Resolusi Kesuksesan
Mungkin sah-sah saja kalau banyak orang yang mengartikan kesuksesan dengan pencapaian materi dengan berbagai simbol dan representasinya. Sah karena memang faktanya materi termasuk variabel utama bagi kelangsungan hidup kita. Kata orang, uang atau materi memang bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya butuh uang.
Dikatakan sah juga karena memang tidak ada alasan hukum untuk menyalahkannya. Yang bisa mengatakan itu pas atau kurang pasnya bukan alasan hukum, namun perkembangan peradaban dan nalar-spiritual masyarakat. Mungkin suatu saat masyarakat kita tidak lagi menjadikan pencapaian materi sebagai ukuran tunggal kesuksesan.
Harta dengan berbagai simbol dan representasinya itu sebetulnya bukanlah makhluk yang a-spiritual. Tuhan sendiri menyebutnya sebagai alat untuk kebaikan. Yang selalu diingatkan adalah cara mendapatkannya, cara memahaminya, dan cara penggunaannya. Jadi, intinya bukan pada materinya dan berbagai simbolnya itu, melainkan lebih pada the way we use.
Mengaudit Cara Mendapatkan
Selain ada dua cara yang sudah sama-sama kita ketahui dalam mendapatkan kesukesan, yaitu cara benar dan cara menyimpang, ada lagi cara-cara yang mungkin perlu kita audit. Ini mumpung masih dalam suasana tahun baru. Mudah-mudahan dengan inisiatif ini, kualitas hidup kita menjadi semakin lebih baik.
Pertama, apakah kesuksesan itu kita dapatkan dengan cara-cara yang juga ikut mensukseskan orang lain? Apakah selama ini kesuksesan itu kita dapatkan dengan cara mengoptimalkan penggunaan potensi / kompetensi pribadi dan orang lain? Apakah kita sudah menggunakan cara-cara "empowering"?
Kalau cara itu yang sudah sering kita lakukan, berarti kita sudah berada di track yang tepat. Tugas kita adalah mempertahankan dan meningkatkan. Pesan yang perlu kita ingat adalah: "even the best, it must be improved", meski sudah baik namun harus tetap diperbaiki.
Kedua, apakah kesuksesan itu kita dapatkan dari pemberian atau penganugerahan, by being inaugurated / given? Misalnya, orangtua kita mewariskan berbagai aset dan pengaruh yang cukup besar sehingga kita merasa kesuksesan kita itu bukan karena kompetensi, tetapi karena legacy (warisan).
Atau juga misalnya kita bekerja di perusahaan besar, mapan, dan punya nama. Dengan berbagai peranan yang diberikan kepada kita lalu kita merasa kesuksesan yang kita dapatkan itu sebetulnya adalah semu. Maksudnya, yang lebih berperan di situ bukan kompetensi kita sebagai pribadi, tetapi pengaruh organisasi.
Jika perasaan itu yang sering muncul, yang tepat untuk kita lakukan adalah bersyukur. Dalam "ilmu Tuhan" tidak ada kebetulan yang sifatnya benar-benar kebetulan. Kita menjadi anak orang hebat itu bukan kebetulan. Kita bekerja di perusahaan mapan itu bukan kebetulan. Semua terjadi karena ada alasan dan tujuan.
Cuma, yang perlu kita audit adalah skala kesyukuran kita. Skala yang paling tinggi adalah ketika kita mampu menggunakan resource dan potensi yang ada untuk mencapai tujuan yang selalu lebih besar, lebih tinggi dan lebih positif dengan cara-cara yang positif. Skala yang paling rendah adalah ketika kita hanya mampu bersyukur dengan mulut dan kata-kata.
Ketiga, apakah kesuksesan itu selama ini kita dapatkan dengan cara-cara memperdaya orang lain dan keadaan, by politicking? Di rubrik Surat Pembaca koran ibukota, sering saya membaca curhat beberapa pelajar senior kita yang ada di luar negeri. Mereka dilematis.
Satu sisi, mereka dipanggil-panggil oleh nasionalisme-nya untuk kembali ke Indonesia, menerapkan ilmunya di sini. Tapi di sisi lain, mereka takut. Kesuksesan (pencapaian materi) di sini kerap tidak berbanding lurus dengan kompetensi. Banyak orang yang bisa meraih kekayaan karena kecanggihannya dalam bermain politicking, bukan karena empowering atau actualizing.
Tradisi politicking di kita memang sudah cukup gila, dari mulai KKN, suap tender, penyalahgunaan kekuasaan, dll. Bahkan sudah mau hampir terbangun keyakinan kolektif bahwa tanpa politicking, rasa-rasanya susah kita men - down load kesuksesan dengan cepat dan mudah.
Menggeser Motif
Yang benar-benar perlu kita audit adalah poin nomor tiga itu. Apa bisa kita bersih dari praktek politicking? Bersih dalam arti benar-benar bersih tanpa noda, mungkin itu butuh proses panjang. Yang mendesak adalah melakukan perbaikan bertahap (keizen) dari kesadaran-diri.
Pertanyaannya, kesadaran seperti apa yang penting di sini? Salah satunya adalah kesadaran menggeser motif, dari yang negatif (minus) ke yang positif (plus). Memang, seperti kata Spencer (1993), motif itulah yang sering sanggup menyeleksi tindakan kita, apakah kita akan menggunakan politicking atau empowering.
Motif sendiri adalah dorongan (need or desire) yang membuat orang melakukan sesuatu (Merriam Webster̢۪s). Motif di sini netral sifatnya, bisa negatif dan bisa positif, tergantung kitanya. Kalau mengacu ke konsepnya Zohar dan Marshall (2004), ada sejumlah motif negatif yang perlu kita geser agar tidak selalu menggunakan politicking dalam meraih kesuksesan.
Pertama, penonjolan diri (riya). Ini negatif. Kalau kita mengejar kesuksesan karena motif supaya bisa menonjolkan diri, lama-lama politicking. Supaya tidak kebablasan, perlu kita geser ke eksplorasi diri. Artinya, kita mengejar kesuksesan dengan motif untuk mengeksplosi potensi kita dan potensi orang lain (by empowering).
Kedua, kemarahan (reaksi negatif). Jika kita mengejar kesuksesan karena dendam dan marah oleh perilaku orang yang lebih kaya, lama-lama kita melihat manusia sebagai musuh atau lawan. Ini yang pernah menimbulkan penjarahan tahun 1998 lalu. Lebih baik kita geser ke motif untuk bekerjasama atau membangun kemitraan yang sinergis dan beradab.
Ketiga, keserakahan. Motif negatif ini timbul karena kita mengalami kekosongan nilai-nilai spiritual. Serakah akan memudahkan kita melakukan politicking. Sampai pun kita sudah kaya, tetap saja ingin memiskinkan orang lain atau merasa kurang. Akan lebih bagus bila kita ganti dengan motif untuk membangun kekuatan diri dari dalam, misalnya dengan menjadi orang yang lebih berwawasan spiritual.
Keempat, rasa takut. Takut digeser, takut tidak dipromosikan, takut tidak diperpanjang kontrak, takut dibilang tidak kaya, dll, akan memudahkan kita bermain politicking. Lebih bagus itu kita kendalikan lalu kita geser ke motif untuk membangun keahlian, baik mental, teknis, atau profesional. Pasti hasilnya lebih OK.
Kelima, keresahan. Jika motif negatif ini terus menguasai kita, lama-lama kita politicking. Kita merasa sudah buntu untuk memilih cara-cara hidup yang positif. Akan lebih bagus segera kita geser ke motif untuk memunculkan kreativitas sehingga pikiran kita tidak buntu. Masih ada banyak hal yang bisa kita lakukan, yang bisa membuat hidup kita lebih OK, asal kreatif.
Keenam, apati. Apati di tempat kerja akan membuat kita masa bodoh terhadap kepentingan dan kemaslahatan orang banyak / organisasi sehingga membuat kita gampang ber-politicking. Akan bagus bila segera kita geser ke motif pengabdian, misalnya kita bekerja untuk aktualisasi diri, ibadah, berperan bagi orang lain, dan seterusnya.
Ketujuh, malu dan rasa bersalah. Motif ini timbul karena kita merasa tak bermakna apa-apa bagi diri sendiri dan orang banyak sehingga memudahkan kita melakukan politicking. Supaya tidak berlanjut, segera kita ganti dengan memunculkan berbagai motif positif yang dapat membuat hidup kita bermakna bagi diri sendiri dan orang lain.
Kedelapan, depersonalisasi. Ini timbul karena kita sudah mengabaikan berbagai pegangan hidup sehingga tidak ada lagi koordinasi antara hati, ucapan, keinginan, dan tindakan. Kita sudah ngawur, benar-benar memainkan politicking yang kotor. Karena itu, segera kita ganti dengan memunculkan motif untuk menemukan pencerahan dari berbagai sumber.
Kehendak, Konsistensi, Dan Lokasi
Syarat mutlak untuk bisa menggeser motif itu adalah kehendak (the will) dan meyakini bahwa segalanya lahir dari kehendak. Kenapa ini penting? Banyak orang yang gagal menggeser motif karena yang dijadikan syarat untuk berubah bukan kehendak, melainkan kenyataan.
Dalam prakteknya, pasti tidak ada kesimpulan yang tunggal: apakah kenyataan yang menciptakan kita atau kita yang menciptakan kenyataan. Pasti dua-duanya saling berdialog. Hanya, jika kita ingin berubah, kita harus memilih kesimpulan bahwa kitalah yang menciptakan kenyataan. Ini hanya strategi mental saja.
Selain kehendak, yang perlu kita perhatikan lagi adalah tingkat konsistensi. Kalau anak-anak, jam ini dia baik, tetapi sejam kemudian dia berubah, ini masih wajar dan belum menjadi ukuran. Tapi kalau orang dewasa, ini menjadi ukuran penting dari sebuah hasil (kinerja).
Artinya, bergesernya motif dari minus ke plus itu baru akan memberikan hasil yang berbeda apabila kita melakukannya dengan konsistensi yang tinggi. Untuk bisa memiliki konsistensi yang tinggi, syaratnya adalah kembali pada keyakinan di atas: kehendaklah yang menciptakan kenyataan (internal locus of control), bukan sebaliknya.
Nah, karena kita manusia, bukan malaikat, maka kita tetap membutuhkan dukungan dari faktor eksternal. Kalau kita beraktivitas di lingkungan yang tingkat politicking-nya tinggi, memang ini lebih sulit untuk membersihkan diri dari berbagai motif politicking. Karena itu, kita butuh lokasi, area industri, dan komunitas yang mendukung.
Namun, satu hal yang perlu kita ingat bahwa dukungan faktor eksternal itu bisa menyusul sifatnya. Bahkan dalam prakteknya, ia lebih sering datang sendiri setelah ada kehendak yang kuat dan konsistensi yang tinggi. Kalau kita ingin menjadi baik, tapi yang kita cari orang lain yang baik lebih dulu, ini biasanya susah. Akan lebih mudah kalau kita menjadi orang baik lebih dulu.
Tiada yang mutlak
Patokan apapun yang kita jadikan ukuran kesuksesan itu, mau kekayaaan, kekuasaan, kehebatan, atau apapun, hendaknya tetap kita pahami sebagai sebuah potensi atau ujian yang bisa menaikkan derajat kita dan bisa menurunkannya, tergantung the way we use. Selain itu, perlu kita pahami juga sebatas sebagai kenisbian, yang merupakan sifat kita, bukan sebagai kemutlakaan. Tidak bisa kita mengatakan kekayaan harta itu tidak penting, yang penting adalah ketakwaan. Ini sifat malaikat. Sama juga tidak bisa kita mengatakan harta kekayaan itu segala-galanya bagi ukuran kesuksesan kita. Ini sifat setan yang memutlakkan materi. Semoga bermanfaat.
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 19 Januari 2009
The Way We Use
e-psikologi.com
Saturday, June 25, 2011
Tiga Resiko Investasi yang Paling Ditakuti... hmmm....
Artikel: Dasar-dasar Keuangan
3 Resiko Investasi yang Paling Ditakuti
Oleh: Safir Senduk
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 746/XIV
"Beranikah saya mengambil risiko dalam berinvestasi?" Pertanyaan ini mungkin sering terlontar bila Anda sedang menimbang-nimbang untuk melakukan investasi. Katakan Anda punya uang Rp 10 juta, dan Anda bingung apakah akan menaruhnya di bank atau di tempat lain. Kalau ditaruh di bank, Anda mungkin merasa aman. Tetapi kadang-kadang, tawaran investasi di tempat lain seringkali cukup besar dan sangat menggoda, sehingga ini kadang-kadang menakutkan Anda.
Yang namanya investasi pasti ada risikonya. Nah, dari pengalaman saya selama ini, biasanya hanya ada tiga (3) risiko yang paling ditakutkan orang ketika mereka berinvestasi:
1. Turunnya Nilai Investasi
Risiko yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi umumnya adalah "Apakah uang saya akan hilang?" Kebanyakan orang mungkin menjawab "tidak" kalau ditanya seperti itu. Iyalah, mana ada, sih orang yang mau kehilangan uangnya? Akan tetapi, masalahnya, yang namanya risiko pasti ada dalam setiap investasi. Hanya bedanya adalah di ukurannya. Ada produk investasi yang risikonya cukup besar, ada yang sedang, ada yang kecil. Itu mungkin butuh pembahasan yang khusus di NOVA nomor-nomor mendatang. Yang jelas, satu hal yang paling ditakuti orang, sekali lagi adalah: "Apakah uang saya akan hilang?"
Oke, sekarang kalau Anda berinvestasi, seberapa besar penurunan nilai yang bersedia Anda tanggung bila Anda mengalami kerugian? 10 persen? 30 persen? 50 persen? Atau 100 persen? Berapapun besar kerugian yang bersedia Anda tanggung, ingatlah, itu adalah bagian dari berinvestasi. Jangan pernah mengharapkan Anda akan terus-menerus untung. Yang namanya kerugian, sesekali memang harus dialami. Kalau enggak mengalami, ya enggak belajar, kan?
2. Sulitnya Produk Investasi itu Dijual
Risiko kedua yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi adalah apakah produk investasi yang dibelinya itu mudah untuk dijual kembali. Beberapa orang mungkin senang berinvestasi ke dalam emas karena emas dianggap mudah dijual kembali. Akan tetapi, ada juga orang yang berinvestasi ke dalam mata uang dolar Amerika, dan dolar tersebut cepat-cepat dimasukkannya ke bank. Ini karena bila dolar itu disimpan di lemari, maka kondisi fisik dari kertas uangnya mungkin akan menurun, dan itu kadang-kadang akan menyulitkan bila suatu saat dolar itu hendak dijual kembali. Maklum, beberapa bank seringkali tidak mau membeli mata uang asing Anda bila kondisi uang kertasnya robek, rusak atau kumal.
Contoh lain dari produk investasi yang tidak selalu mudah untuk dijual kembali adalah barang-barang Koleksi. Barang-barang koleksi umumnya tidak selalu mudah dijual kembali karena pasar pembeli barang-barang ini sangat spesifik. Lukisan misalnya. Karena pasarnya yang spesifik, tidak selalu mudah menjual lukisan. Tapi, sekali terjual, bisa saja harganya sangat tinggi dan memberikan untung yang lumayan buat orang yang menjualnya.
Jadi, sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi, ketahui lebih dulu seberapa mudahnya produk investasi Anda bisa dijual kembali. Jangan sampai Anda berinvestasi tapi tidak bisa menjualnya, karena barangnya memang sulit dijual.
3. Hasil Investasi yang Diberikan Tidak Sebesar Kenaikan Harga Barang dan Jasa
Bayangkan kalau Anda berinvestasi di deposito yang memberikan bunga 10 persen setahun, sedangkan dalam setahun harga barang dan jasa malah naik 15 persen? Hal ini seringkali terjadi, bukan karena terlalu tingginya kenaikan harga barang dan jasa, tetapi karena produk yang dipilih itu sendiri belum tentu sesuai.
Iya dong, beberapa dari Anda mungkin menginginkan produk investasi yang aman dan konservatif. Tetapi, konsekuensinya adalah bahwa Hasil Investasi yang didapat mungkin saja tidak bisa menyamai kenaikan harga barang dan jasa. Kalau itu terus Anda alami dari tahun ke tahun, maka Anda akan bangkrut.
Apa yang harus Anda lakukan untuk menghadapi risiko ini? Jangan menutup diri terhadap informasi. Pelajari produk-produk investasi lain yang mungkin Anda belum tahu, dan setelah itu cobalah masuk ke situ dengan mempertimbangkan segala konsekuensinya. Lama-kelamaan, Anda pasti bisa mengatasi tingginya kenaikan harga barang dan jasa dengan berinvestasi pada produk yang memang berpotensi untuk bisa memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding kenaikan harga barang.
Selamat berinvestasi!
3 Resiko Investasi yang Paling Ditakuti
Oleh: Safir Senduk
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 746/XIV
"Beranikah saya mengambil risiko dalam berinvestasi?" Pertanyaan ini mungkin sering terlontar bila Anda sedang menimbang-nimbang untuk melakukan investasi. Katakan Anda punya uang Rp 10 juta, dan Anda bingung apakah akan menaruhnya di bank atau di tempat lain. Kalau ditaruh di bank, Anda mungkin merasa aman. Tetapi kadang-kadang, tawaran investasi di tempat lain seringkali cukup besar dan sangat menggoda, sehingga ini kadang-kadang menakutkan Anda.
Yang namanya investasi pasti ada risikonya. Nah, dari pengalaman saya selama ini, biasanya hanya ada tiga (3) risiko yang paling ditakutkan orang ketika mereka berinvestasi:
1. Turunnya Nilai Investasi
Risiko yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi umumnya adalah "Apakah uang saya akan hilang?" Kebanyakan orang mungkin menjawab "tidak" kalau ditanya seperti itu. Iyalah, mana ada, sih orang yang mau kehilangan uangnya? Akan tetapi, masalahnya, yang namanya risiko pasti ada dalam setiap investasi. Hanya bedanya adalah di ukurannya. Ada produk investasi yang risikonya cukup besar, ada yang sedang, ada yang kecil. Itu mungkin butuh pembahasan yang khusus di NOVA nomor-nomor mendatang. Yang jelas, satu hal yang paling ditakuti orang, sekali lagi adalah: "Apakah uang saya akan hilang?"
