Friday, September 2, 2011
Berani Menghadapi Hal-hal Sulit - Jawapos 22 Agustus 2011
Pada tanggal 12 September 1962, di tengah-tengah Perang Dingin yang memisahkan dunia Barat dengan Timur, presiden Kennedy memberikan kuliah umum di Rice Stadium, Houston-Texas. Judulnya “Why We Choose to Go to the Moon". Sewaktu kuliah di Amerika Serikat, saya pernah bertanya kepada profesor yang membimbing thesis saya tentang situasi yang mereka hadapi di era Kennedy mengucapkan pidatonya itu, umumnya mereka menyeka keringat dingin.
Suasananya demikian mencekam, ujarnya. "Kalau bunyi alarm, kami segera berlari ke dalam rumah, bersembunyi, dan mematikan lampu. Sampai sekarang kalau bunyi alarm saya keringat dingin. Kita tak bisa membedakan apakah itu alarm tanda datangnya bencana tornado atau pertanda datangnya kepala nuklir yang ditembakkan komunis dari bumi Kuba ke negeri ini, " tambahnya.
John F Kennedy yang piawai berpidato mengucapkan janjinya untuk membawa Amerika keluar dari masa-masa sulit. "Ketika bangsa-bangsa lain mengembangkan teknologi untuk menaklukkan gunung, kita justru mengembangkan misi untuk menaklukkan bulan. Kita pilih itu karena dua hal: Pertama, kita tidak ingin membiarkan Rusia melihat bumi kita dari atas Amerika. Kedua, kita mengirimkan misi ke bulan bukan karena itu mudah, melainkan karena itu sulit."
Tepuk tangan bergemuruh, tetapi dari bahan-bahan sejarah yang saya baca, tak sedikit orang yang menyangsikan ucapan Kennedy itu. Namun dalam hitungan tahun, tak lama kemudian Kennedy membuktikan ucapannya dengan misi Apollo. Kita tidak tahu persis apakah benar Apollo sudah mendarat di bulan, karena rumor yang beredar di berbagai media dalam dua puluh tahun terakhir menyebutkan ada sejumlah kejanggalan dari gambar yang dipublikasikan oleh NASA saat itu. Pertama, di bulan tak ada cahaya matahari, tetapi mengapa foto yang diambil ada bayangannya? Kedua, kalau di bulan tak ada oksigen, mengapa bendera Amerika Serikat tampak berkibar?
Wallahualam, kita tak tahu mana yang benar, namun saat diumumkan pendaratan itu, bangsa Amerika tampaknya mendapatkan amunisi motivasi yang kuat untuk bangkit melawan ancaman perang nuklir. Riset-riset unggulan maju pesat, dan teknologi menggeliat. kalimat yang diucapkan Kennedy terus mengiang di telinga saya,"Kita memilih pergi ke bulan bukan karena hal itu mudah, melainkan karena sulit.”
Teknologi Sulit, Memberantas Korupsi Apalagi
Ucapan Kennedy kembali terngiang di telinga saya, saat saya mendengarkan ceramah Carol Dweck, psikolog dari Stanford yang penelitiannya pernah saya ulas di kolom ini. Ialah orang yang membedakan fixed mindset dengan growth mindset. Orang-orang yang berhasil, kata Dweck adalah orang yang mau melakukan hal-hal yang sulit. "mereka menyukai tantangan dan mau menghadapi kesulitan, karena melakukan hal-hal yang sulit merupakan jalan setapak menuju mastery, kehebatan," ujarnya.
Ibarat telepon genggam, sebelum dipakai Anda menyetelnya dulu, disetting. Maka demikian pulalah otak kita. Kita pula yang menyetelnya, sadar maupun diluar kesadaran, dan hasilnya menjadi mindset. Kalau tidak disadari, mindset juga bisa disetel salah oleh orang lain dan tetap kita pakai sekalipun tidak cocok untuk kita gunakan sehari-hari. Setelan yang bisa membuat kita maju itulah yang disebut Dweck sebagai growth mindset, yang tidak mudah menyerah kala menghadapi hal-hal yang sulit. Sedangkan setelan yang membuat hidup kita sulit, disebutnya sebagai fixed mindset.
Seminggu setelah menyelesaikan tugas yang diberikan negara untuk menyeleksi calon komisioner KPK, kami bertigabelas merasa lega. Namun saat yang bersamaan baru terasa otot-otot seperti akan lepas dari tulangnya. Pagi-siang hingga malam kami memotret dan menyeleksi satu persatu dari calon yang sangat terbatas. Sampai didapat delapan kandidat. Itulah hasil maksimal yang dapat kami berikan. Namun otot terasa lemas, bukan karena tugas ini menyita waktu dan pikiran, melainkan merasakan betapa beratnya negeri ini memberantas korupsi. Hampir setiap hari kita saksikan betapa menjijikannya para penegak hukum dan politisi bersekongkol dengan para koruptor.
Banyak pertanyaan yang muncul saat menyaksikan empat-lima orang oknum anggota DPR secara paksa memasuki ruang tahanan Nazaruddin dan berciuman pipi di depan kamera. Saya sebenarnya ingin tahu apa yang mereka bisik-bisikkan di telinga Nazar. Seorang politisi senior yang mempersoalkan perginya empat orang oknum anggota parlemen itu dengan tiga bus ke mako Brimob memberikan jokes, bisikannya begini. "tolong nanti jangan banyak omong di pengadilan ya, jangan sampai kau sebut-sebut proyek kita".
Saya menganggapnya jokes, tapi teman saya yang lain menimpali. "I know who they are."
Saya tak mengerti apa maksudnya. Yang jelas, cara mereka, bersama-sama dengan pengacara koruptor yang hebat-hebat itu pasti membuat upaya pemberantasan korupsi yang kita titipkan di KPK menjadi amat sulit. KPK menjadi terlihat compang-camping, dirangsek mereka dari segala sisi. Saat tak mengijinkan pengacara masuk, KPK dituding tidak professional. Namun saat rekaman dibuka dan menunjukkan ketidak inginan Nazar sendiri untuk tidak didampingi pengacara, KPK dituduh kurang Percaya Diri. Kasihan sekali Ibu Pertiwi ini.
Menjadi amat lebih sulit lagi, karena orang-orang yang bersahabat dengan koruptor kakap dan yang tak malu-malu berciuman pipi dengan para koruptor itulah yang kelak akan memilih empat dari delapan nama kandidat yang kami ajukan ke Presiden di Komisi tiga DPR. Saya hanya berharap akan ada keajaiban, mudah-mudahan Tuhan memberikan mereka pikiran yang bersih, yang akan dicatat oleh sejarah sebagai sebuah keajaiban. Ya siapa tahu tiba-tiba datang sakit perut, mules-mules, atau apa sajalah. Atau bisa juga muncul jiwa besar. Seorang yang berjiwa besar itu akan maju berdiri dan mengatakan, "karena saya memiliki conflict kepentingan, ijinkan saya kali ini tidak ikut memilih."
Namun bila Tuhan belum menghendaki, bagi saya itu berarti Ia memiliki rencana yang lebih besar. Bukankah hanya bangsa yang mau menghadapi hal-hal sulit yang akan menjadi besar dan teruji? Ini berarti KPK harus lebih pintar lagi menghadapi para koruptor dan jangan salah tangkap, apalagi salah menghukum.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
Pemasaran Bombastis - Jawapos 25 April 2011
Ada sesuatu yang berbeda di hari Paskah kemarin. Bukan hanya karena bantuan penjagaan dari petugas Banser dan polisi di gereja-gereja; melainkan beredarnya surat gembala dari Dalai Lama, seorang Budhist yang sangat dihormati.
“Agama terbaik adalah yang membawamu terdekat dengan Tuhan dan membuatmu menjadi lebih baik,” Demikian kalimat pembukanya.
Ia melanjutkan. “Apapun yang membuatmu lebih berwelas kasih, lebih masuk akal, lebih terlepas, lebih mencintai, memiliki rasa kemanusiaan, lebih bertanggung jawab, dan beretika.”
Saya tersedak karena tiba-tiba masuk sebuah email yang sangat bombastis. “Seminar Dasyat!!” Begitu tagline-nya. Kalimat-kalimat di bawahnya sudah sering saya lihat di internet. “Akan saya buka satu-satunya rahasia yang membuat Anda kaya dalam sekejap.”
Kalimat-kalimat seperti itu memiliki akar dari Robert Kiyosaki yang kecewa dengan ayahnya yang sekolah sangat tinggi tetapi tidak sekaya bapak tetangganya yang tidak bersekolah. Setelah mengejek ayahnya sendiri, ia membuka satu demi satu rahasia agar cepat menjadi kaya. Baginya, kebahagiaan sama dengan kekayaan.
