Cerita yg Luar biasa, cerita yang mungkin sering terjadi dilanjutkan dengan adanya EGO yang KUAT diantara keduanya. Sehingga tidak terpikir jalan keluar
JANGAN "NGAMBEK" BERKEPANJANGAN TERHADAP ORANG YANG DIKASIHI.
Bagi yg sudah pernah baca, luangkan waktu untuk baca sekali lagi Ini adalah cerita sebenarnya ( diceritakan oleh Lu Di dan di edit oleh Lian Shu Xiang )
Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga.Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, tetapi segalanya sudah terlambat. Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah menghianati ikrar
cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun menikah, saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama. Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah.
Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan sebagainya. Suami berdiri di depan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari,tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata :"Mari, kita jemput nenek di kampung".
Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan kedalam kantongnya. Kalau terjadi selisih paham diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan baru sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan.Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.
Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali menghias rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada suami:"Istri kamu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?" Aku menjelaskannya kepada nenek: "Ibu, rumah dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira." Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa: "Ibu, ini kebiasaan orang kota, lambat laun ibu akan terbiasa juga." Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa bunga,dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil menggeleng-gelengka n kepala. Setiap membawa pulang barang belanjaan,dia selalu tanya itu berapa harganya ,ini berapa.Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras.Suamiku memencet hidungku sambil berkata:"Putriku, kan kamu bisa berbohong.Jangan katakan harga yang sebenarnya." Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.
Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes. Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun
pagi apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang juga suka membantuku di dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya; dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan, dikumpulkan bisa untuk dijual katanya. Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik, dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.
Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur.Suatu hari, nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya, dia segera masuk ke kamar sambil membanting pintu dan menangis. Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak perduli. Aku menjadi kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia melotot sambil berkata: "Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan dengan pring itu bisa membuatmu mati?"
Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg cukup lama, suasana mejadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku,
seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri? Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu, aku selalu membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suami berkata:"Lu Di, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?" sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku. Dan dia akhirnya berkata: "Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi." Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.
Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar semua. Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut. Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!. Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku, nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauhi dan suamiku segera mengejarnya keluar rumah.
Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek. Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata: "Lu Di, sebaiknya kamu periksa ke dokter."Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?
Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi..... mimpiku tidak menjadi kenyataan. Didalam taksi air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?
Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi, memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan sedihnya. Tengah malam,aku mendengar suara orang membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.
Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung."Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit. Mulutku terbuka lebar. Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku. Sambil menangis aku menjerit dalam hati:"Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?" Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian.
Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar, jika........ ....dimatanya, akulah penyebab kematian nenek.
Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat.Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.
Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita didalam. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi. Aku masuk ke dalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jantungku terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian.
Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka. Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih kami juga
sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar. Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi..... ...., semua berlalu begitu saja.
Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.
"Suatu hari pulang kerja,aku melihat dia duduk didepan ruang tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu.2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya: "Tunggu sebentar, aku akan segera menanda tanganinya"" .Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.
Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya."" Lu Di, kamu hamil?"" Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg menglir keluar dengan derasnya. Aku menjawab: "Iya, tetapi tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi". Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia membungkukan badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali."Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata: "Maafkan aku, maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan.Cinta diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya.
Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua makanan pembelian dia, tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.
Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar nenek. Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa........ , itu adalah dulu, saat cintaku masih membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?
Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.
Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?
Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang tangannya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris memanggil namanya.
Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya. aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjijat. Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter, bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi perduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.
Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara.Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami."Anakku, demi dirimu aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku. Aku tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Di dalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah. "Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun -tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan dia adalah orang yg paling ayah cintai".
Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK, SD, SMP, SMA sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia juga menulis sebuah surat untukku. "Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannya pada anak kita. Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya".
Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak kami dan membaringkannya di atas dadanya sambil berkata: "Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya". Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum... ......... ..anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata........ ......... ...
Teman-teman terkasih, aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua bisa menyimak pesan dari cerita ini.Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, ingatlah pesan dari cerita ini :"Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan di dalam hati. Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan: Jika kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.
Diterjemahkan secara bebas oleh aku
Lu Di
Saturday, February 28, 2009
Tuesday, February 17, 2009
Mengapa Sulit Sekali untuk Mengucap Syukur ???
Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku dan menunjukkan keadaan di surga. Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja penuh dengan para malaikat.
Malaikat yang mengantarku berhenti di depanruang kerja pertama dan berkata, "Ini adalah Seksi Penerimaan. Di sini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah diterima".
Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.
Kemudian aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua. Malaikat-ku berkata, "Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman. Di sini kemuliaan dan berkat yangdiminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya".
Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Adabanyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.
Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangatkecil. Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk di sana, hampir tidak melakukan apapun.
"Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih", kata Malaikat-ku pelan. Dia tampak malu.
"Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini?", tanyaku.
"Menyedihkan", Malaikat-ku menghela napas. "Setelah manusia menerima berkat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih".
"Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas berkat Tuhan?", tanyaku.
"Sederhana sekali", jawab Malaikat. "Cukup berkata, "Terima kasih, Tuhan".
"Lalu, berkat apa saja yang perlu kita syukuri", tanyaku.
Malaikat-ku menjawab, "Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini."
"Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia."
"Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputer mu, engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu."
Juga.... "Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan ... engkau lebih diberkati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini."
"Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat, maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia".
"Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan ... maka engkau termasuk orang yang sangat jarang."
"Jika engkau masih bisa mencintai ... maka engkau termasuk orang yang besar, karena cinta adalah berkat Tuhan yang tidak didapat dari manapun."
"Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan."
"Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima berkat ganda, yaitu bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu berpikir bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa engkau lebih diberkati dari pada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali".
Nikmatilah hari-harimu, hitunglah berkat yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu. Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan ini ke semua teman-temanmu untuk mengingatkan mereka betapa. diberkatinya kita semua.
"Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak nikmat kepadamu ."
Ditujukan pada : Departemen Pernyataan Terima Kasih.
"Terima kasih, Tuhan! Terima kasih, Tuhan, atas anug'rah-Mu berupa kemampuan untuk menerjemahkan dan membagi pesan ini dan memberikan aku begitu banyak teman-teman yang istimewa untuk saling berbagi."
Sumber : IndoForum
I Tawarikh 16:34 "Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya."
Kolose 4:2 "Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur."
I Tesalonika 5:18 "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."
Klinik Rohani
Malaikat yang mengantarku berhenti di depanruang kerja pertama dan berkata, "Ini adalah Seksi Penerimaan. Di sini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah diterima".
Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.
Kemudian aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua. Malaikat-ku berkata, "Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman. Di sini kemuliaan dan berkat yangdiminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya".
Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Adabanyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.
Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangatkecil. Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk di sana, hampir tidak melakukan apapun.
"Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih", kata Malaikat-ku pelan. Dia tampak malu.
"Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini?", tanyaku.
"Menyedihkan", Malaikat-ku menghela napas. "Setelah manusia menerima berkat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terima kasih".
"Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas berkat Tuhan?", tanyaku.
"Sederhana sekali", jawab Malaikat. "Cukup berkata, "Terima kasih, Tuhan".
"Lalu, berkat apa saja yang perlu kita syukuri", tanyaku.
Malaikat-ku menjawab, "Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini."
"Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia."
"Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputer mu, engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu."
Juga.... "Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan ... engkau lebih diberkati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini."
"Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat, maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia".
"Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan ... maka engkau termasuk orang yang sangat jarang."
"Jika engkau masih bisa mencintai ... maka engkau termasuk orang yang besar, karena cinta adalah berkat Tuhan yang tidak didapat dari manapun."
"Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan."
"Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima berkat ganda, yaitu bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu berpikir bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa engkau lebih diberkati dari pada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali".
Nikmatilah hari-harimu, hitunglah berkat yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu. Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan ini ke semua teman-temanmu untuk mengingatkan mereka betapa. diberkatinya kita semua.
"Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak nikmat kepadamu ."
Ditujukan pada : Departemen Pernyataan Terima Kasih.
"Terima kasih, Tuhan! Terima kasih, Tuhan, atas anug'rah-Mu berupa kemampuan untuk menerjemahkan dan membagi pesan ini dan memberikan aku begitu banyak teman-teman yang istimewa untuk saling berbagi."
Sumber : IndoForum
I Tawarikh 16:34 "Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya."
Kolose 4:2 "Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur."
I Tesalonika 5:18 "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."
