Anda melakukan hal tersebut.
1. Pilihlah waktu yang tepat untuk menyampaikan berita ini.
Umumnya karyawan sudah bisa "mencium" kabar buruk yang akan disampaikan kepada mereka. Anda bisa menyampaikan berita ini pada akhir jam kerja ketika si karyawan sudah menyelesaikan pekerjaannya dan ketika kantor mulai sepi. Atau Anda juga bisa menyampaikan berita ini ketika jam kerja baru dimulai sehingga karyawan yang bersangkutan bisa membereskan beberapa pekerjaannya sebelum ia pergi.
2. Sampaikan berita tersebut dengan personal.
Panggilah karyawan satu-persatu walaupun manajemen memutuskan hubungan kerja dengan beberapa orang karyawan Anda. Keadaan ini akan memudahkan Anda untuk melihat reaksi karyawan yang bersangkutan sehingga penanganannya akan situasional.
3. Berikan penjelasan yang jujur dan jelas
Jangan menutupi hal yang sebenarnya terjadi. Jelaskan posisi perusahaan yang sesungguhnya, namun jangan memberikan informasi terlalu mendetail mengenai keadaan perusahaan yang menurut manajemen merupakan informasi classified. Hal terpenting adalah membuat mereka mengetahui dan memahami alasan diambilnya langkah pemutusan hubungan kerja tersebut.
4. Berikan kesempatan untuk bertanya.
Sebelum Anda menyampaikan berita ini, buatlah daftar pertanyaan yang mungkin ditanyakan dan berikan jawaban dengan cara yang tidak defensif. Sampaikan jawaban dengan penuh rasa empati dan simpati, bahwa Anda mengerti situasi yang merekasedang hadapi. Dua kata magic seperti "maaf" dan "terima kasih" adalah kata-kata yang harus Anda gunakan ketika menyampaikan berita ini.
5. Berikan hak mereka.
Untuk memudahkan masa transisi dan meringankan beban mereka, pastikan bahwa perusahaan memberikan hak mereka secara utuh sebagai karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja seperti uang pesangon yang proporsional dan benefit lainnya.
6. No public shaming.
Dengan cara apapun jangan mempermalukan karyawan yang mengalami pemutusan kerja, misalnya dengan membersihkan mejanya segera setelah berita tersebut disampaikan, langsung memutus akses telefon, atau mematikan komputernya sebelum yang bersangkutan kembali untuk membereskan mejanya. Jika hal tersebut memang prosedur yang harus dilakukan, berilah kelonggaran sedikit karena hal ini bisa mempermalukan si karyawan di depan rekan kerjanya.
Pemutusan hubungan kerja yang tidak dilakukan dengan benar dan cermat akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Karyawan yang merasa dirugikan bukan tidak mungkin menuntut perusahaan Anda sehingga masalah ini menjadi berlarut-larut. Karena itulah jangan pernah mengira bahwa masalah ini tidak perlu mendapatkan perhatian lebih dari manajemen dan Anda sebagai pemimpin karyawan tersebut.
Remember! :
Staf Anda juga manusia, punya rasa, punya hati, jangan samakan dengan mesin produksi. So be persuasive mendekati karyawan Anda.
Siapapun bisa melihat kalau keadaan ekonomi dunia yang belum juga stabil di tahun ini sedikit banyak memberikan pengaruh untuk pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dalam negeri. Sampai dengan Januari 2009 sendiri, diperkirakan ada sekitar 20 juta pengangguran di seluruh dunia (ILO). Sementara di Indonesia sendiri jumlah pengangguran akan meningkat sebanyak 8.87% akibat krisis global ini.
Lay off atau pemutusan hubungan kerja seringkali jadi salah satu langkah strategi yang harus dilakukan perusahaan untuk tetap bertahan di dunia bisnis. Beberapa orang harus ´pergi´ demi efisiensi agar perusahaan tetap bisa hidup. Hal ini mungkin terjadi juga di perusahaan tempat Anda bekerja. Manajemen memutuskan beberapa orang bawahan Anda terpaksa harus ´dirumahkan´ akibat produktifitas yang tidak mencapai target dan pasar yang sedang tidak ´sehat´.
Sebagai atasan karyawan tersebut, Andalah yang pertama kali menyampaikan berita ini kepada mereka, sebelum langkah selanjutnya di lakukan oleh manajemen. Memang tidak ada cara yang baik untuk menyampaikan berita buruk. Namun sebagai leader yang sudah sepantasnya juga berperan sebagai good communicator, ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk meminimalkan dampak buruk akibat hal ini, sehingga walaupun mereka merasa kecewa karena telah mengalami pemutusan hubungan kerja, kekecewaan mereka tidak bertambah dengan cara manajemen dan Anda melakukan hal tersebut.
1. Pilihlah waktu yang tepat untuk menyampaikan berita ini.
Umumnya karyawan sudah bisa "mencium" kabar buruk yang akan disampaikan kepada mereka. Anda bisa menyampaikan berita ini pada akhir jam kerja ketika si karyawan sudah menyelesaikan pekerjaannya dan ketika kantor mulai sepi. Atau Anda juga bisa menyampaikan berita ini ketika jam kerja baru dimulai sehingga karyawan yang bersangkutan bisa membereskan beberapa pekerjaannya sebelum ia pergi.
2. Sampaikan berita tersebut dengan personal.
Panggilah karyawan satu-persatu walaupun manajemen memutuskan hubungan kerja dengan beberapa orang karyawan Anda. Keadaan ini akan memudahkan Anda untuk melihat reaksi karyawan yang bersangkutan sehingga penanganannya akan situasional.
3. Berikan penjelasan yang jujur dan jelas
Jangan menutupi hal yang sebenarnya terjadi. Jelaskan posisi perusahaan yang sesungguhnya, namun jangan memberikan informasi terlalu mendetail mengenai keadaan perusahaan yang menurut manajemen merupakan informasi classified. Hal terpenting adalah membuat mereka mengetahui dan memahami alasan diambilnya langkah pemutusan hubungan kerja tersebut.
4. Berikan kesempatan untuk bertanya.
Sebelum Anda menyampaikan berita ini, buatlah daftar pertanyaan yang mungkin ditanyakan dan berikan jawaban dengan cara yang tidak defensif. Sampaikan jawaban dengan penuh rasa empati dan simpati, bahwa Anda mengerti situasi yang merekasedang hadapi. Dua kata magic seperti "maaf" dan "terima kasih" adalah kata-kata yang harus Anda gunakan ketika menyampaikan berita ini.
5. Berikan hak mereka.
Untuk memudahkan masa transisi dan meringankan beban mereka, pastikan bahwa perusahaan memberikan hak mereka secara utuh sebagai karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja seperti uang pesangon yang proporsional dan benefit lainnya.
6. No public shaming.
Dengan cara apapun jangan mempermalukan karyawan yang mengalami pemutusan kerja, misalnya dengan membersihkan mejanya segera setelah berita tersebut disampaikan, langsung memutus akses telefon, atau mematikan komputernya sebelum yang bersangkutan kembali untuk membereskan mejanya. Jika hal tersebut memang prosedur yang harus dilakukan, berilah kelonggaran sedikit karena hal ini bisa mempermalukan si karyawan di depan rekan kerjanya.
Pemutusan hubungan kerja yang tidak dilakukan dengan benar dan cermat akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Karyawan yang merasa dirugikan bukan tidak mungkin menuntut perusahaan Anda sehingga masalah ini menjadi berlarut-larut. Karena itulah jangan pernah mengira bahwa masalah ini tidak perlu mendapatkan perhatian lebih dari manajemen dan Anda sebagai pemimpin karyawan tersebut.
Remember! :
Staf Anda juga manusia, punya rasa, punya hati, jangan samakan dengan mesin produksi. So be persuasive mendekati karyawan Anda.
Perkuat Posisi di Masa Sulit
Perkuat Posisi di Masa Sulit
Dari hari ke hari, kita tak pernah dibuat lupa soal resesi yang sekarang ini tengah berlangsung. Media kian sering menjadikannya sebagai headline, lalu muncullah kekhawatiran itu: Apakah karier saya akan terpengaruh karenanya? Saat dihadapi dengan kemungkinan hilangnya pekerjaan, Anda punya dua pilihan. Entah itu membiarkan karier Anda dibayang-bayangi oleh rasa khawatir yang berlebihan atau justru memilih untuk menghadapi situasi tersebut dengan melakukan sesuatu untuk menghindarinya. Berikut beberapa sikap profesional yang perlu Anda rangkul agar untuk mempertahankan posisi Anda di perusahaan, bahkan menjadikan situasi buruk ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan karier dalam jangka panjang.