Oke, sekarang kalau Anda berinvestasi, seberapa besar penurunan nilai yang bersedia Anda tanggung bila Anda mengalami kerugian? 10 persen? 30 persen? 50 persen? Atau 100 persen? Berapapun besar kerugian yang bersedia Anda tanggung, ingatlah, itu adalah bagian dari berinvestasi. Jangan pernah mengharapkan Anda akan terus-menerus untung. Yang namanya kerugian, sesekali memang harus dialami. Kalau enggak mengalami, ya enggak belajar, kan?
2. Sulitnya Produk Investasi itu Dijual
Risiko kedua yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi adalah apakah produk investasi yang dibelinya itu mudah untuk dijual kembali. Beberapa orang mungkin senang berinvestasi ke dalam emas karena emas dianggap mudah dijual kembali. Akan tetapi, ada juga orang yang berinvestasi ke dalam mata uang dolar Amerika, dan dolar tersebut cepat-cepat dimasukkannya ke bank. Ini karena bila dolar itu disimpan di lemari, maka kondisi fisik dari kertas uangnya mungkin akan menurun, dan itu kadang-kadang akan menyulitkan bila suatu saat dolar itu hendak dijual kembali. Maklum, beberapa bank seringkali tidak mau membeli mata uang asing Anda bila kondisi uang kertasnya robek, rusak atau kumal.
Contoh lain dari produk investasi yang tidak selalu mudah untuk dijual kembali adalah barang-barang Koleksi. Barang-barang koleksi umumnya tidak selalu mudah dijual kembali karena pasar pembeli barang-barang ini sangat spesifik. Lukisan misalnya. Karena pasarnya yang spesifik, tidak selalu mudah menjual lukisan. Tapi, sekali terjual, bisa saja harganya sangat tinggi dan memberikan untung yang lumayan buat orang yang menjualnya.
Jadi, sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi, ketahui lebih dulu seberapa mudahnya produk investasi Anda bisa dijual kembali. Jangan sampai Anda berinvestasi tapi tidak bisa menjualnya, karena barangnya memang sulit dijual.
3. Hasil Investasi yang Diberikan Tidak Sebesar Kenaikan Harga Barang dan Jasa
Bayangkan kalau Anda berinvestasi di deposito yang memberikan bunga 10 persen setahun, sedangkan dalam setahun harga barang dan jasa malah naik 15 persen? Hal ini seringkali terjadi, bukan karena terlalu tingginya kenaikan harga barang dan jasa, tetapi karena produk yang dipilih itu sendiri belum tentu sesuai.
Iya dong, beberapa dari Anda mungkin menginginkan produk investasi yang aman dan konservatif. Tetapi, konsekuensinya adalah bahwa Hasil Investasi yang didapat mungkin saja tidak bisa menyamai kenaikan harga barang dan jasa. Kalau itu terus Anda alami dari tahun ke tahun, maka Anda akan bangkrut.
Apa yang harus Anda lakukan untuk menghadapi risiko ini? Jangan menutup diri terhadap informasi. Pelajari produk-produk investasi lain yang mungkin Anda belum tahu, dan setelah itu cobalah masuk ke situ dengan mempertimbangkan segala konsekuensinya. Lama-kelamaan, Anda pasti bisa mengatasi tingginya kenaikan harga barang dan jasa dengan berinvestasi pada produk yang memang berpotensi untuk bisa memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding kenaikan harga barang.
Selamat berinvestasi!
Emosional, Marah-marah, marah-marah.. Kendalikan !
Mengendalikan Amarah
--------------------------------------------------------------------------------
Kemarahan pada dasarnya merupakan suatu hal yang normal dan pasti pernah dialami oleh semua individu. Di satu sisi manusia memang harus melepaskan semua amarah yang ada di dalam dirinya agar diperoleh suatu kelegaan atau terlepas dari adanya suatu beban berat. Namun di sisi lain tentu saja dituntut cara-cara yang tepat untuk mengungkapkan kemarahan tersebut sebab jika tidak maka hal itu bisa merusak sendi-sendi kehidupan yang mungkin sudah tertata dengan baik. Dengan kata lain individu harus mampu mengendalikan kemarahan tersebut sebelum kemarahan itu justru yang mengendalikan hidupnya. Dalam ruang konseling di website ini banyak sekali para member yang sudah mengalami bagaimana kemarahan sudah mengambil kendali dalam hidup mereka. Beberapa diantaranya menjadi sangat frustrasi karena menyadari bahwa dirinya begitu gampang terpancing untuk marah baik di kantor maupun di rumah sehingga tidak lagi mampu berinteraksi secara baik dengan orang lain (pacar, istri-anak, rekan kerja, maupun atasan-bawahan).
Dengan kondisi yang demikian tentu saja si "pemarah" tersebut harus mendapatkan pertolongan dari para profesional sebab ketidakberdayaan untuk mengendalikan amarah sudah menimbulkan masalah baru. Hal seperti ini tentu amat disayangkan mengingat bahwa rasa marah (amarah) sebenarnya bisa dikendalikan ataupun dicarikan cara yang tepat untuk mengeluarkannya. Inilah yang akan dicoba untuk dibahas dalam artikel singkat ini dengan suatu harapan bahwa para pembaca dapat mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Amarah
Amarah adalah salahsatu bentuk emosi manusia yang sepenuhnya bersifat normal dan sehat. Setiap individu pasti pernah marah dengan berbagai alasan. Meski merupakan suatu hal yang wajar dan sehat, namun jika tidak dikendalikan dengan tepat dan bersifat destruktif maka amarah akan berpotensi besar untuk menimbulkan masalah baru, seperti masalah di tempat kerja, di keluarga, atau pun hubungan interpersonal.
Faktor penyebab mengapa seseorang menjadi marah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: external dan internal. Faktor external adalah hal-hal yang datang dari luar diri sang individu. Contoh: Anda marah kepada atasan atau bawahan anda; anda juga bisa menjadi marah karena terjebak macet atau tertundanya jadwal penerbangan. Di samping hal-hal external tersebut, kemarahan juga dapat disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang ada di dalam diri anda. Dengan kata lain ada unfinished business yang bisa memicu anda untuk marah. Contoh: ketakutan atau kekuatiran terhadap suatu hal tertentu, ketidakmampuan dalam berinteraksi, adanya pengalaman traumatik atau pun kenangan pahit di masa lalu.
Pemberang vs Kalem
Sehubungan dengan kemarahan, dalam kehidupan sehari-hari seringkali dijumpai bahwa ada individu-individu tertentu yang sangat gampang marah. Mereka bisa marah terhadap hal apa saja, dengan siapa saja dan kapan saja. Singkat kata mereka ini lebih banyak menunjukkan kemarahan dibandingkan dengan individu-individu lainnya. Individu-individu seperti inilah yang biasa di sebut "Pemberang" atau sering pula disebut sebagai orang yang "emosional" (meski istilah ini menurut saya kurang tepat). Individu-individu ini amat sering terlihat mengomel, menggerutu, memboikot atau menarik diri dari pergaulan, berteriak, bahkan sampai melemparkan barang-barang atau mengeluarkan kata-kata tidak senonoh.
Sementara itu kita juga menjumpai bahwa ada individu yang jarang sekali terlihat marah bahkan seolah-olah tidak pernah marah. Mereka tidak meluapkan kemarahan dengan cara meledak-ledak tetapi lebih terlihat tenang-tenang saja (kalem) atau paling-paling hanya sebatas menggerutu atau mengeluh.
Individu yang mudah sekali menjadi marah biasanya adalah mereka yang memiliki tingkat toleransi yang rendah terhadap suatu tekanan atau hal-hal yang menyebabkan rasa frustrasi (low tolerance for frustration). Individu seperti ini menganggap bahwa mereka tidak selayaknya menerima kondisi yang tidak menyenangkan. Mereka sangat sulit mengambil hikmah dari situasi yang tidak menyenangkan dan menjadi marah ketika situasi "tidak berpihak" mereka seperti ketika sedang dikritik atau ditegur karena melakukan suatu kesalahan.
Adapun faktor yang bisa menjadi penyebab mengapa individu tertentu gampang sekali menjadi marah dapat dibagi dalam beberapa faktor sebagai berikut:
1. Genetik
Fakta genetik menunjukkan bahwa beberapa anak memang terlahir dengan karakteristik mudah marah. Hal ini bisa dilihat pada awal-awal tahun kehidupan sang anak.
2. Sosial-Budaya
Dalam budaya masyarakat tertentu amarah atau marah sering dianggap sebagai suatu hal yang negatif. Individu seringkali diajarkan bahwa mengungkapkan atau melepaskan kecemasan, depresi atau emosi yang lain adalah baik kecuali kemarahan. Akibatnya individu menjadi tidak pernah belajar bagaimana mengatasi rasa marah ataupun mengekpresikan kemarahan secara konstruktif.
3. Latarbelakang Keluarga
Tak bisa dipungkiri bahwa faktor keluarga memainkan peranan yang signifikan terhadap gampang atau tidaknya seseorang menjadi marah. Nampaknya pepatah kuno yang mengatakan bahwa "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" masih berlaku. Hasil penelitian membuktikan bahwa individu-individu yang gampang marah seringkali berasal dari keluarga yang berantakan dan tidak trampil dalam mengungkapkan emosi ataupun berkomunikasi. Selain itu dijumpai pula bahwa orangtua yang "pemberang" cenderung menghasilkan anak yang pemberang pula (workplaceblue.com).
Beberapa Pendekatan
Anda tidak mungkin menghilangkan atau menghindari sesuatu yang menjadi penyebab kemarahan. Andapun akan sangat sulit (bahkan tidak mungkin) untuk bisa mengubah orang lain agar tidak membuat anda marah. Satu hal yang bisa ada lakukan adalah mnegndalikan emosi anda sendiri. Dalam rangka menyalurkan dan mengendalikan kemarahan, maka ada tiga pendekatan yang bisa dipilih:
1. Mengekspresikan Kemarahan secara Asertif
Mengekspresikan kemarahan anda dengan cara assertif - tidak agresif - merupakan cara yang paling sehat dalam mengungkapkan kemarahan. Untuk bisa melakukan hal ini maka anda harus belajar menentukan kebutuhan-kebutuhan anda dan bagaimana cara mencapainya tanpa harus menyakiti orang lain. Dengan bertindak asertif berarti anda menghormati diri anda sendiri dan orang lain. (baca artikel: Asertivitas)
2. Menahan Amarah dan Mengalihkannya
Hal ini terjadi ketika anda menahan rasa marah, berhenti memikirkannya dan mencoba memfokuskan diri pada sesuatu hal yang positif. Tujuannya adalah agar dapat mengurangi rasa marah yang sedang meluap dan mengubahnya menjadi tindakan yang konstruktif. Contoh: ketika sedang marah maka anda justru bekerja lebih lama dan produktif. Sayangnya cara ini bisa merugikan diri sendiri. Artinya jika kemarahan yang ditekan tersebut sudah sangat banyak dan tidak pernah dikeluarkan maka dapat mengakibatkan hipertensi, depresi atau pun tekanan darah tinggi.
3. Menenangkan Diri
Cara lain yang bisa ditempuh dalam mengendalikan kemarahan adalah dengan cara menenangkan diri, menarik nafas dalam-dalam dan mencoba meredakan emosi.. Dalam hal ini ketika amarah datang maka anda segera mengambil jarak dari sumber penyebab kemarahan dan mencoba untuk mengendalikan emosi yang sedang bergejolak di dalam diri anda sendiri. Dengan demikian diharapkan bahwa amarah yang ada di dalam diri anda berangsur-angsur mereda.
Mengendalikan Amarah
Beberapa hal berikut ini mungkin layak anda pertimbangkan untuk mengendalikan amarah:
1. Relaksasi
Melakukan relaksasi terbukti dapat membuat seseroang menjadi tenang dalam menghadapi berbagai situasi yang kurang menyenangkan atau penuh tekanan. Relaksasi dapat dilakukan dengan berbagai variasi, misalnya menarik nafas dalam-dalam, melakukan latihan-latihan ringan untuk mengendurkan otot-otot, atau pun dengan kata-kata: "relaks; tenang aja; take it easy; gak apa-apa kok".
2. Humor
Meskipun amarah merupakan suatu hal yang serius tetapi jika anda mau merenungkan atau mencermatinya secara mendalam maka tidak jarang di dalam kemarahan seringkali tersimpan hal-hal yang bisa membuat anda tertawa. Bahkan seringkali anda menemukan bahwa hal-hal yang menjadi penyebab kemarahan adalah suatu hal yang lucu dan sangat sepele. Namun demikian dalam penggunaan humor hendaklah perlu diperhatikan 2 hal: 1) jangan menggunakan humor hanya untuk mentertawakan masalah yang sedang anda hadapi tetapi gunakan humor sebagai suatu cara yang konstruktif untuk menyelesaikan masalah; 2) jangan menggunakan humor-humor yang bersifat kasar atau sarkastik sebab hal itu merupakan bentuk ekspresi kemarahan yang tidak sehat.
3. Mengubah Cara Pandang
Individu yang sedang marah cenderung mengumpat, mengutuk, menyumpah dan mengucapkan berbagai macam kata-kata yang menggambarkan perasaan di dalam hatinya. Ketika sedang marah maka pikiran anda dan tindakan bisa menjadi berlebih-lebihan dan dramatis. Oleh karena itu cobalah mengubah pikiran-pikiran yang berlebih-lebihan tersebut dengan suatu yang rasional. Contoh: daripada anda mengatakan: "ah, ini sangat mengerikan, hancur semuanya, ini adalah mimpi buruk bagi saya", cobalah mengubahnya dengan : "ya memang hal ini membuat saya frustrasi, dan saya bisa memahami mengapa saya menjadi marah, tetapi ini bukanlah akhir dari segala-galanya bagi saya dan kemarahan tidak akan mengubah apa-apa".
Mengingat bahwa amarah seringkali berubah menjadi irasional maka untuk mengendalikannya dibutuhkan pemikiran yang logis. Semakin anda bisa berpikir logis (bisa mempertimbangkan akibatnya dan berpikir jauh ke depan, dsb) maka akan semakin mudah anda mengendalikan amarah dalam diri. Ingatkan diri anda bahwa apa yang sedang terjadi pasti tidak hanya dialami oleh anda seorang diri dan dunia tidak pernah berpaling dari anda. Apa yang sedang terjadi hanyalah merupakan suatu "tinta merah" dalam kehidupan anda. Ingat-ingat akan hal ini setiap kali anda merasa marah supaya anda bisa mendapat pandangan yang lebih seimbang.
4. Selesaikan Masalah secara Tuntas
Mengingat bahwa kemarahan bisa dipicu oleh hal-hal yang datang dari dalam diri seperti adanya masalah yang belum terselesaikan, maka akan sangat baik jika anda menyelesaikan setiap masalah yang muncul sesegara mungkin dan tuntas. Meskipun dalam hidup mungkin ada masalah yang bisa terselesaikan tanpa campurtangan anda secara signifikan, namun alangkah baiknya jika anda membiasakan diri menyelesaikan setiap permasalahan yang berhubungan dengan diri anda. Dengan berkurangnya beban psikologis dalam diri anda maka kemungkinan menjadi marahpun akan berkurang.
5. Melatih cara Berkomunikasi
Dalam banyak kasus orang menjadi marah karena kegagalan dalam berkomunikasi. Contoh: ketidaksiapan dalam menghadapi perbedaan pendapat, tidak bersedia menjadi pendengar atau pun selalu berusaha memaksakan kehendak pada orang lain. Hal-hal seperti inilah yang biasanya membuat orang yang marah cenderung mengambil kesimpulan secara cepat dan kesimpulan tersebut seringkali aneh dan tak terduga.
Meskipun setiap individu berhak untuk membela diri ketika dikritik atau diajak adu argumentasi, namun untuk itu diperlukan ketenangan dan sikap untuk tidak merespon secara terburu-buru. Ada baiknya anda mendengarkan secara cermat apa yang ingin disampaikan oleh orang lain, bahkan ketika orang tersebut mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan anda. Hal ini memang memerlukan kesabaran dan sikap rendah hati dari anda, tetapi dampaknya akan sangat bermanfaat sebab ketika tidak timbul amarah dalam diri anda maka situasi yang ada pasti dapat dikendalikan. Hasil positifnya anda menjadi lebih matang dalam berkomunikasi.
6. Mengubah Lingkungan
Apa yang dimaksudkan dengan mengubah lingkungan dapat berupa penataan kembali tempat tinggal ataupun tempat kerja anda. Mengubah lingkungan dapat juga berarti merubah aturan main yang berlaku di lingkungan tersebut dan juga termasuk mengubah kebiasaan diri anda sendiri untuk menghindari lingkungan yang tidak menyenangkan atau keluar dari lingkungan tersebut untuk sementara waktu. Contoh: daripada anda menjadi marah-marah kepada rekan kerja karena jenuh dengan kondisi kerja yang ada, maka ada baiknya anda mengambil cuti kerja dan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Dengan cara ini maka pikiran anda akan menjadi fresh kembali dan siap bekerja tanpa marah-marah.
7. Melakukan Konseling
Mengingat bahwa setiap individu memiliki sumber daya yang berbeda dalam menghadapi suatu situasi yang penuh tekanan maka ketika anda merasa bahwa anda tidak lagi mampu mengendalikan amarah maka ada baiknya jika anda melakukan konseling dengan psikolog atau para profesional lainnya. Melalui bantuan para profesional ini anda mungkin akan diberikan bimbingan bagaimana cara-cara yang tepat dalam mengendalikan amarah agar tidak merusak aspek kehidupan yang lain. Tentu saja hasilnya tidak akan instant tetapi setidaknya hal itu akan membantu anda menjadi lebih baik.