Perhatikanlah judul-judul bukunya: “Bapak yang Kaya dan Bapak Yang Miskin!! Atau,: ” If You Want to Be Rich and Happy, Don’t go to School!“ Bombastis sekali bukan?
Yang saya tidak mengerti adalah mengapa Robert Kiyosaki dan para pengikutnya di sini tetap menyekolahkan anak-anaknya? Padahal mereka mengatakan , “Sekolah tidak penting. Yang penting kaya.”
Saya pantas terkejut karena dua malam sebelumnya beberapa anak muda pemenang penghargaan kewirausahaan mengajukan protes. “Pemasaran harus bombastis,” Ujarnya.
Saya pun meminta agar mengumpulkan kartu nama mereka yang ternyata hasil didikan seorang pembicara publik. Kartu-kartu nama mereka memiliki kesamaan. Ada foto diri berjas sambil mengepalkan tangan bak seorang motivator. Di dalamnya tertulis deskripsi jati diri: Motivator terkenal, penulis buku best seller, pembicara publik terbaik versi majalah ”X”, utusan pemerintah Indonesia untuk award ”X” tingkat Asia dan seterusnya.
Sewaktu saya tanya siapa yang memberi gelar-gelar itu, mereka hanya tersenyum. Semua deskripsi tadi ternyata hanya bohong belaka. ”Itu impian saya. Jadi sah saja, bukan? ”Ujar anak-anak yang ingin cepat kaya itu. Mereka tidak sadar bombastis sama dengan kebohongan. Tentu perlu diluruskan, bombastis bukanlah pemasaran.
Mereka mengaku semua ini mereka dapatkan dari guru mereka yang sering muncul di publik dan seminar-seminarnya selalu penuh. Setelah saya cek ternyata mereka satu jiwa. Sama-sama bombastis. Bahkan ”guru” itu pula yang mengajarkan,”Kalau tidak bombastis bukanlah pemasaran dan tidak ditengok pasar.””Guru” itu mengatakan seminarnya berharga Rp 8 Juta,-, tetapi untuk Anda disediakan diskon 80%. Hebat bukan?
Orang-orang yang waras mengatakan itu bukannya hebat, : ”Anda saja yang bodoh.” Mengapa ada banyak orang bodoh di sini? Atau jangan-jangan mereka tersihir dengan anggukan-anggukan kepala yang diajarkan sales theraphist? Saya tidak tahu persis.
Yang saya tahu pemasaran bombastis kini mewabah di mana-mana. Mulai dari money game, internet marketing, seminar-seminar motivasi sampai bisnis-bisnis yang di francise kan meski francisor-nya belum menangguk untung. Bukankah francise hanya boleh dilakukan kalau usaha Anda sudah terbukti menguntungkan dalam jangka panjang?
Saya perlu mengingatkan bahwa pemasaran Bombastis tidak ada dalam literatur pemasaran. Pemasaran Bombastis hanya boleh diletakkan di rak-rak buku fiksi, bukan marketing. Muaranya juga jelas, bukanlah reputasi dan keuntungan, melainkan penjara dan neraka.
Di akhir surat gembalanya, Dalai Lama menulis.”Berhati-hatilah dengan pikiranmu karena ia akan menjadi perkataan. Apa yang kau ucapkan akan menjadi tindakan, dan tindakanmu akan menjadi kebiasaan, cermin kehidupan. Kebahagiaan bukanlah takdir melainkan sebuah pilihan.”
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
“Agama terbaik adalah yang membawamu terdekat dengan Tuhan dan membuatmu menjadi lebih baik,” Demikian kalimat pembukanya.
Ia melanjutkan. “Apapun yang membuatmu lebih berwelas kasih, lebih masuk akal, lebih terlepas, lebih mencintai, memiliki rasa kemanusiaan, lebih bertanggung jawab, dan beretika.”
Saya tersedak karena tiba-tiba masuk sebuah email yang sangat bombastis. “Seminar Dasyat!!” Begitu tagline-nya. Kalimat-kalimat di bawahnya sudah sering saya lihat di internet. “Akan saya buka satu-satunya rahasia yang membuat Anda kaya dalam sekejap.”
Kalimat-kalimat seperti itu memiliki akar dari Robert Kiyosaki yang kecewa dengan ayahnya yang sekolah sangat tinggi tetapi tidak sekaya bapak tetangganya yang tidak bersekolah. Setelah mengejek ayahnya sendiri, ia membuka satu demi satu rahasia agar cepat menjadi kaya. Baginya, kebahagiaan sama dengan kekayaan.
Perhatikanlah judul-judul bukunya: “Bapak yang Kaya dan Bapak Yang Miskin!! Atau,: ” If You Want to Be Rich and Happy, Don’t go to School!“ Bombastis sekali bukan?
Yang saya tidak mengerti adalah mengapa Robert Kiyosaki dan para pengikutnya di sini tetap menyekolahkan anak-anaknya? Padahal mereka mengatakan , “Sekolah tidak penting. Yang penting kaya.”
Saya pantas terkejut karena dua malam sebelumnya beberapa anak muda pemenang penghargaan kewirausahaan mengajukan protes. “Pemasaran harus bombastis,” Ujarnya.
Saya pun meminta agar mengumpulkan kartu nama mereka yang ternyata hasil didikan seorang pembicara publik. Kartu-kartu nama mereka memiliki kesamaan. Ada foto diri berjas sambil mengepalkan tangan bak seorang motivator. Di dalamnya tertulis deskripsi jati diri: Motivator terkenal, penulis buku best seller, pembicara publik terbaik versi majalah ”X”, utusan pemerintah Indonesia untuk award ”X” tingkat Asia dan seterusnya.
Sewaktu saya tanya siapa yang memberi gelar-gelar itu, mereka hanya tersenyum. Semua deskripsi tadi ternyata hanya bohong belaka. ”Itu impian saya. Jadi sah saja, bukan? ”Ujar anak-anak yang ingin cepat kaya itu. Mereka tidak sadar bombastis sama dengan kebohongan. Tentu perlu diluruskan, bombastis bukanlah pemasaran.
Mereka mengaku semua ini mereka dapatkan dari guru mereka yang sering muncul di publik dan seminar-seminarnya selalu penuh. Setelah saya cek ternyata mereka satu jiwa. Sama-sama bombastis. Bahkan ”guru” itu pula yang mengajarkan,”Kalau tidak bombastis bukanlah pemasaran dan tidak ditengok pasar.””Guru” itu mengatakan seminarnya berharga Rp 8 Juta,-, tetapi untuk Anda disediakan diskon 80%. Hebat bukan?
Orang-orang yang waras mengatakan itu bukannya hebat, : ”Anda saja yang bodoh.” Mengapa ada banyak orang bodoh di sini? Atau jangan-jangan mereka tersihir dengan anggukan-anggukan kepala yang diajarkan sales theraphist? Saya tidak tahu persis.
Yang saya tahu pemasaran bombastis kini mewabah di mana-mana. Mulai dari money game, internet marketing, seminar-seminar motivasi sampai bisnis-bisnis yang di francise kan meski francisor-nya belum menangguk untung. Bukankah francise hanya boleh dilakukan kalau usaha Anda sudah terbukti menguntungkan dalam jangka panjang?
Saya perlu mengingatkan bahwa pemasaran Bombastis tidak ada dalam literatur pemasaran. Pemasaran Bombastis hanya boleh diletakkan di rak-rak buku fiksi, bukan marketing. Muaranya juga jelas, bukanlah reputasi dan keuntungan, melainkan penjara dan neraka.
Di akhir surat gembalanya, Dalai Lama menulis.”Berhati-hatilah dengan pikiranmu karena ia akan menjadi perkataan. Apa yang kau ucapkan akan menjadi tindakan, dan tindakanmu akan menjadi kebiasaan, cermin kehidupan. Kebahagiaan bukanlah takdir melainkan sebuah pilihan.”
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
Dalai Lama said:
.”Berhati-hatilah dengan pikiranmu karena ia akan menjadi perkataan. Apa yang kau ucapkan akan menjadi tindakan, dan tindakanmu akan menjadi kebiasaan, cermin kehidupan. Kebahagiaan bukanlah takdir melainkan sebuah pilihan.”
(Dalai Lama)
(Dalai Lama)
Nasehat Anak Untuk Orang Tua
Jawapos 6 Juni 2011
Minggu-minggu ini, orangtua, sibuk memikirkan anak-anak. Liburan, kenaikan kelas, kuliah dan jurusan, pekerjaan yang cocok dan seterusnya. Orangtua merasa berhak mengatur, menentukan masa depan anak-anaknya.