Tingkatkan Eksistensi
Begitu kemungkinan pemutusan hubungan kerja ada di depan mata, bisa jadi insting pertama Anda adalah diam atau bahkan “bersembunyi” dan berharap bila tidak terlalu menonjol, nama Anda tidak akan masuk dalam daftar kandidat yang akan di-PHK. Ini adalah taktik yang salah. Lagipula siapa sih yang lebih dipilih oleh perusahaan untuk diberhentikan? Karyawan yang dengan jelas-jelas menunjukkan bahwa ia telah melakukan beberapa hal penting untuk memberikan kontribusi kepada perusahaan atau si-siapa-namanya-itu yang seringkali membenamkan diri di kubikel dan sulit ditemukan saat hendak dimintai bantuan? Ya, Anda pasti tahu jawabannya. Jadi, hadiri semua rapat yang diselenggarakan dan berpartisipasilah dalam ajang kantor. Hal ini akan menunjukkan semangat tinggi Anda yang tetap terjaga, komitmen senantiasa dijalani dan juga membuktikan Anda pemain tim yang baik. Jangan lupa pula untuk menjaga hubungan baik dengan atasan. Bukan berarti menjadi penjilat, melainkan secara rutin memastikan atasan tahu bahwa Anda ada di kantor untuk membantunya dan perusahaan melewati masa-masa sulit.
Jadi Relawan Untuk Kerja Tambahan
Berkurangnya staf dijamin membuat beberapa proyek atau tugas jadi terlantar. Ini adalah kesempatan bagi Anda untuk mengajukan diri dan menciptakan kesan profesional yang baik. Sikap inisiatif untuk mengerjakan tugas tambahan ini akan menunjukkan kesediaan Anda untuk berusaha maksimal dalam membantu perusahaan selama masa-masa krisis. Bisa dipastikan bos akan mengingat kontribusi tersebut dan memberikan penghargaan yang pantas atas usaha Anda saat kondisi membaik. Bukan hanya itu, keahlian kerja juga meluas karenanya dan menjadikan Anda lebih bernilai.
Kembangkan Sikap Positif
Sekarang ini bukanlah saatnya untuk mengeluh soal berkurangnya kualitas beberapa fasilitas di kantor atau menurunnya uang saku perjalanan dinas. Kesengsaraan memang senang mencari teman dan orang-orang dengan sikap negatif akan memikat pribadi-pribadi negatif pula. Percaya atau tidak, pemikiran yang merugikan ini bisa menular. Bahkan, sikap buruk ini adalah salah satu sifat yang tak diinginkan perusahaan dari karyawan mereka. Intinya, semua pihak harus melakukan beberapa pengorbanan selama periode kekacauan finansial seperti ini. Ketimbang mengeluh, tetaplah bersemangat dan berikan kontribusi positif. Bisa jadi perusahaan akan melihat Anda sebagai "hikmah" dari sebuah musibah.
Jadi Pemain Tim
Wajar untuk serta-merta mengutamakan keselamatan sendiri saat dihadapi kemungkinan terburuk soal karier. Namun sikap egois ini tak akan memberikan Anda nilai tambah dari manajemen atau kolega yang lain. Kerjasama dan komunikasi sangatlah vital di masa-masa sulit. Jadi, jangan buat situasi jadi tambah buruk dengan menghindari partisipasi dalam gosip dalam bentuk apapun, terutama soal siapa yang berikutnya akan kena PHK. Tindakan tersebut hanya akan mencoreng sikap profesional yang selama ini telah Anda bangun, dan jangan dikira perusahaan tidak akan mengetahui aksi mempertahankan posisi yang kurang terpuji tersebut. Lebih baik, tunjukkan loyalitas Anda kepada perusahaan beserta karyawan-karyawan mereka lewat komunikasi formal dan informal di dalam tim.
Buat Diri Anda Tak Tergantikan
Tak perlu jadi jenius untuk tahu bahwa karyawan yang andal dalam multitasking dan bersedia menangani beberapa peran sekaligus sangatlah berharga buat perusahaan. Semakin besar Anda dijadikan tumpuan oleh perusahaan, semakin berkuranglah kemungkinan mereka membiarkan Anda pergi. Dan walaupun menjadi yang tak tergantikan seperti ini merupakan suatu posisi yang perlu dijaga setiap waktu, hal ini justru lebih penting saat masa-masa tengah kritis. Mengarahkan diri Anda ke posisi tersebut saat perusahaan tengah mengalami penurunan drastis bisa menjadi suatu modal jangka panjang. Betul sekali, alasan kuat yang bisa Anda ajukan saat meminta kenaikan gaji atau jabatan di kemudian hari.
By: Intan Iskandar
Redaktur Pelaksana Cosmopolitan Indonesia
Dari hari ke hari, kita tak pernah dibuat lupa soal resesi yang sekarang ini tengah berlangsung. Media kian sering menjadikannya sebagai headline, lalu muncullah kekhawatiran itu: Apakah karier saya akan terpengaruh karenanya? Saat dihadapi dengan kemungkinan hilangnya pekerjaan, Anda punya dua pilihan. Entah itu membiarkan karier Anda dibayang-bayangi oleh rasa khawatir yang berlebihan atau justru memilih untuk menghadapi situasi tersebut dengan melakukan sesuatu untuk menghindarinya. Berikut beberapa sikap profesional yang perlu Anda rangkul agar untuk mempertahankan posisi Anda di perusahaan, bahkan menjadikan situasi buruk ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan karier dalam jangka panjang.
Tingkatkan Eksistensi
Begitu kemungkinan pemutusan hubungan kerja ada di depan mata, bisa jadi insting pertama Anda adalah diam atau bahkan “bersembunyi” dan berharap bila tidak terlalu menonjol, nama Anda tidak akan masuk dalam daftar kandidat yang akan di-PHK. Ini adalah taktik yang salah. Lagipula siapa sih yang lebih dipilih oleh perusahaan untuk diberhentikan? Karyawan yang dengan jelas-jelas menunjukkan bahwa ia telah melakukan beberapa hal penting untuk memberikan kontribusi kepada perusahaan atau si-siapa-namanya-itu yang seringkali membenamkan diri di kubikel dan sulit ditemukan saat hendak dimintai bantuan? Ya, Anda pasti tahu jawabannya. Jadi, hadiri semua rapat yang diselenggarakan dan berpartisipasilah dalam ajang kantor. Hal ini akan menunjukkan semangat tinggi Anda yang tetap terjaga, komitmen senantiasa dijalani dan juga membuktikan Anda pemain tim yang baik. Jangan lupa pula untuk menjaga hubungan baik dengan atasan. Bukan berarti menjadi penjilat, melainkan secara rutin memastikan atasan tahu bahwa Anda ada di kantor untuk membantunya dan perusahaan melewati masa-masa sulit.
Jadi Relawan Untuk Kerja Tambahan
Berkurangnya staf dijamin membuat beberapa proyek atau tugas jadi terlantar. Ini adalah kesempatan bagi Anda untuk mengajukan diri dan menciptakan kesan profesional yang baik. Sikap inisiatif untuk mengerjakan tugas tambahan ini akan menunjukkan kesediaan Anda untuk berusaha maksimal dalam membantu perusahaan selama masa-masa krisis. Bisa dipastikan bos akan mengingat kontribusi tersebut dan memberikan penghargaan yang pantas atas usaha Anda saat kondisi membaik. Bukan hanya itu, keahlian kerja juga meluas karenanya dan menjadikan Anda lebih bernilai.
Kembangkan Sikap Positif
Sekarang ini bukanlah saatnya untuk mengeluh soal berkurangnya kualitas beberapa fasilitas di kantor atau menurunnya uang saku perjalanan dinas. Kesengsaraan memang senang mencari teman dan orang-orang dengan sikap negatif akan memikat pribadi-pribadi negatif pula. Percaya atau tidak, pemikiran yang merugikan ini bisa menular. Bahkan, sikap buruk ini adalah salah satu sifat yang tak diinginkan perusahaan dari karyawan mereka. Intinya, semua pihak harus melakukan beberapa pengorbanan selama periode kekacauan finansial seperti ini. Ketimbang mengeluh, tetaplah bersemangat dan berikan kontribusi positif. Bisa jadi perusahaan akan melihat Anda sebagai "hikmah" dari sebuah musibah.
Jadi Pemain Tim
Wajar untuk serta-merta mengutamakan keselamatan sendiri saat dihadapi kemungkinan terburuk soal karier. Namun sikap egois ini tak akan memberikan Anda nilai tambah dari manajemen atau kolega yang lain. Kerjasama dan komunikasi sangatlah vital di masa-masa sulit. Jadi, jangan buat situasi jadi tambah buruk dengan menghindari partisipasi dalam gosip dalam bentuk apapun, terutama soal siapa yang berikutnya akan kena PHK. Tindakan tersebut hanya akan mencoreng sikap profesional yang selama ini telah Anda bangun, dan jangan dikira perusahaan tidak akan mengetahui aksi mempertahankan posisi yang kurang terpuji tersebut. Lebih baik, tunjukkan loyalitas Anda kepada perusahaan beserta karyawan-karyawan mereka lewat komunikasi formal dan informal di dalam tim.
Buat Diri Anda Tak Tergantikan
Tak perlu jadi jenius untuk tahu bahwa karyawan yang andal dalam multitasking dan bersedia menangani beberapa peran sekaligus sangatlah berharga buat perusahaan. Semakin besar Anda dijadikan tumpuan oleh perusahaan, semakin berkuranglah kemungkinan mereka membiarkan Anda pergi. Dan walaupun menjadi yang tak tergantikan seperti ini merupakan suatu posisi yang perlu dijaga setiap waktu, hal ini justru lebih penting saat masa-masa tengah kritis. Mengarahkan diri Anda ke posisi tersebut saat perusahaan tengah mengalami penurunan drastis bisa menjadi suatu modal jangka panjang. Betul sekali, alasan kuat yang bisa Anda ajukan saat meminta kenaikan gaji atau jabatan di kemudian hari.
