Wednesday, April 21, 2010

"Retreat"

Yang indah hanyalah sementara.
Yang abadi hanyalah kenangan,
Yang ikhlas hanya dari hati
Yang tulus adalah sanubari.

Tidak mudah mencari yang hilang,
Tidak mudah mengejar impian dan jauh lebih sulit mempertahankan yang ada, karena yang tergenggam bisa terlepas dan yang dikejar justru tidak jelas...

Jika tidak memiliki apa yang kita sukai, kita ingin miliki yang kita impi-impikan, maka belajarlah menyukai apa yang sekarang ada dan hargailah itu.

Selamat merealisasikan mimpi-mimpimu bersama kekasih sejati, Tuhan Yesus dalam perjalanan panjang "retreat" abadi kita !

Beda Pekerjaan (sekuler) dengan Pelayanan

Beda PEKERJAAN dan PELAYANAN.

Bila anda melakukannya selama ada waktu luang, itulah PEKERJAAN

Bila anda melakukannya meskipun mengganggu aktivitas anda, itulah PELAYANAN

Bila anda berhenti karena tidak ada yg berterimakasih kpd anda, itulah PEKERJAAN

Bila anda terus bekerja walaupun tidak pernah dikenal siapapun, itulah PELAYANAN

Bila anda melakukannya utk diri sendiri, itulah PEKERJAAN

Bila anda melakukannya utk Tuhan, itulah PELAYANAN

Bila anda melakukannya demi kehormatan diri, itulah PEKERJAAN

Bila anda melakukannya demi kemuliaan Tuhan, itulah PELAYANAN

Bila anda merasa telah banyak berkorban dan layak mendapatkan upah, itulah PEKERJAAN

Bila anda terus merasa belum cukup melakukan apa2 dan terus ingin melakukan lebih, itulah PELAYANAN

Selamat melayani... Tuhan memberkati.
(Kol 3:23)

Thankful

When Things Aren’t Going Your Way

When things aren’t going your way,

you might feel that it’s the end of the world.

When things aren’t going your way,

you might feel that you’re neglected or being left alone.

When things aren’t going your way,

you might feel stressed out, depressed, frustrated,

and disappointed.

When things aren’t going your way,

you might blame the whole world, your family,

your friends, you yourself, and finally: God.

When things aren’t going your way,

you might feel like you want to give up.

But actually…

When things aren’t going your way,

It’s actually a new opportunity to learn a new experience in life.

When things aren’t going your way,

It’s good that you’re able to reflect and introspect.

When things aren’t going your way,

It’s good to know that your way isn’t the only way to fulfill your wish.

When things aren’t going your way,

It’s time to surrender and trust The Almighty.

When things aren’t going your way,

It’s time to pray more, trust Him more…

Because He knows better ways than your ways.

Because He knows better plans than your plans.

Because He knows the best for you.

When things aren’t going your way,

It’s a new beginning to another solution in your life.

As long as you believe…

He will make a way for you.

Exceedingly, abundantly far above that you could ask or think.

When things aren’t going your way,

Stay grateful, be thankful,

and you’ll see His marvelous ways in your life.

All you need is just the willingness to change and accept different ways:

His wonderful plans for you.

Persentase

"Kehidupan ditentukan 10 persen oleh apa yang terjadi DALAM diri kita, dan 90 persen oleh bagaimana ANDA bersikap /bereaksi terhadapnya"

-- J.C Maxwell --

Wednesday, April 7, 2010

Kidult ??

(Mencari Rasa Aman)

Mengintip situs WIKIPEDIA, istilah kidult (dari kata KID dan ADULT) pertama kali muncul pada decade 80-an. Di perkenalkan oleh psikolog kondang Amrik Jim Ward Nichols dari Stevens Institute of Technology. Kidult adalah sebutan bagi orang – orang usia 20 tahun ke atas yang masih enjoy menikmati budaya kanak – kanak, atau remaja belasan, baik secara fisik/ penampilan, gaya hidup, maupun pemikiran, yang sesungguhnya tidak cocok lagi bagi usia mereka.