Klinik Rohani
TUJUH TELADAN KRISTUS DI DALAM PENDERITAAN
Ketika di dalam kehidupan nyata umat kristen menemui berbagai penghinaan dan ketidak adilan karena mempertahankan iman kekristenan, maka ada tujuh teladan yang dapat kita ikuti agar kesabaran dan kerendahan hati berlimpah dalam kehidupan :
1. Penderitaan-penderitaan
"sebab untuk itulah kamu dipanggil , karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu supaya kamu mengikuti jejak-NYA". (1 Petrus 2:21) karena ... "Lalu Yesus berkata kepada murid2-NYA : Setiap orang yang mau mengikuti AKU, ia harus menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikut AKU".
YESUS telah menunjukkan kepada kita bahwa IA telah menerima penderitaan2 sebelum kita dan kita sebagai umat pengikut KRISTUS juga akan menderita karena YESUS. Tidak perlu kita merasa sakit hati, YESUS menderita lebih dari kita dan IA telah menunjukkan kasih-NYA kepada orang yang mengakibatkan penderitaan maka kita juga tidak perlu sakit hati dan menunjukkan kasih pada mereka.
2. Tidak berdosa
"orang menempatkan kuburnya diantara orang-orang fasik, dan dalam mati-NYA IA ada diantara penjahat2, sekalipun IA tidak berbuat kekerasan dan tipu daya tidak ada dalam mulut-NYA". lalu dikuatkan oleh surat 1 Petrus 2:22 "IA tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada dalam mulut-NYA".
YESUS telah menunjukkan kepada kita bahwa meskipun penderitaan menghampiri kita, maka kita sebagai umat KRISTUS tetap menjaga hati dan pikiran kita agar tidak berdosa. YESUS adalah TUHAN, kita adalah manusia yg tak lepas dari dosa, maka dengan berdoa dan mengucap syukur, TUHAN akan menjaga kita dari dosa2 dunia.
3. Tidak pernah menipu
"IA tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada dalam mulut-NYA".(1 Petrus 2:22).
Hendaknya kebenaran ada dalam diri kita meskipun penderitaan menghampiri, sama seperti YESUS tidak pernah berbicara kebohongan ketika dianiaya dan disalib.
4. Tidak pernah membalas pada saat dicaci maki
"Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk" (Roma 12:14) dikuatkan oleh perkataan YESUS sendiri "Tetapi AKU berkata kepadamu: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, karena dengan demikian kamu menjadi anak2 BAPA-mu di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar". (Matius 5:44-45).
hal tidak membalas caci maki merupakan hal yang paling berat untuk dilakukan sebagai umat manusia. sebagai manusia biasa kita selalu tergoda untuk membalas segala sakit hati kepada mereka. namun dengan keteguhan dan ketekunan hati, YESUS telah merubah sakit hati tersebut menjadi kebahagiaan yang utuh tak kurang suatu apapun melalui satu ujian (ujian kerendahan hati).
5. Sabar di dalam ancaman
"Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa". (Roma 12:12) karena YESUS sendiri mengatakan "Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu". (Lukas 21:19)
Teladan bersabar di dalam ancaman merupakan esensi dalam ajaran kristen yaitu YESUS menunjukkan kasih-NYA kepada musuhnya dan kehidupan yang dijanjikan-NYA adalah kehidupan kekal. begitu indah dan abadi.
6. Menyerahkan segala hal kepada ALLAH
"Ketika IA dicaci maki, IA tidak membalas dengan mencaci maki, ketika IA menderita IA tidak mengancam, tetapi IA menyerahkan kepada DIA yang mengadili dengan adil". (1Petrus 2:23)
Ketika manusia terjebak dalam pederitan yang tiada habisnya, maka satu teladan yang patut kita contoh dari YESUS adalah menyerahkan segala perkara kita kepada TUHAN karena IA yang empunya hidup akan menyelesaikan segalanya dengan adil. maka jangan takut berada dalam penderitaan karena kita umat kristen mempunyai ALLAH yang kuat, ALLAH yang hidup, ALLAH yang adil.
7. Kebenaran dalam Iman
"IA sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-NYA di kayu salib, supaya kita yang telah mati terhadap dosa , hidup untuk kebenaran. Oleh bilur2-NYA kamu telah sembuh". (1Petrus 2:24)
Penebusan dosa yang dilakukan YESUS adalah inti kebenaran pengajaran-NYA, kebenaran yang mutlak, kebenaran yang tidak terbantahkan supaya kita sebagai umat kristen tidak sia-sia mempercayai YESUS adalah juru selamat manusia dan kita menerima anugerah keselamatan abadi dan bukan kematian kekal.
KASIH KARUNIA TUHAN YESUS MENYERTAI SAUDARA SEKALIAN !
Sumber : Forum Bebas
Klinik Rohani
1. Penderitaan-penderitaan
"sebab untuk itulah kamu dipanggil , karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu supaya kamu mengikuti jejak-NYA". (1 Petrus 2:21) karena ... "Lalu Yesus berkata kepada murid2-NYA : Setiap orang yang mau mengikuti AKU, ia harus menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikut AKU".
YESUS telah menunjukkan kepada kita bahwa IA telah menerima penderitaan2 sebelum kita dan kita sebagai umat pengikut KRISTUS juga akan menderita karena YESUS. Tidak perlu kita merasa sakit hati, YESUS menderita lebih dari kita dan IA telah menunjukkan kasih-NYA kepada orang yang mengakibatkan penderitaan maka kita juga tidak perlu sakit hati dan menunjukkan kasih pada mereka.
2. Tidak berdosa
"orang menempatkan kuburnya diantara orang-orang fasik, dan dalam mati-NYA IA ada diantara penjahat2, sekalipun IA tidak berbuat kekerasan dan tipu daya tidak ada dalam mulut-NYA". lalu dikuatkan oleh surat 1 Petrus 2:22 "IA tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada dalam mulut-NYA".
YESUS telah menunjukkan kepada kita bahwa meskipun penderitaan menghampiri kita, maka kita sebagai umat KRISTUS tetap menjaga hati dan pikiran kita agar tidak berdosa. YESUS adalah TUHAN, kita adalah manusia yg tak lepas dari dosa, maka dengan berdoa dan mengucap syukur, TUHAN akan menjaga kita dari dosa2 dunia.
3. Tidak pernah menipu
"IA tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada dalam mulut-NYA".(1 Petrus 2:22).
Hendaknya kebenaran ada dalam diri kita meskipun penderitaan menghampiri, sama seperti YESUS tidak pernah berbicara kebohongan ketika dianiaya dan disalib.
4. Tidak pernah membalas pada saat dicaci maki
"Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk" (Roma 12:14) dikuatkan oleh perkataan YESUS sendiri "Tetapi AKU berkata kepadamu: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, karena dengan demikian kamu menjadi anak2 BAPA-mu di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar". (Matius 5:44-45).
hal tidak membalas caci maki merupakan hal yang paling berat untuk dilakukan sebagai umat manusia. sebagai manusia biasa kita selalu tergoda untuk membalas segala sakit hati kepada mereka. namun dengan keteguhan dan ketekunan hati, YESUS telah merubah sakit hati tersebut menjadi kebahagiaan yang utuh tak kurang suatu apapun melalui satu ujian (ujian kerendahan hati).
5. Sabar di dalam ancaman
"Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa". (Roma 12:12) karena YESUS sendiri mengatakan "Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu". (Lukas 21:19)
Teladan bersabar di dalam ancaman merupakan esensi dalam ajaran kristen yaitu YESUS menunjukkan kasih-NYA kepada musuhnya dan kehidupan yang dijanjikan-NYA adalah kehidupan kekal. begitu indah dan abadi.
6. Menyerahkan segala hal kepada ALLAH
"Ketika IA dicaci maki, IA tidak membalas dengan mencaci maki, ketika IA menderita IA tidak mengancam, tetapi IA menyerahkan kepada DIA yang mengadili dengan adil". (1Petrus 2:23)
Ketika manusia terjebak dalam pederitan yang tiada habisnya, maka satu teladan yang patut kita contoh dari YESUS adalah menyerahkan segala perkara kita kepada TUHAN karena IA yang empunya hidup akan menyelesaikan segalanya dengan adil. maka jangan takut berada dalam penderitaan karena kita umat kristen mempunyai ALLAH yang kuat, ALLAH yang hidup, ALLAH yang adil.
7. Kebenaran dalam Iman
"IA sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-NYA di kayu salib, supaya kita yang telah mati terhadap dosa , hidup untuk kebenaran. Oleh bilur2-NYA kamu telah sembuh". (1Petrus 2:24)
Penebusan dosa yang dilakukan YESUS adalah inti kebenaran pengajaran-NYA, kebenaran yang mutlak, kebenaran yang tidak terbantahkan supaya kita sebagai umat kristen tidak sia-sia mempercayai YESUS adalah juru selamat manusia dan kita menerima anugerah keselamatan abadi dan bukan kematian kekal.