Pada waktu yang bersamaan saya menerima kembali mahasiswa saya dari berbagai lokasi. Mahasiswa S1 yang belum pernah menumpang pesawat, saya wajibkan pergi berdua atau bertiga keluar negeri. Jangan anda tanya dari mana uangnya, pokoknya ada keajaiban. Anak- anak petani dan PNS yang hidupnya serba pas-pasan di UI itu sekarang sudah melihat macam-macam negara: Saudi, India, Jepang, Macau, Hongkong, China, Laos, Kamboja, Thailand, dan Vietnam. Pokoknya pergi ke negara yang penduduknya tak bisa diajak bahasa ibu mereka, dan tidak diantar oleh dosennya.
Sedangkan mahasiswa MM yang rata-rata berasal dari kelas menengah atas, yang datang ke kampus dengan mobil pribadi, saya kirim ke sebuah pesantren di Lamongan yang mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan dan kasih sayang lintas agama. Di sana mereka diajak mengasihi sesama, merawat kaum lansia yang dibuang anak-anaknya di hutan, merawat anak-anak balita yang dibuang orangtuanya sejak bayi, melakukan susur sungai, diskusi di pasar, berdialog bersama para santri dan petani.
Yang disharingkan dalam kolom ini adalah apa yang saya dapatkan dari dialog dengan anak-anak didik. Ada kerinduan anak-anak untuk menyampaikannya langsung kepada orangtua, namun entah mengapa leher mereka tercekat dan suaranya tak sampai ke sanubari kita. Tentu ada banyak cerita bagus dari mahasiswa berjiwa sehat yang tak bermasalah, namun saya batasi saja pada kasus-kasus penting yang perlu kita perhatikan yang tidak hanya saya temui di UI, melainkan merata di antara Generation C di berbagai kampus di nusantara.
Jangan Paksa Aku
"Selama bertahun-tahun hidupku hanya belajar dan menuruti kehendak orangtuaku. Mereka berpikir lebih mengetahui dan keputusannya selalu baik," begitu kata para mahasiswa. Mulanya saya terkejut juga, bukankah kuliah di universitas terkemuka suatu kebanggaan? "Itu kebanggan orang tua, bukan saya," ujar beberapa mahasiswa yang mengakui bahwa dirinya cukup pandai.
Suatu hari saya meluangkan waktu mendengarkan seluruh unek-unek mereka. Hari Minggu lalu, selama dua belas jam mereka maju ke depan berbicara tentang masa lalu dan masa depan. Tentu saja, banyak mahasiswa yang jiwanya sehat yang tak saya bahas di sini, namun semakin aneh perilaku mahasiswa, semakin tertantang saya mendengarkannya. Anda tentu ingin mengetahui apa yang saya maksud berperilaku aneh?
Begini, berpakaian tidak matching, aksesoris yang janggal. Menyebut diri handsome atau pintar dari kata-kata orangtua sendiri. Bercelana bahan kain seperti orang kantoran namun bersepatu kets. Jarang mandi, berpenampilan kumuh, aroma tak sedap. Berpenampilan religius, namun sorot matanya penuh amarah dan kata-katanya pedas.
Duduk menyendiri di sudut belakang tak berani memandang, setiap diajak bicara menunduk takut. Diminta maju ke depan tak bisa berbicara apa-apa. Bahkan anak-anak pandai pun, ada yang saat diminta maju ke depan, terlalu banyak bergerak. Dan seterusnya.
Orangtua mungkin berpikir tugasnya sudah selesai saat anaknya diterima di universitas terkenal, seakan terjamin masa depannya. Namun sewaktu saya "bongkar" melalui metode "naik panggung" terungkaplah segala unek-unek. Saya menemukan hidup sejumlah mahasiswa penuh larangan. Bahkan ada orangtua yang bila tahu anaknya pergi tanpa dosen akan panik dan melarang ikut.
Sebagian lagi sulit mengontrol amarah. Membanting tiga hingga enam buah ponsel atau seringkali ketinggalan dan hilang berturut-turut. Rupanya, ibunda sangat panik saat tak bisa menghubungi anak gadisnya. Karena itu, setiap kali hilang atau rusak, orangtua selalu menggantinya dengan ponsel baru.
Saya juga menemui satu dua rekaman-rekaman kurang sehat yang mengajarkan hanya cara mereka yang benar. Orang atau kelompok lain selalu salah dan pantas disingkirkan. Tak dapat saya bayangkan bagaimana masa depan anak-anak yang terpenjara belief-nya, miskin perspektif, tak punya empati. Selain itu, banyak orang pintar yang menganggap orang lain yang berhasil sebagai ancaman.
Life skill
Lantas apa hubungan antara perilaku-perilaku yang kurang baik itu dengan perjalanan ke luar negeri dan ke pesantren yang saya set di atas? Di atas pengetahuan yang dapat dibelikan orangtua untuk anak-anaknya, sesungguhnya mereka membutuhkan life skills. Life skills ini tidak didapatkan anak-anak dari guru kurikulum atau orangtua yang hanya mengejar nilai akademis, intelektual atau raport belaka. Mereka membutuhkan guru kehidupan, dan orang tua adalah guru hidup yang paling berarti bagi masa depan anak-anak.
Apa sajakah life skill itu? WHO pernah menyebutkan life skill adalah modal untuk hidup sehat, dan UNESCO mengatakan bangsa yang maju dan perekonomiannya memiliki daya saing adalah bangsa yang menaman life skill sedari dini.
Ellen Galinsky menyebutkan tujuh essential life skills, sedangkan yang lain menyebutkan sepuluh. Kemampuan mengelola rasa frustasi, cognitive flexibility, focus dan self control, kemampuan mengambil keputusan dengan jernih, menimbang resiko, berpikir logis, kritis dan kreatif, berkomunikasi artikulatif, berempati pada kesulitan orang lain, kemampuan melihat dari perspektif yang berbeda, dan terakhir adalah apa yang ditemukan psikolog Carol Dweck, growth mindset yang saya bahas dua minggu lalu.
Orangtua yang memaksa anak-anaknya perlu meluangkan waktu untuk mendengarkan dan introspeksi. Anak-anak yang berhasil adalah anak-anak yang memiliki life skills, dan bangsa yang menang adalah bangsa yang punya keterampilan untuk hidup dan yang cara berpikirnya sehat. Negeri ini membutuhkan orangtua yang cerdas dan guru yang pendidik, bukan pengajar yang sekedar memindahkan isi buku.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=68&Itemid=57
Minggu-minggu ini, orangtua, sibuk memikirkan anak-anak. Liburan, kenaikan kelas, kuliah dan jurusan, pekerjaan yang cocok dan seterusnya. Orangtua merasa berhak mengatur, menentukan masa depan anak-anaknya.
Pada waktu yang bersamaan saya menerima kembali mahasiswa saya dari berbagai lokasi. Mahasiswa S1 yang belum pernah menumpang pesawat, saya wajibkan pergi berdua atau bertiga keluar negeri. Jangan anda tanya dari mana uangnya, pokoknya ada keajaiban. Anak- anak petani dan PNS yang hidupnya serba pas-pasan di UI itu sekarang sudah melihat macam-macam negara: Saudi, India, Jepang, Macau, Hongkong, China, Laos, Kamboja, Thailand, dan Vietnam. Pokoknya pergi ke negara yang penduduknya tak bisa diajak bahasa ibu mereka, dan tidak diantar oleh dosennya.
Sedangkan mahasiswa MM yang rata-rata berasal dari kelas menengah atas, yang datang ke kampus dengan mobil pribadi, saya kirim ke sebuah pesantren di Lamongan yang mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan dan kasih sayang lintas agama. Di sana mereka diajak mengasihi sesama, merawat kaum lansia yang dibuang anak-anaknya di hutan, merawat anak-anak balita yang dibuang orangtuanya sejak bayi, melakukan susur sungai, diskusi di pasar, berdialog bersama para santri dan petani.
Yang disharingkan dalam kolom ini adalah apa yang saya dapatkan dari dialog dengan anak-anak didik. Ada kerinduan anak-anak untuk menyampaikannya langsung kepada orangtua, namun entah mengapa leher mereka tercekat dan suaranya tak sampai ke sanubari kita. Tentu ada banyak cerita bagus dari mahasiswa berjiwa sehat yang tak bermasalah, namun saya batasi saja pada kasus-kasus penting yang perlu kita perhatikan yang tidak hanya saya temui di UI, melainkan merata di antara Generation C di berbagai kampus di nusantara.
Jangan Paksa Aku
"Selama bertahun-tahun hidupku hanya belajar dan menuruti kehendak orangtuaku. Mereka berpikir lebih mengetahui dan keputusannya selalu baik," begitu kata para mahasiswa. Mulanya saya terkejut juga, bukankah kuliah di universitas terkemuka suatu kebanggaan? "Itu kebanggan orang tua, bukan saya," ujar beberapa mahasiswa yang mengakui bahwa dirinya cukup pandai.