By: Intan Iskandar
Redaktur Pelaksana Cosmopolitan Indonesia
The 10 Laws of Sales Success
Follow these rules, and selling will become one of the easiest tasks you'll undertake.
A recent Gallup poll on the honesty and ethical conduct of business professionals found that insurance salespeople and car salespeople ranked at the bottom of the list. Bet you're not surprised to hear this. But did you know that it's not just car salespeople who have a bad reputation? Bill Brooks of the Brooks Group estimates that more than 85 percent of customers have a negative view of all salespeople.
But it doesn't have to be that way: You can prove the masses wrong, and learn to develop the skills that will have people thinking differently about the selling process. In fact, selling can be one of the most rewarding tasks you'll undertake as a business owner-but only if you follow these 10 tactics:
Law #1: Keep your mouth shut and your ears open. This is crucial in the first few minutes of any sales interaction. Remember:
1. Don't talk about yourself.
2. Don't talk about your products.
3. Don't talk about your services.
4. And above all, don't recite your sales pitch!
Obviously, you want to introduce yourself. You want to tell your prospect your name and the purpose of your visit (or phone call), but what you don't want to do is ramble on about your product or service. After all, at this point, what could you possibly talk about? You have no idea if what you're offering is of any use to your prospect.
Law #2: Sell with questions, not answers. Remember this: Nobody cares how great you are until they understand how great you think they are.
Forget about trying to "sell" your product or service and focus instead on why your prospect wants to buy. To do this, you need to get fascinated with your prospect; you need to ask questions (lots and lots of them) with no hidden agenda or ulterior motives.
Many years ago, I was selling CDs at a music festival. It didn't take me long to figure out that it wasn't my job to sell the CDs-it was my job to get the earphones on every person who walked by my booth!
I noticed right away that whenever people sensed I was attempting to "sell" them a CD, their walls of defense immediately went up and they did everything in their power to get as far away from me as they could.
So instead, I made it my job to introduce new music to anyone who wanted to put on the earphones. Once they heard the music, they either liked it or they didn't. I didn't do any "selling," and I made more money that week than any other CD hawkers at the festival.
Back then, I didn't know anything about sales, but I knew enough about human nature to understand that sales resistance is an oxymoron: The act of selling creates the resistance! Which leads us to the next principle:
Law #3: Pretend you're on a first date with your prospect. Get curious about them. Ask about the products and services they're already using. Are they happy? Is what they're using now too expensive, not reliable enough, too slow? Find out what they really want. Remember, you're not conducting an impersonal survey here, so don't ask questions just for the sake of asking them. Instead, ask questions that will provide you with information about what your customers really need.
When you learn what your customers need and you stop trying to convince or persuade them to do something they may not want to do, you'll find them trusting you as a valued advisor and wanting to do more business with you as a result.
Law #4: Speak to your prospect just as you speak to your family or friends. There's never any time that you should switch into "sales mode" with ham-handed persuasion clichés and tag lines. Affected speech patterns, exaggerated tones, and slow, hypnotic sounding "sales inductions" are never acceptable in today's professional selling environments. Speak normally, (and of course, appropriately) just as you would when you're around your friends and loved ones.
Law #5: Pay close attention to what your prospect isn't saying. Is your prospect rushed? Does he or she seem agitated or upset? If so, ask "Is this a good time to talk? If it's not, perhaps we can meet another day." Most salespeople are so concerned with what they're going to say next that they forget there's another human being involved in the conversation.
Law #6: If you're asked a question, answer it briefly and then move on. Remember: This isn't about you; it's about whether you're right for them.
Law #7: Only after you've correctly assessed the needs of your prospect do you mention anything about what you're offering. I knew a guy who pitched a mannequin (I'm not kidding)! He was so stuck in his own automated, habitual mode, he never bothered to notice that his prospect wasn't breathing. Don't get caught in this trap. Know whom you're speaking with before figuring out what it is you want to say.
Law #8: Refrain from delivering a three-hour product seminar. Don't ramble on and on about things that have no bearing on anything your prospect has said. Pick a handful of things you think could help with your prospect's particular situation, and tell him or her about it. (And if possible, reiterate the benefits in his own words, not yours.)
Law #9: Ask the prospect if there are any barriers to them taking the next logical step. After having gone through the first eight steps, you should have a good understanding of your prospect's needs in relation to your product or service. Knowing this, and having established a mutual feeling of trust and rapport, you're now ready to bridge the gap between your prospect's needs and what it is you're offering. You're now ready for:
Law #10: Invite your prospect to take some kind of action. This principle obliterates the need for any "closing techniques" because the ball is placed on the prospect's court. A sales close keeps the ball in your court and all the focus on you, the salesperson. But you don't want the focus on you. You don't want the prospect to be reminded that he or she is dealing with a "salesperson." You're not a salesperson, you're a human being offering a particular product or service. And if you can get your prospect to understand that, you're well on your way to becoming an outstanding salesperson.
________________________________________
Len Foley, a renowned sales and sales management trainer, is the creator of the bestselling program "Sales Without the Sucker Punch!" Foley's technology has been used by dozens of corporations, and offers simple, cutting-edge strategies applicable to any business that sells directly to the end-user. He is also co-author of the book, Your Successful Sales Career.
http://www.entrepreneur.com/sales/tipsfromexperts/article65984.html#ixzz0L190deL7&D
A recent Gallup poll on the honesty and ethical conduct of business professionals found that insurance salespeople and car salespeople ranked at the bottom of the list. Bet you're not surprised to hear this. But did you know that it's not just car salespeople who have a bad reputation? Bill Brooks of the Brooks Group estimates that more than 85 percent of customers have a negative view of all salespeople.
But it doesn't have to be that way: You can prove the masses wrong, and learn to develop the skills that will have people thinking differently about the selling process. In fact, selling can be one of the most rewarding tasks you'll undertake as a business owner-but only if you follow these 10 tactics:
Law #1: Keep your mouth shut and your ears open. This is crucial in the first few minutes of any sales interaction. Remember:
1. Don't talk about yourself.
2. Don't talk about your products.
3. Don't talk about your services.
4. And above all, don't recite your sales pitch!
Obviously, you want to introduce yourself. You want to tell your prospect your name and the purpose of your visit (or phone call), but what you don't want to do is ramble on about your product or service. After all, at this point, what could you possibly talk about? You have no idea if what you're offering is of any use to your prospect.
Law #2: Sell with questions, not answers. Remember this: Nobody cares how great you are until they understand how great you think they are.
Forget about trying to "sell" your product or service and focus instead on why your prospect wants to buy. To do this, you need to get fascinated with your prospect; you need to ask questions (lots and lots of them) with no hidden agenda or ulterior motives.
Many years ago, I was selling CDs at a music festival. It didn't take me long to figure out that it wasn't my job to sell the CDs-it was my job to get the earphones on every person who walked by my booth!
I noticed right away that whenever people sensed I was attempting to "sell" them a CD, their walls of defense immediately went up and they did everything in their power to get as far away from me as they could.
So instead, I made it my job to introduce new music to anyone who wanted to put on the earphones. Once they heard the music, they either liked it or they didn't. I didn't do any "selling," and I made more money that week than any other CD hawkers at the festival.
Back then, I didn't know anything about sales, but I knew enough about human nature to understand that sales resistance is an oxymoron: The act of selling creates the resistance! Which leads us to the next principle:
Law #3: Pretend you're on a first date with your prospect. Get curious about them. Ask about the products and services they're already using. Are they happy? Is what they're using now too expensive, not reliable enough, too slow? Find out what they really want. Remember, you're not conducting an impersonal survey here, so don't ask questions just for the sake of asking them. Instead, ask questions that will provide you with information about what your customers really need.
When you learn what your customers need and you stop trying to convince or persuade them to do something they may not want to do, you'll find them trusting you as a valued advisor and wanting to do more business with you as a result.
Law #4: Speak to your prospect just as you speak to your family or friends. There's never any time that you should switch into "sales mode" with ham-handed persuasion clichés and tag lines. Affected speech patterns, exaggerated tones, and slow, hypnotic sounding "sales inductions" are never acceptable in today's professional selling environments. Speak normally, (and of course, appropriately) just as you would when you're around your friends and loved ones.
Law #5: Pay close attention to what your prospect isn't saying. Is your prospect rushed? Does he or she seem agitated or upset? If so, ask "Is this a good time to talk? If it's not, perhaps we can meet another day." Most salespeople are so concerned with what they're going to say next that they forget there's another human being involved in the conversation.
Law #6: If you're asked a question, answer it briefly and then move on. Remember: This isn't about you; it's about whether you're right for them.
Law #7: Only after you've correctly assessed the needs of your prospect do you mention anything about what you're offering. I knew a guy who pitched a mannequin (I'm not kidding)! He was so stuck in his own automated, habitual mode, he never bothered to notice that his prospect wasn't breathing. Don't get caught in this trap. Know whom you're speaking with before figuring out what it is you want to say.
Law #8: Refrain from delivering a three-hour product seminar. Don't ramble on and on about things that have no bearing on anything your prospect has said. Pick a handful of things you think could help with your prospect's particular situation, and tell him or her about it. (And if possible, reiterate the benefits in his own words, not yours.)