Ada banyak contoh yang bisa di kategorikan kidult. Misal, wanita umur 32 tahun yang masih senang pakai blus berenda – renda dengan pita warna pink atau pria umur 35 tahun yang masih gemar meluangkan waktunya main play station, sampai para pacar atau istri geregetan (ngakak!), atau bagi mereka yang “takut” menikah hanya karena enggan memikul tanggung jawab besar, kalaupun sudah menikah, mereka tetap menggantungkan hidup pada orang tua.

Singkat kata, mereka adalah orang – orang yang “menolak” jadi dewasa karena tidak mau kehilangan zona aman sebagai anak – anak, yang biasanya tidak menuntut tanggung jawab besar. Surat kabar The New York Times edisi 31 Agustus 2003 pernah memuat tulisan investigative makin maraknya fenomena kidult di Amerika, soalnya di Amerika sendiri “tradisi” keluar rumah sesudah mereka bekerja bahkan masih kuliah adalah hal biasa, jika kemudian hari ada fenomena “tinggal bersama” orang tua, meskipun bisa di bilang sudah bekerja mapan, atau kuliah sambil bekerja, pastilah jadi hal yang luar biasa bagi masyarakat Amerika.

Sedangkan di Australia menurut ahli kependudukan Bernard Salt, fenomena kidult mulai menjakiti mereka yang berumur 25 tahun ke atas. Mereka menunda pernikahan, menunda punya anak, menunda membeli rumah, lebih memilih keliling dunia ketimbang hidup mapan, memperlakukan karier dan relationship sebagai ajang coba – coba, membelanjakan uang seolah dunia mau kiamat.

Fenomena kidult sebenarnya sudah ada di awal tahun 60 an, namun 10 tahun belakangan ini mengalami peningkatan luar biasa. Dalam situs Med Magazine, banyak nama – nama untuk orang kidult, antara lain middlescent, middle-youth, adultscent, peterpans, dan grups ( singakatan dari grow – ups). Nah, pengaruh terbesar sampai terjadinya fenomena kidult di negara – negara maju tersebut, kebanyakan di akibatkan oleh kondisi perekonomian yang mapan (bagi generasi orang tua mereka), lapangan kerja yang makin kompetitif (bagi kaum muda), harga – harga yang makin mahal, hingga gaya hidup yang makin hidonistis. Alhasil, orang tua sering di jadikan “bank pribadi” bagi anak – anak mereka yang merasa “kurang beruntung” Peran Keluarga Besar Lha terus bagaimana di Indonesia sendiri? menurut sosiolog V. Sundari Handoko, fenomena kidult bisa saja terjadi di Indonesia meski belum ada penelitian khusus. Tapi, budaya di Indonesia sejak dulu hingga sekarang berlaku extended family (keluarga besar), dengan karakeristik komunal dan memiliki ikatan emosional tinggi satu sama lain. Dalam ikatan ini, ada kewajiban saling membantu, dan karena biasanya orang tua yang lebih mapan baik secara ekonomi maupun pengalaman, maka orang tualah yang paling sering membantu anak – anaknya (meski sudah dewasa, bahkan menikah dan memiliki penghasilan sendiri).

Ironisnya, disisi lain, sebagai keluarga besar (misalnya trah atau marga) mereka juga saling berkompetisi, alhasil kalau ada salah seorang anak yang terlibat kesulitan, sebisa mungkin orang tua membantu, kalau anak di biarkan gagal, hal itu bisa menjadi aib di mata keluarga besar. Jadi, kalaupun di Indonesia ada fenomena kidult, penyebab utama adalah karena ketidak mandirian dan kemanjaan si anak. Meski sekarang banyak orang tua yang “berani” melepas anak – anaknya untuk sekolah ke luar negri atau luar kota, hal ini tidak berarti membuat si anak mandiri. Tak jarang orang tua menyediakan rumah kontrakan lengkap dengan pembantu, uang mingguan, kalau perlu di telpon tiga kali sehari. Ini beda sama penduduk desa atau daerah. Mereka petarung sejati, tidak saja merantau ke luar daerah, bahkan ke luar negri menjadi TKI.