Suatu hari saya meluangkan waktu mendengarkan seluruh unek-unek mereka. Hari Minggu lalu, selama dua belas jam mereka maju ke depan berbicara tentang masa lalu dan masa depan. Tentu saja, banyak mahasiswa yang jiwanya sehat yang tak saya bahas di sini, namun semakin aneh perilaku mahasiswa, semakin tertantang saya mendengarkannya. Anda tentu ingin mengetahui apa yang saya maksud berperilaku aneh?
Begini, berpakaian tidak matching, aksesoris yang janggal. Menyebut diri handsome atau pintar dari kata-kata orangtua sendiri. Bercelana bahan kain seperti orang kantoran namun bersepatu kets. Jarang mandi, berpenampilan kumuh, aroma tak sedap. Berpenampilan religius, namun sorot matanya penuh amarah dan kata-katanya pedas.
Duduk menyendiri di sudut belakang tak berani memandang, setiap diajak bicara menunduk takut. Diminta maju ke depan tak bisa berbicara apa-apa. Bahkan anak-anak pandai pun, ada yang saat diminta maju ke depan, terlalu banyak bergerak. Dan seterusnya.
Orangtua mungkin berpikir tugasnya sudah selesai saat anaknya diterima di universitas terkenal, seakan terjamin masa depannya. Namun sewaktu saya "bongkar" melalui metode "naik panggung" terungkaplah segala unek-unek. Saya menemukan hidup sejumlah mahasiswa penuh larangan. Bahkan ada orangtua yang bila tahu anaknya pergi tanpa dosen akan panik dan melarang ikut.
Sebagian lagi sulit mengontrol amarah. Membanting tiga hingga enam buah ponsel atau seringkali ketinggalan dan hilang berturut-turut. Rupanya, ibunda sangat panik saat tak bisa menghubungi anak gadisnya. Karena itu, setiap kali hilang atau rusak, orangtua selalu menggantinya dengan ponsel baru.
Saya juga menemui satu dua rekaman-rekaman kurang sehat yang mengajarkan hanya cara mereka yang benar. Orang atau kelompok lain selalu salah dan pantas disingkirkan. Tak dapat saya bayangkan bagaimana masa depan anak-anak yang terpenjara belief-nya, miskin perspektif, tak punya empati. Selain itu, banyak orang pintar yang menganggap orang lain yang berhasil sebagai ancaman.
Life skill
Lantas apa hubungan antara perilaku-perilaku yang kurang baik itu dengan perjalanan ke luar negeri dan ke pesantren yang saya set di atas? Di atas pengetahuan yang dapat dibelikan orangtua untuk anak-anaknya, sesungguhnya mereka membutuhkan life skills. Life skills ini tidak didapatkan anak-anak dari guru kurikulum atau orangtua yang hanya mengejar nilai akademis, intelektual atau raport belaka. Mereka membutuhkan guru kehidupan, dan orang tua adalah guru hidup yang paling berarti bagi masa depan anak-anak.
Apa sajakah life skill itu? WHO pernah menyebutkan life skill adalah modal untuk hidup sehat, dan UNESCO mengatakan bangsa yang maju dan perekonomiannya memiliki daya saing adalah bangsa yang menaman life skill sedari dini.
Ellen Galinsky menyebutkan tujuh essential life skills, sedangkan yang lain menyebutkan sepuluh. Kemampuan mengelola rasa frustasi, cognitive flexibility, focus dan self control, kemampuan mengambil keputusan dengan jernih, menimbang resiko, berpikir logis, kritis dan kreatif, berkomunikasi artikulatif, berempati pada kesulitan orang lain, kemampuan melihat dari perspektif yang berbeda, dan terakhir adalah apa yang ditemukan psikolog Carol Dweck, growth mindset yang saya bahas dua minggu lalu.
Orangtua yang memaksa anak-anaknya perlu meluangkan waktu untuk mendengarkan dan introspeksi. Anak-anak yang berhasil adalah anak-anak yang memiliki life skills, dan bangsa yang menang adalah bangsa yang punya keterampilan untuk hidup dan yang cara berpikirnya sehat. Negeri ini membutuhkan orangtua yang cerdas dan guru yang pendidik, bukan pengajar yang sekedar memindahkan isi buku.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=68&Itemid=57
Sekolah untuk apa??
Sekolah Untuk Apa? - Sindo 7 Juli 2011
Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak kita mencari sekolah. Masuk universitas pilihan, susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk, ternyata banyak yang "salah kamar". Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah.
Demikianlah, diterima di PTN masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja. Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S2. Jadi birokrat atau jendral pun, sekarang banyak yang ingin punya gelar S3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA tiga puluh tahun yang lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini. Bahkan sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya.
Mengapa hanya soal memindahkan anak karena pindah rumah ke sekolah negeri lain saja biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun. Lengkap sudah masalah kita.
Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa di negeri yang serba sulit ini?
Kesadaran Membangun SDM
Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, PM Malaysia Mahathir Mohammad sadar betul pentingnya pembangunan SDM. Ia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar S2 dan S3 ke berbagai negara maju. hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai sepuluh tahun, lulusan terbaik itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya anda bisa lihat sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan birokrasinya.
Perubahan bukan hanya sampai di situ. Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis, serta peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai ditinggalkan. Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan seterusnya. Tak mengherankan kalau sekolah-sekolah di berbagai belahan dunia pun mulai berubah.
Di negeri Belanda saya sempat terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa. "Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka yang mendaftar harus kami terima," ujar seorang dekan di Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik. Seleksinya sangat ketat.
Lantas bagaimana membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? "Mudah saja," ujar dekan itu. "Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan berbeda,"ujarnya.
Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di New Zealand. Meski murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA, angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi. Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah.
Yang lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di tingkat SLTA di New Zealand. Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam sepuluh besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk mewancarai lulusan sekolah itu masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan mengintip bagaimana pelajaran diajarkan. Di luar dugaan saya, pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.
Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang terlalu kognitif, dengan guru-guru yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai rata-rata diatas 80 (betapapun stress-nya mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif namun tak menguasai semua subjek. Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan kemampuan mengkopi isi buku dan cacatan. Entah dimana keguruan itu muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.
Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negri, mungkin guru-guru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri. Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? "undang-undang menjamin semua orang punya hak yang sama untuk belajar," ujar seorang guru di New Zealand.
Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan inputnya? "itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya," ujar putera sulung saya yang kuliah di Auckland University tahun ketiga. Maksudnya, tes masuk tetap ada, tetapi hanya dipakai untuk penempatan dan kualifikasi.
Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu matematika dan bahasa Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori: akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan. Sekolah dilarang hanya menerima anak-anak bernilai akademik tinggi karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak, khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka hanya super dikedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur. Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya diberikan secara kognitif semata.
Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masing-masing. Bagi mereka yang bercita-cita menjadi dokter maka biologi dan ilmu kimia wajib dikuasai. Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia. Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting, statistik, dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika. Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Bayangkan, bukankah cita-cita pembuat kurikulum itu orangnya hebat sekali? Mungkin dia manusia super. Seorang lulusan SLTA, tahun pertama harus menguasai 4 bidang science (biologi, ilmu kimia, fisika, dan Matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris, dan satu bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga, dan komputer. Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Sama seperti kurikulum program S1 dua puluh tahun yang lalu yang sejajar dengan program S1 yang digabung hingga S3 di Amerika. Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor menyelesaikan di atas 100 SKS, makanya hampir tak ada yang lulus. Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun.
Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian tapi tak ada masalah kok! Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah merubah banyak hal, anak-anak kita dikepung informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, namun datang dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, tapi dari segala resources. Ilmu belajar menjari lebih penting dari apa yang dipelajari itu sendiri, karena itu diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, Lifelong learning.
Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan, "Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak sepuluh tahun yang lalu. Makanya sekolah sekarang harus memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah, metode diperbaharui, fasilitas baru dibangun," ujar seorang guru.
Masih banyak yang ingin saya diskusikan, namun sampai di sini ada baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah, dan untuk apa kita bersekolah? Mudah-mudahan kita bisa mendiskusikan lebih dalam minggu depan dan semoga anak-anak kita mendapatkan masa depannya yang lebih baik.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/411134/34/
Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak kita mencari sekolah. Masuk universitas pilihan, susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk, ternyata banyak yang "salah kamar". Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah.
Demikianlah, diterima di PTN masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja. Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S2. Jadi birokrat atau jendral pun, sekarang banyak yang ingin punya gelar S3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA tiga puluh tahun yang lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini. Bahkan sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya.
Mengapa hanya soal memindahkan anak karena pindah rumah ke sekolah negeri lain saja biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun. Lengkap sudah masalah kita.
Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa di negeri yang serba sulit ini?
Kesadaran Membangun SDM
Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, PM Malaysia Mahathir Mohammad sadar betul pentingnya pembangunan SDM. Ia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar S2 dan S3 ke berbagai negara maju. hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai sepuluh tahun, lulusan terbaik itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya anda bisa lihat sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan birokrasinya.