Law #9: Ask the prospect if there are any barriers to them taking the next logical step. After having gone through the first eight steps, you should have a good understanding of your prospect's needs in relation to your product or service. Knowing this, and having established a mutual feeling of trust and rapport, you're now ready to bridge the gap between your prospect's needs and what it is you're offering. You're now ready for:
Law #10: Invite your prospect to take some kind of action. This principle obliterates the need for any "closing techniques" because the ball is placed on the prospect's court. A sales close keeps the ball in your court and all the focus on you, the salesperson. But you don't want the focus on you. You don't want the prospect to be reminded that he or she is dealing with a "salesperson." You're not a salesperson, you're a human being offering a particular product or service. And if you can get your prospect to understand that, you're well on your way to becoming an outstanding salesperson.
________________________________________
Len Foley, a renowned sales and sales management trainer, is the creator of the bestselling program "Sales Without the Sucker Punch!" Foley's technology has been used by dozens of corporations, and offers simple, cutting-edge strategies applicable to any business that sells directly to the end-user. He is also co-author of the book, Your Successful Sales Career.
http://www.entrepreneur.com/sales/tipsfromexperts/article65984.html#ixzz0L190deL7&D
Emotional Bank Account
Emotional Bank Accounts
Stephen Covey mengingatkan hal-hal yang sebenarnya kita sudah tahu, tapi mungkin kita lupa melakukannya. Ada beberapa cara menanamkan kepercayaan :
1. Mengenal Individu
Cara kuno mengenal individu adalah silaturrahmi. Silaturahmi yang tampak mata adalah berjabat tangan, membuat janji lebih sering bertemu di waktu luang, dan bisa lebih indah berkunjung kerumah, mengenal secara kekeluargaan. Lupakan cara online disini. Tidak ada emosi yang luar biasa bisa ditanamkan jika kita memulai silaturrahmi dengan cara online. Untuk itu, TDA sangat gencar mengadakan acara offline.
2. Menanamkan kesan yang baik
Ini maksudnya bukan akting, tapi betul-betul menanamkan aura selalu positif kepada orang lain. Ini bisa dimunculkan melalui hal-hal kecil, melalui pembicaraan yang ringan
3. Memenuhi komitmen
Komitmen adalah kata kunci dalam hubungan. Komitmen adalah Janji. Jika kita sudah mengeluarkan komitmen/janji, otomatis orang lain akan mengeluarkan harapan untuk bisa terpenuhi atas janji tersebut. Sekali janji dilanggar, kita telah menarik deposito rasa kepercayaan yang cukup besar. Menilai personal yang selalu mempunyai komitmen tinggi, sangat mudah dilihat dari kegiatan-kegiatan yang non profit. Jika yang non profit aja komitmennya tinggi, biasanya akan lebih komitmennya untuk kegiatan profit.
4. Komunikasi yang terbuka
Selalu mengkomunikasikan segala sesuatu secara terbuka, jujur dan apa adanya. Berbicara secara eksplisit, tanpa pernah ada itikad menyembunyikan sesuatu (implisit), apalagi politiking.
5. Memperlihatkan Intergritas Pribadi
Integritas memiliki definisi deskriptif yang luas. Integritas bisa berarti anda sesuai dengan yang anda katakan, bisa juga berarti kejujuran, bisa berarti tidak bermuka dua, memperlakukan orang lain dengan perangkat prinsip yang sama, tidak melanggar sistem nilai yang dia anut.
6. Meminta maaf, mengkomunikasikan apa yang terjadi
Jika suatu komitmen tidak terpenuhi, kepercayaan masih bisa dipertahankan jika kita bisa mengkomunikasikan apa yang terjadi dengan baik, tentunya diiringi dengan permintaan maaf dan komitmen lanjutan.
Semua diatas sebenarnya sudah kita ketahui, bukan hal baru. Namun kadang kita lupa melakukannya, sehingga banyak buku ditulis ulang untuk sekedar mengingatkan.
Stephen Covey mengingatkan hal-hal yang sebenarnya kita sudah tahu, tapi mungkin kita lupa melakukannya. Ada beberapa cara menanamkan kepercayaan :
1. Mengenal Individu
Cara kuno mengenal individu adalah silaturrahmi. Silaturahmi yang tampak mata adalah berjabat tangan, membuat janji lebih sering bertemu di waktu luang, dan bisa lebih indah berkunjung kerumah, mengenal secara kekeluargaan. Lupakan cara online disini. Tidak ada emosi yang luar biasa bisa ditanamkan jika kita memulai silaturrahmi dengan cara online. Untuk itu, TDA sangat gencar mengadakan acara offline.
2. Menanamkan kesan yang baik
Ini maksudnya bukan akting, tapi betul-betul menanamkan aura selalu positif kepada orang lain. Ini bisa dimunculkan melalui hal-hal kecil, melalui pembicaraan yang ringan
3. Memenuhi komitmen
Komitmen adalah kata kunci dalam hubungan. Komitmen adalah Janji. Jika kita sudah mengeluarkan komitmen/janji, otomatis orang lain akan mengeluarkan harapan untuk bisa terpenuhi atas janji tersebut. Sekali janji dilanggar, kita telah menarik deposito rasa kepercayaan yang cukup besar. Menilai personal yang selalu mempunyai komitmen tinggi, sangat mudah dilihat dari kegiatan-kegiatan yang non profit. Jika yang non profit aja komitmennya tinggi, biasanya akan lebih komitmennya untuk kegiatan profit.
4. Komunikasi yang terbuka
Selalu mengkomunikasikan segala sesuatu secara terbuka, jujur dan apa adanya. Berbicara secara eksplisit, tanpa pernah ada itikad menyembunyikan sesuatu (implisit), apalagi politiking.
5. Memperlihatkan Intergritas Pribadi
Integritas memiliki definisi deskriptif yang luas. Integritas bisa berarti anda sesuai dengan yang anda katakan, bisa juga berarti kejujuran, bisa berarti tidak bermuka dua, memperlakukan orang lain dengan perangkat prinsip yang sama, tidak melanggar sistem nilai yang dia anut.
6. Meminta maaf, mengkomunikasikan apa yang terjadi
Jika suatu komitmen tidak terpenuhi, kepercayaan masih bisa dipertahankan jika kita bisa mengkomunikasikan apa yang terjadi dengan baik, tentunya diiringi dengan permintaan maaf dan komitmen lanjutan.
Semua diatas sebenarnya sudah kita ketahui, bukan hal baru. Namun kadang kita lupa melakukannya, sehingga banyak buku ditulis ulang untuk sekedar mengingatkan.
Friday, August 19, 2011
Jalan Menuju SUKSES
JALAN MENUJU SUKSES
Agustus 16th, 2011 oleh ieznhamoetz
Gagal Itu Penting
Kegagalan menjadi teman akrab dalam kehidupan kita .Adakah orang yang tidak pernah satu kalipun mengalami kegagalan dalam hidup? Bisa di pastikan tidak ada seorang pun.
Beragam sikap muncul dalam menghadapi kegagalan. Banyak mantra semangat yang disampaikan untuk menghibur kawan yang gagal bahwa dari kesuksesan. Kalimat semangat seperti itu sering kita sampaikan dengan ketulusan, kalimat tersebut diperlukan hanya sekedar untuk menghibur diri.
Sebenarnya, apa yang dilakukan tidaklah sia-sia. Memiliki perbendaharaan kalimat semangat dan pandangan positif tentang kegagalan merupakan benteng kokoh untuk menghadapi serangan virus kegagalan dalam hidup.
Sejarah menunjukkan ribuan bukti kesuksesan seseorang banyak tokoh dunia sukses bukan karena mereka tidak pernah gagal, melainkan karena mereka tahu bagaimana mereka harus merespons, berfikir, bertindak dan menyikapi dengan jiwa seorang pemenang.
Jatuh bangun adalah proses biasa dalam meraih kesuksesan, untuk sampai di puncak gunung, seseoarang harus mendaki. Namun, tidak sedikit orang yang tenggelam dalam perasaan gagal serta menyalahkan diri dan semua yang ada dihadapannya atas semua yang dialaminya.
Janganlah kita hanya bermimpi untuk mendapatkan sesuatu yang di cita citakan. Jika bercita-cita mendapatkan prestasi yang tinggi kita harus belajar dengan tekun untuk meraihnya. Janganlah hanya berbekal semangat untuk mendapatkan semua itu.
Kegagalan itu penting jika kita memiliki persepsi dan sikap yang tepat mengenai kegagalan, banyak orang berfikir bahwa orang-orang sukses adalah mereka yang selalu berhasil dalam setiap usahanya dua orang yang mengalami kegagalan tidak mungkin meraih keberhasilan.
2.2 Optimis Terhadap Masa Depan
Orang yang selalu berpandangan positif lebih mampu dalam mengatasi berbagai masalah dibandingkan dengan orang yang selalu memiliki pandangan negative. Itu sebabnya orang yang selalu punya pikiran negative rentan terhadap berbagai penyakit.
Ketika kita menghadapi masalah besar atau krisis, kita dapat memilh untuk tetap bersikaf optimis. Milikilah keyakinan bahwa badai pasti berlalu keadaan akan menjadi lebih baik, dan persoalan akan terselesaikan. Kita bisa melihat kesulitan bukan sebagai batu sandungan yang menjatuhkan, melainkan sebagai batu loncatan yang bisa membuat kita naik atau sebagai ujian yang bisa membuat kita lebih bijak. Optimisme bagaikan nyala api yang menemani kita berjalan di kegelapan malam.