KASIH KARUNIA TUHAN YESUS MENYERTAI SAUDARA SEKALIAN !
Sumber : Forum Bebas
Klinik Rohani
mau dong EMAS 24 Karat !!!

Alkisah seorang raja yang kaya raya dan sangat baik. Ia mempunyai banyak sekali emas dan kuningan. Karena terlalu banyak sehingga antara emas dan kuningan tercampur menjadi satu.
Suatu hari raja yang baik hati ini memberikan hadiah emas kepada seluruh rakyatnya. Dia membuka gudangnya lalu mempersilahkan rakyatnya mengambil kepingan emas terserah mereka. Karena antara emas dan kuningan tercampur menjadi satu sehingga sulit sekali dibedakan mana yang emas dan mana yang kuningan, lalu mana yang emasnya 24 karat dan mana yang emasnya hanya 1 karat.
Namun karena ada peraturan dari Sang Raja, yaitu bila mereka sudah MEMILIH dan MENGAMBIL SATU dari emas itu, mereka tidak boleh mengembalikannya lagi.
Tetapi raja menjanjikan bagi mereka yang mendapat emas hanya 1 karat atau mereka yang mendapatkan kuningan, mereka dapat bekerja di kebun raja dan merawat pemberian raja itu dengan baik, maka raja AKAN MENAMBAH dan MEMBERIKAN KADAR KARAT itu sedikit demi sedikit.
Mendengar itu bersukacitalah rakyatnya, sambil mengelu-elukan rajanya. Mereka datang dari penjuru tempat dan satu persatu dari mereka dengan berhati-hati mengamat-amati benda-benda itu. Waktu yang diberikan kepada mereka semua ialah SATU SETENGAH HARI, dengan perhitungan SETENGAH HARI UTK MEMILIH, SETENGAH HARI UTK MERENUNGKAN dan SETENGAH HARI LAGI UTK MEMUTUSKAN.
Para prajurit selalu siaga menjaga keamanan pemilihan emas tsb. Karena tidak jarang terjadi perebutan emas yang sama diantara mereka. Selama proses pemilihan berlangsung, seorang prajurit mencoba bertanya kpd salah seorang rakyatnya, “Apa yang kau amat-amati, sehingga satu setengah hari kau habiskan waktumu di sini?”
Jawab orang itu: “Tentu saja aku harus berhati-hati, aku harus mendapatkan emas 24 karat itu.”
Lalu tanya prajurit itu lagi: “Seandainya emas 24 karat itu tidak pernah ada, atau hanya ada satu diantara setumpuk emas ini, apakah engkau masih saja mencarinya? Sedangkan waktumu sangat terbatas?”
Jawab orang itu lagi: Tentu saja tidak, aku akan mengambil emas terakhir yang ada ditanganku begitu waktuku habis.”
Lalu prajurit itu berkeliling dan ia menjumpai seorang yang tampan, melihat perangainya ia adalah seorang kaya. Bertanyalah prajurit itu kepadanya, “Hai orang kaya apa yang kau cari di sini. Bukankah engkau sudah lebih dari cukup?”
Jawab orang kaya itu, “Bagiku hidup adalah uang, kalau aku bisa mengambil emas ini tentu saja itu berarti menambah keuntunganku. ”
Kemudian prajurit itu kembali mengawasi satu persatu dari mereka, maka tampak olehnya seseorang yang sejak satu hari ia selalu menggenggam kepingan emasnya. Lalu dihampirinya orang itu, “Mengapa engkau diam di sini?. Tidakkah engkau memilih emas-emas itu? Atau tekadmu sudah bulat untuk mengambil emas itu?’
Mendengar perkataan prajurit itu,orang ini hanya diam saja. Maka prajurit bertanya lagi,”Atau engkau yakin bahwa itulah emas 24 karat, sehingga engkau tidak lagi berusaha mencari yang lain?”
Orang itu masih terdiam, prajurit itu semakin penasaran. Lalu ia lebih mendekat lagi, “Tidakkah engkau mendengar pertanyaanku? ”
Sambil menatap prajurit, orang itu menjawab: “Tuan,saya ini orang miskin. Saya tidak pernah tahu mana yang emas dan mana yang kuningan. Tetapi HATI SAYA MEMILIH EMAS INI, saya pun tidak tahu berapa kadar emas ini. Atau jika ternyata emas ini hanya kuningan pun saya juga tidak tahu.”
“Lalu mengapa engkau tidak mencoba bertanya kepada mereka atau kepadaku kalau engkau tidak tahu.” Tanya prajurit itu lagi.
“Tuan, emas dan kuningan ini milik raja. Jadi menurut saya hanya raja yang tahu mana yang emas dan mana yang kuningan, mana yang 1 karat dan mana yang 24 karat. Tetapi satu hal yang saya percaya, janji raja untuk mengubah kuningan menjadi emas, itu yang lebih penting.” Jawabnya lugu.
Prajurit ini semakin penasaran, “Mengapa bisa begitu?”
“Bagi saya berapa pun kadar emas ini cukup buat saya. Karena kalau saya bekerja, saya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membeli emas Tuan.”
Prajurit tampak tercengang mendengar jawaban dari orang ini, lalu ia melanjutkan perkataannya,
“Lagipula Tuan, peraturannya saya tidak boleh menukar emas yang sudah saya ambil.”
“Tidakkah engkau mengambil emas-emas yang lain dan menukarnya sekarang selagi masih ada waktu?” Tanya prajurit lagi.
“Saya SUDAH MENGGUNAKAN WAKTU ITU, kini waktu setengah hari terakhir saya, inilah saatnya saya mengambil keputusan. Jika saya GANTIKAN EMAS INI DENGAN YANG LAIN, BELUM TENTU SAYA MENDAPAT YANG LEBIH BAIK DARI PUNYA SAYA INI. Saya memutuskan untuk mengabdi pada raja dan merawat milik saya ini, untuk menjadikannya emas yang murni.”
Tak lama lagi lonceng istana berbunyi, tanda berakhir sudah kegiatan mereka. Lalu raja keluar dan berdiri ditempat yang tinggi sambil berkata, “Wahai rakyatku yang kukasihi. Semua emas yang kau genggam itu adalah hadiah yang telah kuberikan. Sesuai dengan perjanjian, tidak seorang pun diperbolehkan menukar atau pun menyia-nyiakan hadiah itu. Jika didapati hal di atas maka orang itu akan MENDAPAT HUKUMAN karena ia tidak menghargai raja.”
Kata-kata raja itu disambut hangat oleh rakyatnya. Lalu sekali lagi di hadapan rakyatnya raja ingin memberitahu tentang satu hal, “Dan ketahuilah, bahwa sebenarnya tidak ada emas 24 karat itu. Hal ini dimaksudkan bahwa kalian semua harus mengabdi kepada kerajaan. Dan hanya akulah yang dapat menambah jumlah karat itu, karena akulah yang memilikinya. Selama satu setengah hari, setengah hari yang kedua yaitu saat kuberikan waktu kepada kalian semua untuk merenungkan pilihan, kalian kutunggu untuk datang kepadaku menanyakan perihal emas itu. Tetapi sayang sekali, hanya 1 orang yang datang kepadaku untuk menanyakannya. ”
Demikianlah raja yang baik hati dan bijaksana itu mengajar rakyatnya. Dan selama bertahun-tahun ia dengan sabar menambah karat satu persatu dari emas rakyatnya.
(Dikutip dari: “When We Have to Choice” / Kumpulan Sharing dan Cerpen)
====================================
Berharap melalui alkisah di atas kita dapat merefleksi diri dalam mencari pasangan hidup:
BAGI YANG SEDANG MENCARI PASANGAN (setengah hari untuk memilih) MEMILIH memang boleh, tapi MANUSIA TIDAK ADA YANG SEMPURNA, jangan lupa emas-emas itu milik sang raja jadi hanya dia yang tahu menahu masalah itu. Artinya setiap manusia milik Tuhan, jadi berdoalah untuk berkomunikasi denganNYA tentang pasangan anda.
BAGI YANG TELAH MEMPEROLEH PASANGAN (setengah hari untuk merenungkan) Mungkin pertama kali Anda mengenal, si dia nampak emas 24 karat.Ternyata setelah bertahun-tahun kenal, si dia hanya berkadar 10 karat. Diluar, memang KITA DIHADAPKAN DENGAN BANYAK PILIHAN, sama dengan rakyat yang memilih emas tadi. Akan tetapi pada saat KITA SUDAH MENDAPATKANNYA BELUM TENTU WAKTU KITA MELEPASKANNYA KITA MENDAPAT YANG LEBIH BAIK. Jadi jika dalam tahap ini Anda merasa telah mendapatkan dia, hal yang terbaik dilakukan ialah menilai secara objective siapa dia (karena itu KETERBUKAAN dan KOMUNIKASI sangat penting dalam menjalin hubungan) dan MENYELARASKAN HATI. Anda bersamanya.. Begitu Anda tahu tentang HAL TERJELEK dalam dirinya sebelum Anda menikah itu lebih baik. Dengan demikian Anda tidak merasa shock setelah menikah. Tinggal BAGAIMANA ANDA MENERIMANYA. Anda mampu menerimanya atau tidak, Anda mengusahakan perubahannya atau tidak.