Disamping hal-hal yang telah disebutkan diatas, mungkin masih banyak cara yang dapat dilakukan oleh anda untuk mengendali amarah di dalam diri. Salahsatu yang patut dicatat adalah dengan semakin mendekatkan diri pada TUHAN. Dengan kata lain ketika anda berada dalam situasi tidak menyenangkan dan anda ingat bahwa hal tersebut adalah dari TUHAN maka saya yakin anda pasti akan berpikir panjang untuk benar-benar menjadi marah. Akhir kata: anda tidak akan pernah bisa menghilangkan amarah tetapi anda bisa mengendalikannya. Hidup pasti akan selalu diwarnai oleh suka dan duka, frustrasi, kepahitan dan kehilangan, serta tindakan yang tak terduga dari orang lain atau lingkungan. Anda tidak bisa menghindari hal tersebut tetapi anda bisa mengubah cara bagaimana hal itu bisa mempengaruhi diri anda. Mengendalikan amarah akan membuat anda menjadi lebih tenang dan mampu menikmati hidup selamanya. Semoga berguna.....(jp)
sumber : e-psikologi.com
Kategori Organisasi Industri
Oleh : Johanes Papu
Jakarta, 23 Juni 2003
--------------------------------------------------------------------------------
Kemarahan pada dasarnya merupakan suatu hal yang normal dan pasti pernah dialami oleh semua individu. Di satu sisi manusia memang harus melepaskan semua amarah yang ada di dalam dirinya agar diperoleh suatu kelegaan atau terlepas dari adanya suatu beban berat. Namun di sisi lain tentu saja dituntut cara-cara yang tepat untuk mengungkapkan kemarahan tersebut sebab jika tidak maka hal itu bisa merusak sendi-sendi kehidupan yang mungkin sudah tertata dengan baik. Dengan kata lain individu harus mampu mengendalikan kemarahan tersebut sebelum kemarahan itu justru yang mengendalikan hidupnya. Dalam ruang konseling di website ini banyak sekali para member yang sudah mengalami bagaimana kemarahan sudah mengambil kendali dalam hidup mereka. Beberapa diantaranya menjadi sangat frustrasi karena menyadari bahwa dirinya begitu gampang terpancing untuk marah baik di kantor maupun di rumah sehingga tidak lagi mampu berinteraksi secara baik dengan orang lain (pacar, istri-anak, rekan kerja, maupun atasan-bawahan).
Dengan kondisi yang demikian tentu saja si "pemarah" tersebut harus mendapatkan pertolongan dari para profesional sebab ketidakberdayaan untuk mengendalikan amarah sudah menimbulkan masalah baru. Hal seperti ini tentu amat disayangkan mengingat bahwa rasa marah (amarah) sebenarnya bisa dikendalikan ataupun dicarikan cara yang tepat untuk mengeluarkannya. Inilah yang akan dicoba untuk dibahas dalam artikel singkat ini dengan suatu harapan bahwa para pembaca dapat mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Amarah
Amarah adalah salahsatu bentuk emosi manusia yang sepenuhnya bersifat normal dan sehat. Setiap individu pasti pernah marah dengan berbagai alasan. Meski merupakan suatu hal yang wajar dan sehat, namun jika tidak dikendalikan dengan tepat dan bersifat destruktif maka amarah akan berpotensi besar untuk menimbulkan masalah baru, seperti masalah di tempat kerja, di keluarga, atau pun hubungan interpersonal.
Faktor penyebab mengapa seseorang menjadi marah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: external dan internal. Faktor external adalah hal-hal yang datang dari luar diri sang individu. Contoh: Anda marah kepada atasan atau bawahan anda; anda juga bisa menjadi marah karena terjebak macet atau tertundanya jadwal penerbangan. Di samping hal-hal external tersebut, kemarahan juga dapat disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang ada di dalam diri anda. Dengan kata lain ada unfinished business yang bisa memicu anda untuk marah. Contoh: ketakutan atau kekuatiran terhadap suatu hal tertentu, ketidakmampuan dalam berinteraksi, adanya pengalaman traumatik atau pun kenangan pahit di masa lalu.
Pemberang vs Kalem
Sehubungan dengan kemarahan, dalam kehidupan sehari-hari seringkali dijumpai bahwa ada individu-individu tertentu yang sangat gampang marah. Mereka bisa marah terhadap hal apa saja, dengan siapa saja dan kapan saja. Singkat kata mereka ini lebih banyak menunjukkan kemarahan dibandingkan dengan individu-individu lainnya. Individu-individu seperti inilah yang biasa di sebut "Pemberang" atau sering pula disebut sebagai orang yang "emosional" (meski istilah ini menurut saya kurang tepat). Individu-individu ini amat sering terlihat mengomel, menggerutu, memboikot atau menarik diri dari pergaulan, berteriak, bahkan sampai melemparkan barang-barang atau mengeluarkan kata-kata tidak senonoh.
Sementara itu kita juga menjumpai bahwa ada individu yang jarang sekali terlihat marah bahkan seolah-olah tidak pernah marah. Mereka tidak meluapkan kemarahan dengan cara meledak-ledak tetapi lebih terlihat tenang-tenang saja (kalem) atau paling-paling hanya sebatas menggerutu atau mengeluh.
Individu yang mudah sekali menjadi marah biasanya adalah mereka yang memiliki tingkat toleransi yang rendah terhadap suatu tekanan atau hal-hal yang menyebabkan rasa frustrasi (low tolerance for frustration). Individu seperti ini menganggap bahwa mereka tidak selayaknya menerima kondisi yang tidak menyenangkan. Mereka sangat sulit mengambil hikmah dari situasi yang tidak menyenangkan dan menjadi marah ketika situasi "tidak berpihak" mereka seperti ketika sedang dikritik atau ditegur karena melakukan suatu kesalahan.
Adapun faktor yang bisa menjadi penyebab mengapa individu tertentu gampang sekali menjadi marah dapat dibagi dalam beberapa faktor sebagai berikut:
1. Genetik
Fakta genetik menunjukkan bahwa beberapa anak memang terlahir dengan karakteristik mudah marah. Hal ini bisa dilihat pada awal-awal tahun kehidupan sang anak.
2. Sosial-Budaya
Dalam budaya masyarakat tertentu amarah atau marah sering dianggap sebagai suatu hal yang negatif. Individu seringkali diajarkan bahwa mengungkapkan atau melepaskan kecemasan, depresi atau emosi yang lain adalah baik kecuali kemarahan. Akibatnya individu menjadi tidak pernah belajar bagaimana mengatasi rasa marah ataupun mengekpresikan kemarahan secara konstruktif.
3. Latarbelakang Keluarga
Tak bisa dipungkiri bahwa faktor keluarga memainkan peranan yang signifikan terhadap gampang atau tidaknya seseorang menjadi marah. Nampaknya pepatah kuno yang mengatakan bahwa "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" masih berlaku. Hasil penelitian membuktikan bahwa individu-individu yang gampang marah seringkali berasal dari keluarga yang berantakan dan tidak trampil dalam mengungkapkan emosi ataupun berkomunikasi. Selain itu dijumpai pula bahwa orangtua yang "pemberang" cenderung menghasilkan anak yang pemberang pula (workplaceblue.com).
Beberapa Pendekatan
Anda tidak mungkin menghilangkan atau menghindari sesuatu yang menjadi penyebab kemarahan. Andapun akan sangat sulit (bahkan tidak mungkin) untuk bisa mengubah orang lain agar tidak membuat anda marah. Satu hal yang bisa ada lakukan adalah mnegndalikan emosi anda sendiri. Dalam rangka menyalurkan dan mengendalikan kemarahan, maka ada tiga pendekatan yang bisa dipilih:
1. Mengekspresikan Kemarahan secara Asertif
Mengekspresikan kemarahan anda dengan cara assertif - tidak agresif - merupakan cara yang paling sehat dalam mengungkapkan kemarahan. Untuk bisa melakukan hal ini maka anda harus belajar menentukan kebutuhan-kebutuhan anda dan bagaimana cara mencapainya tanpa harus menyakiti orang lain. Dengan bertindak asertif berarti anda menghormati diri anda sendiri dan orang lain. (baca artikel: Asertivitas)
2. Menahan Amarah dan Mengalihkannya
Hal ini terjadi ketika anda menahan rasa marah, berhenti memikirkannya dan mencoba memfokuskan diri pada sesuatu hal yang positif. Tujuannya adalah agar dapat mengurangi rasa marah yang sedang meluap dan mengubahnya menjadi tindakan yang konstruktif. Contoh: ketika sedang marah maka anda justru bekerja lebih lama dan produktif. Sayangnya cara ini bisa merugikan diri sendiri. Artinya jika kemarahan yang ditekan tersebut sudah sangat banyak dan tidak pernah dikeluarkan maka dapat mengakibatkan hipertensi, depresi atau pun tekanan darah tinggi.
3. Menenangkan Diri
Cara lain yang bisa ditempuh dalam mengendalikan kemarahan adalah dengan cara menenangkan diri, menarik nafas dalam-dalam dan mencoba meredakan emosi.. Dalam hal ini ketika amarah datang maka anda segera mengambil jarak dari sumber penyebab kemarahan dan mencoba untuk mengendalikan emosi yang sedang bergejolak di dalam diri anda sendiri. Dengan demikian diharapkan bahwa amarah yang ada di dalam diri anda berangsur-angsur mereda.
Mengendalikan Amarah
Beberapa hal berikut ini mungkin layak anda pertimbangkan untuk mengendalikan amarah:
1. Relaksasi
Melakukan relaksasi terbukti dapat membuat seseroang menjadi tenang dalam menghadapi berbagai situasi yang kurang menyenangkan atau penuh tekanan. Relaksasi dapat dilakukan dengan berbagai variasi, misalnya menarik nafas dalam-dalam, melakukan latihan-latihan ringan untuk mengendurkan otot-otot, atau pun dengan kata-kata: "relaks; tenang aja; take it easy; gak apa-apa kok".
2. Humor
Meskipun amarah merupakan suatu hal yang serius tetapi jika anda mau merenungkan atau mencermatinya secara mendalam maka tidak jarang di dalam kemarahan seringkali tersimpan hal-hal yang bisa membuat anda tertawa. Bahkan seringkali anda menemukan bahwa hal-hal yang menjadi penyebab kemarahan adalah suatu hal yang lucu dan sangat sepele. Namun demikian dalam penggunaan humor hendaklah perlu diperhatikan 2 hal: 1) jangan menggunakan humor hanya untuk mentertawakan masalah yang sedang anda hadapi tetapi gunakan humor sebagai suatu cara yang konstruktif untuk menyelesaikan masalah; 2) jangan menggunakan humor-humor yang bersifat kasar atau sarkastik sebab hal itu merupakan bentuk ekspresi kemarahan yang tidak sehat.
3. Mengubah Cara Pandang
Individu yang sedang marah cenderung mengumpat, mengutuk, menyumpah dan mengucapkan berbagai macam kata-kata yang menggambarkan perasaan di dalam hatinya. Ketika sedang marah maka pikiran anda dan tindakan bisa menjadi berlebih-lebihan dan dramatis. Oleh karena itu cobalah mengubah pikiran-pikiran yang berlebih-lebihan tersebut dengan suatu yang rasional. Contoh: daripada anda mengatakan: "ah, ini sangat mengerikan, hancur semuanya, ini adalah mimpi buruk bagi saya", cobalah mengubahnya dengan : "ya memang hal ini membuat saya frustrasi, dan saya bisa memahami mengapa saya menjadi marah, tetapi ini bukanlah akhir dari segala-galanya bagi saya dan kemarahan tidak akan mengubah apa-apa".
Mengingat bahwa amarah seringkali berubah menjadi irasional maka untuk mengendalikannya dibutuhkan pemikiran yang logis. Semakin anda bisa berpikir logis (bisa mempertimbangkan akibatnya dan berpikir jauh ke depan, dsb) maka akan semakin mudah anda mengendalikan amarah dalam diri. Ingatkan diri anda bahwa apa yang sedang terjadi pasti tidak hanya dialami oleh anda seorang diri dan dunia tidak pernah berpaling dari anda. Apa yang sedang terjadi hanyalah merupakan suatu "tinta merah" dalam kehidupan anda. Ingat-ingat akan hal ini setiap kali anda merasa marah supaya anda bisa mendapat pandangan yang lebih seimbang.
4. Selesaikan Masalah secara Tuntas
Mengingat bahwa kemarahan bisa dipicu oleh hal-hal yang datang dari dalam diri seperti adanya masalah yang belum terselesaikan, maka akan sangat baik jika anda menyelesaikan setiap masalah yang muncul sesegara mungkin dan tuntas. Meskipun dalam hidup mungkin ada masalah yang bisa terselesaikan tanpa campurtangan anda secara signifikan, namun alangkah baiknya jika anda membiasakan diri menyelesaikan setiap permasalahan yang berhubungan dengan diri anda. Dengan berkurangnya beban psikologis dalam diri anda maka kemungkinan menjadi marahpun akan berkurang.
5. Melatih cara Berkomunikasi
Dalam banyak kasus orang menjadi marah karena kegagalan dalam berkomunikasi. Contoh: ketidaksiapan dalam menghadapi perbedaan pendapat, tidak bersedia menjadi pendengar atau pun selalu berusaha memaksakan kehendak pada orang lain. Hal-hal seperti inilah yang biasanya membuat orang yang marah cenderung mengambil kesimpulan secara cepat dan kesimpulan tersebut seringkali aneh dan tak terduga.
Meskipun setiap individu berhak untuk membela diri ketika dikritik atau diajak adu argumentasi, namun untuk itu diperlukan ketenangan dan sikap untuk tidak merespon secara terburu-buru. Ada baiknya anda mendengarkan secara cermat apa yang ingin disampaikan oleh orang lain, bahkan ketika orang tersebut mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan anda. Hal ini memang memerlukan kesabaran dan sikap rendah hati dari anda, tetapi dampaknya akan sangat bermanfaat sebab ketika tidak timbul amarah dalam diri anda maka situasi yang ada pasti dapat dikendalikan. Hasil positifnya anda menjadi lebih matang dalam berkomunikasi.
6. Mengubah Lingkungan
Apa yang dimaksudkan dengan mengubah lingkungan dapat berupa penataan kembali tempat tinggal ataupun tempat kerja anda. Mengubah lingkungan dapat juga berarti merubah aturan main yang berlaku di lingkungan tersebut dan juga termasuk mengubah kebiasaan diri anda sendiri untuk menghindari lingkungan yang tidak menyenangkan atau keluar dari lingkungan tersebut untuk sementara waktu. Contoh: daripada anda menjadi marah-marah kepada rekan kerja karena jenuh dengan kondisi kerja yang ada, maka ada baiknya anda mengambil cuti kerja dan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Dengan cara ini maka pikiran anda akan menjadi fresh kembali dan siap bekerja tanpa marah-marah.
7. Melakukan Konseling
Mengingat bahwa setiap individu memiliki sumber daya yang berbeda dalam menghadapi suatu situasi yang penuh tekanan maka ketika anda merasa bahwa anda tidak lagi mampu mengendalikan amarah maka ada baiknya jika anda melakukan konseling dengan psikolog atau para profesional lainnya. Melalui bantuan para profesional ini anda mungkin akan diberikan bimbingan bagaimana cara-cara yang tepat dalam mengendalikan amarah agar tidak merusak aspek kehidupan yang lain. Tentu saja hasilnya tidak akan instant tetapi setidaknya hal itu akan membantu anda menjadi lebih baik.
Disamping hal-hal yang telah disebutkan diatas, mungkin masih banyak cara yang dapat dilakukan oleh anda untuk mengendali amarah di dalam diri. Salahsatu yang patut dicatat adalah dengan semakin mendekatkan diri pada TUHAN. Dengan kata lain ketika anda berada dalam situasi tidak menyenangkan dan anda ingat bahwa hal tersebut adalah dari TUHAN maka saya yakin anda pasti akan berpikir panjang untuk benar-benar menjadi marah. Akhir kata: anda tidak akan pernah bisa menghilangkan amarah tetapi anda bisa mengendalikannya. Hidup pasti akan selalu diwarnai oleh suka dan duka, frustrasi, kepahitan dan kehilangan, serta tindakan yang tak terduga dari orang lain atau lingkungan. Anda tidak bisa menghindari hal tersebut tetapi anda bisa mengubah cara bagaimana hal itu bisa mempengaruhi diri anda. Mengendalikan amarah akan membuat anda menjadi lebih tenang dan mampu menikmati hidup selamanya. Semoga berguna.....(jp)
sumber : e-psikologi.com
Kategori Organisasi Industri
Oleh : Johanes Papu
Jakarta, 23 Juni 2003
Pengasuhan Anak..., Hadiah dan Suap, Hati - hati !
Suap dan Hadiah Dalam Pengasuhan
Mengingat ujian sudah dekat, Bu Ani mulai gencar menyuruh anaknya belajar. Pasalnya, waktu tray-out kemarin, anaknya kebetulan terkena remedial oleh gurunya. Si anak yang sedang asyik-asyiknya menonton acara televisi kesayangan, agak menolak perintah ibunya. Untuk menghindari ketegangan, sang ibu memberikan upeti yang masih dijanjikan agar anaknya cepat menuju ruang belajar. Pertanyaannya, apakah perilaku Bu Ani itu tergolong penyuapan (bribery) atau penghargaan atas usaha anaknya yang mau beranjak meninggalkan televisi (reward)?
Menyuap Dalam Pengasuhan
Praktek suap dalam pengasuhan perlu dibedakan dengan praktek yang ada dalam birokrasi. Suap dalam birokrasi diartikan sebagai perilaku yang mengiming-imingi atau menyepakati imbalan, baik di depan atau di belakang, agar terjadi aksi yang unfair (merugikan orang lain) atau unlawful (melanggar hukum).Misalnya, kita sedang dalam proses mengintip pekerjaan tender dari kantor departemen anu. Agar kita menang, kita membuat deal yang terkait dengan iming-iming imbalan itu agar terjadi proses yang tidak fair atau kalau perlu melanggar. Banyak proyek pemerintah yang anggarannya gila-gilaan, tetapi mutunya edan-edanan. Ini terjadi karena praktek suap merajalela.
Sedangkan suap dalam ruang lingkup pengasuhan, menerangkan tindakan orangtua yang memberi / menjanjikan imbalan untuk hal-hal yang ditolak oleh anak, yang mestinya itu sudah merupakan tanggung jawab anak, atau untuk hal-hal yang memang menjadi kewajiban orangtua melatih si anak, seperti belajar, mandi, sabar dalam meminta, dan seterusnya.
Hampir semua orangtua pernah melakukan suap kepada anaknya. Bedanya mungkin ada yang mempatenkan pola suap itu dan ada yang menjadikannya sebagai strategi temporer. Ada yang tingkatannya sudah berlebihan, tapi ada yang masih bisa dibilang wajar. Ada yang mau memperbaiki, tapi ada yang membiarkan.
