Kepercayaan ... Is Everything !!
Mahkota Seorang Pemimpin
Kepercayaan merupakan mahkota bagi seorang pemimpin, mulai dari seorang kepala negara, pemimpin perusahaan, pimpinan perguruan tinggi, pemimpin dalam unit terkecil di masyarakat, bahkan hingga pemimpin dalam keluarga.
Kepercayaan menjadi jatidiri seorang pemimpin sejati. Tanpa adanya kepercayaan dari rakyat atau bawahan, ambruklah legitimasi kepemimpinannya.
Itulah sesungguhnya yang tengah terjadi sekarang ini. Krisis finansial atau krisis ekonomi global yang melanda dunia saat ini, bukanlah sekadar krisis likuiditas perbankan, ambruknya harga saham, turunnya nilai tukar, ataupun merosotnya nilai ekspor negara, melainkan krisis yang bersumber dari tergerusnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin pemerintahannya.
Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi dunia, seperti ancaman terorisme, peredaran obat-obatan terlarang (narkoba), praktik korupsi, perang yang tak berkesudahan, bencana kelaparan, para pemimpin pemerintahan seolah tak berdaya menghadapi itu semua. Mereka gagal melindungi bangsa, negara, dan rakyatnya dari berbagai ancaman. Akibatnya, tentu saja, rakyat tidak lagi mempercayai mereka.
Presiden Amerika Serikat George W Bush adalah contoh pemimpin yang terus merosot tingkat kepercayaan masyarakat kepadanya menyusul sejumlah tragedi yang menimpa negeri itu. Serangan terorisme ke World Trade Centre, New York, pada 11 September 2001, perang tak berkesudahan di Irak, serta berbagai konflik lainnya, lebih menunjukkan karena ketidakmampuan seorang Bush untuk mengatasi persoalan.
Begitu pula krisis finansial AS yang meruntuhkan sendi-sendi perekonomian negeri itu, lebih banyak terjadi akibat ketidakmampuan sang presiden untuk mengatasi keadaan. Dua pialang kenamaan, yakni Warren Buffet dan George Soros, secara gamblang menuding George Bush sebagai pemimpin yang kurang memiliki sense of crisis. Jauh sebelum krisis, menurut Soros, Presiden Bush sudah diingatkan akan adanya badai krisis yang bakal mendera AS. Namun, Bush sepertinya bergeming. Cuek alias tidak peduli!
George W Bush hanyalah salah satu contoh pemimpin yang legitimasinya kian merosot akibat kepercayaan rakyat atas kepemimpinannya terus tergerus. Jatuhnya Presiden Soeharto pada Mei 1998 dan mundurnya Yasuo Fukuda dari kursi Perdana Menteri Jepang beberapa waktu lalu, adalah contoh lain yang membuktikan betapa tragisnya bila seorang pemimpin sudah kehilangan kepercayaan di mata masyarakat.
Hilangnya kepercayaan terhadap seorang pemimpin puncak biasanya berlanjut pada hilangnya kepercayaan terhadap otoritas pemerintahan umumnya. Akibat lebih jauh dari sini adalah rusaknya tatanan hukum dan aturan, yang menjadi prasyarat bagi suatu kedaulatan negara.
Peraturan dan keteraturan (rule and order) yang menjadi dasar kehidupan bersama demi terciptanya demokrasi dan keadilan dalam masyarakat akhirnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan pada tingkat tertentu, tak berfungsinya hukum dan peraturan ini bisa membawa masyarakat ke arah suatu penolakan terbuka. Hampir setiap keputusan atau kebijakan pemerintah selalu mendapat tantangan dalam proses penerapannya di masyarakat.
Jadi, kalau otoritas pemerintahan sudah tidak dipercaya lagi dan perangkat hukum serta aturan main sudah tak berfungsi sebagai pengatur tata kehidupan bersama, lalu bagaimana jadinya nasib sebuah bangsa atau negara?