“CINTA SELALU BERJUANG” Jangan anggap tidak pernah ada masalah dalam jalan cinta Anda. Justru jika dalam tahap ini Anda tidak pernah mengalami masalah dengan pasangan Anda (TIDAK PERNAH BERTENGKAR MUNGKIN) Anda malah harus berhati-hati, karena ini adalah hubungan yang tidak sehat, berarti banyak kepura-puraan yang ditampilkan dalam hubungan Anda. Yang terpenting adalah NIAT BAIK DIANTARA PASANGAN, sehingga dengan KOMITMEN dan CINTA, SEGALA SESUATU SELALU ADA JALAN KELUARNYA. Meskipun dalam tahap ini Anda masih punya waktu setengah hari lagi untuk memutuskan, artinya Anda masih dapat berganti pilihan, akan tetapi PERTIMBANGKAN DENGAN BAIK hal ini.
BAGI YANG TELAH MENIKAH (setengah hari untuk memutuskan) Dalam tahap ini, siapa pun dia berarti Anda telah mengambil keputusan untuk memilihnya. Jangan berpikir untuk mengambil keuntungan dari pasangan Anda. Jika ini terjadi berarti Anda EGOIS, sama halnya dengan orang kaya di atas. Dan dengan demikian Anda TIDAK PERNAH PUAS DENGAN DIRI PASANGAN ANDA, maka tidak heran banyak terjadi perselingkuhan. Anda tidak boleh merasa menyesal dengan pilihan Anda sendiri. Jangan kuatir raja selalu memperhatikan rakyatnya dan menambah kadar karat pada emasnya.
Jadi percayalah kalau Tuhan pasti akan memperhatikan Anda dan DIA YANG PALING BERKUASA MENGUBAH SETIAP ORANG. Perceraian bukanlah solusi, sampai kapan kita harus menikah lalu bercerai, menikah lagi dan bercerai lagi??
Ingatlah si dia adalah HADIAH, siapa pun dia terimalah dia karena sekali lagi itulah pilihan Anda. Ingat ini adalah setengah hari terakhir yaitu waktu untuk memutuskan, setelah itu Anda tidak boleh menukar atau menyia-nyiakan emas Anda. Jadi peliharalah pasangan Anda sebagaimana HADIAH TERINDAH YANG TELAH TUHAN BERIKAN. Dan apa pun yang terjadi dengan pasangan Anda komunikasikanlah dengan Tuhan, KARENA DIA YANG MEMILIKI HATI SETIAP MANUSIA.
sumber : heartnsouls.com
Amsal 3:5-8 "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu"
Klinik Rohani
Saturday, February 7, 2009
Sharing of the Jesus Way (1)
Kekuatan terbesar yang diberkati adalah ketika kita menangis
Menangisi sesuatu hal
bisa saja menangis berarti sebagai tanda sukacita dengani perbuatan yang telah kita lakukan
bisa saja menangis berarti sebagai tanda penyesalan atas perbuatan-perbuatan yang sudah dilakukan
Percayakah kita jika pertolongan dari Tuhan tidak akan pernah terlambat?
setiap orang akan dan telah mengalaminya. bahkan berulang-ulang dalam berbagai kesempatan.
Dia selalu hadir, datang tepat pada waktunya dalam berbagai hal
ketika hidup kita jalan berkelimpahan dengan harta
ketika hidup kita hanya berjalan-jalan di tempat
ketika hidup kita seperti mummi, zombie, kering seperti kita berada dibawah teriknya sinar matahari
Dia bukan hanya meneropong kita, namun dengan cintaNya, Dia begitu dekatnya secara tidak kita sadari Dia telah bersemayam dalam hati kita
Hanya saja ...
Hanya saja ......
Hanya saja .........
kalau kita tidak ingin disebut egois, katakanlah kita selalu mempercayai diri sendiri melebihi apa yang kita dengar
sayangnya, selama ini berarti kita selalu mengandalkan sebagian kecil karya terbesar dari Tuhan
dengan hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri
Berkat tercurah?
Saluran berkat terbuka ketika kita mengakui kelemahan-kelemahan kita dihadapan Nya
Ketika kita datang dengan hati yang remuk redam
Ketika kita datang dengan hati yang penuh sukacita
Apapun suasana hati yang kita alami itu tidaklah sepenting bagaimana kita menyadari hal ini
Dengan kerendahan hati
Dengan ketulusan hati
Dengan kebeningan hati
Dengan kerinduan terhadap pertolongan kuasa Tuhan
Bahwa kita ini begitu rapuh dengan pelbagai pikiran-pikiran manusia kontemporer
Dengan berbagai kekhawatiran-kekhawatiran yang menghantui masa depan
Jesus Way, for you !
Bukalah hati lebar-lebar untuk kehadiran Tuhan Yesus dan segenap laskar surgawi-Nya
Kalau diitung-itung.. ternyata Tuhan Yesus tidak meminta banyak hal dari kita kok
Anehnya lagi kita selalu diingatkan akan kasih Nya yang terus mengalir gak pernah henti kayak Oase
dengan cara yang unik dan “heran”
Bahkan Dia mengatakan kalau kita ini sungguh sangat berharga untuk Nya
dan untuk pekerjaan Tuhan
Setiap dari kita sungguh bernilai dihadapan Tuhan
The of Jesus way response
Dengan berdoa dan membiarkan kasih dan roh Tuhan membuat kita berurai air mata - menangis
percaya saja dech... itu menandakan kita begitu kangen dan merindukan Yesus yang hidup
percaya saja dech... Tuhan sudah memberikan hikmat pada kita
karena cara Tuhan itu seringnya gak bisa dimengerti dengan pikiran kita!
dengan membiarkan dan membukakan hati kita ...
artinya kita telah mempersilahkan Yesus hadir, dan tinggal secara Permanent Resident
Tuhan Yesus telah jadikan kita sebagai ciptaan yang baru dan kudus
Dia telah jadikan kita sebagai saluran berkat yang sebagaimana yang Yesus ketahui tentang diri kita masing-masing
Bukan dengan kasih yang sementara dan mahalnya sebuah brown diamond atau white diamond hidup dan dosa kita sudah ditebus oleh Nya
Tetapi kita menjadi baru karena memang kita diundang olehNya
diundang dan diurapi dengan darah Nya yang begitu mahal dan kudus yang telah tercurah dikayu salib
Dia telah begitu "gilanya" untuk mati dan menebus dosa serta meringankan semua beban yang kita pikul
Sungguh, dan gw bersyukur dan berterima kasih atas segenap kasih yang Tuhan berikan
Karena gw tahu ....
Pada pagi ini dan hari hari sebelumnya
Tuhan selalu memcurahkan kasih Nya tiada henti
Dia selalu ada disisi kita untuk memberikan kelegaan dan sukacita yang terurai dalam air mata di saat fajar menyingsing ini tidak pernah sia-sia
Tuhan selalu punya rencana indah yang luar biasa dahsyat untuk anak-anakNya
Amin
Griya Tugu Asri Depok Residence, 5:30 AM
Thursday, February 5, 2009
The Art of Writing Emails

Like it or not, emails are a big part of working life. Read on to find out how they can be an effective tool for you.
By Rekha Guruswamy
In an increasingly digital world, email has emerged as the leading tool for communicating in the corporate world. Besides being quick, cheap and efficient, email is also highly versatile; putting official correspondence, work reminders and meetings literally at your fingertips, allowing you to easily reach everyone from clients to superiors.
With such diverse applications however, emails may lose their intended effect or even communicate the wrong message if proper protocol and netiquette isn’t used. To ensure that your emails get the attention they deserve, here are some practices that would help give you that professional edge.
First impressions
As with any physical encounter, first looks determine if something is worth paying any attention to. With emails, a meaningful and relevant subject line that includes the topic will allow recipients to place priority on your message. Avoid generic and informal subjects like “Hi”, “Urgent” or worse, a blank subject field; these are not clear enough and may even get dismissed as spam (gasp!).
Hello!
