Monday, October 21, 2013

8 Steps to Creating a Personal Budget

8 Steps to Creating a Personal Budget By Sienna Kossman Just like dieting, budgeting is often associated with deprivation and cutting back. However, creating and maintaining a budget doesn't have to be a painful process. "If you ... start thinking about [budgeting] as a way to concisely create a better environment for yourself using your resources, it will get that much easier," says Leslie Beck, a certified financial planner at Compass Wealth Management in Maplewood, N.J. Aside from maintaining a positive mindset, here are eight guidelines to help you successfully build and manage a budget: 1. Keep it simple. While a budget can be a great tool for managing finances, it can quickly become overwhelming if it's overly detailed or idealistic. "There are things that you will likely sacrifice when budgeting, but it's very important to be realistic and understand your own habits," says Kristin Wong, a contributor to the financial blog Get Rich Slowly. "If I have a problem area within my budget, like eating out or shopping, instead of trying to focus on everything and being too hard on myself, I pick that one area. The hardest part of a budget is sticking to it, so the easier you can make it, the better." 2. Set a time period. Establish your budget for a time period that's long enough for you to see results. Stephen Lovell, a certified financial planner with Lovell Wealth Legacy in Walnut Creek, Calif., suggests budgeting for one year at a time. Budgeting month-to-month can accommodate everyday living expenses and bills, but a yearly budget can help you also plan for larger and more infrequent expenses, like income taxes or holiday presents. "You don't want things to slip away," Lovell says. "It's better to be approximately right than precisely wrong." 3. Build an emergency fund into your budget. An emergency fund should be an essential component of every budget. It can help you finance unexpected expenses like medical bills so you don't have to pull income from other areas. "For example, allocate just as much to your savings as your emergency fund," Wong says. "Once you have that, it's a lot easier to maintain the budget if a big expense springs up." 4. Don't worry about finding the perfect record keeping method. Just as there are many ways to create a budget, there are also many ways to keep track of it. Whether it's through an online budgeting program like Mint or Quicken or on paper, stick to whatever works best for you. "Make sure you approach it in a manner that you are comfortable with," Beck says. 5. Make sure everyone involved is on the same page. Whether your budget affects your spouse, partner or roommate, communication about the established financial plan is crucial. "If you have two people who have really disjointed approaches to money, that's really going to be a problem in the long run," Lovell says. "You need to be aware of the other person's attitudes about money and realize that your own aren't universal. Everyone needs to be on the same page and after the same goals for the budget to be successful." Being open with those around you about your budget can also help you create a support system while you work to get your finances on track. "Talking to friends really helped me," Wong says. "For example, even talking about it helped me when I was shopping with my mom. If I hadn't told her that I was on a strict budget, I probably would have spent more. She was there to hold me accountable." 6. Make adjustments along the way. If over time, your budget results don't match your expectations or financial needs, you may assume the plan is wrong. However, it's likely that you simply uncovered unknown problem areas. "The things that pop up will actually let you know what the real norm is, so pay attention to what it is telling you," Lovell says. "If you think, for instance, that you spend 12 percent of the family income on discretionary items, and you find after tracking for two months it's more like 28 percent, then something is off there." 7. Try adding on instead of only cutting back. Following a budget typically means making cuts in less essential areas or eliminating some costs completely. However, if reducing the amount of money going out isn't doing enough, look for ways to increase the money coming in. "Take a part-time job or sell something that is just sitting in your closet taking up space," Beck says. "People tend to think about just the one side of the equation when working to keep their budget on track, but there's another side that you can influence too, whether it's for a temporary or permanent basis." 8. Don't set yourself up for failure. Making sacrifices is part of managing expenses, but if you set restrictions too high and too soon, you will be less likely to follow your budget over the long term. "If you enjoy a latte every day, don't go from 0 to 60 in terms of cutting back. Do it gradually," Wong says. "Nobody wants to stick to a budget that cuts out everything fun in their life. If you keep failing at your budget, you are going to be discouraged and you're not going to want to do it anymore."