Gali potensi raih prestasi, begitulah kata pepatah. Sudahkah kamu menemukan potensi dirimu sebagai sarana meraih prestasi? Menemukan potensi diri merupakan bagian dari ungkapan syukur kepada Tuhan. Tuhan telah memberikan modal yang luar biasa mahalnya untuk menciptakan kemaslahatan. Modal itu adalah dibekali-Nya potensi diri setiap manusia sejak lahir. Apabila kita menyerah dengan keadaan, berarti kita telah menyia-nyiakan nikmat Tuhan. Mensyukuri nikmat Tuhan yang paling baik adalah dengan mengoptimalkan nikmat itu sehingga membuahkan manfaat. Semakin besar manfaat itu dirasakan orang, semakin besar pula Tuhan menambah nikmat-Nya. Dengan demikian, mengoptimalkan potensi diri ini merupakan wujud pengamalan Pancasila, terutama sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
Ketika kita telah menemukan potensi diri dan mampu mendaya gunakan sehingga nama bangsa menjadi terkenal, pada saat itu sekaligus kita mengamalkan sila Persatuan Indonesia. Hal ini terjadi karena prestasi diri yang melejitkan nama bangsa itu hanya diketahui oleh negara lain sebagai prestasi bangsa Indonesia. Dengan demikian kita dapat memahami hakekat persatuan kebangsaan kita, bangsa Indonesia. Bangsa lain tidak akan memandang asal daerah kita, agama kita, atau ras kesukuan kita, tetapi melihat prestasi gemilang itu sebagai prestasi Indonesia. Lihatlah, prestasi telah merekatkan persatuan Indonesia sempurna. Kamu akan menemukan kebanggaan yang hakiki. Sebab kebanggaan kamu karena prestasi itu, memberi manfaat kepada bangsa dan negara.
Menemukan potensi diri memang bukan hal yang mudah, namun demikian, kesulitan itu bukan berarti tidak bisa. Sebab, setiap orang pada dasarnya memiliki potensi. Kesungguhan dan keseriusan akan mempercepat kita menemukan potensi itu. Lihatlah bagaimana riwayat Einstein yang memiliki prestasi keilmuan tertinggi itu. Ketika Einstein memasuki sekolah dasar hanya dikenal sebagai siswa yang bodoh. Nilai ulangannya selalu jelek, bahkan Einstein tidak bisa lulus sekolah, tetapi Einstein tidak menyerah. Kegagalannya memasuki perguruan tinggi memunculkan keseriusan dan kesungguhannya untuk terus belajar. Sehingga, ketika ia telah menemukan potensinya, bahwa dirinya memiliki keahlian mata pelajaran fisika, akhirnya dunia mengakui Einstein sebagai ilmuwan terbesar sepanjang masa. Dengan prestasinya itu, Amerika Serikat sebagai negara tempat tinggalnya menjadi terkenal.
2.3 Jadikan Hari Ini Lebih Baik
Seperti yang dikatakan James Stowers, pendiri Amerika century instrument, “jika Anda tidak yakin bahwa hari esok akan lebih baik, mengapa anda bangun pagi? Anda harus percaya bahwa setiap hari baru akan menjadi lebih baik dari sebelumnya dan anda harus berusaha untuk menjadikannya demikian. Keyakinan anda akan menjadikannya yang terbaik jauh lebih baik”.
Sebuah hadist Rasulallah SAW menerangkan bahwa barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, merugilah dia, dan barang siapa yang hari ini lebih jelek dari hari kemarin, celakalah dia. Oleh karena itu, satu-satunya pilihan adalah hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, demikian seterusnya.
2.4 Bagaimana Cara Kita Menyikapi Kegagalan
Kegagalan tidak berhak merenggut motivasi dan semangat kita untuk berkarya. Kegagalan dapat dilihat sebagai salah satu jalan yang mendekatkan diri kita pada keberhasilan. Masih banyak cerita orang-orang sukses yang berhasil bangkit kembali dari kegagalan. Jadi siapa bilang kegagalan itu berarti kiamat? Kegagalan itu justru penting agar kita semangat. Jadi janganlah berputus asa terlbih dahulu, karena seperti yang dikatakan oleh para ilmuwan yaitu “kesuksesan adalah kegagalan yang tertunda”.
Ada beberapa hal dalam diri ( potensi ) yang harus lebih diperhatikan antara lain :
1. Memiliki idealisme
Sebagai generasi muda kita harus memiliki ide yang kita yakini kebenarannya dengan didukung fakta dan berusaha untuk mewujudkannya dalam tujuan hidup kita.
2. Dinamis dan kreatif
Sifat dinamis dan kreatif dalam arti selalu berkembang mengikuti perkembangan jaman tanpa berhenti untuk berkreasi dalam mencapai tujuan tanpa mengabaikan norma-norma yang ada dalam kehidupan sehari-hari, baik norma agama, norma hukum, norma kesusilaan dan norma kesopanan.
3. Keberanian mengambil resiko
Setiap tindakan yang dilakukan bukan tanpa resiko, karena jika ada sebab pasti akan ada akibat. Untuk itu sebelum bertindak harus selalu mempertimbangkan masak-masak resiko yang akan timbul dan berusaha menghadapi serta mengatasinya dengan baik.
4. Optimis dan kegairahan semangat
Manusia yang hidup di era globalisasi sekarang ini tidak boleh pesimis, maka sebagai bagian dari dunia seseorang harus selalu optimis dan memiliki kegairahan semangat supaya tidak putus asa dan lemah sebelum bertanding. Para pahlawan telah berjuang merebut kemerdekaan Indonesia tetapi kita yang harus mempertahankan dan mengisinya melalui karya yang positif. Bangsa yang maju adalah bangsa yang rakyatnya mau bekerja keras, ulet dan tangguh dalam mewujudkan sebuah prestasi. Sebab perlu diingat bahwa Tuhan sendiri tidak akan mengubah kondisi suatu bangsa jika bangsa tersebut tidak mau berubah.
5. Kemandirian dan disiplin murni
Kita adalah bagian dari bangsa yang mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri dan memiliki disiplin yang tinggi. Pendidikan disiplin bukan hanya sekedar patuh terhadap aturan tetapi juga harus terwujud dalam bentuk pengakuan terhadap hak dan keinginan orang lain, serta mau mengambil bagian dalam memikul tanggung jawab sosial secara manusiawi.
6. Fisik yang kuat dan sehat
Apa artinya jiwa yang meledak-ledak penuh semangat dengan berbagai ide jika tidak ditunjang oleh fisik yang kuat dan sehat? Tentu tidak akan ada artinya. Untuk itu potensi diri yang positif harus memperhatikan masalah yang satu ini karena sangat penting peranannya. Ingatkah kalian dengan pepatah: “Di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat (mensana in corpore sano)?” Nah potensi diri yang positif adalah yang menjaga kekuatan dan kesehatan fisik.
7. Sikap ksatria
Ksatria adalah sikap yang sportif yaitu berani mengakui kesalahan dan kekalahan jika mengalaminya, serta bersedia meminta maaf untuk tidak mengulangi lagi perbuatan. Dalam falsafah masyarakat Jawa, seseorang baru pantas bergelar ksatria jika dia dapat “menang tanpa mengalahkan, kemudian mengalahkan tanpa merendahkan dan menyerang tanpa menyakiti”.
8. Terampil dalam menerapkan IPTEK
Melalui pendidikan dan pelatihan para siswa diharapkan dapat melatih keterampilannya dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di sekolah. Jika memungkinkan dapat diperdalam di luar sekolah, sehingga menjadi generasi muda yang tidak gagap teknologi, dan mampu bersaing dengan bangsa lain di dunia. Setelah itu mereka diharapkan dapat menerapkan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dengan mengikuti lomba komputer daerah atau nasional.
Ini merupakan peran serta yang baik dari masyarakat dalam menunjang potensi diri siswa dalam berprestasi sehingga terampil dalam menerapkan IPTEK.
9. Kompetitif
Di tengah persaingan dunia seperti sekarang ini setiap individu harus mampu menunjukkan kelebihan dirinya, diantaranya dengan berkompetisi dengan bangsa lainnya. Kompetisi berasal dari bahasa Latin to competere yang kalau di Inggriskan menjadi to seek together (mencari bersama), to agree (menyetujui) atau to coincide (menyepakati bersama). Sebenarnya dalam berkompetisi tidak diternukan adanya ajaran yang menjadikan orang lain sebagai objek atau musuh. Jadi kompetitlf adalah orang lain dijadikan sebagai mitra dalam mencapai suatu prestasi.
