Wednesday, July 6, 2011

Hal-hal yang Merusak Rumah Tangga

Hal-hal yang Merusak Rumah Tangga

Oleh Amelia Ayu Kinanti | Yahoo News – Rab, 6 Jul 2011
Rumah tangga Anda selalu dilanda masalah?

Jangan terburu-buru emosi, mungkin ada beberapa hal yang harus diperbaiki.

Tindakan kita dan pasangan sehari-hari bisa membuat pernikahan menjadi berantakan. Apa saja sih yang bisa merusak rumah tangga dan harus dihindari?

1. Merahasiakan keuangan
Keuangan menjadi alasan perceraian yang paling tinggi. Merahasiakan keuangan dalam pernikahan bukanlah hal yang baik. Jika kebohongan Anda terkuak, maka kepercayaan pasangan akan berkurang. Itu kemudian menjadi awal kehancuran pernikahan.

2. Mengesampingkan kehidupan seks
Seks memang bukan segalanya di dalam pernikahan. Namun seks bisa menjadi media kedekatan setiap pasangan. Seks bisa menjadi lahan komunikasi yang potensial bagi suami-istri. Saat seks dikesampingkan, saat itu pulalah jalur komunikasi itu akan tertutup.

3. Mengkritik dan menyalahkan
Sikap selalu menyalahkan, mengkritik tanpa alasan yang jelas, serta melimpahkan kesalahan ke pasangan juga bisa menjadi duri dalam sebuah pernikahan. Saling menyalahkan tak akan pernah menyelesaikan masalah. Yang terjadi malah, pasangan menganggap Anda tak bisa menerima diri apa adanya. Prasangka itu yang kemudian membuat rumah tangga Anda runtuh.

4. Lebih percaya orang lain ketimbang pasangan
Setiap ada masalah, Anda memilih melibatkan sahabat, kakak, orang atau orang dekat yang lain untuk mencari jalan keluarnya. Pasangan justru menjadi orang terakhir yang tahu tentang masalah Anda. Ingat, kepercayaan adalah hal utama dalam sebuah hubungan. Jika Anda tak bisa mempercayai pasangan, maka otomatis fondasi hubungan yang dijalankan menjadi lemah dan mudah runtuh.

5. Melupakan hal sepele namun penting
Mengucapkan “Aku sayang padamu”, “Kamu pasangan terbaik” atau kalimat romantis yang lain mungkin terdengar sepele. Namun tahukah Anda, efek dari kalimat tersebut sungguh besar. Anda dan pasangan bisa saling mengingatkan betapa kalian sangat mencintai satu sama lain. Jadi jangan pernah malas mengungkapkan rasa cinta Anda.

Trauma, Kepahitan

Disekanya wajahnya berulang kali. Satu, dua, tiga, sampai sepuluh kali. Tak jua merasa bersih. Busa sabun pencuci wajah tidak lagi tersisa. Air pun sudah bersih dari wajahnya. Tapi, ia tetap merasa kotor, seolah wajahnya belum lagi dicuci.

Luka itu masih tersisa.

Bukan hanya di wajahnya yang lebam biru hasil kekerasan orang yang dia kasihi, tetapi juga di hatinya. Hati yang dulu begitu putih, seputih salju. Kini merah, berdarah. Terpukul dirinya. Begitu parah.

Perlahan dipandanginya wajahnya lewat cermin wastafel tempat ia menyeka wajahnya dan menggosok giginya. Senyum itu tak lagi manis. Sudut-sudut bibir yang naik, membuat dirinya terlihat sedikit sinis. Kalau tidak bisa dikatakan sadis. Senyum yang menyakitkan. Karena dia tahu, senyum itu adalah senyum dengan keterpaksaan. Setelah selama ini yang dia lakukan hanya menangis.

Beban hidup itu terlalu berat baginya. Berkali-kali dia disakiti oleh orang yang dia cintai. Dia inginkan pulih. Dia inginkan hidupnya kembali berseri. Namun, ternyata itu semua begitu sulitnya.

Orang yang paling dia cintai telah menorehkan luka.

Lagi dan lagi…

Tak hendak ia berlari, karena cinta terlanjur mengikat kedua belah kakinya dan memaksa dirinya untuk tetap tinggal. Tetapi, apakah kekasihnya benar-benar mencintainya? Atau ia hanya bertepuk sebelah tangan belaka?

Kekasih hatinya tempat ia curahkan seluruh cinta…

Sudah sepuluh tahun mereka menjalin cinta. Mesra. Tetapi, waktu pulalah yang membuktikan kalau kekasihnya bukan tipe setia. Sebegitu mudahnya dia main mata pada banyak wanita. Sudah lebih dari sepuluh kali penyelewengan itu terjadi. Dia selalu merasa sulit melepaskannya pergi, setiap kali dia bersimpuh dan memohon maaf untuk kembali. Terkadang, setelah tamparan keras di pipinya. Kekasihnya memaksakan kehendaknya untuk tetap kembali.

Cintakah? Ataukah kebodohan berwujud cinta sampai mati, walaupun terus dilukai?

Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi. Dari kehidupan kekasihnya yang sangat dia cintai. Perih, teramat pedih. Tetapi, dia sudah membuat keputusan bulat. Tekadnya sangat kuat. Walaupun sulit dan setengah tertatih, dia putuskan untuk tetap melangkah walau masa depan tak pasti.