Proper greetings help to convey your respect for the recipient. If you’re unsure of how to start, “Dear…” followed by the reader’s correct salutation (Mr, Mrs, Ms) and full name is always a safe bet. However, if the addressee’s name or title is unknown, use “Sir” or “Madam” instead.
It’s all in the tone
Emailing is inherently risky because its written nature doesn’t allow tones, and therefore emotions, to be adequately transmitted. Here’s where netiquette comes into play. Typing in capital letters with exclamation marks strewn all over suggests that you’re angry, shouting, and thus rude. At the same time, use the backspace key to your advantage. Unlike spoken conversations, words in email can be taken back and deleted (before you press ‘Send’ anyway), so review your choice of words and sentence structure, making sure that the reader will understand your message as it was meant to be.
Speak good English
While you’re making sure of an appropriate tone, you might as well check if your language is correct - capitalise “I’s” and first letters of sentences, remove abbreviations and get rid of the Singlish. Also, avoid being pretentious and misusing words with meanings distorted by local usage. A prime example is “revert” which actually means “to return to doing, using, being or referring to something, usually bad or less satisfactory”; simply use “reply” instead.
Break it up
Large chunks of text can be cumbersome to read and digest, especially if they’re filled with big words. Where possible, be direct and use simple English. Phrase your sentences concisely and separate a large body into neat paragraphs. If necessary, use bullet points to convey distinct bits of information.
Be technologically courteous
Rich text and HTML can jazz up a dull email with different colours and a variety of fonts. However, be aware that not all email clients allow their recipients to view such formatting correctly. Besides, that font may be too small and the colour too glaring to read properly off.
Files sent through email should be as small as possible, sent only when productive and relevant to the topic. Make sure to scan files before they’re attached; you wouldn’t want a potential client turned away by a virus lurking in your email.
Signing off
End your email politely by signing off with “Yours sincerely” or something similar.
Send away
Email allows you to vary the way addressees receive their messages. CC and BCC stand for “Carbon Copy” and “Blind Carbon Copy” respectively. Use the former for discussions or to keep the boss updated regarding progress while the latter is best used to email different recipients who don’t know each other and when you want to prevent email addresses from being disclosed unnecessarily.
“Reply to All” should only be used when the message absolutely needs to be seen by every person on the original mailing list.
Forwarding and copying messages sends the entire content of another email in your inbox to your recipient. Do note however that email is usually confidential in nature and copyright protected by the writer of the initial email unless explicitly mentioned otherwise. Wantonly forwarding information is frowned upon as poor information management and potential grounds for a copyright infringement suit.
Last but not least, thoroughly vet your email, address list and any attachments. Too many careers have been cut short due to inappropriate and wrongly addressed email as well as plain, useless spam clogging up servers and inboxes. Spare your job from the chopping board, spare a thought the next time you’re about to press that ‘Send’ button.
Delay replies. One advantage of email over fax and snail mail is that it’s almost instantly delivered to you. Putting off replies negates this virtue and besides, it doesn’t portray a very good image of the company you’re representing.
Miss questions. Email allows you to respond comprehensively to questions but if the queries are too complicated, it’s better than nothing to say that you’ve received the email and are working on answering the questions as best as possible.
Discuss colleagues, vent your anger or spam the network with joke and hoax emails. Company emails are often monitored by administrators and such emails may be seen by management as a waste of resources and an indication that you’re too free.
Drag out email conflicts. Where possible, arrange for a face-to-face or at least a telephone call to clear the air.
Overuse the “High Priority!” option. Like the boy who cried wolf, you just might not be taken seriously enough when it’s absolutely essential for you to get an urgent message across.
Be too stiff. Emails ARE personal exchanges of information just like spoken conversations and should include customised content. Where relevant, use the active instead of passive voice of a verb. Avoid emoticons however, being too casual will make
your recipients not take you seriously.
Forget to adapt. As correspondence between parties increase, it’s often better to adopt a less formal tone to facilitate communication. It’s still not an excuse to be rude and oblivious though.
Beat the Competition

Fresh out of polytechnic and with little but a diploma to your name, chances are, getting a job will be harder than you could possibly imagine with competition from foreigners, more experienced jobseekers and of course, the friends you graduated with.
By Azhar Jalil
If you’ve lived in Singapore long enough, you’d know it’s all about the rat race. So while you can pat yourself on the back for now after having achieved that diploma, don’t stay aloof for too long...
The latest surveys show that the local pool of diploma holders grew by 32% over the past decade, definitive proof of the government’s success at creating a more educated workforce. What this means to you however, is that competition for jobs is now stiffer then ever, more so when you haven’t really got an edge over anyone else.
Here’s a reality check: studies indicate that one in 10 of the jobless here are diploma graduates, with the fresh and young graduate demographic typically experiencing higher unemployment rates. Rejection after rejection will only leave you exasperated and despondent, but what can you do to boost your employability?
First off, understand that job-hunting is all about selling yourself. The better you’re packaged and the more bells and whistles you’ve got, the likelier you are to emerge ahead of your competitors and land that job.
Chase that paper
If you rest on your laurels, you’ll only get left behind. The paper chase is still a hallmark of working here and it seems to be here to stay. After all, as a fresh polytechnic graduate, what else have you got to show besides your certificate and transcript?
If you’ve still got it in you, go straight for a degree. Doing so will not only give you more valuable paper accreditation but also a better standing when push comes to shove in a tight and cut-throat labour market.
Get with the programme
Make the most of the free time on your hands now by taking up recognised courses that are relevant to your chosen line of work. They should equip you with a variety of skills and upgrade your proficiencies. UniSIM and MDIS offer such certifications and programmes that are well-accredited and recognised locally.
Not all employers have the effort, patience or money to train fresh hires. By being already equipped and proficient, you’ll be that much more enticing to managers who will be grateful for the opportunity to put you to work immediately.
Give in, give out
Of course, having been in school for the past decade or so, it’s quite understandable if you don’t feel like hitting the books again for a while. Why not volunteer instead?
The National Volunteer & Philanthropy Centre (NVPC) manages an online database that connects volunteers and their interests with associations that will benefit from their expertise. Volunteers can also choose to take up leadership positions, and assignments can be based both locally and abroad.
While the social organisations and their dependents gain from your help, you stand to benefit as well. Volunteering allows you to build your leadership and organising skills while also giving you relevant exposure to grow from.
Holy Moolah
If money is your thing though, consider giving entrepreneurship a try. Not only will a successful business be very useful in lining your pockets with money, doing business can also help build up a network of contacts. The value of having a wide web of acquaintances and associates cannot be underestimated. Who knows if you might earn a personal recommendation from anyone in your contact list?
Besides being able to hone your sense of initiative and enterprise, an entrepreneurial experience will also instil confidence while building up your initiative and financial skills.
Intern for now
If you find that a full-time job is really unattainable at this stage, it’s not so bad to intern and temporarily settle for less. Choose a company with a good reputation and sound people management, so that your time spent there won’t go to waste. It’s not unheard of for well-received interns to be offered permanent positions at their host companies.
Interning will also give you a good impression of what the working world is really like, from dealing with office trolls, right down to managing your paycheck so you won’t have to “eat grass” a week before the next payday.
Look far, look wide
Actually, you’ve already taken the first step towards boosting your chances of success by picking up this issue of Career Central and reading it. Make use of the vast amount of career tips and resources available in this magazine and also online at community.jobscentral.com.sg to give yourself a leg up in your job hunt.
Remember that it’s all about creating a package that will promote yourself well. Your selling points are the successes you’ve achieved through these interim activities. Quantify these successes and include them in your rĂŠsumĂŠ to make it meatier than your competitors’.
With these to beef up your rĂŠsumĂŠ and a little bit of luck, you’ll definitely beat the rest to the punch and surge ahead of the competition.
The 2009 Recession: Work-related depression

More companies are expected to retrench employees in the year ahead. In these tough times, work-related depression is likely to be a growing problem at the workplace. If you're already feeling the recession blues, read on to find out how you can identify and tackle work-related depression.
By Denise Chew
Depression is a common illness. Statistics show that one in five women and one in ten men will suffer from it at some point in their lives. In the workplace, approximately three in ten employees will have mental health problems, of which depression is one of the most common...
This has great impact on worker productivity and ultimately the company’s bottom line. In the US, depression has become one of the country’s most costly illnesses. Left untreated, depression is as costly as heart disease or AIDS to the US economy.
Recognising the symptoms
If you have not suffered from depression yourself, or do not know anyone who has, it can be difficult to appreciate what it is like. Most people have felt sad or miserable as a result of a personal loss or distressing event. That feeling will eventually pass with time. If it drags on, gets worse and starts to dominate someone’s daily life, the person is likely to be suffering from depression. This is an unhappiness that will come “out of the blue” for no apparent reason and should be treated as a medical illness.