Saturday, September 15, 2012

Smart Parenting Reflection

Sebagai orang tua mungkin kita sering dibuat marah-marah, sering dibuatnya kesal karena anak-anak rewel, bikin rumah berantakan, berkelahi dengan adik/kakak. Kita mungkin juga sering kehilangan kesabaran karena anak-anak makannya lelet, "susah makan" dan menumpahkan air kemana2. Atau kita juga mungkin jadi naik pitam karena anak-anak disuruh mandi nggak mau, disuruh belajar ogah-ogahan, disuruh beresin mainan malah kabur. Tidak sekali mereka membuat kepala kita pusing bahkan mungkin karena berbagai macam ulah. Kita mungkin juga sering kecapeean karena baru pulang kerja mereka ngajak main, mintain bikinin ini itu... .... Tapi parents, semua itu tidak akan lama, karena anak-anak tak selamanya kecil Mereka tak selamanya menangis, Mereka tak selamanya bermain, Mereka tak selamanya membutuhkan kita. Suatu saat mereka akan melepaskan tangan kita saat kita mengenggam tangannya, menghapus ciuman kita sesaat stlh dia kita cium, menghindar saat dia kita peluk. Suatu saat mereka akan mandi sendiri, makan sendiri, tidur sendiri. Mungkin suatu saat teman lebih penting bagi mereka dan saat itupun kita hanya bisa merindukan. Nanti kita akan merindukan masa2 sulit dulu. Rindu ingin ngelonin mereka, rindu ingin memeluknya, rindu mendengar celotehanya. Biarlah hari ini kita lelah, karena kelelahan bersama kelucuan mereka itu lebih baik dari pada tak ada celotehan, tangisan, teriakan sama sekali di rumah kita..... Bersyukur, bersabar, mengasihi adalah kuncinya. Kelak Dia Sang Pencipta akan menambahkan berkat dan memberikan hikmat-Nya untuk memudahkan segala urusan kita sebagai orang tua yang diinginkanNya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pengkotbah 3:11) .

Tuesday, August 28, 2012

Quo Vadis Ibukota RI 2012

Pertama-tama saya ingin menyampaikan kalau blog ini tidak bermaksud membela siapa pemimpin dki jakarta berikutnya, namun muncul dari keprihatinan dari proses pilkada putaran kedua di kota terbesar / Megapolitan DKI Jakarta bahwa tetap saja terjadi isu SARA yang sangat fatal dan berpikir sangat sempit serta mengutamakan primordialisme. Ini ditandai dengan stereotype serta kenaifan seperti penggunaan simbol agama yang melambangkan "kesucian" dalam berpolitik pragmatis, serta proses penghancuran identitas keanekaragaman kebhinekaan dengan mendeskreditkan suku tertentu masih terjadi. Menafikan keragaman budaya yang menjadi kekayaan daerah Ibukota Jakarta ini juga sama bahayanya dengan pembiaran tanpa pengaturan yang jelas, dan tegas. Multikultur Megapolitan DKI Jakarta tidak berbeda dengan negara demokratis terbaik di dunia, yang menjadi best practice demokrasi yaitu Amerika Serikat dimana dengan masyarakat Amerika Serikat yang sangat cerdas dan elegant baik dari kalangan mayoritas dan minoritas secara berani mereka memilih Barack Obama sebagai President USA dari minoritas dan pertama kalinya presient kulit hitam pertama sejak Amerika merdeka lebih dari 200 tahun lalu. Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah sikap dan cara berfikir primordial bukanlah suatu ideologi yang patut, krn hanya mengutamakan golongan tertentu, kepentingan sesaat (dan sesat) tertentu, tentunya sangat berbahaya bagi indonesia. Mengapa hal ini menjadi isu dan keinginan kandidat tertentu untuk memenangkan persaingannya? Mari direnungkan bersama, quo vadis Jakarta dan quo vadis Indonesia.. Selanjutnya, ada link di bawah ini sebagai fakta aktual untuk memberi masukan terkait kredibilitas "calon pemimpin incumbent atau kuda hitam" yang Anda harapkan bagi Kota Megapolitan DKI Jakarta kedepan. Silakan Broadcast message ini guna memberi wawasan, mencerdaskan dan memberikan kesadaran pentingnya mengupayakan kehidupan kebhinekaan tunggal ika di tengah-tengah hiruk pikuk kesibukan masyarakat postmodern kota Megapolitan DKI Jakarta. http://m.jpnn.com/news.php?id=137445 http://us.m.viva.co.id/news/read/343700--isu-sara-di-pilkada-bawa-perpecahan

Wednesday, January 25, 2012

Kisah Sri Sultan Hamengkubuwono IX ditilang Polisi

Kisah ini sudah pernah ditampilkan pada berbagai situs website, tapi karena ceritanya sungguh menarik, sayang jika tidak di-share ke lebih banyak orang. Semoga menggugah hati banyak orang. (Demi kenyamanan membaca, tulisan yang aslinya sangat panjang ini kami persingkat dengan tak mengurangi maknanya).