Trauma itu terlalu membekas di dirinya.

Tak lagi ingin ia mencinta. Karena cinta ternyata tak seindah ceritanya. Tak seindah film drama, tak semerdu lagu cinta. Muak, menyakitkan, hilang percaya diri, juga hilang harapan akan cinta.

Satu hal yang terus dia ingat dalam hati.

Mungkin dia tak punya kesempatan mencinta lagi. Tetapi, dia tetap ingat dalam hati, bahwa dirinya bukanlah suatu kesalahan atau kesia-siaan.

Penolakan kekasihnya, bukan berarti penolakan seluruh dunia atas dirinya. Dia masih punya orang-orang yang mencintainya. Kakak, Mama, Papa, dan adiknya. Juga sahabat-sahabat dekatnya. Mereka memberikannya harapan dan dirinya menjadi tetap percaya. Bahwa trauma cinta ini akan tersembuhkan pada akhirnya. Dengan cinta dari Sang Ilahi.

Dengan membuka diri pada-Nya dan menyerahkan segala sakit hatinya- termasuk semua jenis trauma yang pernah dia alami. Untuk kemudian suatu saat nanti, sembuh dan dia bisa berdiri. Tegar, walau pernah sakit hati. Memilih untuk menatap masa depan dengan harapan, di tengah seluruh keputusasaan. Merajut impian bersama Tuhan, bahwa masa kini yang buruk, mungkin suatu saat ‘kan berganti.

Trauma itu sering muncul lagi.

Tetapi, tiap kali ia muncul, dia berdoa dan membawanya kepada Sang Maha Tinggi. Dia tak pernah sanggup jalan sendiri. Dan dia ingin serahkan segala mimpi yang pernah dia miliki. Tentang cinta, kekasih, dan keinginan berkeluarga suatu saat nanti…

Percaya, bahwa Tuhan sudah sediakan masa depan yang indah, sesuai dengan rencana-Nya. Mungkin bukan seperti apa yang ada dalam pikirannya selama ini. Namun pasti yang terbaik yang Dia berikan dalam hidupnya nanti.

-fonnyjodikin-

* copas, forward, share? Mohon sertakan sumbernya. Trims.

"Bercerai Karena Uang?"

"Ingin Bercerai Karena Uang?"

Apakah Anda pernah mendengar sebuah keluhan dari sanak saudara, sahabat dan relasi Anda tentang bagaimana "permasalahan" keuangan menyelimuti mereka?

Atau ini merupakan sebuah "polemik" yang sedang Anda hadapi?

Saya percaya (hampir) setiap rumah tangga memiliki permasalahannya sendiri terkait keuangan.

Ada permasalahan kekurangan keuangan, ada juga "cheating" dalam penanganan keuangan, sampai masalah keberlimpahan keuangan (MD pegawai bank asing).

Sesungguhnya semua perkawinan pada awalnya sangat indah, dimana sang pria telah memilih dan mengikatkan dirinya kepada sang wanita. Pria mengangkat wanita tsb menjadi teman pendamping hidupnya dan dengan sangat suka cita berjanji untuk membahagiakan pasangan hidupnya selamanya. Begitupun sebaliknya.

Namun setelah perjalanan perkawinan berlangsung, semua berubah. Alih-alih membahagiakan pasangannya satu sama lain, yang ada adalah tindakan untuk saling menyakiti dan melukai, serta membalas tindakan yang dianggap tidak pantas yang dilakukan pasangan hidupnya.

Minggu lalu, seorang klien meminta bantuan saya terkait "permasalahan" yang dihadapi dan "ingin bercerai".

Suaminya tidak memberi "nafkah" uang sebagaimana layaknya yang dia pikirkan.
Suaminya mengaku tidak punya uang, tapi mampu membeli ruko dan rumah.
Kala sakit suami minta dia untuk memakai uangnya sendiri kala berobat.
DLL.

-----

Saya melihat adanya perbedaan nilai, konsep dan keyakinan dari mereka, yang selama ini "belum" dikomunikasikan guna mencari solusi bagi kebersamaan.

Sesaat setelah menikah, menurut "konsep" MONEYnLOVE, semua rejeki dari suami dan istri akan menjadi milik "Keluarga" dan selayaknya dipergunakan bagi kepentingan Keluarga. Semua harus dibicarakan berdua secara transparan dan bertanggung jawab.

Tidak ada ini uangku dan itu uangmu.

-----

Saya memberi saran beberapa langkah kepada klien, dan agar melakukan dan membangun komunikasi. Cari dan bangun kesamaan2 dan dan bukan perbedaan2.

Konsep, nilai dan keyakinan dari 2 anak manusia yang berbeda latar belakangnya, akan membangun sebuah latar depan, bagi keberlangsungan dan keharmonisan demi kesejahteraan keluarga, adalah sebuah perjalanan dan perjuangan tiada henti dari 2 anak manusia.

Ingat uang adalah "alat" dan bukan tujuan, sehingga semestinya uang bukan menjadi masalah melainkan menjadi solusi.

Demikian sharing saya tentang komunikasi keuangan adalah solusi dari keinginan bercerai.

Semoga bermanfaat.



Salam,
Freddy Pieloor
www.MONEYnLOVE.com
Managing Money with Love

Miliki dan lengkapi koleksi buku bermutu Anda dengan buku "MONEY, LOVE & MARRIAGE"