Work-related depression
For most, work is a significant and meaningful part of life. On average, 25% of our adult working life is spent working. It is not uncommon to get out of bed on a Monday morning and groan at the thought of going into work for another long week. Work-related depression is not just Monday morning blues however. It can seriously affect someone’s ability to work effectively and may be so bad that he will have to stop working completely for a time.
Someone suffering from work-related depression can start to behave out of character.
Causes of work-related depression
Work-related depression may arise from:
• Excessive working hours
• Poor physical conditions, for example, cramped offices, noisy factories, hot and stuffy environment
• Type of work, for example, repetitive work which does not fully utilise an employee’s potential
• Uncertainty about performance
• Job instability and organisational changes
• Frustration if workers have no say in the way their work is organised, or if decisions are imposed from above without any discussion
• “Difficult” bosses who bully and criticise
Work-related depression may also be a result of being laid off and subsequently not being able to find another job. Long-term unemployment will often bring about a feeling of being useless and unmarketable which can spiral downwards into depression.
What can be done?
Self-help
Everyone has a personal responsibility to look after their own well-being. Maintaining a balance between work, play and family is a key factor. Regular activities outside work will help you meet new people, take your mind away from work worries and remind you that there is more to life than just the office. If you feel that you are stuck in a rut, a change in your daily routine or a change in attitude can start the positive energy flowing again.
Exercise regularly as physical activity reduces stress and gives the brain a much needed break. Continue to learn and grow at work while maintaining a healthy balance of recreational activities. Do not remain stagnant. Look for courses or opportunities to develop new skills and keep raising the bar for yourself. Think positively and reflect on what you have achieved versus worrying about future work. Avoid unhelpful avenues of stress relief like increased alcohol or caffeine intake or smoking.
Get external help
Talking about your feelings is often helpful in itself. It can give a fresh perspective and provides you with the comforting knowledge that you are not alone in your worries. Many people with mild depression feel better once they have discussed their problems with someone. This could be confiding in trusted friends or relatives, calling telephone hotlines, group therapy or professional counselling. Anyone concerned that they need help should also consult their GP for advice. If there is a diagnosis for depression, a course of anti-depressants may be prescribed.
Management responsibility
An unproductive workforce is not in the management’s best interests. Work-related depression incurs a heavy toll in financial cost and human suffering. The United Kingdom National Health Service states that work-related stress is a symptom of an organisational problem, not an individual weakness.
The key steps that should be taken are:
• Recognise the problem
• Develop organisational awareness of what the symptoms are
• Put in programs to handle work-related depression
Many employees are afraid of admitting that they may be depressed due to the stigma of being labelled “crazy”. They worry about how they will be perceived by their colleagues and fear that their job security may also be affected. Companies have to handle cases of work-related depression with sensitivity. Everyone in the organisation should be made aware of the importance of recognising and helping colleagues who may be suffering from depression. The underlying concept being that positive action will result in benefits not just to the individuals but to the company as a whole.
The way in which a company is organised and operates can have an effect on the mental well-being of its workforce. This includes the physical environment, job responsibilities as well as how people are selected, trained and supervised. Monitoring employee job satisfaction, their happiness with management and where the company is headed is also very important.
Stress management courses can be conducted and employees educated on the various avenues for getting external help.
If staff have to be made redundant, help them with the traumatic transition by providing counselling services and highlighting resources they can utilise to re-train and find alternative employment.
In conclusion, work is a double-edged sword. While it can provide us with structure, purpose, satisfaction, self-esteem and spending power, the workplace can also be a setting of stress and worry. As employees and employers, we need to manage our work and the environment we work in to bring about positive benefits to all.
Get Help, You Don’t Have to be Depressed
If you are suffering from depression, you don’t have to be alone. You can get help and support.
Please contact one of the organisations below.
Samaritans of Singapore (SOS)
http://www.samaritans.org.sg
24-hour hotline providing emotional support to anyone who is depressed or may have suicidal feelings. If you are feeling afraid, confused, anxious, discouraged or sad and you need someone to talk to, call the hotline 1800-221-4444.
Face-to-Face Sessions - For those who prefer to meet up to talk about their problems, please call the hotline 1800-221-4444 for appointment first. Face-to-face sessions are from 8.30 am to 7 pm only.
Singapore Association for Mental Health
http://www.samhealth.org.sg
Helpline service 1800-283-7019 - operates during office hours, from 9 am to 1 pm, 2 pm - 6 pm on weekdays only. It serves to provide immediate assistance to callers who seek advice for their personal issues or a listening ear for comfort and displacement.
Face-to-face counselling is also available.
Institute of Mental Health Clinic
http://www.imh.com.sg/patient_education/depression.htm
Tel: 6389-2200 Clinic hours: Monday to Thursday - 8 am to 5.30 pm Friday - 8 am to 5 pm
Tuesday, February 3, 2009
8 Tanda Jodoh Anda
Pertanda 1
Rahasia sepasang kekasih agar bisa memiliki umur hubungan yang panjang adalah adanya saling berbagi. Anda dan dia selalu bisa saling membantu, entah itu pekerjaan sepele atau besar.Paling penting adalah Anda berdua selalu bisa menikmati segala aspek kehidupan secara bersama-sama. Dan semuanya terasa amat menyenangkan meskipun tanpa harus melibatkan orang lain. Nah, apakah Anda sudah merasakan hal tersebut? Jika ya, selamat berarti ada harapan bahwa dia adalah calon pendamping hidup Anda!
Pertanda 2
Salah satu kriteria yang menentukan cocok tidaknya dia itu jodoh Anda atau bukan adalah kemampuannya bersikap santai di depan Anda. Coba sekarang perhatikan, apakah gerak geriknya, caranya berpakaian, gaya rambutnya, caranya berbicara serta tertawanya mengesankan apa adanya? Apakah setiap ucapannya selalu tampak spontan dan tidak dibuat-buat ? Jika tidak, (maaf) kemungkinan besar dia bukan jodoh Anda.
Pertanda 3
Adanya kontak bathin membuat hati Anda berdua bisa selalu saling tahu. Dan bila Anda atau si dia bisa saling membaca pikiran dan menduga reaksi serta perasaanya satu sama lainnya pada situasi tertentu. Selamat! Mungkin sebenarnya dialah belahan jiwa Anda yang tersimpan…
Pertanda 4
Bersamanya bisa membuat perasaan Anda menjadi santai, nyaman tanpa perasaan tertekan. Berjam-jam bersamanya, setiap waktu dan setiap hari tak membuat Anda merasa bosan.. Ini bisa sebagai pertanda bahwa Anda berdua kelak bisa saling terikat.
Pertanda 5
Dia selalu ada untuk Anda dalam situasi apapun. Dan dia selalu bisa memahami cuaca dalam hati Anda baik dalam suka dan duka. Percayalah pasangan yang berjodoh pasti tak takut mengalami pasang surut saat bersama. Sekarang, ingat-ingat kembali. Apakah dia orang pertama yang datang memberi bantuan tatkala Anda dirundung musibah? Dia selalu paham saat PMS Anda datang menyerang? Dia tau keadaan waktu anda sakit….. Jika ya, tak salah lagi. Dialah orangnya…
Pertanda 6
Dia tak terlalu peduli dengan masa lalu keluarga Anda, dia tak peduli dengan masa lalu Anda saat bersama kekasih terdahulu. Dia juga tak malu-malu menceritakan masa lalunya.. Nah, kalau begitu ini bisa berarti dia sudah siap menerima Anda apa adanya..
Pertanda 7
Setiap orang pasti memiliki kekurangan, dan Anda tak malu-malu memperlihatkannya pada si dia. Bahkan pada saat Anda tampil ‘buruk’ di depannya sekalipun, misalnya saat Anda bangun tidur atau saat Anda sakit dan tak mandi selama dua hari.
Pertanda 8
Bila Anda merasa rahasia Anda bisa lebih aman di tangannya daripada di tangan sahabat-sahabat Anda. Atau Anda merasa sudah tak bisa lagi menyimpan rahasia apapun darinya, maka berbahagialah! Karena ini bisa berarti pasangan sejati telah Anda temukan !
Apakah kedelapan pertanda di atas telah Anda temukan padanya?
dari: henlia-spiritual reflection
Pertanda 1
Rahasia sepasang kekasih agar bisa memiliki umur hubungan yang panjang adalah adanya saling berbagi. Anda dan dia selalu bisa saling membantu, entah itu pekerjaan sepele atau besar.Paling penting adalah Anda berdua selalu bisa menikmati segala aspek kehidupan secara bersama-sama. Dan semuanya terasa amat menyenangkan meskipun tanpa harus melibatkan orang lain. Nah, apakah Anda sudah merasakan hal tersebut? Jika ya, selamat berarti ada harapan bahwa dia adalah calon pendamping hidup Anda!