Perubahan bukan hanya sampai di situ. Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis, serta peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai ditinggalkan. Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan seterusnya. Tak mengherankan kalau sekolah-sekolah di berbagai belahan dunia pun mulai berubah.
Di negeri Belanda saya sempat terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa. "Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka yang mendaftar harus kami terima," ujar seorang dekan di Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik. Seleksinya sangat ketat.
Lantas bagaimana membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? "Mudah saja," ujar dekan itu. "Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan berbeda,"ujarnya.
Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di New Zealand. Meski murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA, angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi. Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah.
Yang lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di tingkat SLTA di New Zealand. Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam sepuluh besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk mewancarai lulusan sekolah itu masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan mengintip bagaimana pelajaran diajarkan. Di luar dugaan saya, pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.
Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang terlalu kognitif, dengan guru-guru yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai rata-rata diatas 80 (betapapun stress-nya mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif namun tak menguasai semua subjek. Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan kemampuan mengkopi isi buku dan cacatan. Entah dimana keguruan itu muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.
Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negri, mungkin guru-guru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri. Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? "undang-undang menjamin semua orang punya hak yang sama untuk belajar," ujar seorang guru di New Zealand.
Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan inputnya? "itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya," ujar putera sulung saya yang kuliah di Auckland University tahun ketiga. Maksudnya, tes masuk tetap ada, tetapi hanya dipakai untuk penempatan dan kualifikasi.
Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu matematika dan bahasa Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori: akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan. Sekolah dilarang hanya menerima anak-anak bernilai akademik tinggi karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak, khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka hanya super dikedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur. Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya diberikan secara kognitif semata.
Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masing-masing. Bagi mereka yang bercita-cita menjadi dokter maka biologi dan ilmu kimia wajib dikuasai. Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia. Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting, statistik, dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika. Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Bayangkan, bukankah cita-cita pembuat kurikulum itu orangnya hebat sekali? Mungkin dia manusia super. Seorang lulusan SLTA, tahun pertama harus menguasai 4 bidang science (biologi, ilmu kimia, fisika, dan Matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris, dan satu bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga, dan komputer. Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Sama seperti kurikulum program S1 dua puluh tahun yang lalu yang sejajar dengan program S1 yang digabung hingga S3 di Amerika. Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor menyelesaikan di atas 100 SKS, makanya hampir tak ada yang lulus. Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun.
Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian tapi tak ada masalah kok! Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah merubah banyak hal, anak-anak kita dikepung informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, namun datang dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, tapi dari segala resources. Ilmu belajar menjari lebih penting dari apa yang dipelajari itu sendiri, karena itu diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, Lifelong learning.
Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan, "Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak sepuluh tahun yang lalu. Makanya sekolah sekarang harus memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah, metode diperbaharui, fasilitas baru dibangun," ujar seorang guru.
Masih banyak yang ingin saya diskusikan, namun sampai di sini ada baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah, dan untuk apa kita bersekolah? Mudah-mudahan kita bisa mendiskusikan lebih dalam minggu depan dan semoga anak-anak kita mendapatkan masa depannya yang lebih baik.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/411134/34/
Kualitas Hidup = Ketepatan - Kesalahan
Anda akan menjadi ahli dan terkemuka dalam apa pun,
jika Anda berupaya keras untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang sama.
Jika Anda harus membuat kesalahan, pastikanlah itu adalah kesalahan yang baru.
Siapa pun yang mengeluhkan kesalahan-kesalahan yang sama, adalah orang yang tidak belajar dari kesulitan yang disebabkan oleh kesalahan yang sudah sering dibuatnya.
Padahal, kesalahan mempunyai kelas, dan menunjukkan kelas dari orang yang melakukannya.
Sadarilah, bahwa melakukan kesalahan pada tingkat yang tinggi – bisa lebih mulia daripada tidak melakukan kesalahan dalam kehidupan kecil yang penuh kekhawatiran.
Maka,
Janganlah hanya menghindari kesalahan. Tetapi terutama, hindarkanlah diri dari melakukan kesalahan yang sama.
Karena,
Hanya orang yang tidak tumbuh kemampuan dan kebijakannya, yang membuat kesalahan yang sama.
………..
Sahabat saya yang sedang melebihkan kekuatannya untuk membangun kehidupan yang sejahtera dan berbahagia,
Kita diuntungkan oleh keputusan-keputusan kita yang tepat, dan dirugikan oleh kesalahan-kesalahan kita.
Marilah kita perhatikan,
Mengulangi keputusan yang tepat, bahkan yang sama, bahkan yang mengenai hal yang itu-itu juga – selama tepat, akan tetap menguntungkan kita.
Tetapi,
Mengulangi keputusan yang salah, yang sama, dan mengenai yang itu-itu juga – adalah tanda rendahnya perhatian.
Orang yang tidak memperhatikan bagaimana kehidupan ini memperlakukannya saat membuat kesalahan, akan dipaksa merasakan kerugian berulang dari rendahnya keikhlasan untuk belajar.
Yang tidak memperhatikan kehidupan, tidak akan diperhatikan oleh kehidupan.
Maka marilah kita memperhatikan formula sederhana ini, bahwa
Kualitas Hidup = Ketepatan - Kesalahan
Perhatikanlah dampak dari keputusan-keputusan Anda, baik keputusan yang Anda buat, atau saat Anda memutuskan untuk tidak memutuskan.
Orang yang bersyukur dan mengingat keuntungan dari keputusannya yang tepat, dan menyesal dan mengingat kerugian dari kesalahannya, akan menjadi pribadi yang sejahtera, berbahagia dan terhormat.
Orang yang menyombongkan diri dan memboroskan keuntungan dari keputusannya yang tepat, dan marah dan menyalahkan selain dirinya karena kerugian dari kesalahannya, akan menjadi pribadi yang serba kekurangan, gerah hatinya, dan dijadikan contoh yang buruk.
Mario Teguh Golden Way
Beauty and the Beast
MTGW – BEAUTY AND THE BEAST - Program Pointers
Sahabat Indonesia yang baik hatinya,
Berikut adalah pointers dari program
Mario Teguh Golden Ways
BEAUTY AND THE BEAST
Yang ditayangkan semalam di
METRO TV
19:05 – 20:00 WIB
Please kindly enjoy, absorb, and apply.
…………..
Life is a perpetual rivalry between the beauty and the beast, outside and inside us.
Kehidupan adalah persaingan abadi antara keindahan dan keburukan di luar dan di dalam diri kita.
Kedamaian adalah target bergerak.
Kita tidak mungkin bisa merasa damai untuk waktu yang lama, tanpa memelihara kemampuan hati kita untuk menjadi lebih kuat daripada keburukan yang terjadi dan yang ditujukan kepada kita.
Kedamaian kita hari ini sangat mungkin tidak menetap sampai besok pagi, dan sangat tidak mungkin untuk sesuai dengan tantangan kehidupan kita tahun depan.
Itu sebabnya kita harus tumbuh dalam kekuatan kita untuk mengabaikan yang tidak penting, dan mengutamakan keadaan, kejadian, dan orang yang penting bagi kebaikan hidup kita dan bagi peran kita untuk kebaikan sesama dan alam.
All great people have survived and take advantage of their internal personal contradictions.
Semua orang besar telah berhasil selamat dan mengambil keuntungan dari kontradiksi di dalam pribadi mereka.
Sesungguhnya mereka juga tercabik-cabik antara kepentingan dan ketertarikan yang saling bertentangan, antara yang enak sekarang dengan yang baik nanti, antara yang mengutamakan diri sendiri dan yang mengutamakan kepentingan orang lain, antara yang belum tentu benar dan yang tidak jelas kesalahannya, antara karir dan keluarga, dan antara cinta dan kewajiban.
Kita semua sesungguhnya adalah jiwa-jiwa yang dibingungkan dengan pilihan-pilihan yang menarik ke arah-arah yang berlawanan dengan kekuatan yang sama.
Itu sebabnya, Anda yang berhasil, adalah yang berhasil menyerahkan dirinya kepada kekuatan kebaikan yang menarik Anda kepada kedamaian dan peran-peran kehidupan yang membahagiakan sesama dan melestarikan keindahan alam.
There will be no peace outside when there is no peace inside.
Tidak akan ada kedamaian di luar, jika tidak ada kedamaian di dalam.
Indera kita tidak akan mampu melihat, mendengar, dan merasakan keindahan di sekitar kita, di rumah, di pekerjaan, dan di dunia ini jika hati kita sendiri tidak damai.
Kedamaian di dalam diri kita memampukan kita untuk melihat, mendengar, dan merasakan keindahan didalam kehidupan kita.
Hanya hati yang damai yang mampu merasakan kehidupan yang damai.