Dari mereka, bisa menghasilkan remittance hingga milyaran rupiah. Sebaliknya orang kota yang menganggap “lebih” di banding orang daerah, sering kali mempunyai anak – anak yang tumbuh menjadi kidult. Karena, atas nama cinta dan kehormatan keluarga, orang tua selalu siap membantu setiap kali anak – anaknya mendapat kesulitan hidup dalam menghadapi kerasnya hidup. Lantas Bagaimana Bisa Tumbuh Menjadi Kidult? Lusia Ratrining Sari mengupas dari sudut teori psikologi. Menurut dia, perjalanan hidup manusia di bagi dalam beberapa kelompok, dan setiap kelompok umur memiliki tugas perkembangan sendiri. Dari masa bayi, remaja, hingga dewasa.

Pada orang kidult, sifat kekanak – kanakan harusnya sudah selesai dan ternyata masih berlangsung. Baik dari penampilan, emosional, kepribadian, dan pola pikir. Mereka selalu membutuhkan orang lain (bahkan orang tua) dalam mengambil keputusan, kalau kemauannya di tolak langsung ngambek, ngomel, atau malah balik menyerang, enggan memikul tanggung jawab yang besar dan sebagainya. Lusi juga menambahkan, kalau kidult tidak ada hubungannya dengan inteligensi seseorang. Banyak juga kidult yang cerdas, mempunyai pekerjaan mapan, dan karier cemerlang. Tak jarang, justru mereka bisa membuat argumen – argumen pembenaran atau rasionalisasi bagi sifat kekanakannya. Perangai kidult juga di sebabkan berbagai faktor seperti pola asuh orang tua, pengaruh lingkungan, trauma masa lalu, struktur dasar kepribadian orang itu sendiri, bahkan semuanya. Namun tak dapat di sangkal, pola asuh orang tualah yang berperan besar.

Setiap orang tua (bahkan hewan) punya naluri untuk melindungi anak – anaknya dari marabahaya atau kesulitan. Apalagi, di Indonesia dimana ikatan kekeluargaan masih relative kuat, rasanya sering sekali kita dengar orang tua mengatakan “untuk apa lagi sih, kita mencari uang kalau bukan untuk anak” Di lain pihak, tak sedikit orang tua yang ingin tetap merasa berarti buat anak – anaknya meski mereka sudah dewasa dan berkeluarga dengan tetap mengulurkan bantuan buat anak – anaknya. Dengan kata lain, tanpa sadar mereka terus menciptakan ketergantuangan pada si anak.

Celakanya, tak sedikit juga orang tua yang semasa mudanya adalah “petarung hidup”, justru tidak mau mewariskan jiwa petarungnya kepada anak – anak mereka dengan alasan “biarlah kami saja yang mengalami kepahitan hidup. Anak – anak jangan sampai mengalaminya juga” yang akhirnya justru melahirkan anak – anak kidult. Padahal, yang tak kalah penting untuk di ingat, segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi. Orang tua bisa sewaktu – waktu meninggal, dan harta bisa ludes dalam sekejap. Pada saat – saat itulah kemandirian seseorang baik secara phisik maupun emosional menjadi berperan. So, which one are you?

http://www.henlia.com/?p=1974

Cara Mengajar...

Hiduplah seorang guru yang bijaksana, guru tersebut memiliki beberapa orang
murid, salah satu di antara muridnya ada yang gagu. Suatu hari sang guru
menyuruh muridnya yang gagu untuk turun gunung.

Sang guru berkata, “Besok, turun gununglah dan sebarkanlah ajaran Kebenaran
yang telah kubabarkan kepada semua orang.”