Potensi Bahaya
Meski dipahami tidak sekotor seperti praktek suap dalam birokrasi, tetapi bila kebablasan atau tidak diiringi dengan penjelasan yang memahamkan anak, bisa-bisa praktek suap ini dapat menanamkan mentalitas yang kurang mendukung kemajuan anak di kemudian hari.
Suap sangat kurang mendidik anak untuk mengembangkan kendali diri (internal self control) yang menjadi landasan disiplin. Padahal disiplin itu sangat dibutuhkan untuk berbagai kepentingan. Disiplin dibutuhkan untuk menanamkan perilaku positif, dan melatih manajemen hidup. Anak yang tahu teori disiplin, belum tentu bisa menjalankan, jika tidak disertai latihan sejak kecil.
Suap juga dapat membuat sensitivitas anak terhadap tanggung jawabnya menjadi kurang tajam. Anak akan cenderung mengandalkan suap atau iming-iming imbalan untuk melakukan hal-hal yang baik bagi dirinya. Ironisnya, pada beberapa kasus anak-anak yang menjadi sasaran program bantuan bencana pun sudah bisa memilih dan menolak pihak yang tawarannya kurang menarik. Jadi program-program bantuan masyarakat pun sampai ada yang pakai strategi suap. Sebabnya, jika tidak pakai amplop, hadiah, dsb - tidak ada yang mau ikut. Dikasih duit untuk mengikuti pengajian dan program. Dikasih amplop untuk mengikuti training. Bahkan untuk membersihkan lingkungan sendiri pun diiming-imingi dengan uang. Saat itu, hampir semua orang melihatnya sebagai kebaikan yang luar biasa. Tapi, gara-gara kebablasan, kebaikan itu mulai menjadi petaka.
Bahkan jika suap ini sudah membuat anak terbiasa kecanduan, anak akan menggunakan kelemahannya atau menggunakan inisiatif negatifnya sebagai kekuatan untuk tawar-menawar dengan orangtua. Misalnya, anak akan menangis berlebihan jika tuntutannya tidak dipenuhi untuk mendapatkan suap dari orangtuanya.
Secara sosial, suap juga dapat menumpulkan kecerdasan sosial. Kalau dilogikakan, anak akan tidak tegerak untuk menolong orang lain atau untuk melakukan kebaikan sosial, termasuk untuk dirinya sendiri dan keluarganya ketika tidak melihat imbalan yang akan didapatkan. Bahkan, kalau membaca hasil kajian lembaga-lembaga internasional mengenai suap dan korupsi dalam sebuah bangsa, suap juga membahayakan kepentingan nasional. Terungkap dalam berbagai studi bahwa budaya menduduki ranking atas dalam menggerakkan perilaku. Selebihnya, sistem yang bobrok dan penegakan hukum yang lemah.
Budaya dalam hal ini adalah perilaku kolektif yang digerakkan oleh sekian elemen (kebiasaan, tradisi, nilai, contoh, dst) yang sudah masuk ke dalam sistem syaraf masing-masing individu sehingga untuk mengubahnya tidak mudah. Ada kemungkinan budaya itu terbentuk dari kecil atau dari proses waktu yang panjang.
Bagaimana Dengan Reward?
Reward dalam pengasuhan pengertiannya adalah memberi imbalan atas prestasi, pencapaian, atau perjuangan anak dalam mencapai sesuatu. Ada learning process di dalamnya. Misalnya, kita memberikan hadiah sepeda setelah dia bisa menguasai gerakan tertentu atau mendapatkan nilai / peringkat akademik tertentu.
Oleh pengalaman dunia pendidikan, reward ini dinilai punya pengaruh positif bagi anak, antara lain:
1. Reward akan memotivasi anak untuk berjuang atau mencapai. Motivasi itu bersumber dari dorongan atau rangsangan kita, lalu pengarahan kita ketika ada kesalahan atau penyimpangan, dan penghargaan kita atas pencapaian. Banyak orangtua yang kurang memberi dorongan, tetapi banyak menyalahkan. Sudah begitu, sikapnya juga kurang apresiatif terhadap prestasi anak.
2. Reward akan membuat anak merasa dihargai sehingga ini menjadi modal yang penting untuk membangun self-esteem. Untuk anak, faktor yang paling banyak peranannya dalam membangun harga diri adalah faktor eksternal, orangtua dan lingkungan. Harga diri yang positif membuat anak lebih optimistis, misalnya tidak pasrah jika nilainya jelek.
3. Reward dapat memantapkan kepercayaan diri (pede). Anak membangun pede dari bukti dan pengakuan. Jika anak melihat ternyata dia mampu melakukan sesuatu dengan bukti yang nyata (hasil atau kompetensi), ditambah lagi dengan pengakuan orangtuanya, maka pede-nya akan membaik.
Dalam banyak hal, intinya, memberi reward itu jauh lebih edukatif. Walaupun rewarding ini tidak selalu secara sempurna bisa kita jalankan, tetapi hal ini harus dijadikan acuan.
Butuh Alat Bantu
Supaya kita mudah memberikan reward, memang butuh alat bantu. Ketiadaan atau kekurangan alat bantu, dapat memudahkan kita terjebak melakukan bribing untuk kepentingan sesaat atau melakukan demotivating karena reaksi sesaat. Beberapa alat bantu yang penting itu adalah:
Ada disiplin tertentu yang kita tegakkan secara konsisten sejak kecil. Akan lebih bagus disiplin itu ditegakkan berdasarkan kesepakatan dan perkembangan anak, dijalankan dengan cara friendly, dan konsisten mengawalnya. Disiplin akan memudahkan kita memberi pengarahan dan memberi reward karena dasarnya jelas.
Ada standar prestasi / pencapaian tertentu berdasarkan kemampuan dan keadaannya, misalnya bisa menguasai kompetensi tertentu, nilai tertentu, kebisaan tertentu, dan lain-lain. Sebaiknya, standar prestasi itu kita buat berdasarkan kesepakatan yang menantang (challenging), bukan yang menekan (pressing). Pencapaian standar menjadi alasan yang pas untuk memberi reward
Ada harapan tertentu. Tidak semua perilaku anak itu bisa dimasukkan ke dalam wilayah disiplin dan standar. Memang harus ada yang di luar sistem. Misalnya saja menangis, konflik, membanting barang, atau hal-hal yang serupa. Meski sulit dihindari, tetapi ada harapan dari orangtua kepada anaknya. Jika si anak bisa memenuhi harapan itu, walaupun tidak sempurna, memberi reward menjadi langkah yang pas.
Bahkan dengan alat bantu di atas dapat juga menghindarkan kita dari praktek memuji-muji anak tanpa alasan yang tepat. Memuji tanpa alasan dan berlebihan sangat berpotensi mendorong anak menciptakan konsep diri yang salah.Teorinya, anak yang sering diserang oleh orang dewasa di sekitarnya akan membangun konsep diri yang lemah (The Poor Me), minder, takut, dst. Tapi, jika kebanyakan dipuji yang hanya untuk menyenangkan hati tidak berarti lantas bagus. Dia akan membangun konsep diri yang super (The Super Me), sombong, narsis, berpikir harus menundukkan orang lain, menutut pujian, dst.
Supaya terhindar, kita perlu membekali dia membangun konsep diri yang aktual (The Actual Me). Salah satu cara yang penting adalah dengan menciptakan dan menjalankan alat bantu di atas. Untuk kepentingan yang lebih besar, melatih anak supaya menjadi actualized itu akan membekali paradigma mental yang lebih riil dalam menghadapi hidup.
Berbagai Bentuk Reward
Reward itu tidak selamanya harus materi. Reward dapat berupa materi (tangible) dan bukan materi (intangible), misalnya pujian, dukungan, ciuman kasih sayang, penghormatan, perlakuan, dan lain-lain. Artinya, tidak semua reward mengharuskan kita merogoh saku. Dengan kata lain, semua orangtua punya kesempatan yang sama untuk me-reward anaknya. Hanya memang namanya juga anak-anak, secara umum, reward yang tangible atau yang berbentuk materi itu biasanya punya nilai yang lebih sensasional dan itu biasanya yang lebih dulu diminta.
Meski demikian, kalau keseringan, daya kejutnya bisa berkurang, selain juga kurang bagus. Jalan tengah yang bisa ditempuh orangtua adalah menyesuaikan, memproporsionalkan dengan situasi kondisi, anak dan segala sesuatunya. Tidak melulu materi atau tidak melulu hanya omongan, tidak perlu seragam dengan yang lain, dsb.
Ada banyak teori yang bisa kita jadikan acuan untuk memvariatifkan atau mengkomprehensifkan reward, misalnya teori ERG yang membagi kebutuhan manusia menjadi tiga, seperti di bawah ini:
E = Existence, kebutuhan fisiologis dasar, misalnya makanan atau baju
R = Relatedness, kebutuhan emosional sosial, misalnya mainan baru yang membuat dia punya gairah baru dalam berteman, perlakuan yang lebih istimewa, penghargaan, kunjungan ke rumah nenek di kampung, dan lain-lain
G = Growth, kebutuhan aktualisasi diri, perkembangan, atau kemajuan, misalnya membelikan buku, mainan yang edukatif, atau fasilitas kemajuan tertentu.
Selain itu, bentuk reward-nya sendiri juga perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan perkembangan, atau juga sebab-sebabnya. Ini supaya nilai gunanya tepat dan efektif. Reward yang terlalu besar sama jeleknya dengan reward yang terlalu kecil. Membelikan hape atau laptop untuk anak yang belum butuh, bisa salah atau kurang berguna. Akan lebih sempurna lagi jika reward itu kita desain se-personal mungkin, spesial, dan unik. Kalau terlalu umum atau biasa-biasa, padahal itu untuk sebuah prestasi yang luar biasa, bisa-bisa kita malah dilecehkan, dengan istilah semacam pelit, kurang perhatian, dsb.
Yang paling penting untuk kepentingan pendidikan adalah, reward itu memang sengaja kita rancang untuk menantang dia meningkatkan pencapaian, prestasi, atau perjuangan. Jangan sampai gara-gara hadiah itu lantas membuat dia berubah menjadi lebih buruk atau tidak tertantang lagi. Hadiah membawa musibah.
Semoga bermanfaat.
(sumber e-psikologi, Kategori Anak, oleh : Ubaydillah, AN)
Jakarta, 02 Juni 2010
Mengingat ujian sudah dekat, Bu Ani mulai gencar menyuruh anaknya belajar. Pasalnya, waktu tray-out kemarin, anaknya kebetulan terkena remedial oleh gurunya. Si anak yang sedang asyik-asyiknya menonton acara televisi kesayangan, agak menolak perintah ibunya. Untuk menghindari ketegangan, sang ibu memberikan upeti yang masih dijanjikan agar anaknya cepat menuju ruang belajar. Pertanyaannya, apakah perilaku Bu Ani itu tergolong penyuapan (bribery) atau penghargaan atas usaha anaknya yang mau beranjak meninggalkan televisi (reward)?
Menyuap Dalam Pengasuhan
Praktek suap dalam pengasuhan perlu dibedakan dengan praktek yang ada dalam birokrasi. Suap dalam birokrasi diartikan sebagai perilaku yang mengiming-imingi atau menyepakati imbalan, baik di depan atau di belakang, agar terjadi aksi yang unfair (merugikan orang lain) atau unlawful (melanggar hukum).Misalnya, kita sedang dalam proses mengintip pekerjaan tender dari kantor departemen anu. Agar kita menang, kita membuat deal yang terkait dengan iming-iming imbalan itu agar terjadi proses yang tidak fair atau kalau perlu melanggar. Banyak proyek pemerintah yang anggarannya gila-gilaan, tetapi mutunya edan-edanan. Ini terjadi karena praktek suap merajalela.
Sedangkan suap dalam ruang lingkup pengasuhan, menerangkan tindakan orangtua yang memberi / menjanjikan imbalan untuk hal-hal yang ditolak oleh anak, yang mestinya itu sudah merupakan tanggung jawab anak, atau untuk hal-hal yang memang menjadi kewajiban orangtua melatih si anak, seperti belajar, mandi, sabar dalam meminta, dan seterusnya.
Hampir semua orangtua pernah melakukan suap kepada anaknya. Bedanya mungkin ada yang mempatenkan pola suap itu dan ada yang menjadikannya sebagai strategi temporer. Ada yang tingkatannya sudah berlebihan, tapi ada yang masih bisa dibilang wajar. Ada yang mau memperbaiki, tapi ada yang membiarkan.
Potensi Bahaya
Meski dipahami tidak sekotor seperti praktek suap dalam birokrasi, tetapi bila kebablasan atau tidak diiringi dengan penjelasan yang memahamkan anak, bisa-bisa praktek suap ini dapat menanamkan mentalitas yang kurang mendukung kemajuan anak di kemudian hari.
Suap sangat kurang mendidik anak untuk mengembangkan kendali diri (internal self control) yang menjadi landasan disiplin. Padahal disiplin itu sangat dibutuhkan untuk berbagai kepentingan. Disiplin dibutuhkan untuk menanamkan perilaku positif, dan melatih manajemen hidup. Anak yang tahu teori disiplin, belum tentu bisa menjalankan, jika tidak disertai latihan sejak kecil.
Suap juga dapat membuat sensitivitas anak terhadap tanggung jawabnya menjadi kurang tajam. Anak akan cenderung mengandalkan suap atau iming-iming imbalan untuk melakukan hal-hal yang baik bagi dirinya. Ironisnya, pada beberapa kasus anak-anak yang menjadi sasaran program bantuan bencana pun sudah bisa memilih dan menolak pihak yang tawarannya kurang menarik. Jadi program-program bantuan masyarakat pun sampai ada yang pakai strategi suap. Sebabnya, jika tidak pakai amplop, hadiah, dsb - tidak ada yang mau ikut. Dikasih duit untuk mengikuti pengajian dan program. Dikasih amplop untuk mengikuti training. Bahkan untuk membersihkan lingkungan sendiri pun diiming-imingi dengan uang. Saat itu, hampir semua orang melihatnya sebagai kebaikan yang luar biasa. Tapi, gara-gara kebablasan, kebaikan itu mulai menjadi petaka.
Bahkan jika suap ini sudah membuat anak terbiasa kecanduan, anak akan menggunakan kelemahannya atau menggunakan inisiatif negatifnya sebagai kekuatan untuk tawar-menawar dengan orangtua. Misalnya, anak akan menangis berlebihan jika tuntutannya tidak dipenuhi untuk mendapatkan suap dari orangtuanya.
Secara sosial, suap juga dapat menumpulkan kecerdasan sosial. Kalau dilogikakan, anak akan tidak tegerak untuk menolong orang lain atau untuk melakukan kebaikan sosial, termasuk untuk dirinya sendiri dan keluarganya ketika tidak melihat imbalan yang akan didapatkan. Bahkan, kalau membaca hasil kajian lembaga-lembaga internasional mengenai suap dan korupsi dalam sebuah bangsa, suap juga membahayakan kepentingan nasional. Terungkap dalam berbagai studi bahwa budaya menduduki ranking atas dalam menggerakkan perilaku. Selebihnya, sistem yang bobrok dan penegakan hukum yang lemah.
Budaya dalam hal ini adalah perilaku kolektif yang digerakkan oleh sekian elemen (kebiasaan, tradisi, nilai, contoh, dst) yang sudah masuk ke dalam sistem syaraf masing-masing individu sehingga untuk mengubahnya tidak mudah. Ada kemungkinan budaya itu terbentuk dari kecil atau dari proses waktu yang panjang.
Bagaimana Dengan Reward?
Reward dalam pengasuhan pengertiannya adalah memberi imbalan atas prestasi, pencapaian, atau perjuangan anak dalam mencapai sesuatu. Ada learning process di dalamnya. Misalnya, kita memberikan hadiah sepeda setelah dia bisa menguasai gerakan tertentu atau mendapatkan nilai / peringkat akademik tertentu.
Oleh pengalaman dunia pendidikan, reward ini dinilai punya pengaruh positif bagi anak, antara lain:
1. Reward akan memotivasi anak untuk berjuang atau mencapai. Motivasi itu bersumber dari dorongan atau rangsangan kita, lalu pengarahan kita ketika ada kesalahan atau penyimpangan, dan penghargaan kita atas pencapaian. Banyak orangtua yang kurang memberi dorongan, tetapi banyak menyalahkan. Sudah begitu, sikapnya juga kurang apresiatif terhadap prestasi anak.
2. Reward akan membuat anak merasa dihargai sehingga ini menjadi modal yang penting untuk membangun self-esteem. Untuk anak, faktor yang paling banyak peranannya dalam membangun harga diri adalah faktor eksternal, orangtua dan lingkungan. Harga diri yang positif membuat anak lebih optimistis, misalnya tidak pasrah jika nilainya jelek.
3. Reward dapat memantapkan kepercayaan diri (pede). Anak membangun pede dari bukti dan pengakuan. Jika anak melihat ternyata dia mampu melakukan sesuatu dengan bukti yang nyata (hasil atau kompetensi), ditambah lagi dengan pengakuan orangtuanya, maka pede-nya akan membaik.
Dalam banyak hal, intinya, memberi reward itu jauh lebih edukatif. Walaupun rewarding ini tidak selalu secara sempurna bisa kita jalankan, tetapi hal ini harus dijadikan acuan.
Butuh Alat Bantu
Supaya kita mudah memberikan reward, memang butuh alat bantu. Ketiadaan atau kekurangan alat bantu, dapat memudahkan kita terjebak melakukan bribing untuk kepentingan sesaat atau melakukan demotivating karena reaksi sesaat. Beberapa alat bantu yang penting itu adalah:
Ada disiplin tertentu yang kita tegakkan secara konsisten sejak kecil. Akan lebih bagus disiplin itu ditegakkan berdasarkan kesepakatan dan perkembangan anak, dijalankan dengan cara friendly, dan konsisten mengawalnya. Disiplin akan memudahkan kita memberi pengarahan dan memberi reward karena dasarnya jelas.
Ada standar prestasi / pencapaian tertentu berdasarkan kemampuan dan keadaannya, misalnya bisa menguasai kompetensi tertentu, nilai tertentu, kebisaan tertentu, dan lain-lain. Sebaiknya, standar prestasi itu kita buat berdasarkan kesepakatan yang menantang (challenging), bukan yang menekan (pressing). Pencapaian standar menjadi alasan yang pas untuk memberi reward
Ada harapan tertentu. Tidak semua perilaku anak itu bisa dimasukkan ke dalam wilayah disiplin dan standar. Memang harus ada yang di luar sistem. Misalnya saja menangis, konflik, membanting barang, atau hal-hal yang serupa. Meski sulit dihindari, tetapi ada harapan dari orangtua kepada anaknya. Jika si anak bisa memenuhi harapan itu, walaupun tidak sempurna, memberi reward menjadi langkah yang pas.
