Wednesday, December 10, 2008

Trik and Tips Negosiasi

Tips Percakapan Bisnis

Roberta Roesch, penulis buku Smart Talk: The Art of Savvy Business Conversation, mewanti-wanti setiap pebisnis untuk menjaga alur percakapan bisnis agar tetap sederhana namun lugas. Namanya juga orang bisnis, pasti punya jadwal harian yang superpadat, kan? Karenanya, istilah KISS (keep it simple, stupid!) perlu Anda terapkan di setiap kesempatan.

Utarakanlah hal-hal yang ingin Anda sampaikan kepada rekan Anda secara langsung dan tidak berbelit-belit. Sisakan detail untuk pembicaraan di lain waktu dan pastikan bahwa ia telah menangkap "gambaran besar" omongan Anda sebelum mengakhiri pertemuan. Jadikan pertemuan bisnis Anda berbobot dan bukan sekadar membuang waktu percuma. Beberapa hal ini perlu Anda perhatikan saat membangun percakapan bisnis.

Santai tapi Serius
Meski dalam keseharian Anda terbiasa menyikapi berbagai hal dengan sikap santai, namun pola pikir tersebut harus diubah ketika pembicaraan berbelok pada soal bisnis. Dengan siapa pun Anda berbisnis, ingatlah bahwa dasar dari kerjasama tersebut adalah rasa saling percaya, dan keseriusan Anda serta rekan usaha dalam menjaga komitmen. Meski sebuah lelucon bisa berperan sebagai ice breaker, pilah baik-baik agar joke dan komentar Anda tidak bernada SARA.

Sapaan Formal
Ketika berbicara soal bisnis kepada orang yang baru saja Anda temui, usahakan menyapa mereka dengan sebutan formal, seperti Bapak, Ibu, atau Saudara. Hal ini penting untuk merebut respek dan perhatian dari orang yang bersangkutan. Sebelum ia meminta Anda memanggilnya dengan nama lain, tetaplah menyapa dengan sebutan demikian. Yang penting, jangan sampai Anda melupakan namanya apabila ia telah memberikannya kepada Anda.

Pendengar yang Baik
Meski ada banyak hal yang ingin meloncat keluar dari dalam benak Anda, jangan sampai terjebak ke dalam percakapan satu arah. Beri kesempatan pada lawan bicara Anda untuk menceritakan tentang dirinya pula. Menjadi seorang pendengar yang baik berarti Anda harus berlatih untuk menunjukkan ketertarikan yang tulus pada diri lawan bicara, dan hal-hal yang disampaikannya. Tatap matanya kala berbicara dan lontarkan komentar pada saat yang tepat.

Kendalikan Kebiasaan Buruk
Kebiasaan buruk yang merusak pemandangan, seperti berbicara dengan mulut penuh, menggaruk hidung di kala gugup, dan tidak memandang lawan bicara ketika bercakap-cakap, terkadang kita lakukan tanpa sadar. Dalam percakapan bisnis, segala hal tersebut harus dihapus karena bisa mendatangkan kesan negatif. Jangan salah, suatu kesepakatan bisnis bisa batal hanya gara-gara seseorang merasa tidak sreg dengan attitude rekannya.

Topik yang Aman
Bila Anda belum lama mengenal rekan bisnis, pilihlah topik pembicaraan netral. Jangan sampai Anda terlibat dalam perdebatan yang bisa merenggangkan hubungan. Jika mungkin, carilah topik perbincangan yang sama-sama disenangi dan dikuasai. Hindari pembicaraan tentang agama dan politik, kecuali Anda ditanya terlebih dulu secara spesifik. Jika terpaksa membahas kedua topik tersebut, pastikan emosi Anda tidak terpancing dan pembicaraan selalu berada di jalur aman.

Jangan Sombong
Godaan yang dihadapi setiap pebisnis ketika bertemu dengan seorang prospek adalah keinginan untuk mengungkap segala kelebihan yang dimilikinya. Menjual diri sih boleh-boleh saja, asalkan Anda tidak melakukannya secara berlebihan sehingga membuat lawan bicara merasa muak. Tinggalkan informasi yang semestinya cukup Anda tuangkan di dalam CV. Kalaupun ingin mengangkat diri sendiri, lakukanlah dengan intonasi ringan dan nada bergurau.

Kurangi Formalitas
Dalam pertemuan kedua atau ketika hubungan dengan rekan bisnis sudah agak cair, mulailah mengurangi derajat formalitas dalam percakapan. Namun, jangan tergesa-gesa sehingga Anda terkesan SKSD (sok kenal sok dekat). Tunggu isyarat darinya dan mulailah secara bertahap. Tak perlu tergesa-gesa menjajaki sense of humor rekan bisnis Anda. Hubungan bisa menjadi tidak enak jika ia tidak nyambung atau malah tersinggung mendengar gurauan Anda.