Do not try to defeat contradictions, you will never succeed; because they are the essence of life. Try instead float above them, gently and patiently.
Janganlah berusaha untuk mengalahkan kontradiksi, Anda tidak mungkin berhasil, karena kontradiksi adalah esensi dari kehidupan. Sebagai gantinya, cobalah untuk mengapung di atasnya, dengan anggun dan sabar.
Segala sesuatu di alam ini diciptakan berpasang-pasangan. Ada malam dan ada siang, ada kebaikan dan ada keburukan, ada kebahagiaan dan ada kesedihan, dan ada masa depan dan ada masa lalu.
Tapi bagi yang hatinya bening dan pikirannya jernih, sesungguhnya dalam setiap keadaan pun, ada pasangan kesempatan yang jika kita bijak memilihnya, kita akan diuntungkan; atau kita akan dirugikan jika kita mendahulukan sikap yang tidak baik.
Seperti,
Saat diberhentikan dari pekerjaan, reaksi alamiah Anda adalah marah, bersedih, atau kecewa karena diperlakukan tidak adil.
Atau, sangat bersyukur, karena sekarang Anda tidak perlu ragu-ragu lagi untuk memulai rencana wirausaha yang sudah lama tertahan, karena kekhawatiran Anda mengenai pekerjaan.
Bagi Anda yang memilih untuk bersikap baik, bahkan keburukan dan musibah pun adalah perintah untuk memperkuat diri dan memperbaiki kehidupan.
Jadi, tugas kita bukanlah untuk menghapus pertentangan antara kebaikan dan keburukan, antara kedamaian dan kekacauan, atau antara kesenangan dan penderitaan.
Tugas kita adalah untuk mengapung dengan anggun dan sabar di atas semua kontradiksi itu, dan menjadi sebaik-baik manusia; yaitu yang bermanfaat bagi kebaikan hidup sesama dan alam.
…………..
Tetaplah menjadi jiwa baik yang berbakat bagi kedamaian dan kesejahteraan
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh, SM 1
Founder | MTSuperClub | A Friend For Your Success | Jakarta
Sahabat Indonesia yang baik hatinya,
Berikut adalah pointers dari program
Mario Teguh Golden Ways
BEAUTY AND THE BEAST
Yang ditayangkan semalam di
METRO TV
19:05 – 20:00 WIB
Please kindly enjoy, absorb, and apply.
…………..
Life is a perpetual rivalry between the beauty and the beast, outside and inside us.
Kehidupan adalah persaingan abadi antara keindahan dan keburukan di luar dan di dalam diri kita.
Kedamaian adalah target bergerak.
Kita tidak mungkin bisa merasa damai untuk waktu yang lama, tanpa memelihara kemampuan hati kita untuk menjadi lebih kuat daripada keburukan yang terjadi dan yang ditujukan kepada kita.
Kedamaian kita hari ini sangat mungkin tidak menetap sampai besok pagi, dan sangat tidak mungkin untuk sesuai dengan tantangan kehidupan kita tahun depan.
Itu sebabnya kita harus tumbuh dalam kekuatan kita untuk mengabaikan yang tidak penting, dan mengutamakan keadaan, kejadian, dan orang yang penting bagi kebaikan hidup kita dan bagi peran kita untuk kebaikan sesama dan alam.
All great people have survived and take advantage of their internal personal contradictions.
Semua orang besar telah berhasil selamat dan mengambil keuntungan dari kontradiksi di dalam pribadi mereka.
Sesungguhnya mereka juga tercabik-cabik antara kepentingan dan ketertarikan yang saling bertentangan, antara yang enak sekarang dengan yang baik nanti, antara yang mengutamakan diri sendiri dan yang mengutamakan kepentingan orang lain, antara yang belum tentu benar dan yang tidak jelas kesalahannya, antara karir dan keluarga, dan antara cinta dan kewajiban.
Kita semua sesungguhnya adalah jiwa-jiwa yang dibingungkan dengan pilihan-pilihan yang menarik ke arah-arah yang berlawanan dengan kekuatan yang sama.
Itu sebabnya, Anda yang berhasil, adalah yang berhasil menyerahkan dirinya kepada kekuatan kebaikan yang menarik Anda kepada kedamaian dan peran-peran kehidupan yang membahagiakan sesama dan melestarikan keindahan alam.
There will be no peace outside when there is no peace inside.
Tidak akan ada kedamaian di luar, jika tidak ada kedamaian di dalam.
Indera kita tidak akan mampu melihat, mendengar, dan merasakan keindahan di sekitar kita, di rumah, di pekerjaan, dan di dunia ini jika hati kita sendiri tidak damai.
Kedamaian di dalam diri kita memampukan kita untuk melihat, mendengar, dan merasakan keindahan didalam kehidupan kita.
Hanya hati yang damai yang mampu merasakan kehidupan yang damai.
Do not try to defeat contradictions, you will never succeed; because they are the essence of life. Try instead float above them, gently and patiently.
Janganlah berusaha untuk mengalahkan kontradiksi, Anda tidak mungkin berhasil, karena kontradiksi adalah esensi dari kehidupan. Sebagai gantinya, cobalah untuk mengapung di atasnya, dengan anggun dan sabar.
Segala sesuatu di alam ini diciptakan berpasang-pasangan. Ada malam dan ada siang, ada kebaikan dan ada keburukan, ada kebahagiaan dan ada kesedihan, dan ada masa depan dan ada masa lalu.
Tapi bagi yang hatinya bening dan pikirannya jernih, sesungguhnya dalam setiap keadaan pun, ada pasangan kesempatan yang jika kita bijak memilihnya, kita akan diuntungkan; atau kita akan dirugikan jika kita mendahulukan sikap yang tidak baik.
Seperti,
Saat diberhentikan dari pekerjaan, reaksi alamiah Anda adalah marah, bersedih, atau kecewa karena diperlakukan tidak adil.
Atau, sangat bersyukur, karena sekarang Anda tidak perlu ragu-ragu lagi untuk memulai rencana wirausaha yang sudah lama tertahan, karena kekhawatiran Anda mengenai pekerjaan.
Bagi Anda yang memilih untuk bersikap baik, bahkan keburukan dan musibah pun adalah perintah untuk memperkuat diri dan memperbaiki kehidupan.
Jadi, tugas kita bukanlah untuk menghapus pertentangan antara kebaikan dan keburukan, antara kedamaian dan kekacauan, atau antara kesenangan dan penderitaan.
Tugas kita adalah untuk mengapung dengan anggun dan sabar di atas semua kontradiksi itu, dan menjadi sebaik-baik manusia; yaitu yang bermanfaat bagi kebaikan hidup sesama dan alam.
…………..
Tetaplah menjadi jiwa baik yang berbakat bagi kedamaian dan kesejahteraan
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh, SM 1
Founder | MTSuperClub | A Friend For Your Success | Jakarta
Ide yang terbaik adalah ide yang paling sederhana
MT Super Note - IDE YANG TERBAIK ADALAH IDE YANG PALING SEDERHANA
Sahabat saya yang baik hatinya,
Siapa pun yang memiliki kemampuan untuk menyederhanakan kepelikan hidup, akan menjadi pribadi yang berharga.
Perhatikanlah,
Ide-ide terbaik dalam kehidupan pribadi, karir, dan bisnis kita selalu sederhana.
Dan pribadi yang menarik bagi kita, adalah pribadi yang menyederhanakan sikap dan cara-cara pribadinya, sehingga kita mudah mengerti maksud baiknya, mudah mempercayai kemungkinan keuntungan yang bisa disampaikannya, dan mudah merasa damai dalam kebersamaan dengannya.
Kita tidak ingin menghabiskan hari-hari dalam kehidupan kita dengan orang yang kompleks, yang masih terkoyak antara kepelikan dan konflik antara logika dan perasaannya, antara idealisme dan kepalsuannya.
Setiap pribadi dari kita sesungguhnya sedang mengupayakan sudut pandang yang tepat, agar kita bisa melihat jalan naik yang menyederhanakan kepelikan pikiran dan emosi kita.
Maka apa dan siapa pun yang tidak membantu Anda menemukan sikap dan cara hidup yang sederhana, pasti akan membingungkan Anda dengan kepelikan.
Ingatlah, cara yang sederhana – saja, sulit untuk diterapkan, apalagi cara-cara yang sulit dan pelik.
Ide yang terbaik adalah ide yang paling sederhana.
Mario Teguh
Founder | MTSuperClub | A Friend For Your Success | Jakarta
Sahabat saya yang baik hatinya,
Siapa pun yang memiliki kemampuan untuk menyederhanakan kepelikan hidup, akan menjadi pribadi yang berharga.
Perhatikanlah,
Ide-ide terbaik dalam kehidupan pribadi, karir, dan bisnis kita selalu sederhana.