Masalah yang rnuncul jangan sampai kata kompetisi menjadi konkurensi (to conquer defeat/overcome enemy) mengalahkan orang lain atau musuh. (Oleh karena hasil yang dicapai bukan lagi kemenangan (winning) melainkan memukul mundur (beating). Selain itu jika kompetisi mensyaratkan adanya kompetensi atau keahlian, maka dalam konkurensi akan ada komparasi, gaya hidup membandingkan secara tidak sehat, dan praktik konkurensi adalah produk muatan pikiran irrasional yang bertentangan dengan logika hidup rasional. Bersaing itu sehat karena ada acuan, akan mendorong terciptanya energi dan akan dapat memacu prestasi diri seseorang, asal jangan menghalalkan segala cara, dan harus selalu ingat dosa dan Tuhan selalu mengawasi perilaku umatnya. Jika harus bersaing seharusnya dimulai dengan langkah sebagai berikut :
a. Berani memulai
b. Fokus pada keunggulan
c. Transformasi energi konkurensi
Maksudnya seseorang jika hendak bersaing harus mempersiapkan ke tiga hal di atas yaitu berani memulai tidak menunda, kemudian memfokuskan pada keunggulan yang dimiliki serta yang tidak kalah pentingnya adalah mengubah energi persaingan yang bersifat negatif menjadi sesuatu yang positif, supaya terjadi persaingan yang sehat dan mencapai hasil yang optimal.
10. Daya pikir yang kuat
Untuk mencapai keberhasilan, seseorang harus memiliki daya pikir yang kuat dan didukung dengan motivasi yang kuat pula dalam dirinya. Karena hal ini merupakan penggerak untuk melakukan aktivitas, sebagaimana yang dikemukakan oleh Descartes “Aku berfikir maka aku ada”. Jika orang mempunyai kemampuan dan kemauan untuk berpikir dengan kuat maka dia akan mampu berprestasi dengan baik.
11. Memiliki bakat
Seseorang yang memiliki bakat yaitu mempunyai potensi yang dimilikinya sungguh beruntung karena akan mudah dalam mewujudkan prestasi dirinya. Untuk itu perlu dukungan dari keluarga dan lingkungan. Bakat yang besar tadi harus didukung dengan motivasi yang kuat dari dalam dirinya. Seorang pemimpin yang hebat selain bisa dipersiapkan melalui pendidikan dan pelatihan akan lebih hebat jika dia memiliki bakat terpendam sebagai potensi dirinya.
Dalam upaya mengembangkan potensi diri ada 4 tahapan yang perlu diperhatikan, antara lain :
a. Mengenali diri sendiri
b. Memposisikan diri
c. Mendobrak diri
d. Aktualisasi diri
2.5 Meraih dan Menikmati Sukses
Meraih dan menikmati kesuksesan ibarat 2 sisi mata uang. Ke 2 sisinya tidak bisa dipisahkan tanpa usaha dan perjuangan meraih sebuah kesuksesan. Oleh karena itu banyak kesuksesan yang diwariskan tidak dapat bertahan lama. Namun ingat, perjuangan terus menerus tanpa menikmati sebuah kesuksesan adalah sesuatu yang menyedihkan.
Harold Kushner, seorang filosof religius tersohor mengatakan dalam bukunya yang berjudul “Melimpah Namun Gersang”, bahwa sukses bukanlah sukses jika membuat kita menderita. Kenyatannya, banyak orang mencapai kesuksesan, tetapi tidak mampu menikmatinya, itulah dilema besar manusia kontemporer (pada masa kini).
Di satu sisi, kita dipacu untuk semakin keras berusaha, yaitu dalam belajar dan meraih sukses. Akan tetapi di sisi lain, jika tidak disadari, kita bisa lupa untuk menikmati dan mengecap kebahagiaan yang menyertainya. Agar terhindar dari jebakan sukses seperti ini.
Cobalah untuk duduk santai, merenung, mensyukuri kesuksesan yang sudah kita raih dan ucapkan terima kasih kepada Sang Maha Kuasa. Rasakan hembusan nafas kita yang setia menemani kita meraih sukses. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, jika tidak bahagia????
http://ieznhamoetz.blogdetik.com/2011/08/16/jalan-menuju-sukses/?query-string
Agustus 16th, 2011 oleh ieznhamoetz
Gagal Itu Penting
Kegagalan menjadi teman akrab dalam kehidupan kita .Adakah orang yang tidak pernah satu kalipun mengalami kegagalan dalam hidup? Bisa di pastikan tidak ada seorang pun.
Beragam sikap muncul dalam menghadapi kegagalan. Banyak mantra semangat yang disampaikan untuk menghibur kawan yang gagal bahwa dari kesuksesan. Kalimat semangat seperti itu sering kita sampaikan dengan ketulusan, kalimat tersebut diperlukan hanya sekedar untuk menghibur diri.
Sebenarnya, apa yang dilakukan tidaklah sia-sia. Memiliki perbendaharaan kalimat semangat dan pandangan positif tentang kegagalan merupakan benteng kokoh untuk menghadapi serangan virus kegagalan dalam hidup.
Sejarah menunjukkan ribuan bukti kesuksesan seseorang banyak tokoh dunia sukses bukan karena mereka tidak pernah gagal, melainkan karena mereka tahu bagaimana mereka harus merespons, berfikir, bertindak dan menyikapi dengan jiwa seorang pemenang.
Jatuh bangun adalah proses biasa dalam meraih kesuksesan, untuk sampai di puncak gunung, seseoarang harus mendaki. Namun, tidak sedikit orang yang tenggelam dalam perasaan gagal serta menyalahkan diri dan semua yang ada dihadapannya atas semua yang dialaminya.
Janganlah kita hanya bermimpi untuk mendapatkan sesuatu yang di cita citakan. Jika bercita-cita mendapatkan prestasi yang tinggi kita harus belajar dengan tekun untuk meraihnya. Janganlah hanya berbekal semangat untuk mendapatkan semua itu.
Kegagalan itu penting jika kita memiliki persepsi dan sikap yang tepat mengenai kegagalan, banyak orang berfikir bahwa orang-orang sukses adalah mereka yang selalu berhasil dalam setiap usahanya dua orang yang mengalami kegagalan tidak mungkin meraih keberhasilan.
2.2 Optimis Terhadap Masa Depan
Orang yang selalu berpandangan positif lebih mampu dalam mengatasi berbagai masalah dibandingkan dengan orang yang selalu memiliki pandangan negative. Itu sebabnya orang yang selalu punya pikiran negative rentan terhadap berbagai penyakit.
Ketika kita menghadapi masalah besar atau krisis, kita dapat memilh untuk tetap bersikaf optimis. Milikilah keyakinan bahwa badai pasti berlalu keadaan akan menjadi lebih baik, dan persoalan akan terselesaikan. Kita bisa melihat kesulitan bukan sebagai batu sandungan yang menjatuhkan, melainkan sebagai batu loncatan yang bisa membuat kita naik atau sebagai ujian yang bisa membuat kita lebih bijak. Optimisme bagaikan nyala api yang menemani kita berjalan di kegelapan malam.
Gali potensi raih prestasi, begitulah kata pepatah. Sudahkah kamu menemukan potensi dirimu sebagai sarana meraih prestasi? Menemukan potensi diri merupakan bagian dari ungkapan syukur kepada Tuhan. Tuhan telah memberikan modal yang luar biasa mahalnya untuk menciptakan kemaslahatan. Modal itu adalah dibekali-Nya potensi diri setiap manusia sejak lahir. Apabila kita menyerah dengan keadaan, berarti kita telah menyia-nyiakan nikmat Tuhan. Mensyukuri nikmat Tuhan yang paling baik adalah dengan mengoptimalkan nikmat itu sehingga membuahkan manfaat. Semakin besar manfaat itu dirasakan orang, semakin besar pula Tuhan menambah nikmat-Nya. Dengan demikian, mengoptimalkan potensi diri ini merupakan wujud pengamalan Pancasila, terutama sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
Ketika kita telah menemukan potensi diri dan mampu mendaya gunakan sehingga nama bangsa menjadi terkenal, pada saat itu sekaligus kita mengamalkan sila Persatuan Indonesia. Hal ini terjadi karena prestasi diri yang melejitkan nama bangsa itu hanya diketahui oleh negara lain sebagai prestasi bangsa Indonesia. Dengan demikian kita dapat memahami hakekat persatuan kebangsaan kita, bangsa Indonesia. Bangsa lain tidak akan memandang asal daerah kita, agama kita, atau ras kesukuan kita, tetapi melihat prestasi gemilang itu sebagai prestasi Indonesia. Lihatlah, prestasi telah merekatkan persatuan Indonesia sempurna. Kamu akan menemukan kebanggaan yang hakiki. Sebab kebanggaan kamu karena prestasi itu, memberi manfaat kepada bangsa dan negara.
Menemukan potensi diri memang bukan hal yang mudah, namun demikian, kesulitan itu bukan berarti tidak bisa. Sebab, setiap orang pada dasarnya memiliki potensi. Kesungguhan dan keseriusan akan mempercepat kita menemukan potensi itu. Lihatlah bagaimana riwayat Einstein yang memiliki prestasi keilmuan tertinggi itu. Ketika Einstein memasuki sekolah dasar hanya dikenal sebagai siswa yang bodoh. Nilai ulangannya selalu jelek, bahkan Einstein tidak bisa lulus sekolah, tetapi Einstein tidak menyerah. Kegagalannya memasuki perguruan tinggi memunculkan keseriusan dan kesungguhannya untuk terus belajar. Sehingga, ketika ia telah menemukan potensinya, bahwa dirinya memiliki keahlian mata pelajaran fisika, akhirnya dunia mengakui Einstein sebagai ilmuwan terbesar sepanjang masa. Dengan prestasinya itu, Amerika Serikat sebagai negara tempat tinggalnya menjadi terkenal.