Pertanda 2
Salah satu kriteria yang menentukan cocok tidaknya dia itu jodoh Anda atau bukan adalah kemampuannya bersikap santai di depan Anda. Coba sekarang perhatikan, apakah gerak geriknya, caranya berpakaian, gaya rambutnya, caranya berbicara serta tertawanya mengesankan apa adanya? Apakah setiap ucapannya selalu tampak spontan dan tidak dibuat-buat ? Jika tidak, (maaf) kemungkinan besar dia bukan jodoh Anda.
Pertanda 3
Adanya kontak bathin membuat hati Anda berdua bisa selalu saling tahu. Dan bila Anda atau si dia bisa saling membaca pikiran dan menduga reaksi serta perasaanya satu sama lainnya pada situasi tertentu. Selamat! Mungkin sebenarnya dialah belahan jiwa Anda yang tersimpan…
Pertanda 4
Bersamanya bisa membuat perasaan Anda menjadi santai, nyaman tanpa perasaan tertekan. Berjam-jam bersamanya, setiap waktu dan setiap hari tak membuat Anda merasa bosan.. Ini bisa sebagai pertanda bahwa Anda berdua kelak bisa saling terikat.
Pertanda 5
Dia selalu ada untuk Anda dalam situasi apapun. Dan dia selalu bisa memahami cuaca dalam hati Anda baik dalam suka dan duka. Percayalah pasangan yang berjodoh pasti tak takut mengalami pasang surut saat bersama. Sekarang, ingat-ingat kembali. Apakah dia orang pertama yang datang memberi bantuan tatkala Anda dirundung musibah? Dia selalu paham saat PMS Anda datang menyerang? Dia tau keadaan waktu anda sakit….. Jika ya, tak salah lagi. Dialah orangnya…
Pertanda 6
Dia tak terlalu peduli dengan masa lalu keluarga Anda, dia tak peduli dengan masa lalu Anda saat bersama kekasih terdahulu. Dia juga tak malu-malu menceritakan masa lalunya.. Nah, kalau begitu ini bisa berarti dia sudah siap menerima Anda apa adanya..
Pertanda 7
Setiap orang pasti memiliki kekurangan, dan Anda tak malu-malu memperlihatkannya pada si dia. Bahkan pada saat Anda tampil ‘buruk’ di depannya sekalipun, misalnya saat Anda bangun tidur atau saat Anda sakit dan tak mandi selama dua hari.
Pertanda 8
Bila Anda merasa rahasia Anda bisa lebih aman di tangannya daripada di tangan sahabat-sahabat Anda. Atau Anda merasa sudah tak bisa lagi menyimpan rahasia apapun darinya, maka berbahagialah! Karena ini bisa berarti pasangan sejati telah Anda temukan !
Apakah kedelapan pertanda di atas telah Anda temukan padanya?
dari: henlia-spiritual reflection
Why Woman ? (Theology of The Body Series)
Why Woman?
Taken from www.theologyofthebody.net , article by Katrina Zeno
Every fiber of a woman's being cries out for connection, for relationship. This distinctively feminine orientation has been poo-pooh'd in recent decades, claiming it makes a woman weak and dependent. The solution has been to downgrade her need for relationships and upgrade her ability to accomplish and achieve. However, there's an undeniable aspect of a woman that can't be swept under the carpet or deleted from her life - her body...
The structure of a woman's body is made for union, for connection. The act of intercourse happens within a woman's body as does the union of egg and sperm. The rapidly forming embryo unites itself to the lining of the womb and remains connected through the umbilical cord. In breastfeeding, the woman and her child are connected heart to heart and flesh to flesh for love and nourishment.
There is no shame in being a woman. Only women can receive new life into the empty space within. Only women can make a gift of self so that others can receive the gift of their very lives. A woman's body "speaks" the language of receptivity and relationship.
In his apostolic letter, On The Dignity and Vocation of Women, Pope John Paul II describes this feminine gift of self: "Motherhood implies from the beginning [from creation] a special openness to the new person....In this openness...the woman ‘discovers herself through a sincere gift of self.'" A few lines later he adds: "Motherhood is linked to the personal structure of the woman and to the personal dimension of the gift." (No. 18)
Pope John Paul II insists that a woman finds her meaning and purpose in life through motherhood, through making a feminine, and not gender-neutral, gift of self. Otherwise, gender would be useless. It would merely be a social construction imposed on us by culture, and true liberation would consist in getting rid of it.
But true liberation never consists in getting rid of the body. True freedom and fulfillment find their fullest expression through the body.
This places us in a conundrum: If a woman can only discover herself through a sincere gift of self, and that gift of self is expressed through motherhood, what about women who are not mothers? Are they condemned to a life on the periphery, a kind of carrot-on-the-end-of-a-stick existence where they can see the meaning and purpose of their lives but never quite reach it?
Never! That would be bad news, in fact, the worst possible news. Jesus came to give life, not misery, and that life for all women comes through spiritual motherhood.
While Pope John Paul II never defines spiritual motherhood, I like to describe it this way: Spiritual motherhood is nurturing the emotional, moral, cultural, and spiritual lives of others. This means women can be spiritual mothers anywhere: At the grocery store, in the office, working in the fields, even flat in bed. When a woman makes a meal for a friend, gives someone a spiritual book, prays the rosary, provides a listening ear, or monitors what her children watch on TV, she's nurturing the emotional, moral, cultural, and spiritual lives of others.
Here's how a friend of mine, Patty, describes her life as a spiritual mother: "I'm not a mom, but that's okay because I have a lot of other titles: aunt, friend, godmother, guidance counselor, sister, and cousin. I try to be another hand of God on earth, to be there when people need me and to be generous with my time and love."
The Catholic Church has always encouraged spiritual motherhood, only under a different title - the corporal and spiritual works of mercy. Giving food to the hungry, drink to the thirsty, etc., emphasize caring for a person's tangible needs while counseling the doubtful, instructing the ignorant, comforting the sorrowful, etc., nurture others in less tangible, but still critical ways.
When looking for the consummate model of femininity and motherhood, Pope John Paul II turns to Mary. Feminine receptivity and relationship find their ultimate expression and fulfillment in her. Mary's fiat welcomed the Holy Spirit into the empty space within and conceived a new kind of fruitfulness, a fruitfulness of the Spirit. Her union with God brought the human body of Christ into the world.
Every woman is called to be overshadowed by the Spirit so as to be abundantly fruitful, to be a Christ-bearer. The transformation of society and culture into a civilization of love and a culture of life begins here: with the empty space within. Whether a woman is 8 or 88, the sacred space within has a purpose - to be filled with the Spirit (and Eucharistic body) of Christ so she can go forth to nurture the emotional, moral, cultural, and spiritual lives of others. Then all human society will be enriched, and peace will flourish as women reveal the mystery of life - to be in human and divine relationship.
Taken from www.theologyofthebody.net , article by Katrina Zeno
Every fiber of a woman's being cries out for connection, for relationship. This distinctively feminine orientation has been poo-pooh'd in recent decades, claiming it makes a woman weak and dependent. The solution has been to downgrade her need for relationships and upgrade her ability to accomplish and achieve. However, there's an undeniable aspect of a woman that can't be swept under the carpet or deleted from her life - her body...
The structure of a woman's body is made for union, for connection. The act of intercourse happens within a woman's body as does the union of egg and sperm. The rapidly forming embryo unites itself to the lining of the womb and remains connected through the umbilical cord. In breastfeeding, the woman and her child are connected heart to heart and flesh to flesh for love and nourishment.
There is no shame in being a woman. Only women can receive new life into the empty space within. Only women can make a gift of self so that others can receive the gift of their very lives. A woman's body "speaks" the language of receptivity and relationship.
In his apostolic letter, On The Dignity and Vocation of Women, Pope John Paul II describes this feminine gift of self: "Motherhood implies from the beginning [from creation] a special openness to the new person....In this openness...the woman ‘discovers herself through a sincere gift of self.'" A few lines later he adds: "Motherhood is linked to the personal structure of the woman and to the personal dimension of the gift." (No. 18)
Pope John Paul II insists that a woman finds her meaning and purpose in life through motherhood, through making a feminine, and not gender-neutral, gift of self. Otherwise, gender would be useless. It would merely be a social construction imposed on us by culture, and true liberation would consist in getting rid of it.
But true liberation never consists in getting rid of the body. True freedom and fulfillment find their fullest expression through the body.