Muridnya yang gagu itu merasa rendah diri dan segera menulis di atas kertas,
“Maafkan saya Guru, bagaimana mungkin saya dapat menyebarkan ajaran Guru,
saya ini kan gagu. Mengapa Guru tidak menyuruh murid lain saja yang tentu
mampu membabarkan ajaran Guru dengan lebih baik?”

Sang Guru tersenyum dan meminta muridnya merasakan sebiji anggur yang
diberikan olehnya. “Anggur ini manis sekali,” tulis muridnya.

Sang Guru kembali memberikan sebiji anggur yang lain. “Anggur ini masam
sekali,” tulis muridnya.

Kemudian Gurunya melakukan hal yang sama pada seekor burung beo. Biarpun
diberi anggur yang manis maupun masam beo itu tetap saja mengoceh, “Masam…
masam…”

Sang Guru menjelaskan pada muridnya,

“Kebenaran bukanlah untuk dihafal, bukan pula cuma untuk dipelajari, tapi
yang terutama adalah untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Cacat tubuh yang kita miliki janganlah menjadi rintangan dalam mengembangkan
batin kita. Kita jangan seperti sebuah sendok yang penuh dengan madu, tapi
tidak pernah mengetahui manisnya madu itu. Kita jangan seperti beo yang
pintar mengoceh, tapi tidak mengerti apa yang diocehkannya.

Engkau memang tidak mampu berbicara dengan baik, tapi bukankah engkau bisa
menyebarkan Kebenaran dengan cara-cara lain, misalnya menulis buku? Dan yang
lebih penting, bukankah perilaku kamu yang sesuai dengan Kebenaran akan
menjadi panutan bagi yang lain?”

Itulah cara mengajar yang terbaik: teladankan Kebenaran dalam perilakumu,
bukan cuma dalam omonganmu…

source : http://www.henlia.com/?p=817

Semakin Tergesa-gesa, semakin Lambat

Seorang pemuda ingin menguasai ilmu pedang. Ia mendengar ada guru ilmu pedang yang sangat kesohor dan tak pernah terkalahkan. Guru itu kini menjadi pertapa dan tinggal di puncak gunung tinggi. Karena tekadnya begitu tinggi, ia lalu melakukan perjalanan jauh, mendaki gunung terjal tempat guru ilmu pedang itu bertapa.

Akhirnya ia menemukan guru ilmu pedang yang tampak tua, kurus namun penuh wibawa. “Guru, ijinkan hamba belajar ilmu pedang dari guru.”

Sang Guru mengangguk-angguk.

Tanya anak muda, “Jika hamba belajar dengan tekun, berapa lama waktu yang diperlukan agar bisa menguasai ilmu pedang?”

Jawab guru, “Hemm, barangkali sepuluh tahun”

Tanya anak muda, “Guru, ayah hamba sudah tua dan hamba harus merawatnya.

Hamba tak bisa meninggalkannya lama-lama. Jika hamba berlatih lebih giat lagi, berapa lama saya bisa berhasil?”

Jawab guru, “Hemm, kalau begitu, bisa jadi dua puluh tahun.”

Anak muda ini terkejut mendengar jawaban gurunya. Keringatnya mulai bercucuran. Ia bertanya penuh keheranan, “Tadi guru menyebut sepuluh tahun, lalu dua puluh tahun. Begini saja guru, hamba bersedia melakukan apa saja, menempuh jalan sesulit apa pun, asal saya dapat menguasainya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Berapa lama waktu yang saya perlukan?”

Jawab guru sambil terkekeh-kekeh, “Kalau yang ini, kau akan memerlukan tiga puluh tahun.”


Pojok Renungan Editor: Sabarlah dalam mencapai tujuan. Jangan bebani langkah dengan hal-hal selain tujuan kita. Mereka yang terburu-buru dan bernafsu mengharapkan hasil, cenderung tidak mendapatkan apa pun pada akhirnya.


Inspirasi: Illustrated Zen Story