Bahkan dengan alat bantu di atas dapat juga menghindarkan kita dari praktek memuji-muji anak tanpa alasan yang tepat. Memuji tanpa alasan dan berlebihan sangat berpotensi mendorong anak menciptakan konsep diri yang salah.Teorinya, anak yang sering diserang oleh orang dewasa di sekitarnya akan membangun konsep diri yang lemah (The Poor Me), minder, takut, dst. Tapi, jika kebanyakan dipuji yang hanya untuk menyenangkan hati tidak berarti lantas bagus. Dia akan membangun konsep diri yang super (The Super Me), sombong, narsis, berpikir harus menundukkan orang lain, menutut pujian, dst.
Supaya terhindar, kita perlu membekali dia membangun konsep diri yang aktual (The Actual Me). Salah satu cara yang penting adalah dengan menciptakan dan menjalankan alat bantu di atas. Untuk kepentingan yang lebih besar, melatih anak supaya menjadi actualized itu akan membekali paradigma mental yang lebih riil dalam menghadapi hidup.
Berbagai Bentuk Reward
Reward itu tidak selamanya harus materi. Reward dapat berupa materi (tangible) dan bukan materi (intangible), misalnya pujian, dukungan, ciuman kasih sayang, penghormatan, perlakuan, dan lain-lain. Artinya, tidak semua reward mengharuskan kita merogoh saku. Dengan kata lain, semua orangtua punya kesempatan yang sama untuk me-reward anaknya. Hanya memang namanya juga anak-anak, secara umum, reward yang tangible atau yang berbentuk materi itu biasanya punya nilai yang lebih sensasional dan itu biasanya yang lebih dulu diminta.
Meski demikian, kalau keseringan, daya kejutnya bisa berkurang, selain juga kurang bagus. Jalan tengah yang bisa ditempuh orangtua adalah menyesuaikan, memproporsionalkan dengan situasi kondisi, anak dan segala sesuatunya. Tidak melulu materi atau tidak melulu hanya omongan, tidak perlu seragam dengan yang lain, dsb.
Ada banyak teori yang bisa kita jadikan acuan untuk memvariatifkan atau mengkomprehensifkan reward, misalnya teori ERG yang membagi kebutuhan manusia menjadi tiga, seperti di bawah ini:
E = Existence, kebutuhan fisiologis dasar, misalnya makanan atau baju
R = Relatedness, kebutuhan emosional sosial, misalnya mainan baru yang membuat dia punya gairah baru dalam berteman, perlakuan yang lebih istimewa, penghargaan, kunjungan ke rumah nenek di kampung, dan lain-lain
G = Growth, kebutuhan aktualisasi diri, perkembangan, atau kemajuan, misalnya membelikan buku, mainan yang edukatif, atau fasilitas kemajuan tertentu.
Selain itu, bentuk reward-nya sendiri juga perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan perkembangan, atau juga sebab-sebabnya. Ini supaya nilai gunanya tepat dan efektif. Reward yang terlalu besar sama jeleknya dengan reward yang terlalu kecil. Membelikan hape atau laptop untuk anak yang belum butuh, bisa salah atau kurang berguna. Akan lebih sempurna lagi jika reward itu kita desain se-personal mungkin, spesial, dan unik. Kalau terlalu umum atau biasa-biasa, padahal itu untuk sebuah prestasi yang luar biasa, bisa-bisa kita malah dilecehkan, dengan istilah semacam pelit, kurang perhatian, dsb.
Yang paling penting untuk kepentingan pendidikan adalah, reward itu memang sengaja kita rancang untuk menantang dia meningkatkan pencapaian, prestasi, atau perjuangan. Jangan sampai gara-gara hadiah itu lantas membuat dia berubah menjadi lebih buruk atau tidak tertantang lagi. Hadiah membawa musibah.
Semoga bermanfaat.
(sumber e-psikologi, Kategori Anak, oleh : Ubaydillah, AN)
Jakarta, 02 Juni 2010
AA Gym bicara tentang bisnis
KH. AA Gym berbicara ttg bisnis nya...
“Kalau kita mau sukses, kunci pertama adalah jujur. Dengan kejujuran, orang akan percaya kepada kita. Kedua, profesional. Kita harus cakap, sehingga siapa pun yang memerlukan kita, merasa puas dengan yang kita kerjakan. Ketiga, inovatif. Artinya, kita harus mampu menciptakan sesuatu yang baru; jangan hanya menjiplak atau meniru yang sudah ada.” K.H. Abdullah Gymnastiar
Kemunculan K.H. Abdullah Gymnastiar, menjadi fenomena dakwah di tengah krisis multidimensional yang sedang melanda negeri ini.. Bahkan, ajakan kesederhanaan hidup, kesahajaan, pembenahan hati dari dalam diri sendiri yang dia sampaikan, menjadi kebutuhan santapan rohani; sekaligus obat untuk kondisi masyarakat saat ini.
Sosok kiai muda yang akrab disapa Aa Gym ini memang punya ciri khas dan fenomena tersendiri. Ceramah AA Gym, mampu membuat ribuan jamaahnya mengucurkan air mata. Sukses ulama kondang ini tak terlapas dari konsep barunya tentang syiar Islam. Dia menyiarkan Islam dengan format yang sangat sederhana, lugas dan renyah. Dai muda yang memulai karisnya pada sekitar 1990 iitu, kini menjadi pendakwah yang dikagumi dan digemari hampir semua lapisan masyarakat. Mulai remaja, ibu rumah tangga, hingga para eksekutif perusahaan.
Suksesnya di bidang dakwah, diikuti pula sukses di bidang pendidikan dan bisnis. Dia berhasil mengelola Yayasan Pesantren Daarut Tauhid di Jalan Gegerkalong Girang No.38, Bandung. Pesantren yang dibangun di atas lahan seluas tiga hektar itu tergolong modern dan multifungsi, Ada bangunan masjid 1.000 meter persegi; ada cottage 24 kamar berkapasitas 80 orang (khusus bagi orang tua dan santri dari luar kota yang ikut pelatihan atau pesantren). Ada pula gedung serbaguna, kafetaria serta swalayan mini yang megah dan elite. Ribuan santri belajar di sana.
Bidang usahanya beraneka ragam. Antara lain swalayan; warung telekomunikasi; penerbitan buku; tabloid; stasiun radio; pembuatan kaset dan VCD. Omzetnya pun miliaran rupiah. ”Bisnis ini dikelola dan juga jadi wahana para santri untuk mengaktualisasikan jiwa serta pendidikan wirausahanya. Bukankah Rasulullah menyuruh kita agar berada dalam tangan posisi di atas? Tak harus minta-minta. Ini akan berhasil jika kita mampu membangun jiwa entrepreneurship dalam diri kita sendiri,” kata AA Gym.
Lalu, siapakahj AA Gym dan bagaimana ia mengelola Pondok Pesantren Daarut Tauhid, sehingga menjadi rujukan beberapa lembaga dari sejumlah negara asing? Lelaki penggemar warna putih ini memulai pendidikan formal di SD Damar, lalu pindah ke KPAD Gegerkalong. Kemudian pindah lagi ke SD Sukarasa 3. Prestasinya di sekolah cukup bagus. Terbukti ketika tamat, ia menempati ranking terbaik II dengan selisih nilai satu angka dibandingkan ranking I. Di bidang seni, bakat menggambar dan menyanyinya sudah terlihat sejak kecil. Sementara itu, naluri bisnisnya sudah berkibar sejak Taman Kanak-kanak (TK), lalu terbawa-bawa hingga di Sekolah Dasar. Berbisnis bagi Aa Gym bukan sekadar urusan duniawi. ’Jika bisnis dijalankan dengan cara yang salah, akan melahirkan kerakusan dan ketamakan manusia. Sebaliknya, bisnis yang dijalankan dengan niat dan cara yang benar adalah ibadah yang besar sekali pahalanya, ksrena dapat mengokohkan harga diri bangsa,” katanya.
Lelaki yang kurang suka pada pakaian batik ini memang pernah berdagang berbagai produk. Ia sempat menjual petasan yang pada waktu itu belum dilarang seperti sekarang. Setamat SMA, Aa Gym yang gagal dalam tes Sipenmaru, akhirnya kuliah di D=3 Fakultas Ekonomi Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan (PAAP), Universitas Padjadjaran. Namun, kuliahnya tak bertahan lama, karena ia sibuk berbisnis. Teman-teman kuliahnya bahkan lebih mengenalnya sebagai “tukang dagang”.
Aa Gym pantang menyerah. Selepas PAAP, ia masuk ke Akademi Teknik Jenderal Ahmad Yani (ATA, sekarang Unjani). Selama kuliah, ia mengontrak sebuah kamar di pinggir sawah, untuk melatih diri hidup mandiri. Selain kegiatan kemahasiswaan, seperti menjadi ketua senat, aktivitas bisnisnya pun semakin meningkat. Ia pernah membuat keset dan perca kain; lalu menjual baterai dan film kamera saat acara wisuda. Bahkan, Ia sempat menjadi supir angkot jurusan Cibeber-Cimahi, sekadar menambah uang saku. Namun, perjuangannya tidak sia-sia. AA Gym berhasil menyelesaikan program sarjana muda di ATA, meski belum mengikuti ujian negara. Sesudah itu, ada upaya untuk melanjutkan kuliah sampai S1. Namun, setelah menelusuri hati, ternyata hal itu tak cukup kuat untuk memotivasinnya meneruskan kuliah. Mungkin hikmahnya adalah memotivasi orang yang belum dan tak punya gelar, agar tetap optimis untuk maju dan sukses.
Pria bertubuh ramping dengan sorot mata tajam itu, terkenal murah senyum. Motto hidupnya, ”berprestasi bagi dunia dan akhirat”. Di awal 1987, AA Gym menikah dengan gadis pilihannya, Ninih Muthmainnah di Pesantren Kalangsari, Cijulang,.Sebagai orang yang super sibuk, ia menerapkan manajemen keseimbangan. Menurutnya, segalanya harus diukur secara proporsional. Sebab, setiap ketidakseimbangan adalah kezaliman, sedangkan kezaliman dilarang oleh Islam. ”Sesibuk apa pun, menimang dan bercengkerama dengan anak harus dilakukan,” kata Aa Gym.
Tekadnya untuk memberi nafkah kepada keluarga dengan uang yang jelas kehalalannya, begitu kuat. Untuk itu, penggemar kegiatan membaca ini mulai merintis usaha kecil-kecilan, seperti berjualan buku di Masjid Al-Furqon, IMP Bandung. Sambil belajar tafsir dan ilmu hadits di sana, ia memikul kardus berisi buku-buku agama untuk dijual. Alhamdulillah, usaha kecil inilah yang menjadi cikal bakal toko buku dan kini berkembang menjadi supermarket yang dikelola dan diserahkan kepada Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Daarut Tauhid. Kehidupan yang sulit pada masa lalu, membuatnya ”memeras otak” untuk menambah penghasilan. Sambil mengajar di madrasah KPAD, sore harinya ia membuat barang kerajinan bersama anak-anak Usaha ini terus berkembang hingga bisa membeli mesin gergaji. Dari usaha sederhana inilah kemudian berkembang menjadi usaha percetakan dan penerbitan buku.
Upayanya untuk meningkatkan penghasilan keluarga tak berhenti sampai di situ. Aa Gym ingat, istrinya punya keterampilan menjahit. Lalu, ia pun menabung agar bisa membeli mesin jahit bekas. Alhamdulillah, order jahitan berkembang dan bisa mengajak beberapa muslimah untuk bergabung. Dari kegiatan dan perjuangan inilah cikal bakal lahirnya usaha konveksi.
Bagi Aa Gym, pekerjaan yang paling mengesankan adalah saat menjual mie bakso. Warung bakso kecil-kecilan di Perumnas Sarijadi, itu bekerjasama dengan pamannya selaku pemilik rumah. Setiap pukul empat subuh, ia sudah pergi mencari tulang ke Pasar Sederhana, karena kuah yang enak harus dicampur dengan sumsum tulang. Setiap kali adzan, warung baksonya ditinggalkan, karena ia tak mau ketinggalan shalat berjamaah di sebuah masjid yang letaknya agak jauh dari warung, Sementara itu, pembelinya dipersilakan memasukkan uang bayarannya ke tempatnya. Tampaknya ia ingin mengajak pembelinya untuk menerapkan kejujuran. Tapi, hasilnya, pembeli yang sering datang justru ingin berkonsultasi pada AA Gym. Akibatnya, tak jarang ia baru pulang ke rumah sekitar jam 21,00. Lelah dan letih bercampur menjadi satu, sementara hasilnya pun tidak seberapa. Yang menyedihkan, istrinya kerap mual, karena ternyata kurang suka mencium bau bakso. Akhirnya, warung bakso itu pun ditutup.
Menurut Aa Gym, seorang wirausahawan sejati sangat dipengaruhi oleh masa kecilnya. Kalau masa kecilnya selalu dimanja dan dimudahkan urusannya, atau selalu ditolong, maka bersiap-siaplah menuai anak yang tidak berdaya. Oleh karena itu, bagi yang masih muda jangan bercita-cita melamar pekerjaan, tapi berpikirlah untuk menjadi wirausahawan. Dan bagi orangtua, tanamkan jiwa wirausaha kepada anak-anak sejak dini. Didik anak-anak agar mandiri sejak kecil dan latih mereka untuk selalu bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.
Pengalamannya berdagang sejak kecil, membuat Aa Gym hafal dengan cara “bangkrut efektif”, bagaimana “tertipu optimal”, atau bagaimana usaha bisa remuk. Kunci kesuksesan Aa Gym dalam menjalankan roda bisnis di pesantrennya hingga berkembang menjadi 24 bidang usaha dalam 12 tahun, terletak pada pembangunan kredibilitas para pengelolanya, yang meliputi tiga aspek utama. Yaitu, nilai kejujuran, kecakapan (profesionalisme) dan inovatif. Nilai kejujuran yang diajarkan meliputi ketepatan dalam menepati janji; manajemen waktu; memiliki fakta dan data yang jelas; terbuka; kemampuan mengevaluasi; rasa tanggung jawab dan pantang putus asa. Kecakapan dalam berbisnis ini selain diperlukan pendidikan, yang penting juga adalah pelatihan nyata.
Kebanyakan orang selalu meributkan modal berupa finansial. Padahal, menurut Aa Gym, modal itu adalah: Pertama, keyakinan kepada janji dan jaminan Allah. Kedua, kegigihan meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar. Ketiga, menjadi orang yang terpercaya (kredibel). Kredibel berarti sikap yang selalu jujur dan terpercaya; selalu berusaha melakukan yang terbaik dan memuaskan, serta selalu berusaha mengembangkan ilmu, pengalaman dan wawasan. Sehingga bisa tampil kreatif, inovatif dan solutif. Percayalah, sebelum kita lahir, rezeki sudah lengkap disiapkan oleh Allah Yang Mahakaya, katanya.
Kita hanya disuruh menjemputnya, bukan mencarinya. Yang harus diperoleh justru keberkahan dari jatah kita. Dan semua itu akan datang kalau kita bekerja di jalan yang diridhoi Allah SWT. Ada pun keuntungan bukan hanya berupa uang, harta, kedudukan, atau aksesoris duniawi lainnya. Bagi beliau, keuntungan itu adalah ketika bisnis yang dilakukan ada di jalan Allah, bisnis kita jadi amal shaleh yang disukai Allah, dan menjadi jalan mendekat kepada-Nya. Nama baik kita terjaga, bahkan menjadi personal guarantee. Dengan bisnis kita bertambah ilmu, pengalaman, dan wawasan; Dengan bisnis juga bertambah saudara dan tersambungnya silaturahmi. Dan, dengan bisnis semakin banyak orang yang merasa beruntung.
Usaha yang ditekuninya adalah sarana bagi teman-teman yang memiliki rezeki berlebih dan imengnginkan usaha yang halal serta maslahat, untuk bergabung dalam sistem bagi hasil. Oleh karena itu, setiap keuntungan, selain disisihkan untuk zakatnya, dan dikeluarkan biaya pendidikan bagi kaum dhuafa, agar bisa maju bersama-sama. Dengan dukungan tim yang berakhlak baik, konflik menjadi minimal dan kebocoran pun nyaris nihil.
Lantas, bagaimana dengan pola kepemimpinan Daarut Tauhid? Ternyata, kepemimpinan di sini tidak lagi menempatkan figur sebagai sentral, sebagaimana di kalangan pesantren pada umumnya. Tapi, kepemimpinan Daarut Tauhid telah menerapkan sistem pendelegasian kerja, sebagai pengalihan wewenang formal manajer kepada bawahannya. Pemimpin diajarkan untuk memiliki sikap rendah hati dan mau melayani. Dari sisi manajemen, Daarut Tauhid telah menerapkan sistem lebih dari hanya sekadar menerapkan sistem manajemen modern, di mana sistem manajemen yang berkembang saat ini tidak menjadikan manusia hanya objek pelaku, agar materi dan kapital semakin produktif Tapi, juga telah melahirkan aspek-aspek spiritual dan emosi dalam pemikiran manusia.
Daarut Tauhid menerapkan inti manajemen dan kepemimpinan sekaligus dalam konsep Manajemen Qolbu (MQ) yang ditawarkannya. Dalam MQ, hati adalah fakultas utama dalam diri manusia yang sangat menentukan kualitas manusia itu sendiri. Jika dimanajemeni dan dipimpin dengan benar, akan melahirkan manusia paripurna dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Daarut Tauhid pada awalnya hanya dikenal sebagai bengkel akhlak, tetapi sekarang lebih menonjol di bidang ekonomi. “Memang kami memiliki strategi tersendiri. Karena itu, visi dan misi Daarut Tauhid harus dikenali dahulu. Secara garis besar kami ingin membentuk SDM yang memiliki keunggulan dalam zikir, fikir dan ikhtiar, suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” demikian penuturan Aa Gym.