Mengakhiri Percakapan
Akhiri perbincangan dengan tersenyum, menyebut nama rekan bisnis—didului sebutan Bapak atau Ibu, dan jabat tangan yang mantap. Jika Anda belum saling bertukar kartu nama, ini adalah saat tepat untuk melakukannya. Bila kehabisan kartu nama, tulislah nomor telepon dan e-mail Anda di atas sehelai kertas. Atau, bisa pula Anda menyusulkan mengirim data diri lewat e-mail. Yang penting, jangan biarkan pertemuan berakhir tanpa kemungkinan untuk menjalin kontak kembali.*


Nayu Novita


Dapatkan artikel ini di URL:

Emang enak Usia Muda jadi Bos ... Read This!

Menjadi pemimpin atau atasan di usia muda memang menjadi suatu kebanggaan dan prestasi tersendiri. Namun, tak sedikit orang yang akan meragukan kemampuan Anda sebagai pemimpin muda. Selain harus berhadapan dengan tanggung jawab pekerjaan yang lebih besar, tentu juga harus berhadapan dengan berbagai karakter anggota tim yang berbeda. Tak jarang, ini sering menimbulkan dilema tersendiri bagi para pemimpin muda.

- Idealis vs usia
Biasanya salah satu alasan seseorang terpilih sebagai leader di usia muda adalah sikap idealisnya. Orang yang bersikap idealis cenderung melakukan segala hal sesuai dengan aturan dan berusaha menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Sayangnya, sikap idealis ini terkadang justru sulit diterapkan saat menjadi seorang pimpinan. Pasalnya, anggota tim yang dipimpin tak selalu berusia lebih muda ataupun memiliki masa kerja yang lebih sebentar. Situasi inilah yang sering menimbulkan rasa sungkan dan tak enak hati.

Padahal, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tak pandang bulu dan bisa menerapkan peraturan kepada semua karyawannya. Misalnya saja, karena seorang karyawan yang lebih senior membuat kesalahan, lantas selalu dibiarkan dan didiamkan. Cepat atau lambat, situasi ini akan membuat karyawan lain membentuk penilaian sendiri tentang gaya kepemimpinan Anda. Meskipun begitu, tak berarti juga tanpa kompromi, karena ingin segalanya berjalan sempurna, Anda tak segan memberi hukuman bahkan melakukan pemecatan saat ada pelanggaran. Yang terpenting, terapkan semua peraturan dan hukuman sesuai dnegan porsinya.

- Ciptakan peraturan baru
Seorang pemimpin muda biasanya cenderung memiliki gairah dan semangat yang meluap-luap. Salah satunya dengan menciptakan peraturan-peraturan baru. Namun, mengikuti peraturan baru tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Bagaimanapun, karyawan perlu waktu beradaptasi dengan peraturan yang berbeda. Tak semua orang bisa menerima perubahan ini dengan senang hati karena telah terbiasa dengan budaya atau tradisi lama. Bahkan, besar kemungkinan Anda akan dianggap sok tahu dan tak menghormati tradisi lama. Karena itu, ada baiknya saat membuat peraturan baru Anda berdiskusi dengan karyawan lain, mana yang akan dipertahankan dan mana yang akan diperbarui.

- Mempertahankan keputusan
Saat membuat suatu keputusan, mungkin akan ada beberapa orang yang tak setuju dengan keputusan Anda. Bahkan beberapa berkeras agar Anda mengubah keputusan tersebut. Sebelum melangkah lebih jauh, cobalah melihat permasalahan lebih teliti. Cek kembali apakah keputusan yang Anda buat sudah sesuai standar dan bisa dipertanggungjawabkan. Intinya Anda tak perlu terlalu menuruti setiap tuntutan karyawan. Mengubah keputusan yang telah dibuat akan membuat Anda dinilai plin-plan dan tidak konsisten.

- Memberi masukan dan kritikan
Salah satu upaya seorang pemimpin untuk melakukan perbaikan kinerja karyawannya adalah dengan memberi masukan ataupun kritikan yang bersifat membangun. Namun, pada kenyataannya memberi kritikan pada setiap orang juga bukanlah hal mudah. Ada karyawan yang bisa menerima dan menganggapnya sebagai proses perbaikan, tetapi tak sedikit karyawan yang kecewa dan tak bisa menerima kritikan. Meski begitu, sebagai pemimpinan Anda harus tetap bersikap tegas. Cobalah untuk menyampaikan setiap masukan dan kritikan secara personal dan komunikatif. Hindari menunjukkan kesalahan seseorang di depan umum, ini akan membuatnya malu dan merasa tak dihargai.

- Meluruskan isu
Ada kalanya, perusahaan diterpa isu yang belum tentu kebenarannya. Banyak pemimpin yang tak mau repot menangani isu-isu yang beredar karena enggan dianggap menanggapi permasalahan sepele. Padahal, di titik tertentu, kondisi ini dapat memengaruhi semangat kerja karyawan. Sebut saja isu kerugian perusahaan. Bila tak diluruskan, bisa jadi isu ini akan semakin berkembang dan membuat resah karyawan. Karena itu, tak ada salahnya bila Anda mulai pasang telinga untuk mengetahui sejauh mana isu berkembang. Nah, saat isu tersebut semakin tak bisa dipertanggungjawabkan, ada baiknya Anda sebagai pemimpin turun tangan menjelaskan keadaan perusahaan yang sebenarnya.

