Statistik Pernikahan
Statistik tdk bisa berbohong. Di singapore, tingkat perceraian naik dari 4.298 tahun 1995 menjadi 5.160 pada tahun 2000 dan di tahun 2008 menjadi 7.220. Artinya 20 pernikahan berantakan tiap hari, kota2 dunia seperti Shanghai, New York, Mumbai, Seoul, Jakarta, dll, mhadapi tantangan2 serupa bahkan lebih besar lagi. Angka ini hanya mengacu pd perceraian yang sah. Sebuah survei oleh LSM singapore, 2/3 pasangan2 yg menikah tinggal bersama demi penampilan, demi uang, demi anak2 meskipun suami atau istri mereka berselingkuh, meskipun 1/3 di antaranya tetap tdk pernah bahagia dan anak2 menderita depresi sbg akibatnya. Setelah anak2 dewasa/pergi kuliah/kerja/menikah, mereka akan membawa suami/istri mrka ke pengadilan dan cepat2 menceraikan mereka. Pasangan yg bercerai justru pasangan2 senior, seperti di Jepang tahun 1975, 6.510 pasangan bercerai setelah 20 thn lebih mrka menikah, dan tahun 2002 menjadi 45.536 pasangan yg bercerai.
Nilai yang menyimpang adalah masyarakt kita menempatkan nilai terlalu tinggi untuk uang. Cinta uang dan materialisme merupakan dua sisi mata uang yang sama.
Identitas diri kita hampir selalu sinonim dgn pekerjaan dan uang yang dihasilkan. Itulah sebabnya para ortu (tmsk saya) ingin anak2 menjadi banker, lawyer, doctor, engineer, bukan saja krn pekerjaan itu bergengsi, melainkan jg krn menghasilkan uang yang paling banyak. Masyarakat mengukur kita bdk. kontribusi ekonomi kita, demikian pula keluarga dan teman2 sebaya kita.
Perhatikan baik-baik. Uang membuat dunia berputar dan salah jalan. Perburuan kita akan kebahagiaan mjd pemburuan kita akan uang. Jangan salah paham, uang itu penting, ttpi sayang sekali bagi sebagian besar kita telah menjadikannya sbg prioritas tertinggi. Kita membawa perspektif ini dalam RELASI pernikahan, di mana setiap pasangan ingin menghasilkan lebih banyak dan lebih banyak lagi uang utk mbeli rumah lbh nyaman, peralatan yang bagus, liburan ke tempat wisata tereksotis setiap tahun, dsb.
Dan kita ingin mendapatkannya sesegera mungkin, bukan?? Kita bekerja susah payah, lembur, memperoleh lebih banyak uang lembur, mengambil dua pekerjaan spy dpt memenuhi kebutuhan kita. Sebagai akibatnya, kita mengorbankan RELASI. Uang di dlm krisis ini mjd test situasi genting di dlm relasi kita. Uang tdk mmutuskan relasi. Cinta kita pada uanglah yang memutuskan relasi pernikahan itu, jadi tidak mengherankan pd akhirnya jika kita tdk menyediakan wktu bagi pasangan2 kita, atau pasangan2 kita tdk menyediakan waktu bagi kita.
Fakta di Singapore (jg di Jakarta saya pikir), melaporkan tekanan pekerjaan utk mencapai target kerja yang fantastis "berhasil" mencipatakan kekacauan luar biasa dalam keseimbangan hidup pekerjaan-pernikahan.
Pasangan2 yang keduanya mencari nafkah memiliki lebih sedikit waktu utk saling berbagi, sehingga utk menciptakan ketegangan-ketegangan pernikahan, dan meningkatkan tingkat resiko perceraian sah maupun sembunyi-sembunyi.
Kita menjadi tidak begitu begitu sering berhubungan dan jarang melakukan hal-hal bersama contohnya untuk bersenang-senang. Kita tdk menyediakan waktu / berusaha melakukannya. Sungguh ironis, setelah menikah kita menjadi lebih sulit utk saling bersikap lebih manis ketimbang sebelum menikah; kurang sopan, kurang manis, kurang memaafkan, kurang meminta maaf, dan kurang bersyukur, di mana kita tdk lagi menunjukkan perhatian yg penuh kasih.
"Jangan pernah bekerja hanya utk uang dan kekuasaan, mereka tdk akan menyelamatkan jiwa Anda / mbuat Anda tertidur lelap pada malam hari" Marian Wright Edelman.
"Rantai-rantai tdk memersatukan pernikahan. Tetapi benang-benang. Ratusan ribu benang haluslah yang menjahit orang-orang bersama-sama selama bertahun-tahun". Simone Signoret
(Diambil dari Renungan "Dimsum utk Keluarga", John Ng, published in Singapore)