Dzikir, fikir dan ikhtiar ini merupakan konsep dasar dari MQ yang diajarkan sehari-hari melalui hal-hal kecil. Untuk menerapkannya, Daarut Tauhid memiliki lima aturan dasar pelatihan kepada para santrinya yang juga merupakan bagian dari roda perekonomian Daarut Tauhid. Pertama, seorang santri dilatih untuk berpikir keras, mengenal diri dan potensinya, sehingga ia mampu mengenal kekurangan dirinya; lalu memperbaikinya dan menempatkan dirinya secara optimal.
Kedua, mereka dilatih untuk mengenal situasi lingkungannya. sehingga bisa mendapatkan manfaat dari lingkungannya secara optimal, sekaligus memberikan manfaat balik kepada lingkungan secara profesional. Ketiga, mereka dilatih untuk membuat suatu perencanaan yang matang, sehingga segala sesuatunya berjalan dalam jalur yang telah disepakati. Keempat, mereka dilatih untuk mengevaluasi setiap hasil karya mereka, bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan dan senantiasa meningkatkan kinerja mereka. Kelima, ciri SDM yang akan dibentuk adalah yang unggul dalam berikhtiar. Kombinasi ibadah yang bagus, strategi hidup yang tepat dan ikhtiar dengan bersungguh-sungguh akan menjadikan hidup sebagai mesin penghasil karya.
Sejauh ini, pola MQ telah menghasilkan SDM yang unggul. Hal ini terbukti dari berkembangnya perekonomian di lingkungan Daarut Tauhid dan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadapnya. Di antaranya dengan kepercayaan untuk mengadakan pelatihan dan pendidikan manajemen bagi para eksekutif di PT Telkom, BNI, IPTN dan PT Kereta Api Indonesia. Mereka meyakini konsep Daarut Tauhid mampu meningkatkan etos kerja dan menurunkan tingkat penyelewengan kerja, seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Dulu Aa Gym berpikir pas-pasan, yaitu pas butuh ada. Tapi, kini ia berpikir sebaliknya. Ia ingin menjadi orang kaya yang melimpah rezekinya, serta halal dan berkah. Mudah-mudahan menjadi contoh bagi orang yang mau kaya dengan tetap taat kepada Allah. Dan juga supaya orang tak memandang sebelah mata, karena menganggap kita butuh terhadap kekayaan mereka. Di samping itu, diharapkan pula sedikitnya bisa memberi contoh, bagaimana memanfaatkan kekayaan di jalan Allah.
Sumber : Majalah Manajemen No.169 September 2002. www..tokohindonesia.com, -buku A’a Gym
“Kalau kita mau sukses, kunci pertama adalah jujur. Dengan kejujuran, orang akan percaya kepada kita. Kedua, profesional. Kita harus cakap, sehingga siapa pun yang memerlukan kita, merasa puas dengan yang kita kerjakan. Ketiga, inovatif. Artinya, kita harus mampu menciptakan sesuatu yang baru; jangan hanya menjiplak atau meniru yang sudah ada.” K.H. Abdullah Gymnastiar
Kemunculan K.H. Abdullah Gymnastiar, menjadi fenomena dakwah di tengah krisis multidimensional yang sedang melanda negeri ini.. Bahkan, ajakan kesederhanaan hidup, kesahajaan, pembenahan hati dari dalam diri sendiri yang dia sampaikan, menjadi kebutuhan santapan rohani; sekaligus obat untuk kondisi masyarakat saat ini.
Sosok kiai muda yang akrab disapa Aa Gym ini memang punya ciri khas dan fenomena tersendiri. Ceramah AA Gym, mampu membuat ribuan jamaahnya mengucurkan air mata. Sukses ulama kondang ini tak terlapas dari konsep barunya tentang syiar Islam. Dia menyiarkan Islam dengan format yang sangat sederhana, lugas dan renyah. Dai muda yang memulai karisnya pada sekitar 1990 iitu, kini menjadi pendakwah yang dikagumi dan digemari hampir semua lapisan masyarakat. Mulai remaja, ibu rumah tangga, hingga para eksekutif perusahaan.
Suksesnya di bidang dakwah, diikuti pula sukses di bidang pendidikan dan bisnis. Dia berhasil mengelola Yayasan Pesantren Daarut Tauhid di Jalan Gegerkalong Girang No.38, Bandung. Pesantren yang dibangun di atas lahan seluas tiga hektar itu tergolong modern dan multifungsi, Ada bangunan masjid 1.000 meter persegi; ada cottage 24 kamar berkapasitas 80 orang (khusus bagi orang tua dan santri dari luar kota yang ikut pelatihan atau pesantren). Ada pula gedung serbaguna, kafetaria serta swalayan mini yang megah dan elite. Ribuan santri belajar di sana.
Bidang usahanya beraneka ragam. Antara lain swalayan; warung telekomunikasi; penerbitan buku; tabloid; stasiun radio; pembuatan kaset dan VCD. Omzetnya pun miliaran rupiah. ”Bisnis ini dikelola dan juga jadi wahana para santri untuk mengaktualisasikan jiwa serta pendidikan wirausahanya. Bukankah Rasulullah menyuruh kita agar berada dalam tangan posisi di atas? Tak harus minta-minta. Ini akan berhasil jika kita mampu membangun jiwa entrepreneurship dalam diri kita sendiri,” kata AA Gym.
Lalu, siapakahj AA Gym dan bagaimana ia mengelola Pondok Pesantren Daarut Tauhid, sehingga menjadi rujukan beberapa lembaga dari sejumlah negara asing? Lelaki penggemar warna putih ini memulai pendidikan formal di SD Damar, lalu pindah ke KPAD Gegerkalong. Kemudian pindah lagi ke SD Sukarasa 3. Prestasinya di sekolah cukup bagus. Terbukti ketika tamat, ia menempati ranking terbaik II dengan selisih nilai satu angka dibandingkan ranking I. Di bidang seni, bakat menggambar dan menyanyinya sudah terlihat sejak kecil. Sementara itu, naluri bisnisnya sudah berkibar sejak Taman Kanak-kanak (TK), lalu terbawa-bawa hingga di Sekolah Dasar. Berbisnis bagi Aa Gym bukan sekadar urusan duniawi. ’Jika bisnis dijalankan dengan cara yang salah, akan melahirkan kerakusan dan ketamakan manusia. Sebaliknya, bisnis yang dijalankan dengan niat dan cara yang benar adalah ibadah yang besar sekali pahalanya, ksrena dapat mengokohkan harga diri bangsa,” katanya.
Lelaki yang kurang suka pada pakaian batik ini memang pernah berdagang berbagai produk. Ia sempat menjual petasan yang pada waktu itu belum dilarang seperti sekarang. Setamat SMA, Aa Gym yang gagal dalam tes Sipenmaru, akhirnya kuliah di D=3 Fakultas Ekonomi Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan (PAAP), Universitas Padjadjaran. Namun, kuliahnya tak bertahan lama, karena ia sibuk berbisnis. Teman-teman kuliahnya bahkan lebih mengenalnya sebagai “tukang dagang”.
Aa Gym pantang menyerah. Selepas PAAP, ia masuk ke Akademi Teknik Jenderal Ahmad Yani (ATA, sekarang Unjani). Selama kuliah, ia mengontrak sebuah kamar di pinggir sawah, untuk melatih diri hidup mandiri. Selain kegiatan kemahasiswaan, seperti menjadi ketua senat, aktivitas bisnisnya pun semakin meningkat. Ia pernah membuat keset dan perca kain; lalu menjual baterai dan film kamera saat acara wisuda. Bahkan, Ia sempat menjadi supir angkot jurusan Cibeber-Cimahi, sekadar menambah uang saku. Namun, perjuangannya tidak sia-sia. AA Gym berhasil menyelesaikan program sarjana muda di ATA, meski belum mengikuti ujian negara. Sesudah itu, ada upaya untuk melanjutkan kuliah sampai S1. Namun, setelah menelusuri hati, ternyata hal itu tak cukup kuat untuk memotivasinnya meneruskan kuliah. Mungkin hikmahnya adalah memotivasi orang yang belum dan tak punya gelar, agar tetap optimis untuk maju dan sukses.
Pria bertubuh ramping dengan sorot mata tajam itu, terkenal murah senyum. Motto hidupnya, ”berprestasi bagi dunia dan akhirat”. Di awal 1987, AA Gym menikah dengan gadis pilihannya, Ninih Muthmainnah di Pesantren Kalangsari, Cijulang,.Sebagai orang yang super sibuk, ia menerapkan manajemen keseimbangan. Menurutnya, segalanya harus diukur secara proporsional. Sebab, setiap ketidakseimbangan adalah kezaliman, sedangkan kezaliman dilarang oleh Islam. ”Sesibuk apa pun, menimang dan bercengkerama dengan anak harus dilakukan,” kata Aa Gym.
Tekadnya untuk memberi nafkah kepada keluarga dengan uang yang jelas kehalalannya, begitu kuat. Untuk itu, penggemar kegiatan membaca ini mulai merintis usaha kecil-kecilan, seperti berjualan buku di Masjid Al-Furqon, IMP Bandung. Sambil belajar tafsir dan ilmu hadits di sana, ia memikul kardus berisi buku-buku agama untuk dijual. Alhamdulillah, usaha kecil inilah yang menjadi cikal bakal toko buku dan kini berkembang menjadi supermarket yang dikelola dan diserahkan kepada Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Daarut Tauhid. Kehidupan yang sulit pada masa lalu, membuatnya ”memeras otak” untuk menambah penghasilan. Sambil mengajar di madrasah KPAD, sore harinya ia membuat barang kerajinan bersama anak-anak Usaha ini terus berkembang hingga bisa membeli mesin gergaji. Dari usaha sederhana inilah kemudian berkembang menjadi usaha percetakan dan penerbitan buku.
Upayanya untuk meningkatkan penghasilan keluarga tak berhenti sampai di situ. Aa Gym ingat, istrinya punya keterampilan menjahit. Lalu, ia pun menabung agar bisa membeli mesin jahit bekas. Alhamdulillah, order jahitan berkembang dan bisa mengajak beberapa muslimah untuk bergabung. Dari kegiatan dan perjuangan inilah cikal bakal lahirnya usaha konveksi.
Bagi Aa Gym, pekerjaan yang paling mengesankan adalah saat menjual mie bakso. Warung bakso kecil-kecilan di Perumnas Sarijadi, itu bekerjasama dengan pamannya selaku pemilik rumah. Setiap pukul empat subuh, ia sudah pergi mencari tulang ke Pasar Sederhana, karena kuah yang enak harus dicampur dengan sumsum tulang. Setiap kali adzan, warung baksonya ditinggalkan, karena ia tak mau ketinggalan shalat berjamaah di sebuah masjid yang letaknya agak jauh dari warung, Sementara itu, pembelinya dipersilakan memasukkan uang bayarannya ke tempatnya. Tampaknya ia ingin mengajak pembelinya untuk menerapkan kejujuran. Tapi, hasilnya, pembeli yang sering datang justru ingin berkonsultasi pada AA Gym. Akibatnya, tak jarang ia baru pulang ke rumah sekitar jam 21,00. Lelah dan letih bercampur menjadi satu, sementara hasilnya pun tidak seberapa. Yang menyedihkan, istrinya kerap mual, karena ternyata kurang suka mencium bau bakso. Akhirnya, warung bakso itu pun ditutup.
Menurut Aa Gym, seorang wirausahawan sejati sangat dipengaruhi oleh masa kecilnya. Kalau masa kecilnya selalu dimanja dan dimudahkan urusannya, atau selalu ditolong, maka bersiap-siaplah menuai anak yang tidak berdaya. Oleh karena itu, bagi yang masih muda jangan bercita-cita melamar pekerjaan, tapi berpikirlah untuk menjadi wirausahawan. Dan bagi orangtua, tanamkan jiwa wirausaha kepada anak-anak sejak dini. Didik anak-anak agar mandiri sejak kecil dan latih mereka untuk selalu bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.
Pengalamannya berdagang sejak kecil, membuat Aa Gym hafal dengan cara “bangkrut efektif”, bagaimana “tertipu optimal”, atau bagaimana usaha bisa remuk. Kunci kesuksesan Aa Gym dalam menjalankan roda bisnis di pesantrennya hingga berkembang menjadi 24 bidang usaha dalam 12 tahun, terletak pada pembangunan kredibilitas para pengelolanya, yang meliputi tiga aspek utama. Yaitu, nilai kejujuran, kecakapan (profesionalisme) dan inovatif. Nilai kejujuran yang diajarkan meliputi ketepatan dalam menepati janji; manajemen waktu; memiliki fakta dan data yang jelas; terbuka; kemampuan mengevaluasi; rasa tanggung jawab dan pantang putus asa. Kecakapan dalam berbisnis ini selain diperlukan pendidikan, yang penting juga adalah pelatihan nyata.
Kebanyakan orang selalu meributkan modal berupa finansial. Padahal, menurut Aa Gym, modal itu adalah: Pertama, keyakinan kepada janji dan jaminan Allah. Kedua, kegigihan meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar. Ketiga, menjadi orang yang terpercaya (kredibel). Kredibel berarti sikap yang selalu jujur dan terpercaya; selalu berusaha melakukan yang terbaik dan memuaskan, serta selalu berusaha mengembangkan ilmu, pengalaman dan wawasan. Sehingga bisa tampil kreatif, inovatif dan solutif. Percayalah, sebelum kita lahir, rezeki sudah lengkap disiapkan oleh Allah Yang Mahakaya, katanya.
Kita hanya disuruh menjemputnya, bukan mencarinya. Yang harus diperoleh justru keberkahan dari jatah kita. Dan semua itu akan datang kalau kita bekerja di jalan yang diridhoi Allah SWT. Ada pun keuntungan bukan hanya berupa uang, harta, kedudukan, atau aksesoris duniawi lainnya. Bagi beliau, keuntungan itu adalah ketika bisnis yang dilakukan ada di jalan Allah, bisnis kita jadi amal shaleh yang disukai Allah, dan menjadi jalan mendekat kepada-Nya. Nama baik kita terjaga, bahkan menjadi personal guarantee. Dengan bisnis kita bertambah ilmu, pengalaman, dan wawasan; Dengan bisnis juga bertambah saudara dan tersambungnya silaturahmi. Dan, dengan bisnis semakin banyak orang yang merasa beruntung.
Usaha yang ditekuninya adalah sarana bagi teman-teman yang memiliki rezeki berlebih dan imengnginkan usaha yang halal serta maslahat, untuk bergabung dalam sistem bagi hasil. Oleh karena itu, setiap keuntungan, selain disisihkan untuk zakatnya, dan dikeluarkan biaya pendidikan bagi kaum dhuafa, agar bisa maju bersama-sama. Dengan dukungan tim yang berakhlak baik, konflik menjadi minimal dan kebocoran pun nyaris nihil.
Lantas, bagaimana dengan pola kepemimpinan Daarut Tauhid? Ternyata, kepemimpinan di sini tidak lagi menempatkan figur sebagai sentral, sebagaimana di kalangan pesantren pada umumnya. Tapi, kepemimpinan Daarut Tauhid telah menerapkan sistem pendelegasian kerja, sebagai pengalihan wewenang formal manajer kepada bawahannya. Pemimpin diajarkan untuk memiliki sikap rendah hati dan mau melayani. Dari sisi manajemen, Daarut Tauhid telah menerapkan sistem lebih dari hanya sekadar menerapkan sistem manajemen modern, di mana sistem manajemen yang berkembang saat ini tidak menjadikan manusia hanya objek pelaku, agar materi dan kapital semakin produktif Tapi, juga telah melahirkan aspek-aspek spiritual dan emosi dalam pemikiran manusia.
Daarut Tauhid menerapkan inti manajemen dan kepemimpinan sekaligus dalam konsep Manajemen Qolbu (MQ) yang ditawarkannya. Dalam MQ, hati adalah fakultas utama dalam diri manusia yang sangat menentukan kualitas manusia itu sendiri. Jika dimanajemeni dan dipimpin dengan benar, akan melahirkan manusia paripurna dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Daarut Tauhid pada awalnya hanya dikenal sebagai bengkel akhlak, tetapi sekarang lebih menonjol di bidang ekonomi. “Memang kami memiliki strategi tersendiri. Karena itu, visi dan misi Daarut Tauhid harus dikenali dahulu. Secara garis besar kami ingin membentuk SDM yang memiliki keunggulan dalam zikir, fikir dan ikhtiar, suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” demikian penuturan Aa Gym.
Dzikir, fikir dan ikhtiar ini merupakan konsep dasar dari MQ yang diajarkan sehari-hari melalui hal-hal kecil. Untuk menerapkannya, Daarut Tauhid memiliki lima aturan dasar pelatihan kepada para santrinya yang juga merupakan bagian dari roda perekonomian Daarut Tauhid. Pertama, seorang santri dilatih untuk berpikir keras, mengenal diri dan potensinya, sehingga ia mampu mengenal kekurangan dirinya; lalu memperbaikinya dan menempatkan dirinya secara optimal.
Kedua, mereka dilatih untuk mengenal situasi lingkungannya. sehingga bisa mendapatkan manfaat dari lingkungannya secara optimal, sekaligus memberikan manfaat balik kepada lingkungan secara profesional. Ketiga, mereka dilatih untuk membuat suatu perencanaan yang matang, sehingga segala sesuatunya berjalan dalam jalur yang telah disepakati. Keempat, mereka dilatih untuk mengevaluasi setiap hasil karya mereka, bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan dan senantiasa meningkatkan kinerja mereka. Kelima, ciri SDM yang akan dibentuk adalah yang unggul dalam berikhtiar. Kombinasi ibadah yang bagus, strategi hidup yang tepat dan ikhtiar dengan bersungguh-sungguh akan menjadikan hidup sebagai mesin penghasil karya.
Sejauh ini, pola MQ telah menghasilkan SDM yang unggul. Hal ini terbukti dari berkembangnya perekonomian di lingkungan Daarut Tauhid dan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadapnya. Di antaranya dengan kepercayaan untuk mengadakan pelatihan dan pendidikan manajemen bagi para eksekutif di PT Telkom, BNI, IPTN dan PT Kereta Api Indonesia. Mereka meyakini konsep Daarut Tauhid mampu meningkatkan etos kerja dan menurunkan tingkat penyelewengan kerja, seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Dulu Aa Gym berpikir pas-pasan, yaitu pas butuh ada. Tapi, kini ia berpikir sebaliknya. Ia ingin menjadi orang kaya yang melimpah rezekinya, serta halal dan berkah. Mudah-mudahan menjadi contoh bagi orang yang mau kaya dengan tetap taat kepada Allah. Dan juga supaya orang tak memandang sebelah mata, karena menganggap kita butuh terhadap kekayaan mereka. Di samping itu, diharapkan pula sedikitnya bisa memberi contoh, bagaimana memanfaatkan kekayaan di jalan Allah.