This places us in a conundrum: If a woman can only discover herself through a sincere gift of self, and that gift of self is expressed through motherhood, what about women who are not mothers? Are they condemned to a life on the periphery, a kind of carrot-on-the-end-of-a-stick existence where they can see the meaning and purpose of their lives but never quite reach it?
Never! That would be bad news, in fact, the worst possible news. Jesus came to give life, not misery, and that life for all women comes through spiritual motherhood.
While Pope John Paul II never defines spiritual motherhood, I like to describe it this way: Spiritual motherhood is nurturing the emotional, moral, cultural, and spiritual lives of others. This means women can be spiritual mothers anywhere: At the grocery store, in the office, working in the fields, even flat in bed. When a woman makes a meal for a friend, gives someone a spiritual book, prays the rosary, provides a listening ear, or monitors what her children watch on TV, she's nurturing the emotional, moral, cultural, and spiritual lives of others.
Here's how a friend of mine, Patty, describes her life as a spiritual mother: "I'm not a mom, but that's okay because I have a lot of other titles: aunt, friend, godmother, guidance counselor, sister, and cousin. I try to be another hand of God on earth, to be there when people need me and to be generous with my time and love."
The Catholic Church has always encouraged spiritual motherhood, only under a different title - the corporal and spiritual works of mercy. Giving food to the hungry, drink to the thirsty, etc., emphasize caring for a person's tangible needs while counseling the doubtful, instructing the ignorant, comforting the sorrowful, etc., nurture others in less tangible, but still critical ways.
When looking for the consummate model of femininity and motherhood, Pope John Paul II turns to Mary. Feminine receptivity and relationship find their ultimate expression and fulfillment in her. Mary's fiat welcomed the Holy Spirit into the empty space within and conceived a new kind of fruitfulness, a fruitfulness of the Spirit. Her union with God brought the human body of Christ into the world.
Every woman is called to be overshadowed by the Spirit so as to be abundantly fruitful, to be a Christ-bearer. The transformation of society and culture into a civilization of love and a culture of life begins here: with the empty space within. Whether a woman is 8 or 88, the sacred space within has a purpose - to be filled with the Spirit (and Eucharistic body) of Christ so she can go forth to nurture the emotional, moral, cultural, and spiritual lives of others. Then all human society will be enriched, and peace will flourish as women reveal the mystery of life - to be in human and divine relationship.
Monday, February 2, 2009
The Meeting of Eros and Agape in Benedict XVI's First Encyclical
In his much-awaited first Encyclical entitled God is Love (promulgated Christmas day, 2005 but officially released January 25th, 2006), it seems Pope Benedict wants to proclaim to the world that the Church - despite all the supposed anti-sex sentiment - has a vision of erotic love far more glorious than anything Sigmund Freud, Hugh Hefner, Dr. Ruth, or Howard Stern could dream or imagine.
His words are tender, firm, clear, compassionate, and poetic. The text reads like the letter of a loving father to his children, presenting an invitation to men and women everywhere to open their hearts to the love that truly satisfies. So many of us have searched in vain for love in this pornified world. We've eaten out of a dumpster in attempts to satisfy our hunger. Without wagging a finger at anyone, Pope Benedict's encyclical presents the banquet of love we're made for.
He divides the letter into two main parts. The first part, in which he explores the relationship between erotic and divine love - eros and agape in Greek - is more "speculative," he says (in the sense that he is offering a prayerful meditation, not that he's giving us half-baked theories). Based on these meditations, the second part of the letter offers a "more concrete" treatment of how the Church is called to exercise the commandment of love of neighbor and work for a just social order.
As Benedict insists, these two main parts are "profoundly interconnected." There's no place here for a false division between Church teaching on sexual ethics and social justice. If we want to work for social justice, we must first do justice to the fundamental social unit - the relationship of man and woman and the family that springs from their love.
Does the Catholic Church do justice to the love of man and woman? Benedict observes that Christianity is often criticized for being opposed to the body and sex. While he admits such tendencies have always existed, the
Pope demonstrates that negativity toward the body and sex is, in all truth, foreign to authentic Christian belief and practice.
Christianity does not "blow the whistle" on erotic love. It seeks to rescue it from degradation, to "heal it and restore its true grandeur," says Benedict. The "contemporary way of exalting the body is deceptive. Eros, reduced to pure 'sex', has become a commodity, a mere 'thing' to be bought and sold, or rather, man himself becomes a commodity. This is hardly man's great 'yes' to the body."
In order to restore erotic love's true grandeur, we must experience the purification of eros by agape. As this happens - that is, as we allow erotic love to be informed and transformed by divine love - eros is able "to provide not just fleeting pleasure, but a certain foretaste of the pinnacle of our existence, of that beatitude for which our whole being yearns," Benedict states.
What joy! Sexual love in God's plan is so glorious that it is meant to provide a small foretaste of the eternal joys that await us in heaven. But beware the counterfeits. "An intoxicated and undisciplined eros," as the Holy Father observes, "is not an ascent in 'ecstasy' towards the Divine, but a fall, a degradation of man."
Love is indeed "ecstasy," the Pope tells us. But not in a hedonistic sense. If ecstasy means "to go out of oneself," then love is ecstasy as "an ongoing exodus out of the closed inward-looking self towards its liberation through self-giving, and thus towards authentic self-discovery and indeed the discovery of God."
Pope Benedict's encyclical makes a person proud to be Catholic. Does any other religion on the planet have such an ennobling view of the human person and of sexual love? If we have any right to boast, we boast only in Christ, in his love for us and in what he has revealed to us about the meaning of being human.
Benedict XVI didn't come up with this. He's just passing along in love what the Church has received from her Bridegroom. As Benedict himself states, "eros... seeks God and agape... passes on the gift received."
Thanks, your Holiness, for passing on the gift.
His words are tender, firm, clear, compassionate, and poetic. The text reads like the letter of a loving father to his children, presenting an invitation to men and women everywhere to open their hearts to the love that truly satisfies. So many of us have searched in vain for love in this pornified world. We've eaten out of a dumpster in attempts to satisfy our hunger. Without wagging a finger at anyone, Pope Benedict's encyclical presents the banquet of love we're made for.
He divides the letter into two main parts. The first part, in which he explores the relationship between erotic and divine love - eros and agape in Greek - is more "speculative," he says (in the sense that he is offering a prayerful meditation, not that he's giving us half-baked theories). Based on these meditations, the second part of the letter offers a "more concrete" treatment of how the Church is called to exercise the commandment of love of neighbor and work for a just social order.
As Benedict insists, these two main parts are "profoundly interconnected." There's no place here for a false division between Church teaching on sexual ethics and social justice. If we want to work for social justice, we must first do justice to the fundamental social unit - the relationship of man and woman and the family that springs from their love.
Does the Catholic Church do justice to the love of man and woman? Benedict observes that Christianity is often criticized for being opposed to the body and sex. While he admits such tendencies have always existed, the
Pope demonstrates that negativity toward the body and sex is, in all truth, foreign to authentic Christian belief and practice.
Christianity does not "blow the whistle" on erotic love. It seeks to rescue it from degradation, to "heal it and restore its true grandeur," says Benedict. The "contemporary way of exalting the body is deceptive. Eros, reduced to pure 'sex', has become a commodity, a mere 'thing' to be bought and sold, or rather, man himself becomes a commodity. This is hardly man's great 'yes' to the body."
In order to restore erotic love's true grandeur, we must experience the purification of eros by agape. As this happens - that is, as we allow erotic love to be informed and transformed by divine love - eros is able "to provide not just fleeting pleasure, but a certain foretaste of the pinnacle of our existence, of that beatitude for which our whole being yearns," Benedict states.
What joy! Sexual love in God's plan is so glorious that it is meant to provide a small foretaste of the eternal joys that await us in heaven. But beware the counterfeits. "An intoxicated and undisciplined eros," as the Holy Father observes, "is not an ascent in 'ecstasy' towards the Divine, but a fall, a degradation of man."
Love is indeed "ecstasy," the Pope tells us. But not in a hedonistic sense. If ecstasy means "to go out of oneself," then love is ecstasy as "an ongoing exodus out of the closed inward-looking self towards its liberation through self-giving, and thus towards authentic self-discovery and indeed the discovery of God."
Pope Benedict's encyclical makes a person proud to be Catholic. Does any other religion on the planet have such an ennobling view of the human person and of sexual love? If we have any right to boast, we boast only in Christ, in his love for us and in what he has revealed to us about the meaning of being human.
Benedict XVI didn't come up with this. He's just passing along in love what the Church has received from her Bridegroom. As Benedict himself states, "eros... seeks God and agape... passes on the gift received."
Thanks, your Holiness, for passing on the gift.
Subscribe to:
Posts (Atom)