Dan pribadi yang menarik bagi kita, adalah pribadi yang menyederhanakan sikap dan cara-cara pribadinya, sehingga kita mudah mengerti maksud baiknya, mudah mempercayai kemungkinan keuntungan yang bisa disampaikannya, dan mudah merasa damai dalam kebersamaan dengannya.
Kita tidak ingin menghabiskan hari-hari dalam kehidupan kita dengan orang yang kompleks, yang masih terkoyak antara kepelikan dan konflik antara logika dan perasaannya, antara idealisme dan kepalsuannya.
Setiap pribadi dari kita sesungguhnya sedang mengupayakan sudut pandang yang tepat, agar kita bisa melihat jalan naik yang menyederhanakan kepelikan pikiran dan emosi kita.
Maka apa dan siapa pun yang tidak membantu Anda menemukan sikap dan cara hidup yang sederhana, pasti akan membingungkan Anda dengan kepelikan.
Ingatlah, cara yang sederhana – saja, sulit untuk diterapkan, apalagi cara-cara yang sulit dan pelik.
Ide yang terbaik adalah ide yang paling sederhana.
Mario Teguh
Founder | MTSuperClub | A Friend For Your Success | Jakarta
Melihat hal-hal biasa dari sudut pandang yg tidak biasa
MT Super Note - MELIHAT HAL-HAL BIASA DARI SUDUT PANDANG YANG TIDAK BIASA
Mario Teguh Mentoring Forum
Melihat Hal-Hal Biasa Dari Sudut Pandang Yang Tidak Biasa
dengan sub pokok bahasannya adalah:
1. tanggung-jawab pribadi bagi keberhasilan
2. sudut pandang yang meneroboskan
3. berbicara dengan logika yang jelas
4. berbicara dengan daya tarik yang kuat
5. personal style yang memikat
6. menjual pendapat
………..
Sahabat saya yang baik hatinya,
Semua pencapaian keberhasilan dalam kehidupan pribadi, karir, atau bisnis Anda, sangat bergantung kepada kemampuan pribadi Anda, untuk:
1. Melihat hal-hal biasa dari sudut pandang yang tidak biasa,
dan
2. Menyampaikannya dengan kejelasan logika dan daya tarik yang tidak biasa baiknya.
Sesungguhnya, tidak ada kebutuhan baru dalam kehidupan ini. Karena, semua yang kita sebut baru itu adalah cara-cara baru untuk memenuhi kebutuhan lama kita, yang berupa cara-cara yang lebih baik dari pada cara-cara lama kita.
Anda yang bisa melihat cara baru untuk memenuhi kebutuhan yang penting, akan ditempatkan pada posisi yang dihargai tinggi, dan yang dipercayakan kepemimpinan dalam bidang itu.
Lebih hebat lagi, jika Anda memiliki kemampuan untuk ‘menjual’ pengamatan unik Anda itu dengan paparan logika yang kejelasannya tak terpikirkan oleh orang lain, dan dengan daya tarik ‘personal style’ Anda yang juga tidak lazim baiknya.
Mohon selalu Anda sadari, bahwa keberhasilan apa pun yang sudah Anda capai, dan keberhasilan berikutnya yang masih berada dalam daftar impian Anda, semuanya berdiri di atas kualitas pribadi Anda.
Hanya Anda lah yang bisa memberhasilkan Anda.
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh
………..
Mudah-mudahan pointer di atas dapat membantu Anda memelihara fokus yang baik untuk menghormati hal-hal biasa yang selama ini tidak dilihat potensinya sebagai penghebat kehidupan pribadi dan karir.
Mudah-mudahan Tuhan memberkati Anda dengan hati yang ikhlas menghargai yang sudah ada pada Anda, dan menggunakannya sebagai modal dan sarana awal bagi peningkatan kebahagiaan, kemandirian finansial, dan pengembangan peran sosial yang bernilai.
Mohon Anda sampaikan comment dan pertanyaan Anda di www.mtsuperclub.com, agar rekan-rekan Moderator, Greeters, dan saya dapat membantu Anda menikmati penggunaan pengertian dari pointer di atas bagi kebaikan hidup Anda dan keluarga terkasih.
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh
Founder | MTSuperClub | Loving you all as always
Mario Teguh Mentoring Forum
Melihat Hal-Hal Biasa Dari Sudut Pandang Yang Tidak Biasa
dengan sub pokok bahasannya adalah:
1. tanggung-jawab pribadi bagi keberhasilan
2. sudut pandang yang meneroboskan
3. berbicara dengan logika yang jelas
4. berbicara dengan daya tarik yang kuat
5. personal style yang memikat
6. menjual pendapat
………..
Sahabat saya yang baik hatinya,
Semua pencapaian keberhasilan dalam kehidupan pribadi, karir, atau bisnis Anda, sangat bergantung kepada kemampuan pribadi Anda, untuk:
1. Melihat hal-hal biasa dari sudut pandang yang tidak biasa,
dan
2. Menyampaikannya dengan kejelasan logika dan daya tarik yang tidak biasa baiknya.
Sesungguhnya, tidak ada kebutuhan baru dalam kehidupan ini. Karena, semua yang kita sebut baru itu adalah cara-cara baru untuk memenuhi kebutuhan lama kita, yang berupa cara-cara yang lebih baik dari pada cara-cara lama kita.
Anda yang bisa melihat cara baru untuk memenuhi kebutuhan yang penting, akan ditempatkan pada posisi yang dihargai tinggi, dan yang dipercayakan kepemimpinan dalam bidang itu.
Lebih hebat lagi, jika Anda memiliki kemampuan untuk ‘menjual’ pengamatan unik Anda itu dengan paparan logika yang kejelasannya tak terpikirkan oleh orang lain, dan dengan daya tarik ‘personal style’ Anda yang juga tidak lazim baiknya.
Mohon selalu Anda sadari, bahwa keberhasilan apa pun yang sudah Anda capai, dan keberhasilan berikutnya yang masih berada dalam daftar impian Anda, semuanya berdiri di atas kualitas pribadi Anda.
Hanya Anda lah yang bisa memberhasilkan Anda.
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh
………..
Mudah-mudahan pointer di atas dapat membantu Anda memelihara fokus yang baik untuk menghormati hal-hal biasa yang selama ini tidak dilihat potensinya sebagai penghebat kehidupan pribadi dan karir.
Mudah-mudahan Tuhan memberkati Anda dengan hati yang ikhlas menghargai yang sudah ada pada Anda, dan menggunakannya sebagai modal dan sarana awal bagi peningkatan kebahagiaan, kemandirian finansial, dan pengembangan peran sosial yang bernilai.
Mohon Anda sampaikan comment dan pertanyaan Anda di www.mtsuperclub.com, agar rekan-rekan Moderator, Greeters, dan saya dapat membantu Anda menikmati penggunaan pengertian dari pointer di atas bagi kebaikan hidup Anda dan keluarga terkasih.
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh
Founder | MTSuperClub | Loving you all as always
PERSONAL VISION - KEMAMPUAN UNTUK MELIHAT YANG BELUM DILIHAT OLEH ORANG LAIN
Sahabat saya yang besar impiannya,
Setiap orang adalah pemimpin.
Jika dia bukan pemimpin bagi keluarganya dan bagi orang lain, dia harus menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.
Orang yang tidak mampu mengalahkan kecenderungan pribadinya untuk menjadi pribadi yang kalah melawan rasa malas, menyerah di bawah paksaan kesenangan sementara, dan mendahulukan kebiasaan untuk menunda, tidak akan mampu memimpin siapa pun untuk mencapai apa pun.
Dalam bahasan di MT Super Forum kali ini, marilah kita memeriksa kembali keefektifan dari visi kita mengenai peran kita dalam kehidupan kita hari ini dan di masa depan.
Mario Teguh Super Forum
PERSONAL VISION
KEMAMPUAN UNTUK MELIHAT YANG BELUM DILIHAT OLEH ORANG LAIN
Di www.MTSuperClub.com
Sahabat saya yang jernih pikirannya,
RAHASIA KEBERHASILAN DI MASA DEPAN ADALAH KEMAMPUAN UNTUK MELIHAT YANG BELUM DILIHAT OLEH ORANG LAIN.
Kita menghargai diri kita sendiri dari kejelasan kemungkinan yang bisa kita capai.
Dan orang-orang yang kita pimpin menghargai kita dari kejelasan kemungkinan yang bisa mereka capai di bawah kepemimpinan kita.
Sebagai pemimpin, kita dituntut untuk mampu melihat potensi dari bisnis, organisasi, dan melihat potensi pasar lebih baik dari yang bisa dilihat oleh para pemimpin dari bisnis pesaing kita.
Kemampuan untuk mengenali potensi inilah yang membuat seorang pemimpin memiliki business confidence, keyakinan bisnis, yang terkadang sulit diikuti oleh anggota organisasinya.