Sumber : Majalah Manajemen No.169 September 2002. www..tokohindonesia.com, -buku A’a Gym
“Saya belajar di pinggir jalan...”
“Saya belajar di pinggir jalan...”
Siapa yang mengira konglomerat Eka Tjipta Wijaya dulunya orang miskin. Jumlah perusahaannya saja hampir 200 buah dengan 70 ribu karyawan. Tapi, itulah kenyataannya. Untuk ke Indonesia saja, orangtuanya berutang pada rentenir. Eka yang baru berusia sembilan tahun. berangkat ke Makassar bersama ibunya pada 1932, menyusul ayahnya yang sudah lebih dahulu tiba. ”Kami berlayar tujuh hari tujuh malam. Lantaran miskin, kami hanya bisa tidur di tempat paling buruk di kapal, di bawah kelas dek. Mau makan masakan enak, tak mampu. Ada uang lima dollar, tetapi tak bisa dibelanjakan. Karena, untuk ke Indonesia saja kami masih berutang pada rentenir, 150 dollar,” ungkap lelaki yang lahir pada 3 Oktober 1923 ini.
Tiba di Makassar, Eka kecil yang masih bernama Oei Ek Tjhong, segera membantu ayahnya di toko kecil yang dimilikinya. Tujuannya jelas, segera mendapatkan 150 dollar guna dibayarkan kepada rentenir. Dua tahun kemudian, utang itu terbayar, dan toko ayahnya bertambah maju. Eka pun minta disekolahkan, tapi menolak duduk di kelas satu.
Tamat SD, Eka tak bisa melanjutkan sekolahnya. Lagi-lagi karena masalah ekonomi. Ia pun mulai berjualan keliling kota Makassar, menjajakan biskuit dan kembang gula. Hanya dua bulan, ia sudah mengail laba Rp20, jumlah yang besar untuk masa itu. Ketika itu harga beras masih tiga sampai empat sen per kilogram. Melihat usahanya berkembang, Eka membeli becak untuk mengangkut barangnya.
Namun, ketika usahanya tumbuh subur, datang Jepang menyerbu Indonesia, termasuk Makassar. Usahanya hancur total dan ia menganggur. Tak ada barang impor/ekspor yang bisa dijual. Keuntungan Rp2.000 yang dikumpulkannya dengan susah payah selama beberapa tahun, habis dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari. Di tengah harapan yang nyaris putus, Eka mengayuh sepeda bututnya, keliling kota Makassar. Di Paotere (pinggiran Makassar, kini salah satu pangkalan perahu terbesar di luar Jawa), ia melihat ratusan tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda. Bukan tentara Jepang dan Belanda itu yang menarik perhatian Eka, melainkan tumpukan terigu, semen dan gula, yang masih dalam keadaan baik. Otak bisnis Eka segera berputar. Secepatnya ia kembali ke rumah dan membuat persiapan untuk membuka tenda di dekat lokasi itu. Rencananya, ia akan menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lapangan kerja tersebut.
Keesokan harinya, masih pukul empat subuh, Eka sudah berada di Paotere. Ia membawa kopi; gula; kaleng bekas minyak tanah yang diisi air; oven kecil berisi arang untuk membuat air panas; cangkir; sendok dan sebagainya. Semua alat itu ia pinjam dari ibunya, termasuk enam ekor ayam dipinjam dari ayahnya.. Ayam itu kemudian dipotong dan dibikin ayam putih gosok garam. Dia juga meminjam masing-masing satu botol whiskey, brandy dan anggur dari teman-temannya.
Jam tujuh pagi, Eka sudah siap berjualan. Tak lama kemudian, 30 orang Jepang dan tawanan Belanda mulai datang bekerja. Tapi, sampai pukul sembilan, tak ada pengunjung. Eka berusaha mendekati bos pasukan Jepang, lalu mentraktirnya makan dan minum di tenda. Setelah mencicipi seperempat ayam komplit dengan kecap cuka dan bawang putih, serta minum dua teguk whiskey gratis, si Jepang mengatakan, joto. Setelah itu, semua anak buahnya dan tawanan diperbolehkan makan serta minum di tenda Eka. Dan, Eka pun minta izin untuk mengangkat semua barang yang sudah dibuang, ke rumahnya. Ia pun mulai bekerja keras, memilih apa yang dapat dipakai dan dijual. Ia pun belajar bagaimana menjahit karung.
Dalam keadaan perang seperti itu, suplai bahan bangunan dan barang keperluan sehari-hari memang sangat kurang. Karenanya. barang-barang yang ia peroleh dari puing-puing itu menjadi sangat berharga. Terigu misalnya, semula dijual Rp50 per karung, lalu dinaikkan menjadi Rp60, dan akhirnya Rp150. Sedangkan semen dijual Rp 20 per karung, kemudian Rp40.
Naluri bisnis ayah delapan anak ini semakin berkembang. Saat seorang kontraktor hendak membeli semennya untuk membuat kuburan orang kaya. Eka menolaknya. Lalu, Eka beralih menjadi kontraktor pembuat kuburan orang kaya. Setelah semen dan besi betonnya habis, ia pun berhenti sebagai kontraktor kuburan. Begitulah Eka. Setelah itu, ia berdagang kopra. dan berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulsel), serta sentra-sentra kopra lainnya untuk memperoleh kopra murah. Eka mereguk laba besar, Tetapi, tiba-tiba Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai oleh Mitsubishi yang membeli Rp1,80 per kaleng. Padahal, di pasaran harga per kaleng Rp6. Eka rugi besar dan nyaris bangkrut. Terpaksa ia mencari peluang lain. Berdagang gula, lalu teng-teng (makanan khas Makassar dari gula merah dan kacang tanah), wijen, serta kembang gula. Tapi ,ketika mulai berkibar, harga gula jatuh, Eka rugi besar. Modalnya habis dan bahkan ia berutang. Untuk menutup utang dagangnya, ia terpaksa menjual mobil dan perhiasan keluarga, termasuk cincin kawin. Tapi, Eka tetap tegar. Kali ini, ia mencoba bidang leveransir dan aneka kebutuhan lainnya. Namun, usahanya masih jatuh bangun. Ketika sudah berkibar pada 1950-an, muncul Permesta. Barang-barang dagangannya, terutama kopra habis dijarah oknum Permesta. Modalnya habis lagi. Namun, Eka bangkit lagi, dan berdagang lkembali.Jatuh bangun seolah merupakan hal biasa bagi Eka.
Usahanya baru benar-benar melesat dan tak pernah jatuh lagi setelah masa Orde Baru. Era Orde Baru, menurut Eka, “memberi kesejukan era usaha”. Pria bertangan dingin ini mampu membenahi aneka usaha yang semula “tak ada apa-apanya”, menjadi “ada apa-apanya” Bisnis Eka mulai merambah. Dari bisnis kertas, perbankan, perkebunan dan pabrik kelapa sawit, perkebunan teh, sampai bisnis properti.
“Saya sungguh menyadari, saya bisa seperti sekarang karena Tuhan Maha Baik. Saya sangat percaya Tuhan, dan selalu ingin menjadi hamba-Nya yang baik,” katanya mengomentari suksesnya kini. “Kecuali itu, hematlah,” tambahnya. Ia menyarankan, kalau hendak menjadi pengusaha besar, belajarlah mengendalikan uang. Jangan laba hanya Rp100, belanjanya Rp.90. Dan kalau untung cuma Rp.200, jangan coba-coba belanja Rp210.
Setelah 58 tahun berbisnis dan bergelar konglomerat, Eka mengatakan, ia pribadi sebenarnya sangat miskin. “Tiap memikirkan utang berikut bunganya yang demikian besar, saya tak berani menggunakan uang sembarangan. Ingin rehat susah, sebab waktu terkuras untuk bisnis. Terasa benar tak ada waktu menggunakan uang pribadi,” keluhnya. Hendak makan makanan enak, lanjutnya, sulit karena makanan enak rata-rata berkolesterol tinggi.
Inilah ironi, kata Eka. Dulu ia susah makan makanan enak karena miskin. Kini ketika sudah “konglomerat”, ia tetap susah makan enak, karena takut kolestrol. Usianya yang hampir 86 tahun, menuntutnya untuk menjaga kesehatan secara ketat dan prima.
Perusahaan yang dimilikinya sekarang di antaranya pabrik kertas Tjiwi Kimia; perkebunan dan pabrik kelapa sawit di Riau; Perkebunan dan pabrik teh; Bank Internasional Indonesia (BII); Pabrik pulp dan kertas PT Indah Kiat ; ITC Mangga Dua; ruko; apartemen Green View di Roxy, dan Ambassador di Kuningan.
Sumber : Banu Astono/Abun Sanda, Harian umum Kompas, Rabu 1 Februari 1995
Siapa yang mengira konglomerat Eka Tjipta Wijaya dulunya orang miskin. Jumlah perusahaannya saja hampir 200 buah dengan 70 ribu karyawan. Tapi, itulah kenyataannya. Untuk ke Indonesia saja, orangtuanya berutang pada rentenir. Eka yang baru berusia sembilan tahun. berangkat ke Makassar bersama ibunya pada 1932, menyusul ayahnya yang sudah lebih dahulu tiba. ”Kami berlayar tujuh hari tujuh malam. Lantaran miskin, kami hanya bisa tidur di tempat paling buruk di kapal, di bawah kelas dek. Mau makan masakan enak, tak mampu. Ada uang lima dollar, tetapi tak bisa dibelanjakan. Karena, untuk ke Indonesia saja kami masih berutang pada rentenir, 150 dollar,” ungkap lelaki yang lahir pada 3 Oktober 1923 ini.
Tiba di Makassar, Eka kecil yang masih bernama Oei Ek Tjhong, segera membantu ayahnya di toko kecil yang dimilikinya. Tujuannya jelas, segera mendapatkan 150 dollar guna dibayarkan kepada rentenir. Dua tahun kemudian, utang itu terbayar, dan toko ayahnya bertambah maju. Eka pun minta disekolahkan, tapi menolak duduk di kelas satu.
Tamat SD, Eka tak bisa melanjutkan sekolahnya. Lagi-lagi karena masalah ekonomi. Ia pun mulai berjualan keliling kota Makassar, menjajakan biskuit dan kembang gula. Hanya dua bulan, ia sudah mengail laba Rp20, jumlah yang besar untuk masa itu. Ketika itu harga beras masih tiga sampai empat sen per kilogram. Melihat usahanya berkembang, Eka membeli becak untuk mengangkut barangnya.
Namun, ketika usahanya tumbuh subur, datang Jepang menyerbu Indonesia, termasuk Makassar. Usahanya hancur total dan ia menganggur. Tak ada barang impor/ekspor yang bisa dijual. Keuntungan Rp2.000 yang dikumpulkannya dengan susah payah selama beberapa tahun, habis dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari. Di tengah harapan yang nyaris putus, Eka mengayuh sepeda bututnya, keliling kota Makassar. Di Paotere (pinggiran Makassar, kini salah satu pangkalan perahu terbesar di luar Jawa), ia melihat ratusan tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda. Bukan tentara Jepang dan Belanda itu yang menarik perhatian Eka, melainkan tumpukan terigu, semen dan gula, yang masih dalam keadaan baik. Otak bisnis Eka segera berputar. Secepatnya ia kembali ke rumah dan membuat persiapan untuk membuka tenda di dekat lokasi itu. Rencananya, ia akan menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lapangan kerja tersebut.
Keesokan harinya, masih pukul empat subuh, Eka sudah berada di Paotere. Ia membawa kopi; gula; kaleng bekas minyak tanah yang diisi air; oven kecil berisi arang untuk membuat air panas; cangkir; sendok dan sebagainya. Semua alat itu ia pinjam dari ibunya, termasuk enam ekor ayam dipinjam dari ayahnya.. Ayam itu kemudian dipotong dan dibikin ayam putih gosok garam. Dia juga meminjam masing-masing satu botol whiskey, brandy dan anggur dari teman-temannya.
Jam tujuh pagi, Eka sudah siap berjualan. Tak lama kemudian, 30 orang Jepang dan tawanan Belanda mulai datang bekerja. Tapi, sampai pukul sembilan, tak ada pengunjung. Eka berusaha mendekati bos pasukan Jepang, lalu mentraktirnya makan dan minum di tenda. Setelah mencicipi seperempat ayam komplit dengan kecap cuka dan bawang putih, serta minum dua teguk whiskey gratis, si Jepang mengatakan, joto. Setelah itu, semua anak buahnya dan tawanan diperbolehkan makan serta minum di tenda Eka. Dan, Eka pun minta izin untuk mengangkat semua barang yang sudah dibuang, ke rumahnya. Ia pun mulai bekerja keras, memilih apa yang dapat dipakai dan dijual. Ia pun belajar bagaimana menjahit karung.
Dalam keadaan perang seperti itu, suplai bahan bangunan dan barang keperluan sehari-hari memang sangat kurang. Karenanya. barang-barang yang ia peroleh dari puing-puing itu menjadi sangat berharga. Terigu misalnya, semula dijual Rp50 per karung, lalu dinaikkan menjadi Rp60, dan akhirnya Rp150. Sedangkan semen dijual Rp 20 per karung, kemudian Rp40.
Naluri bisnis ayah delapan anak ini semakin berkembang. Saat seorang kontraktor hendak membeli semennya untuk membuat kuburan orang kaya. Eka menolaknya. Lalu, Eka beralih menjadi kontraktor pembuat kuburan orang kaya. Setelah semen dan besi betonnya habis, ia pun berhenti sebagai kontraktor kuburan. Begitulah Eka. Setelah itu, ia berdagang kopra. dan berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulsel), serta sentra-sentra kopra lainnya untuk memperoleh kopra murah. Eka mereguk laba besar, Tetapi, tiba-tiba Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai oleh Mitsubishi yang membeli Rp1,80 per kaleng. Padahal, di pasaran harga per kaleng Rp6. Eka rugi besar dan nyaris bangkrut. Terpaksa ia mencari peluang lain. Berdagang gula, lalu teng-teng (makanan khas Makassar dari gula merah dan kacang tanah), wijen, serta kembang gula. Tapi ,ketika mulai berkibar, harga gula jatuh, Eka rugi besar. Modalnya habis dan bahkan ia berutang. Untuk menutup utang dagangnya, ia terpaksa menjual mobil dan perhiasan keluarga, termasuk cincin kawin. Tapi, Eka tetap tegar. Kali ini, ia mencoba bidang leveransir dan aneka kebutuhan lainnya. Namun, usahanya masih jatuh bangun. Ketika sudah berkibar pada 1950-an, muncul Permesta. Barang-barang dagangannya, terutama kopra habis dijarah oknum Permesta. Modalnya habis lagi. Namun, Eka bangkit lagi, dan berdagang lkembali.Jatuh bangun seolah merupakan hal biasa bagi Eka.
Usahanya baru benar-benar melesat dan tak pernah jatuh lagi setelah masa Orde Baru. Era Orde Baru, menurut Eka, “memberi kesejukan era usaha”. Pria bertangan dingin ini mampu membenahi aneka usaha yang semula “tak ada apa-apanya”, menjadi “ada apa-apanya” Bisnis Eka mulai merambah. Dari bisnis kertas, perbankan, perkebunan dan pabrik kelapa sawit, perkebunan teh, sampai bisnis properti.
“Saya sungguh menyadari, saya bisa seperti sekarang karena Tuhan Maha Baik. Saya sangat percaya Tuhan, dan selalu ingin menjadi hamba-Nya yang baik,” katanya mengomentari suksesnya kini. “Kecuali itu, hematlah,” tambahnya. Ia menyarankan, kalau hendak menjadi pengusaha besar, belajarlah mengendalikan uang. Jangan laba hanya Rp100, belanjanya Rp.90. Dan kalau untung cuma Rp.200, jangan coba-coba belanja Rp210.
Setelah 58 tahun berbisnis dan bergelar konglomerat, Eka mengatakan, ia pribadi sebenarnya sangat miskin. “Tiap memikirkan utang berikut bunganya yang demikian besar, saya tak berani menggunakan uang sembarangan. Ingin rehat susah, sebab waktu terkuras untuk bisnis. Terasa benar tak ada waktu menggunakan uang pribadi,” keluhnya. Hendak makan makanan enak, lanjutnya, sulit karena makanan enak rata-rata berkolesterol tinggi.
Inilah ironi, kata Eka. Dulu ia susah makan makanan enak karena miskin. Kini ketika sudah “konglomerat”, ia tetap susah makan enak, karena takut kolestrol. Usianya yang hampir 86 tahun, menuntutnya untuk menjaga kesehatan secara ketat dan prima.
Perusahaan yang dimilikinya sekarang di antaranya pabrik kertas Tjiwi Kimia; perkebunan dan pabrik kelapa sawit di Riau; Perkebunan dan pabrik teh; Bank Internasional Indonesia (BII); Pabrik pulp dan kertas PT Indah Kiat ; ITC Mangga Dua; ruko; apartemen Green View di Roxy, dan Ambassador di Kuningan.
Sumber : Banu Astono/Abun Sanda, Harian umum Kompas, Rabu 1 Februari 1995
What is success if you .... ?
Success breeds failure.
Because success makes people complacent.
Don't make that mistake.
No matter how much success you have (and you'll have a lot of it), never forget to keep growing and changing.
God bless you. Have nice weekend :)
Because success makes people complacent.
Don't make that mistake.
No matter how much success you have (and you'll have a lot of it), never forget to keep growing and changing.