Belajar dari pengalaman krisis dan cara-cara penangannya, sudah saatnya kita mendisain ulang cara-cara memilih pemimpin berkualitas. Dunia yang semakin gaduh akibat diterpa oleh berbagai persoalan ini membutuhkan barisan pemimpin yang tangguh. Mereka tangguh karena kapabilitas, kompetensi atau profesionalitas, akseptabilitas, dan moralitas yang mereka miliki. Mereka adalah orang-orang yang layak dipercaya (kredibel), karena memang memiliki karakter yang kuat, punya visi, idealisme, tanggungjawab, dan bermartabat.
Seorang pemimpin tangguh selalu menempatkan kepentingan rakyat di depan kepentingan pribadi, kelompok atau golongan. Ia mencintai rakyat dan memperjuangkan kepentingan rakyat, dan karena itu, imbalannya, ia dicintai rakyat dan didukung sepenuhnya oleh rakyat untuk setiap program atau kebijakan-kebijakannya.
Dunia kita sekarang memang semakin terasa rapuh akibat kekeringan pemimpin-pemimpin sejati. Pemimpin sejati itu selalu bersifat adil dan jujur, menjadi benteng penegakan hukum dan aturan. Lebih dari itu, mereka merupakan orang-orang yang terbuka, beretika dan – sudah pasti -- dapat dipercaya.
Just Doit !!
Sebagai seorang pimpinan, dalam mengambil suatu keputusan perlu dilakukan dengan baik dan berhati-hati. Dalam hal ini, pertimbangan yang perlu dikedepankan adalah kepentingan perusahaan, atau katakanlah, melakukan suatu tindakan "by law" perusahaan dimana kita bekerja.
Perusahaan di mana Anda bekerja. Apakah perusahaan itu memiliki banyak atau sedikit sumber daya manusia, yang penting adalah bagaimana mengelola perusahaan dengan memperhatikan aspek multidimensi seperti tujuan perusahaan terutama misalnya memperoleh Profit Perusahaan yang baik, serta mendukung dan menciptakan suasana kerja yang kondusif dan nyaman bagi karyawan untuk bekerja.
Disamping aspek tersebut, yang memberikan kontribusi, suatu langkah strategi yang menentukan adalah aspek Kepercayaan. Aspek ini sudah dibahas sebelumnya. Artinya dengan modal kepercayaan yang memadai dan konstruktif, seorang pimpinan dapat mengembangkan organisasinya dengan baik, diterima oleh Manajemen serta Konstituennya.
Apa yang terjadi apabila mis leading?
Mis leading ini biasanya terjadi akibat dari beberapa hal:
1. Pemahaman strategik situasi market
2. Ketidakmampuan dalam mengelola Sumber Daya yang ada
3. Kesalahan mendasar dalam menganalisa serta pengambilan keputusan yang komprehensif
Ketiga hal ini biasanya menjadi pemicu bom waktu yang pada akhirnya akan "sinking the Company" sehingga tak ayal lagi akan tersingkir, serta menciptakan alienasi = keterasingan terhadap market dan cenderung akan menisbikan aspek kreativitas para karyawannya.
Berdasarkan pengalaman saya bekerja di beberapa perusahaan, kondisi inilah yang seringkali terlambat disadari dan bahkan diabaikan oleh para pengambil keputusan strategis. Alih-alih mereka mempunyai kepandaian yang lebih baik dari bawahannya, ternyata kebijakan yang ditempuh kurang dirasakan impactnya oleh konstituen.
Sebaliknya, apabila seorang pemimpin dalam pengambilan keputusan cenderung mengedapankan aspek soliditas serta solidaritas atas nama arus bawah, akan memicu disintegrasi dan ketidaksesuaian cara pandang kebijakan perusahaan.
Lagi-lagi, perlu dilakukan langkah-langkah yang genuine, original, determinasi, aktual dan kolektif oleh seorang pemimpin dalam memberikan komando, serta strategi, konsep, praktek yang diharapkan dapat memberikan langkah dan penyelesaian secara signifikan dan konstruktif.