2.3 Jadikan Hari Ini Lebih Baik
Seperti yang dikatakan James Stowers, pendiri Amerika century instrument, “jika Anda tidak yakin bahwa hari esok akan lebih baik, mengapa anda bangun pagi? Anda harus percaya bahwa setiap hari baru akan menjadi lebih baik dari sebelumnya dan anda harus berusaha untuk menjadikannya demikian. Keyakinan anda akan menjadikannya yang terbaik jauh lebih baik”.
Sebuah hadist Rasulallah SAW menerangkan bahwa barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, merugilah dia, dan barang siapa yang hari ini lebih jelek dari hari kemarin, celakalah dia. Oleh karena itu, satu-satunya pilihan adalah hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, demikian seterusnya.
2.4 Bagaimana Cara Kita Menyikapi Kegagalan
Kegagalan tidak berhak merenggut motivasi dan semangat kita untuk berkarya. Kegagalan dapat dilihat sebagai salah satu jalan yang mendekatkan diri kita pada keberhasilan. Masih banyak cerita orang-orang sukses yang berhasil bangkit kembali dari kegagalan. Jadi siapa bilang kegagalan itu berarti kiamat? Kegagalan itu justru penting agar kita semangat. Jadi janganlah berputus asa terlbih dahulu, karena seperti yang dikatakan oleh para ilmuwan yaitu “kesuksesan adalah kegagalan yang tertunda”.
Ada beberapa hal dalam diri ( potensi ) yang harus lebih diperhatikan antara lain :
1. Memiliki idealisme
Sebagai generasi muda kita harus memiliki ide yang kita yakini kebenarannya dengan didukung fakta dan berusaha untuk mewujudkannya dalam tujuan hidup kita.
2. Dinamis dan kreatif
Sifat dinamis dan kreatif dalam arti selalu berkembang mengikuti perkembangan jaman tanpa berhenti untuk berkreasi dalam mencapai tujuan tanpa mengabaikan norma-norma yang ada dalam kehidupan sehari-hari, baik norma agama, norma hukum, norma kesusilaan dan norma kesopanan.
3. Keberanian mengambil resiko
Setiap tindakan yang dilakukan bukan tanpa resiko, karena jika ada sebab pasti akan ada akibat. Untuk itu sebelum bertindak harus selalu mempertimbangkan masak-masak resiko yang akan timbul dan berusaha menghadapi serta mengatasinya dengan baik.
4. Optimis dan kegairahan semangat
Manusia yang hidup di era globalisasi sekarang ini tidak boleh pesimis, maka sebagai bagian dari dunia seseorang harus selalu optimis dan memiliki kegairahan semangat supaya tidak putus asa dan lemah sebelum bertanding. Para pahlawan telah berjuang merebut kemerdekaan Indonesia tetapi kita yang harus mempertahankan dan mengisinya melalui karya yang positif. Bangsa yang maju adalah bangsa yang rakyatnya mau bekerja keras, ulet dan tangguh dalam mewujudkan sebuah prestasi. Sebab perlu diingat bahwa Tuhan sendiri tidak akan mengubah kondisi suatu bangsa jika bangsa tersebut tidak mau berubah.
5. Kemandirian dan disiplin murni
Kita adalah bagian dari bangsa yang mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri dan memiliki disiplin yang tinggi. Pendidikan disiplin bukan hanya sekedar patuh terhadap aturan tetapi juga harus terwujud dalam bentuk pengakuan terhadap hak dan keinginan orang lain, serta mau mengambil bagian dalam memikul tanggung jawab sosial secara manusiawi.
6. Fisik yang kuat dan sehat
Apa artinya jiwa yang meledak-ledak penuh semangat dengan berbagai ide jika tidak ditunjang oleh fisik yang kuat dan sehat? Tentu tidak akan ada artinya. Untuk itu potensi diri yang positif harus memperhatikan masalah yang satu ini karena sangat penting peranannya. Ingatkah kalian dengan pepatah: “Di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat (mensana in corpore sano)?” Nah potensi diri yang positif adalah yang menjaga kekuatan dan kesehatan fisik.
7. Sikap ksatria
Ksatria adalah sikap yang sportif yaitu berani mengakui kesalahan dan kekalahan jika mengalaminya, serta bersedia meminta maaf untuk tidak mengulangi lagi perbuatan. Dalam falsafah masyarakat Jawa, seseorang baru pantas bergelar ksatria jika dia dapat “menang tanpa mengalahkan, kemudian mengalahkan tanpa merendahkan dan menyerang tanpa menyakiti”.
8. Terampil dalam menerapkan IPTEK
Melalui pendidikan dan pelatihan para siswa diharapkan dapat melatih keterampilannya dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di sekolah. Jika memungkinkan dapat diperdalam di luar sekolah, sehingga menjadi generasi muda yang tidak gagap teknologi, dan mampu bersaing dengan bangsa lain di dunia. Setelah itu mereka diharapkan dapat menerapkan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dengan mengikuti lomba komputer daerah atau nasional.
Ini merupakan peran serta yang baik dari masyarakat dalam menunjang potensi diri siswa dalam berprestasi sehingga terampil dalam menerapkan IPTEK.
9. Kompetitif
Di tengah persaingan dunia seperti sekarang ini setiap individu harus mampu menunjukkan kelebihan dirinya, diantaranya dengan berkompetisi dengan bangsa lainnya. Kompetisi berasal dari bahasa Latin to competere yang kalau di Inggriskan menjadi to seek together (mencari bersama), to agree (menyetujui) atau to coincide (menyepakati bersama). Sebenarnya dalam berkompetisi tidak diternukan adanya ajaran yang menjadikan orang lain sebagai objek atau musuh. Jadi kompetitlf adalah orang lain dijadikan sebagai mitra dalam mencapai suatu prestasi.
Masalah yang rnuncul jangan sampai kata kompetisi menjadi konkurensi (to conquer defeat/overcome enemy) mengalahkan orang lain atau musuh. (Oleh karena hasil yang dicapai bukan lagi kemenangan (winning) melainkan memukul mundur (beating). Selain itu jika kompetisi mensyaratkan adanya kompetensi atau keahlian, maka dalam konkurensi akan ada komparasi, gaya hidup membandingkan secara tidak sehat, dan praktik konkurensi adalah produk muatan pikiran irrasional yang bertentangan dengan logika hidup rasional. Bersaing itu sehat karena ada acuan, akan mendorong terciptanya energi dan akan dapat memacu prestasi diri seseorang, asal jangan menghalalkan segala cara, dan harus selalu ingat dosa dan Tuhan selalu mengawasi perilaku umatnya. Jika harus bersaing seharusnya dimulai dengan langkah sebagai berikut :
a. Berani memulai
b. Fokus pada keunggulan
c. Transformasi energi konkurensi
Maksudnya seseorang jika hendak bersaing harus mempersiapkan ke tiga hal di atas yaitu berani memulai tidak menunda, kemudian memfokuskan pada keunggulan yang dimiliki serta yang tidak kalah pentingnya adalah mengubah energi persaingan yang bersifat negatif menjadi sesuatu yang positif, supaya terjadi persaingan yang sehat dan mencapai hasil yang optimal.
10. Daya pikir yang kuat
Untuk mencapai keberhasilan, seseorang harus memiliki daya pikir yang kuat dan didukung dengan motivasi yang kuat pula dalam dirinya. Karena hal ini merupakan penggerak untuk melakukan aktivitas, sebagaimana yang dikemukakan oleh Descartes “Aku berfikir maka aku ada”. Jika orang mempunyai kemampuan dan kemauan untuk berpikir dengan kuat maka dia akan mampu berprestasi dengan baik.
11. Memiliki bakat
Seseorang yang memiliki bakat yaitu mempunyai potensi yang dimilikinya sungguh beruntung karena akan mudah dalam mewujudkan prestasi dirinya. Untuk itu perlu dukungan dari keluarga dan lingkungan. Bakat yang besar tadi harus didukung dengan motivasi yang kuat dari dalam dirinya. Seorang pemimpin yang hebat selain bisa dipersiapkan melalui pendidikan dan pelatihan akan lebih hebat jika dia memiliki bakat terpendam sebagai potensi dirinya.
Dalam upaya mengembangkan potensi diri ada 4 tahapan yang perlu diperhatikan, antara lain :
a. Mengenali diri sendiri
b. Memposisikan diri
c. Mendobrak diri
d. Aktualisasi diri
2.5 Meraih dan Menikmati Sukses
Meraih dan menikmati kesuksesan ibarat 2 sisi mata uang. Ke 2 sisinya tidak bisa dipisahkan tanpa usaha dan perjuangan meraih sebuah kesuksesan. Oleh karena itu banyak kesuksesan yang diwariskan tidak dapat bertahan lama. Namun ingat, perjuangan terus menerus tanpa menikmati sebuah kesuksesan adalah sesuatu yang menyedihkan.
Harold Kushner, seorang filosof religius tersohor mengatakan dalam bukunya yang berjudul “Melimpah Namun Gersang”, bahwa sukses bukanlah sukses jika membuat kita menderita. Kenyatannya, banyak orang mencapai kesuksesan, tetapi tidak mampu menikmatinya, itulah dilema besar manusia kontemporer (pada masa kini).