Suatu pagi di pertengahan tahun 1960-an pada pukul setengah enam pagi, polisi muda Royadin yang berpangkat brigadir polisi, sudah berdiri dengan gagah di tepi posnya di kawasan Soko. Dari arah yang berlawanan dengan arus kendaraan lainnya, tampak sebuah sedan hitam berplat AB. Brigadir Royadin memandang di kejauhan, sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju ke arahnya. Dengan sigap, ia menyeberang jalan di tepi posnya. Tangannya diayunkan ke depan untuk menghentikan laju sedan hitam itu. Sedan tahun 50-an itu berhenti di hadapannya.

Saat mobil menepi, Brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat. "Selamat pagi! Boleh ditunjukkan rebuwes!" Pada masa itu, surat mobil masih diistilahkan rebuwes.

Perlahan, pria di dalam sedan menurunkan kaca samping secara penuh. "Ada apa, pak polisi?" tanya pria itu. Brigadir Royadin tersentak kaget. Ia mengenali siapa pria itu. "Ya Allah... Sinuwun!" kejutnya dalam hati. Gugup bukan main, tapi itu hanya berlangsung sedetik. Naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna. "Bapak melanggar verboden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah!" Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Yogya, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Setelah melihat rebuwes, Brigadir Royadin mempersilakan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan, namun Sri Sultan menolak.

"Ya... saya salah. Kamu benar, saya pasti salah!" Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggenggam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa. "Jadi...?" Sinuwun bertanya. Pertanyaan singkat, namun sulit bagi Brigadir Royadin untuk menjawabnya.

"Em... emm... Bapak saya tilang, mohon maaf!" Brigadir Royadin heran, Sinuwun tak juga memakai kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya. Jangankan begitu, mengenalkan dirinya sebagai pejabat negara dan raja pun, beliau tidak melakukannya.

"Baik... Brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya. Saya harus segera ke Tegal!" Sinuwun meminta Brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang.

http://m.andriewongso.com/artikel/aw_corner/4803/Reaksi_Sultan_HB_IX_Saat_Ditilang/#.Tx7Q_CxI-Co.facebook

Friday, December 9, 2011

Pernikahan (1)

Statistik Pernikahan

Statistik tdk bisa berbohong. Di singapore, tingkat perceraian naik dari 4.298 tahun 1995 menjadi 5.160 pada tahun 2000 dan di tahun 2008 menjadi 7.220. Artinya 20 pernikahan berantakan tiap hari, kota2 dunia seperti Shanghai, New York, Mumbai, Seoul, Jakarta, dll, mhadapi tantangan2 serupa bahkan lebih besar lagi. Angka ini hanya mengacu pd perceraian yang sah. Sebuah survei oleh LSM singapore, 2/3 pasangan2 yg menikah tinggal bersama demi penampilan, demi uang, demi anak2 meskipun suami atau istri mereka berselingkuh, meskipun 1/3 di antaranya tetap tdk pernah bahagia dan anak2 menderita depresi sbg akibatnya. Setelah anak2 dewasa/pergi kuliah/kerja/menikah, mereka akan membawa suami/istri mrka ke pengadilan dan cepat2 menceraikan mereka. Pasangan yg bercerai justru pasangan2 senior, seperti di Jepang tahun 1975, 6.510 pasangan bercerai setelah 20 thn lebih mrka menikah, dan tahun 2002 menjadi 45.536 pasangan yg bercerai.

Nilai yang menyimpang adalah masyarakt kita menempatkan nilai terlalu tinggi untuk uang. Cinta uang dan materialisme merupakan dua sisi mata uang yang sama.
Identitas diri kita hampir selalu sinonim dgn pekerjaan dan uang yang dihasilkan. Itulah sebabnya para ortu (tmsk saya) ingin anak2 menjadi banker, lawyer, doctor, engineer, bukan saja krn pekerjaan itu bergengsi, melainkan jg krn menghasilkan uang yang paling banyak. Masyarakat mengukur kita bdk. kontribusi ekonomi kita, demikian pula keluarga dan teman2 sebaya kita.

Perhatikan baik-baik. Uang membuat dunia berputar dan salah jalan. Perburuan kita akan kebahagiaan mjd pemburuan kita akan uang. Jangan salah paham, uang itu penting, ttpi sayang sekali bagi sebagian besar kita telah menjadikannya sbg prioritas tertinggi. Kita membawa perspektif ini dalam RELASI pernikahan, di mana setiap pasangan ingin menghasilkan lebih banyak dan lebih banyak lagi uang utk mbeli rumah lbh nyaman, peralatan yang bagus, liburan ke tempat wisata tereksotis setiap tahun, dsb.