- Jaga profesionalisme
Terkadang intensitas kedekatan Anda sebagai pemimpin dengan karyawan justru kerap menimbulkan masalah. Pasalnya, semakin dekat Anda dengan seseorang, akan semakin sering Anda merasa tak enak hati untuk menegur kesalahannya. Ini membuat sebagian pemimpin memilih bersikap kaku dan tak bersahabat dengan karyawannya. Padahal, sikap kaku atasan akan membuat karyawan bersikap tertutup. Pada dasarnya, tak masalah bila Anda bersikap bersahabat karena dengan hubungan yang nyaman bisa meningkatkan kinerja karyawan. Yang penting, Anda bisa menentukan batasan-batasan.*

Bestari Kumala Dewi

Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/03/13300940/dilema.bos.muda.usia

Eitss.. Be Careful !!

Forbiden Area


Siapa bilang pria adalah makhluk berhati baja yang tak bisa terusik perasaannya? Sekali saja Anda, menyinggungnya dalam 7 perkara ini, ia akan langsung pergi dari sisi Anda.

Pekerjaan
Michael Gurian, penulis buku The Male Brain menyatakan, lelaki kerap menempatkan profesinya sebagai suatu hal yang 'sakral' dan tak tersentuh oleh siapa pun. Pekerjaan adalah cara pria mengekspresikan diri dan salah satu caranya untuk mengungkapkan perhatian kepada keluarga. "Jika ada seseorang, siapa pun itu, yang meragukan, apalagi menghina profesi yang digelutinya, biasanya pria akan bersikap defensif atau bahkan mungkin meradang," kata Gurian.

Barang-Barang Pribadi
Bagi banyak pria, barang-barang pribadi seperti ponsel, dompet, agenda dan tas kerjanya adalah wilayah pribadi yang tidak boleh dilanggar. Meski barang-barang itu tergeletak begitu saja, Anda tidak diperkenankan mengintip isinya sebelum mendapat izin darinya. Makanya, enggak heran mereka sangat menjaga barang-barang pribadinya ini. Apalagi jika isinya berisi jejak-jejak perselingkuhan.

Keluarga
Steve Biddulph, penulis buku Raising Boys, menyatakan bahwa keluarga adalah bentuk keterikatan pria yang pertama terhadap kehidupan. Karena itu, pada umumnya, seorang pria-yang sejak kecil mengemban 'tugas' sebagai 'pelindung' bagi siapa pun, menempatkan diri sebagai pembela keluarga. Jadi kalau tidak mau dia meradang, jangan pernah mengusik-usik wilayah ini, terutama menilai kedekatannya dengan ibunya. Menurut Biddulph, pria memang memiliki kedekatan emosi yang lebih tinggi terhadap ibunya, ketimbang ayah.

Koleksi
Laki-laki adalah kanak-kanak abadi, mungkin anggapan ini ada benarnya. Ketika kita sudah meninggalkan boneka Barbie, si dia masih saja anteng dengan koleksi mobil-mobilannya. Bahkan tak sedikit laki-laki yang masih menyimpan koleksi-koleksinya hingga mereka berumah tangga. la akan menganggap Anda telah melanggar privasinya jika Anda coba-coba mengutak koleksinya.

Teman-teman
Salah satu resep hubungan asmara awet, menurut Allan dan Barbara Pease, penulis buku Why Men Don't Have A Clue & Women Always Need More Shoes, adalah jangan terlalu rewel meributkan teman hangout pasangan Anda. Di antara sesama pria terbentuk suatu hubungan mirip persaudaraan yang biasanya sulit dipahami oleh kaum hawa. Karenanya, ketimbang bersikap nyinyir dan mengatur dengan siapa saja kekasih boleh bergaul, lebih baik Anda berusaha memenangkan cinta pasangan dengan cara mengambil hati para sahabatnya.

Idealisme
Entah itu bentuknya idealisme dalam memegang prinsip hidup, religi, atau semata-mata kesenangan dalam melakukan sesuatu, pada dasarnya pria senang apabila orang lain mampu menghargai dirinya dan menerima sudut pandangnya. Bila Anda sedang berkencan dengan seorang humanis, misalnya, jangan paksa dia menerima tawaran bekerja di sebuah perusahaan yang terkenal amat profit oriented dan tidak memiliki program "balas budi" terhadap lingkungan. Karena Anda akan dianggap ikut campur urusannya.

Size Mr. P
Yang satu ini tidak bisa ditawar-tawar lagi. Meski malu-malu mengakuinya, Mr. P adalah poin paling dominan dalam menentukan kadar kejantanan dan bahkan harga diri seorang pria. Sekali waktu menghina kemampuannya di ranjang, termasuk mengolok-olok size Mr.P, dijamin Anda akan langsung kehilangan respek darinya dalam hitungan sedetik saja. Mencinta seorang pria adalah kegiatan satu paket dengan mencintai 'adik kecilnya'.

Chic/Nayu Novita




Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/09/14105314/forbiden.area