Di satu sisi, kita dipacu untuk semakin keras berusaha, yaitu dalam belajar dan meraih sukses. Akan tetapi di sisi lain, jika tidak disadari, kita bisa lupa untuk menikmati dan mengecap kebahagiaan yang menyertainya. Agar terhindar dari jebakan sukses seperti ini.
Cobalah untuk duduk santai, merenung, mensyukuri kesuksesan yang sudah kita raih dan ucapkan terima kasih kepada Sang Maha Kuasa. Rasakan hembusan nafas kita yang setia menemani kita meraih sukses. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, jika tidak bahagia????
http://ieznhamoetz.blogdetik.com/2011/08/16/jalan-menuju-sukses/?query-string
Money Advice for Married Couples - How to Avoid Debt Problems
Money Advice for Married Couples – How to Avoid Debt Problems
This money advice for married couples will help you avoid debt problems and money fights. Saving money for couples is easier when you’re on the same financial page — which is what these money tips are all about!
Before the tips, a quip:
“Can anybody remember when the times were not hard and money not scarce?” ~ Ralph Waldo Emerson.
I daresay times are always tough for personal finances and saving money – and every decade and era brings its own money problems! The sooner we accept that money problems are part of life — and more importantly, the sooner we start believing that we have enough money — the more debt problems we’ll avoid. To learn how to attract money into your life without blood, sweat, and tears, read Money, and the Law of Attraction: Learning to Attract Wealth, Health, and Happiness. Read this book together, as a couple.
And, here are several money tips for married couples…
Money Advice for Married Couples – How to Avoid Debt Problems
1. Work towards the same money goals. If your goal is to save money to pay off your mortgage debt, and your spouse’s goal is to spend money renovating your house to make it a financial investment, then you won’t just run into money problems…you’ll run into marriage problems, too. One of the most important pieces of money advice for married couples is to ensure that you are focused on the same financial goal.
2. Talk about money regularly. Have regular discussions about your current and future finances. Where do you see yourselves in one year, five years, and ten years? Are you on the right road, or do you need help avoiding debt problems? If your marriage is causing money problems, then you need to try new and different solutions. That is, if talking about money only leads to arguments, then you might schedule an appointment with a financial advisor or counselor who can give you money advice.
3. Figure out why you’re struggling with debt problems. Are you frustrated because you and your partner have different money personalities — perhaps you’re a saver and he’s a spender? Are you depressed because you and your partner can’t agree on your financial goals? Maybe you feel overwhelmed by credit card or student loan debt that you can’t pay off. To solve debt problems – and perhaps find debt busters – you need to learn what the underlying cause of your money problems are. This includes learning how to talk finances as a couple.
4. Be objective and strategic about dealing with your money problems. If you’re emotional about money — and most people are — then you need to work together as a married couple to stay rational and level headed. This is one of the most difficult bits of money advice to remember, especially when you’re fighting about finances! But if you can deal with your anger, frustration, and other negative emotions — and instead focus on gratitude for what you have (the law of attraction and money) — then you’ll find it easier to avoid debt problems.
5. Look for the possibilities in your debt problems. In Outliers: The Story of Success, Malcolm Gladwell writes, “Sometimes constraints actually create success. Not being able to swim made me run. And running taught me the discipline I needed as a writer.” As a married couple, what are you learning from the obstacles in your life — financial or otherwise? Are the problems leading you in an unexpected direction? The sooner you accept the lessons, the faster you’ll solve your debt problems and move towards financial freedom
http://www.moneynlove.com/?p=articles_and_tips&id=54
This money advice for married couples will help you avoid debt problems and money fights. Saving money for couples is easier when you’re on the same financial page — which is what these money tips are all about!
Before the tips, a quip:
“Can anybody remember when the times were not hard and money not scarce?” ~ Ralph Waldo Emerson.
I daresay times are always tough for personal finances and saving money – and every decade and era brings its own money problems! The sooner we accept that money problems are part of life — and more importantly, the sooner we start believing that we have enough money — the more debt problems we’ll avoid. To learn how to attract money into your life without blood, sweat, and tears, read Money, and the Law of Attraction: Learning to Attract Wealth, Health, and Happiness. Read this book together, as a couple.
And, here are several money tips for married couples…
Money Advice for Married Couples – How to Avoid Debt Problems
1. Work towards the same money goals. If your goal is to save money to pay off your mortgage debt, and your spouse’s goal is to spend money renovating your house to make it a financial investment, then you won’t just run into money problems…you’ll run into marriage problems, too. One of the most important pieces of money advice for married couples is to ensure that you are focused on the same financial goal.
2. Talk about money regularly. Have regular discussions about your current and future finances. Where do you see yourselves in one year, five years, and ten years? Are you on the right road, or do you need help avoiding debt problems? If your marriage is causing money problems, then you need to try new and different solutions. That is, if talking about money only leads to arguments, then you might schedule an appointment with a financial advisor or counselor who can give you money advice.
3. Figure out why you’re struggling with debt problems. Are you frustrated because you and your partner have different money personalities — perhaps you’re a saver and he’s a spender? Are you depressed because you and your partner can’t agree on your financial goals? Maybe you feel overwhelmed by credit card or student loan debt that you can’t pay off. To solve debt problems – and perhaps find debt busters – you need to learn what the underlying cause of your money problems are. This includes learning how to talk finances as a couple.
4. Be objective and strategic about dealing with your money problems. If you’re emotional about money — and most people are — then you need to work together as a married couple to stay rational and level headed. This is one of the most difficult bits of money advice to remember, especially when you’re fighting about finances! But if you can deal with your anger, frustration, and other negative emotions — and instead focus on gratitude for what you have (the law of attraction and money) — then you’ll find it easier to avoid debt problems.
5. Look for the possibilities in your debt problems. In Outliers: The Story of Success, Malcolm Gladwell writes, “Sometimes constraints actually create success. Not being able to swim made me run. And running taught me the discipline I needed as a writer.” As a married couple, what are you learning from the obstacles in your life — financial or otherwise? Are the problems leading you in an unexpected direction? The sooner you accept the lessons, the faster you’ll solve your debt problems and move towards financial freedom
http://www.moneynlove.com/?p=articles_and_tips&id=54
Wednesday, August 17, 2011
Merdeka dari Hutangg
Dalam phase manakah Anda berada?
Merencanakan keuangan pribadi sama halnya dengan mengarahkan kendaraan atau menentukan perjalanan. No where, anywhere. Mungkin akan semakin banyak kendala, kesulitan, dan lain sebagainya jika tidak dimulai dari sekarang untuk keuangan pribadi maupun keluarga.
Beberapa contoh ditemukan teman-teman yang memiliki penghasilan lumayan besar, misal a rupiah, tetapi rasio hutangnya luar biasa besar di atas rata-rata. Cicilan mobil, motor, kartu kredit bank ampun, kartu kredit bank sita, kartu kredit bank pelit bahkan cicilan untuk kartu kreditnya saja mencapai 30% dari total penghasilan, belum cicilan lainnya.
Mulai dari sekarang mari perbaiki sistem keuangan pribadi agar kita sebagai karyawan, ataupun pengusaha mempunyai "antibiotik" terhadap utang dengan memperkecil porsi hutang serta memperbesar porsi pendapatan (tetap) dan pendapatan lainnya (bisa melalui investasi kecil-kecilan dan sebagainya).
Mari merdekakan diri dan keluarga terlebih dulu dari jerat hutang !
Merdeka!
Merdeka dalam arti harafiah adalah kebebasan mutlak. Masalahnya kebebasan kalo kebablasan itu gimana diterjemahkannya.. selain itu bagaimana akan ada kemerdekaan jika kebebasan dalam berpikir, bertindak, berkarya, dan sebagainya masih juga mengalami diskriminasi?
Diskriminasi merupakan musuh terutama, khususnya dalam social life. Secara mudah bisa ditemukan kasus sehari-hari.
Sikap yang mau belajar; belajar dewasa, belajar rendah hati, belajar legowo, belajar ikhlas, belajar melepaskan mungkin hakekat dari kemerdekaan diri dan kelompok.
Merdeka bukan dari penjajah, tetapi merdeka salah satunya menyetalakan, menyamakan tujuan dan misi yang mungkin bisa dicapai baik dalam keluarga, perusahaan, kelompok agama, bahkan hingga negara.
Selamat ulang tahun ke 66 Indonesia, semoga Kemerdekaan yang dinikmati saat ini menjadi kemerdekaan bagi semua anak bangsa Indonesia, non diskriminasi, non violence dan pencipta perdamaian !
Diskriminasi merupakan musuh terutama, khususnya dalam social life. Secara mudah bisa ditemukan kasus sehari-hari.
Sikap yang mau belajar; belajar dewasa, belajar rendah hati, belajar legowo, belajar ikhlas, belajar melepaskan mungkin hakekat dari kemerdekaan diri dan kelompok.
Merdeka bukan dari penjajah, tetapi merdeka salah satunya menyetalakan, menyamakan tujuan dan misi yang mungkin bisa dicapai baik dalam keluarga, perusahaan, kelompok agama, bahkan hingga negara.
Selamat ulang tahun ke 66 Indonesia, semoga Kemerdekaan yang dinikmati saat ini menjadi kemerdekaan bagi semua anak bangsa Indonesia, non diskriminasi, non violence dan pencipta perdamaian !
Subscribe to:
Posts (Atom)