Just Do it !
Langkah berani seorang pemimpin dalam mengambil keputusan, wajib hukumnya sejalan dengan kebijakan manajemen yang berlaku. Artinya adalah perlu pemahaman yang benar-benar konstruktif, sehingga hal ini akan memberikan suatu positive effects bagi perkembangan organisasi secara merata, dan seperti efek domino, setiap konstituen akan terpancing dan berusaha untuk mengadaptasi langkah best practices tersebut sehingga momentum ini perlu dipelihara dan dikembangkan menjadi suatu budaya organisasi yang positif bagi konstituen.
Langkah yang simpel, sederhana, taktikal, dan user friendly menjadi suatu langkah yang efektif dan ideal dalam pengambilan keputusan serta pemantauan langkah-langkah berupa monitoring yang baik dan benar.
Just doit, dan feel it. Ketika krisis terbangun dan terselesaikan, Anda akan merasakan suatu tim yang mendukung dan menolak Anda. Feel it, sense Anda akan berkata-kata bahwa langkah ini benar atau salah. Just do it. Don't doubt, dan lakukan saja apa yang Anda kehendaki, sejauh itu diterima oleh Atasan dan Manajemen Anda.
Penjilat, Pelapor, atau Tim yang kuat?
Ketika Anda membeberkan atau memberikan informasi tentang kinerja serta konstituen Anda, perhatikan lah baik-baik.. sangat berbeda antara seorang pengadu antara si A dan si B, katakalah demikian atau pun Penjilat.. yang biasanya membeberkan informasi kepada atasannya dengan serta merta namun tidak pernah memberikan FEEDBACK atau langkah-langkah yang dianggap perlu untuk membangun tim lebih kuat.
Jika anda bukan keduanya, berarti kemungkinan Anda telah berusaha in line untuk membangun hubungan kerja dengan Boss dan staff - konstituen Anda dengan baik dan intim.
Can we create the Strong Team?
Selama Anda konsisten, komitmen dan bertujuan mengembangkan suatu misi dari Manajemen berarti Anda tengah berupaya dan berusaha untuk mengembangkan sebuah tim yang kuat dan baik.
Artinya, sebagai seorang pimpinan, Anda diberikan tanggungjawab, responsibility, kepercayaan, trust dan Andalah yang harus mengembangkan, membagikan, dan mengelola, menuangkan dan akhirnya memberikan hasil imbal balik yang diharapkan oleh Manajemen.
Dengan memberikan kepercayaan terhadap individu konstituen yang diimbangi fungsi kontrol yang relatif baik, budaya kerja yang positive, idealnya akan menghasilkan suatu tim yang kuat dan tangguh, sehingga proses alienasi, marginalisasi dari kompetisi yang semakin menggila, bahkan datangnya tsunami krisis sekarang pun akan dapat dilalui dengan baik.
Nah, bagaimana jika political tricking nya? Ini merupakan suatu fenomena yang lazim terjadi di entity manapun. Oleh karenanya, sebagai pemimpin layaknya seorang peternak sapi yang sedang menggembalakan sapinya, dia tahu betul bahwa sapi sangat sulit untuk diajak berjalan, perlu diberikan 'pancingan' dengan satu genggam tanam-tanaman yang menjadi makanan favorit sapi. Demikian pun dalam organisasi seringkali seorang pemimpin dihadapkan pada masalah ini. Kenali masalah, analisa, brain storming dengan Boss Anda, ambil keputusan, dan menjalankan keputusan ini dengan baik.
Dengan mental seorang pemenang, kuat, percaya diri, dan menyadari bahwa Anda dapat memimpin dengan suatu potensi terpendam yang luar biasa dahsyatnya akan memberikan kekuatan dan self driven yang super duper.
Just do it...
- Depok City -
30 october 2008