Dan kita ingin mendapatkannya sesegera mungkin, bukan?? Kita bekerja susah payah, lembur, memperoleh lebih banyak uang lembur, mengambil dua pekerjaan spy dpt memenuhi kebutuhan kita. Sebagai akibatnya, kita mengorbankan RELASI. Uang di dlm krisis ini mjd test situasi genting di dlm relasi kita. Uang tdk mmutuskan relasi. Cinta kita pada uanglah yang memutuskan relasi pernikahan itu, jadi tidak mengherankan pd akhirnya jika kita tdk menyediakan wktu bagi pasangan2 kita, atau pasangan2 kita tdk menyediakan waktu bagi kita.

Fakta di Singapore (jg di Jakarta saya pikir), melaporkan tekanan pekerjaan utk mencapai target kerja yang fantastis "berhasil" mencipatakan kekacauan luar biasa dalam keseimbangan hidup pekerjaan-pernikahan.

Pasangan2 yang keduanya mencari nafkah memiliki lebih sedikit waktu utk saling berbagi, sehingga utk menciptakan ketegangan-ketegangan pernikahan, dan meningkatkan tingkat resiko perceraian sah maupun sembunyi-sembunyi.

Kita menjadi tidak begitu begitu sering berhubungan dan jarang melakukan hal-hal bersama contohnya untuk bersenang-senang. Kita tdk menyediakan waktu / berusaha melakukannya. Sungguh ironis, setelah menikah kita menjadi lebih sulit utk saling bersikap lebih manis ketimbang sebelum menikah; kurang sopan, kurang manis, kurang memaafkan, kurang meminta maaf, dan kurang bersyukur, di mana kita tdk lagi menunjukkan perhatian yg penuh kasih.

"Jangan pernah bekerja hanya utk uang dan kekuasaan, mereka tdk akan menyelamatkan jiwa Anda / mbuat Anda tertidur lelap pada malam hari" Marian Wright Edelman.

"Rantai-rantai tdk memersatukan pernikahan. Tetapi benang-benang. Ratusan ribu benang haluslah yang menjahit orang-orang bersama-sama selama bertahun-tahun". Simone Signoret

(Diambil dari Renungan "Dimsum utk Keluarga", John Ng, published in Singapore)

Sunday, October 30, 2011

Emosian bangeeet yaa...

Saat seorang laki2 sedang memoles mobil barunya, anaknya yg berumur 3 tahun membaret2 mobilnya dng batu. Dengan marah, laki2 tsb meraih tangan anaknya dan memukulnya berkali2; tanpa menyadari dia memukulnya dng kunci inggris.

Singkatnya, di rumah sakit, anak itu harus kehilangan jari2nya karena kerusakan tulang yg sangat parah.

Saat anak tsb melihat ayahnya, dng pandangan kesakitan, bertanya, "Ayah, akankah jari2ku tumbuh lagi?" Lelaki tsb,yg adalah ayahnya, sangat terluka, menyesal dan kehilangan kata2 ... ia kembali ke mobilnya lalu menendangnya berkali2 melampiaskan penyesalannya. Hatinya semakin hancur ketika dia berdiri tepat di hadapan mobilnya, ia melihat baret2 yg dilakukan anaknya di mobilnya tertulis;

"AKU CINTA AYAH!"

Teman - teman,

MARAH & CINTA tidak ada batasnya; pilihlah CINTA u/ mendapatkan hidup yg indah...

BENDA adalah sesuatu yg mestinya DIGUNAKAN & MANUSIA yg mestinya DICINTAI.

Masalahnya dalam dunia postmodern dan instant saat ini; MANUSIA lah yg "DIGUNAKAN" & BENDA-BENDALAH yg kamu CINTAI...!

Mulai saat ini, marilah lebih hati2 mengingatkan diri kita bahwa: BENDA utk DIGUNAKAN & MANUSIA yg mestinya DICINTAI, ini Perintah !

Hidup hanya sekejap, maka seharusnya kamu belajar dan tahu untuk :

Hati2 dng PIKIRAN2mu, karena akan menjadi KATA2mu.

Hati2 dng KATA2mu, karena akan menjadi TINDAKAN2mu.

Hati2 dng TINDAKAN2mu, karena akan menjadi KEBIASAAN2mu.

Hati2 dng KEBIASAAN2mu, karena akan menjadi KARAKTERmu.

Hati2 dng KARAKTERmu, karena akan menjadi TAKDIRmu.

Jika tidak hati2 TAKDIRmu berakhir menyedihkan...

Mari, jadikan HIDUP kita lebih berarti bagi orangtua, keluarga, dan komunitas mu !