God bless you. Have nice weekend :)
"As a God Love, the family Love is Eternity"
"As a God Love, the family Love is Eternity"
Check up, dan beware berikut daftar potensi dan kesalahan-kesalahan yg merusak pernikahan :
a. Suami :
1. Suami tidak berfungsi menjadi pemimpin dan pengayom dgn baik akibatnya saling melukai.
2. Suami gagal menjadikan istri nomor 1 (satu) dalam hidupnya.
3. Suami membandingkan istri dengan wanita lain.
4. Suami kurang disiplin mengontrol emosi dan kebiasaan buruk.
5. Suami gagal memuji hal-hal kecil dari Istri.
6. Suami menolak pendapat Istri.
7. Suami tidak pernah secara jujur, dan tulus meminta maaf kepada istri
b. Istri :
1. Istri tidak menghargai Suami sebagai otoritas, kepala keluarga, imam dalam keluarga
2. Istri gagal menundukan diri kapada Suami.
3. Istri gagal menampilkan kecakapan manusia batiniah.
4. Istri gagal menunjukan rasa syukur kepada Suami.
Kebutuhan seorang Suami :
1. Sex.
2. Istri sebagai sahabat.
3. Rumah yang rapi.
4. Istri yang menarik
5. Saling menghargai.
Kebutuhan seorang Istri :
1. Kasih dan penghargaan.
2. Diajak bicara.
3. Jujur dan terbuka.
4. Keuangan yang cukup.
5. Komitmen thdp keluarga.
6. Sex
Ingat..!!
Kepala keluarga yg berhasil dlm keluarga maka keberhasilan yg lain akan mengikuti,
Kepala keluarga yg gagal dlm keluarga maka kegagalan lain akan mengikuti.
If u care about family, broadcast this. It will save a marriage :)
www.feyx2spirit.blogspot.com
Check up, dan beware berikut daftar potensi dan kesalahan-kesalahan yg merusak pernikahan :
a. Suami :
1. Suami tidak berfungsi menjadi pemimpin dan pengayom dgn baik akibatnya saling melukai.
2. Suami gagal menjadikan istri nomor 1 (satu) dalam hidupnya.
3. Suami membandingkan istri dengan wanita lain.
4. Suami kurang disiplin mengontrol emosi dan kebiasaan buruk.
5. Suami gagal memuji hal-hal kecil dari Istri.
6. Suami menolak pendapat Istri.
7. Suami tidak pernah secara jujur, dan tulus meminta maaf kepada istri
b. Istri :
1. Istri tidak menghargai Suami sebagai otoritas, kepala keluarga, imam dalam keluarga
2. Istri gagal menundukan diri kapada Suami.
3. Istri gagal menampilkan kecakapan manusia batiniah.
4. Istri gagal menunjukan rasa syukur kepada Suami.
Kebutuhan seorang Suami :
1. Sex.
2. Istri sebagai sahabat.
3. Rumah yang rapi.
4. Istri yang menarik
5. Saling menghargai.
Kebutuhan seorang Istri :
1. Kasih dan penghargaan.
2. Diajak bicara.
3. Jujur dan terbuka.
4. Keuangan yang cukup.
5. Komitmen thdp keluarga.
6. Sex
Ingat..!!
Kepala keluarga yg berhasil dlm keluarga maka keberhasilan yg lain akan mengikuti,
Kepala keluarga yg gagal dlm keluarga maka kegagalan lain akan mengikuti.
If u care about family, broadcast this. It will save a marriage :)
www.feyx2spirit.blogspot.com
Langkah Mengantisipasi Resiko (Mitigasi Resiko)
Dasar-dasar Keuangan
Langkah-langkah Mengantisipasi Risiko
(Dikutip dari Tabloid NOVA No. 639/XIII, Safir Senduk)
Risiko adalah segala hal yang bisa terjadi pada diri manusia yang tidak diinginkan untuk terjadi. Setiap manusia memiliki risiko atas apa pun yang dia lakukan. Selain itu, hidup manusia sendiri juga mengandung banyak risiko.
Ada beberapa risiko yang bisa dihindari, dan ada beberapa risiko yang tidak bisa dihindari. Contoh dari risiko yang bisa dihindari adalah risiko kecelakaan atau risiko kecurian. Sedangkan contoh dari risiko yang tidak bisa dihindari adalah risiko kematian.
Efek dari risiko sering kali menimbulkan kerugian yang cukup besar. Entah kerugian dari sisi psikologis, maupun kerugian dari sisi keuangan. Kalau rumah Anda mengalami musibah kebakaran, maka Anda akan mengalami kerugian keuangan yang besarnya setara dengan nilai rumah Anda pada saat kebakaran itu terjadi. Karena itu, penting sekali bagi Anda untuk mengantisipasi setiap risiko yang mungkin terjadi pada diri Anda.
TAK MESTI ASURANSI
Mendengar kata antisipasi risiko, pikiran Anda mungkin langsung terbawa ke istilah "asuransi". Dalam ilmu perencanaan keuangan, maksud dari asuransi adalah untuk melindungi (memproteksi) Anda dari kerugian keuangan yang mungkin timbul dari terjadinya suatu risiko. Sebagai contoh, Anda mungkin tidak bisa menghindar dari risiko kecelakaan pada diri Anda, tetapi Anda bisa memproteksi diri Anda dari kerugian keuangan yang mungkin timbul dari terjadinya kecelakaan tersebut.
Apakah semua risiko yang bisa terjadi pada Anda perlu diasuransikan? Jawabnya tidak. Sebagai contoh, sepatu yang sering Anda pakai punya kemungkinan untuk hilang dicuri. Tapi apa iya Anda akan mengasuransikan sepatu Anda? Besar kemungkinan tidak. Kenapa? Ini karena apabila sepatu Anda hilang, jumlah kerugian Anda mungkin tidak seberapa.
Lain halnya bila rumah Anda mengalami kebakaran, maka kerugian keuangan yang mungkin timbul bisa besar sekali. Itu sebabnya, Anda perlu mengambil asuransi kebakaran untuk rumah Anda.
Pilihan untuk mengantisipasi risiko-risiko tersebut, disebut dengan Manajemen Risiko. Untuk mudahnya, saya sebut saja ini sebagai antisipasi risiko. Dalam tulisan kali ini, saya akan menunjukkan bagaimana Anda bisa mengantisipasi risiko-risiko yang bisa terjadi pada diri Anda.
BERBAGAI PILIHAN
Kerugian keuangan bisa terjadi bila Anda mengalami kematian, kecelakaan, sakit, atau bila barang milik Anda hilang atau rusak. Kadang-kadang, kerugian keuangan juga bisa terjadi bila Anda mengalami tuntutan hukum dari pihak ketiga, semisal saat Anda menabrak orang lain hingga terluka dan Anda diharuskan untuk mengganti semua biaya pengobatannya.
Sekarang, pilihan-pilihan apa saja yang tersedia bagi Anda untuk mengantisipasi risiko? Kita anggap saja Anda diharuskan oleh bos Anda (atau siapa saja) untuk membawa sebuah paket dengan memakai kendaraan, dari kota A ke kota B. Namun demikian, keadaan jalanan yang ramai membuat Anda terancam mengalami risiko kecelakaan. Karena itu, ada sejumlah pilihan bagi Anda untuk mengantisipasi risiko tersebut:
1.Menghindari Rrisiko. Anda bisa menghindar dari risiko kecelakaan tersebut. Caranya, jangan menyetir. Tetapi konsekuensinya, paket Anda tidak akan terkirim.
2.Menghadapi Risiko. Anda bisa menyetir dan membawa paket tersebut seperti biasa tanpa perlu berhati-hati, dan Anda menerima konsekuensinya apabila risiko kecelakaan tersebut benar terjadi.
3.Mengurangi Risiko. Anda menyetir dan membawa paket tersebut, tetapi berhati-hati dalam menyetir. Dengan demikian, risiko kecelakaan dapat dikurangi.
4.Membagi Risiko. Paket yang harus Anda bawa dibagi dua dengan teman Anda. Dia membawa sebagian paket tersebut dalam kendaraan yang berbeda, begitu juga Anda.
5.Transfer Risiko. Anda minta kepada teman Anda yang membawakan seluruh paket tersebut.
Nah, sekarang kita coba praktekkan teori antisipasi risiko tersebut. Kita misalkan saja Anda ingin membeli rumah, tapi seperti rumah yang lain pada umumnya, rumah yang akan Anda beli memiliki risiko kebakaran. Untuk mengantisipasinya, maka pilihan-pilihan yang tersedia bagi Anda adalah:
1.Mengontrak rumah saja, tidak usah membeli (menghindari risiko).
2.Membeli rumah, dan menghadapi saja risiko tersebut, di mana Anda berharap agar risiko kebakaran tersebut tidak usah terjadi (menghadapi risiko).
3.Menyediakan tabung pemadam kebakaran di rumah Anda (mengurangi risiko).
4.Menyerahkan sebagian kerugian pada pihak lain apabila rumah Anda mengalami kebakaran (bagi risiko).
5.Menyerahkan seluruh kerugian pada pihak lain apabila rumah Anda mengalami kebakaran (transfer risiko).
Pilihan keempat dan kelima diatas itulah yang kita kenal dengan asuransi. Artinya, asuransi bisa menjadi pihak yang Anda serahi kerugian apabila Anda mengalami suatu risiko.
MENGAMBIL KEPUTUSAN
Setelah Anda mengetahui pilihan-pilihan apa saja yang tersedia bagi Anda untuk mengantisipasi risiko, maka langkah Anda selanjutnya adalah dengan menulis risiko-risiko apa saja yang mungkin terjadi pada Anda, serta pilihan apa yang akan Anda gunakan untuk mengantisipasinya. Di bawah ini adalah langkah-langkahnya:
1.Kenali risiko Anda
2.Evaluasi akibatnya apabila risiko itu terjadi.
3.Ambil keputusan tentang pilihan apa yang akan Anda gunakan untuk mengantisipasi risiko tersebut
Sebagai contoh, risiko yang mungkin terjadi pada diri Anda adalah kematian, kecelakaan, sakit, musibah atas kendaraan, musibah atas mobil, PHK, dan tidak bisa bekerja. Karena itu, langkah-langkahnya adalah:
1.Kenali risiko Anda: Kematian.
2.Evaluasi akibatnya: Biaya hidup keluarga yang Anda tinggalkan tidak akan terbayar.
3.Ambil keputusan:
•Menghindari Risiko: Dalam hal ini tidak mungkin menghindari risiko kematian.
•Menghadapi Risiko: Bisa saja, dengan konsekuensi bahwa biaya hidup keluarga tidak akan terbayar
•Mengurangi Risiko: Risiko kematian tidak bisa dikurangi
•Bagi risiko: Menyerahkan sebagian pembiayaan hidup keluarga Anda pada pihak lain apabila Anda meninggal dunia
•Transfer risiko: Menyerahkan seluruh pembiayaan hidup keluarga Anda pada pihak lain apabila Anda meninggal dunia.
Terserah pada Anda, putusan mana yang hendak diambil.
Setelah Anda mengambil keputusan untuk satu risiko, maka ulangi langkah tersebut untuk risiko yang berikutnya (semisal kecelakaan). Begitu seterusnya. Maka sekarang Anda sudah memiliki program antisipasi risiko untuk keluarga Anda.
Langkah-langkah Mengantisipasi Risiko
(Dikutip dari Tabloid NOVA No. 639/XIII, Safir Senduk)
Risiko adalah segala hal yang bisa terjadi pada diri manusia yang tidak diinginkan untuk terjadi. Setiap manusia memiliki risiko atas apa pun yang dia lakukan. Selain itu, hidup manusia sendiri juga mengandung banyak risiko.
Ada beberapa risiko yang bisa dihindari, dan ada beberapa risiko yang tidak bisa dihindari. Contoh dari risiko yang bisa dihindari adalah risiko kecelakaan atau risiko kecurian. Sedangkan contoh dari risiko yang tidak bisa dihindari adalah risiko kematian.
Efek dari risiko sering kali menimbulkan kerugian yang cukup besar. Entah kerugian dari sisi psikologis, maupun kerugian dari sisi keuangan. Kalau rumah Anda mengalami musibah kebakaran, maka Anda akan mengalami kerugian keuangan yang besarnya setara dengan nilai rumah Anda pada saat kebakaran itu terjadi. Karena itu, penting sekali bagi Anda untuk mengantisipasi setiap risiko yang mungkin terjadi pada diri Anda.
TAK MESTI ASURANSI
Mendengar kata antisipasi risiko, pikiran Anda mungkin langsung terbawa ke istilah "asuransi". Dalam ilmu perencanaan keuangan, maksud dari asuransi adalah untuk melindungi (memproteksi) Anda dari kerugian keuangan yang mungkin timbul dari terjadinya suatu risiko. Sebagai contoh, Anda mungkin tidak bisa menghindar dari risiko kecelakaan pada diri Anda, tetapi Anda bisa memproteksi diri Anda dari kerugian keuangan yang mungkin timbul dari terjadinya kecelakaan tersebut.
Apakah semua risiko yang bisa terjadi pada Anda perlu diasuransikan? Jawabnya tidak. Sebagai contoh, sepatu yang sering Anda pakai punya kemungkinan untuk hilang dicuri. Tapi apa iya Anda akan mengasuransikan sepatu Anda? Besar kemungkinan tidak. Kenapa? Ini karena apabila sepatu Anda hilang, jumlah kerugian Anda mungkin tidak seberapa.
Lain halnya bila rumah Anda mengalami kebakaran, maka kerugian keuangan yang mungkin timbul bisa besar sekali. Itu sebabnya, Anda perlu mengambil asuransi kebakaran untuk rumah Anda.
Pilihan untuk mengantisipasi risiko-risiko tersebut, disebut dengan Manajemen Risiko. Untuk mudahnya, saya sebut saja ini sebagai antisipasi risiko. Dalam tulisan kali ini, saya akan menunjukkan bagaimana Anda bisa mengantisipasi risiko-risiko yang bisa terjadi pada diri Anda.
BERBAGAI PILIHAN
Kerugian keuangan bisa terjadi bila Anda mengalami kematian, kecelakaan, sakit, atau bila barang milik Anda hilang atau rusak. Kadang-kadang, kerugian keuangan juga bisa terjadi bila Anda mengalami tuntutan hukum dari pihak ketiga, semisal saat Anda menabrak orang lain hingga terluka dan Anda diharuskan untuk mengganti semua biaya pengobatannya.
Sekarang, pilihan-pilihan apa saja yang tersedia bagi Anda untuk mengantisipasi risiko? Kita anggap saja Anda diharuskan oleh bos Anda (atau siapa saja) untuk membawa sebuah paket dengan memakai kendaraan, dari kota A ke kota B. Namun demikian, keadaan jalanan yang ramai membuat Anda terancam mengalami risiko kecelakaan. Karena itu, ada sejumlah pilihan bagi Anda untuk mengantisipasi risiko tersebut:
1.Menghindari Rrisiko. Anda bisa menghindar dari risiko kecelakaan tersebut. Caranya, jangan menyetir. Tetapi konsekuensinya, paket Anda tidak akan terkirim.
2.Menghadapi Risiko. Anda bisa menyetir dan membawa paket tersebut seperti biasa tanpa perlu berhati-hati, dan Anda menerima konsekuensinya apabila risiko kecelakaan tersebut benar terjadi.
3.Mengurangi Risiko. Anda menyetir dan membawa paket tersebut, tetapi berhati-hati dalam menyetir. Dengan demikian, risiko kecelakaan dapat dikurangi.
4.Membagi Risiko. Paket yang harus Anda bawa dibagi dua dengan teman Anda. Dia membawa sebagian paket tersebut dalam kendaraan yang berbeda, begitu juga Anda.
5.Transfer Risiko. Anda minta kepada teman Anda yang membawakan seluruh paket tersebut.
Nah, sekarang kita coba praktekkan teori antisipasi risiko tersebut. Kita misalkan saja Anda ingin membeli rumah, tapi seperti rumah yang lain pada umumnya, rumah yang akan Anda beli memiliki risiko kebakaran. Untuk mengantisipasinya, maka pilihan-pilihan yang tersedia bagi Anda adalah:
1.Mengontrak rumah saja, tidak usah membeli (menghindari risiko).
2.Membeli rumah, dan menghadapi saja risiko tersebut, di mana Anda berharap agar risiko kebakaran tersebut tidak usah terjadi (menghadapi risiko).
3.Menyediakan tabung pemadam kebakaran di rumah Anda (mengurangi risiko).
4.Menyerahkan sebagian kerugian pada pihak lain apabila rumah Anda mengalami kebakaran (bagi risiko).
5.Menyerahkan seluruh kerugian pada pihak lain apabila rumah Anda mengalami kebakaran (transfer risiko).
Pilihan keempat dan kelima diatas itulah yang kita kenal dengan asuransi. Artinya, asuransi bisa menjadi pihak yang Anda serahi kerugian apabila Anda mengalami suatu risiko.
MENGAMBIL KEPUTUSAN
Setelah Anda mengetahui pilihan-pilihan apa saja yang tersedia bagi Anda untuk mengantisipasi risiko, maka langkah Anda selanjutnya adalah dengan menulis risiko-risiko apa saja yang mungkin terjadi pada Anda, serta pilihan apa yang akan Anda gunakan untuk mengantisipasinya. Di bawah ini adalah langkah-langkahnya:
1.Kenali risiko Anda
2.Evaluasi akibatnya apabila risiko itu terjadi.
3.Ambil keputusan tentang pilihan apa yang akan Anda gunakan untuk mengantisipasi risiko tersebut
Sebagai contoh, risiko yang mungkin terjadi pada diri Anda adalah kematian, kecelakaan, sakit, musibah atas kendaraan, musibah atas mobil, PHK, dan tidak bisa bekerja. Karena itu, langkah-langkahnya adalah:
1.Kenali risiko Anda: Kematian.
2.Evaluasi akibatnya: Biaya hidup keluarga yang Anda tinggalkan tidak akan terbayar.
3.Ambil keputusan:
•Menghindari Risiko: Dalam hal ini tidak mungkin menghindari risiko kematian.
•Menghadapi Risiko: Bisa saja, dengan konsekuensi bahwa biaya hidup keluarga tidak akan terbayar
•Mengurangi Risiko: Risiko kematian tidak bisa dikurangi
•Bagi risiko: Menyerahkan sebagian pembiayaan hidup keluarga Anda pada pihak lain apabila Anda meninggal dunia
•Transfer risiko: Menyerahkan seluruh pembiayaan hidup keluarga Anda pada pihak lain apabila Anda meninggal dunia.
Terserah pada Anda, putusan mana yang hendak diambil.
Setelah Anda mengambil keputusan untuk satu risiko, maka ulangi langkah tersebut untuk risiko yang berikutnya (semisal kecelakaan). Begitu seterusnya. Maka sekarang Anda sudah memiliki program antisipasi risiko untuk keluarga Anda.
Subscribe to:
Posts (Atom)