Seorang pemimpin yang efektif memiliki business confidence dan kepiawaian untuk menularkan keyakinan bisnis-nya itu ke seluruh anggota organisasinya.
Sebagian di antara kita tidak bisa duduk tenang atau tidur dengan lelap karena kegirangan yang kuat atas janji-janji kemungkinan yang bisa kita capai di masa depan.
Tapi tidak sedikit rekan kita yang telah tidak bermimpi lagi.
Mereka tidak lagi percaya bahwa mereka berhak untuk berhasil, untuk mencapai kemungkinan yang sebetulnya menjadi hak kelahiran mereka.
Mereka tidak digirangkan oleh kemungkinan-kemungkinan yang bisa mereka capai, dan tidak menyadari nilai dari memimpikan pencapaian kemungkinan.
Mereka tidak sadar bahwa
MIMPI ADALAH SEBUAH BENTUK PERENCANAAN.
Marilah selalu kita ingat, bahwa
Orang yang hanya memimpikan yang kecil, tidak mungkin pantas untuk memimpin keluarga atau organisasi yang impiannya besar.
bagaimana mungkin pribadi yang tak bermimpi, jadi menarik bagi calon pasangan hidup yang memimpikan peran kehidupan yang besar?
Bagaimana mungkin seorang suami yang impiannya kecil dan penakut, bisa membahagiakan istri yang rencananya besar bagi kemajuan pendidikan dan kehidupan anak-anaknya di masa depan?
Bagaimana mungkin seorang istri yang maunya hanya menyenangkan dirinya dengan hiburan murahan yang tak berguna, bisa pantas mendampingi seorang suami yang seorang profesional senior atau pebisnis yang besar impiannya dan yang berkelas pergaulannya?
MIMPI ADALAH SEBUAH BENTUK PERENCANAAN
Maka jika rencana Anda besar, hati Anda akan ramah kepada impian-impian besar.
Maka jika impian Anda besar, ramahkanlah diri Anda kepada rencana-rencana yang besar.
Dan jika rencana-rencana Anda besar, biasakanlah untuk bersegera melakukan hal-hal kecil yang terdekat dengan Anda, yang penyelesaiannya akan mengantarkan Anda kepada hasil-hasil yang besar.
Apakah Anda melihat diri Anda sebagai pribadi yang besar di masa depan?
Ingatlah,
Anda menghargai diri Anda sendiri dari kejelasan kemungkinan yang bisa Anda capai.
………..
Sahabat saya yang baik hatinya,
Sampaikanlah komentar dan pertanyaan Anda di sini, agar kami semua bisa terlibat dalam diskusi yang mencerahkan pengertian kita bagi peran-peran kehidupan yang bisa kita emban sendiri-sendiri atau secara bersama.
Tetaplah menjadi jiwa baik yang dicintai Tuhan, yang memantaskan diri bagi sebesar-besarnya rezeki.
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh, SM 1
Founder | MTSuperClub | A Friend For Your Success | Jakarta
Karir Kedua
Artikel ini dimuat di Jawapos 25 Juli 2011
Di masa lalu, rata-rata pegawai dan eksekutif Indonesia hanya menikmati satu karier saja sepanjang hidupnya. Maksud saya, bukan hanya pada satu jenis industri saja, melainkan juga pada satu perusahaan. Orangtua saya dulu bekerja untuk sebuah perusahaan pelayaran, dan ia hanya bekerja di sana sampai pensiun. Demikian pula para pegawai yang bekerja di BUMN dan perusahaan-perusahaan besar, apakah itu perkebunan, minyak dan gas, pertambangan, logistik, airlines, dan sebagainya.
Semakin besar perusahaan dan semakin banyak paket "kenyamanan", maka makin betahlah seorang berkarir. Turn over kepindahan rendah. Dan tahukah Anda, perusahaan yang dirancang seperti ini rata-rata usia karyawannya cukup tua. Rata-rata usia karyawan di perusahaan perkebunan milik negara adalah 45-50 tahun, dosen di universitas tua, 40 tahun serta usia pegawai Pertamina saat mulai dipimpin Arie Sumarno adalah 45 tahun. Bandingkan dengan universitas yg masih muda (30 tahun), Trans TV (dugaan saya, 26 tahun), IT - based companies (rata-rata 27 tahun).
Saya rasakan bedanya, kalau mampir ke perusahaan yang mapan saya dipanggil bapak, sedangkan di Trans TV mereka memanggil saya "Oom". Sudah begitu turn over karyawannya tinggi sekali, sangat kompetitif, jam kerja padat, proaktif, dan kreatif.
Namun semakin ke sini banyak perusahaan yang membongkar diri menjadi lebih muda, dinamis, dan agresif. Dalam buku Cracking Zone, saya menyebutkan telah terjadi peralihan dari "budaya kucing" menjadi "budaya cheetah".
Kompetisi di dalam lebih keras, comfort zone menjadi musuh kemajuan. Kinerja semua orang diukur, yang rajin membolos atau tak menghasilkan apa-apa diberi paket pensiun dini atau keluar. Maka sejak lima tahun terakhir ini dunia karyawan Indonesia mulai mengenal istilah "karir kedua". Kalau berhenti bekerja atau keluar dari sangkar emas di usia kepala empat, apa yang mau dilakukan?
Segudang Pilihan
Orang-orang dulu hanya punya pilihan ganti kerja. Dari Guru sekolah negeri ke sekolah swasta, dari PTPN ke perkebunan swasta, dari Pertamina ke Shell atau Petronas dan seterusnya. Tetapi sekarang Anda punya banyak pilihan. Kemarin saya didatangi mantan pegawai departemen keuangan yang kini menjadi pengusaha SPBU. Seorang kepala bagian distribusi sebuah media cetak kini menjadi pemilik restoran bebek goreng. Mantan direktur keuangan BUMN menjadi politisi. Istri saya yang dulu bekerja kini menjadi penggiat sosial. Pilihannya luas sekali, mulai dari menjadi wirausaha, politisi, ustads atau pendeta, aktivis sosial, pendongeng, penyiar radio, pelukis, lobist, penulis buku, guru, dan sebagainya.
Semua pilihan ada di tangan Anda. Sekarang juga ada banyak alat tes yang dapat Anda andalkan untuk menemukan bakat. Mulai dari tes tertulis, foto aura, finger test, psikotes sampai fortune teller dan tes bakat melalui internet.
Tetapi harap diperhatikan, bakat itu hanya menggambarkan potensi belaka. Potensi itu baru bisa menjadi kekuatan kalau Anda berhasil menemukan "pintunya". Maka, keluarlah dari sangkar emas Anda, berjalanlah menemukan seribu satu orang, datangi berbagai pihak, niscaya Anda akan menemukan jalan tol yang membawa potensi itu ke pintu gerbang kebahagiaan.
Manajemen Frustasi
Namanya juga karir kedua, pasti tak senyaman hidup di ujung karir pertama. Di awal karir kedua semua orang akan memulai lagi hidupnya dari segala ketidaknyamanan. Tak peduli berapapun usia Anda, di awal karir kedua Anda adalah junior yang tengah berevolusi. Gamang, kurang luwes, ragu-ragu, banyak bengongnya, lebih sering kalah daripada menang, kurang pede, belum banyak dikenal, dan seterusnya.
Maka di Amerika Serikat, banyak universitas dan college yang menawarkan program transisi yang membantu karyawan-karyawan di usia 40-an yang ingin hijrah ke karir kedua. Program second career ini bisa Anda temui di hampir semua kota, dan pemerintah memberi dukungan yang tinggi supaya mereka tidak menjadi penganggur yang memberatkan negara dan keluarganya.
Saya pikir ada baiknya program seperti ini mulai digagas di sini. Namun apapun pilihan yang Anda ambil, saya kira setiap orang yang pindah kwadran hendaknya sadar bahwa tak ada keberhasilan tanpa kemampuan mengelola rasa frustrasi. Tak ada upaya baru yang seketika akan sukses, dan selama Anda memulainya Anda pasti akan mengalami masa-masa yang sulit. Dan kalau kurang berhasil, jangan diamkan. Lakukan sesuatu dan tiupkan ruh kesegaran agar cahaya kembali bersinar seperti ketika Anda memulai karir pertama dulu. Selamat memasuki karir kedua.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=91&Itemid=57
Di masa lalu, rata-rata pegawai dan eksekutif Indonesia hanya menikmati satu karier saja sepanjang hidupnya. Maksud saya, bukan hanya pada satu jenis industri saja, melainkan juga pada satu perusahaan. Orangtua saya dulu bekerja untuk sebuah perusahaan pelayaran, dan ia hanya bekerja di sana sampai pensiun. Demikian pula para pegawai yang bekerja di BUMN dan perusahaan-perusahaan besar, apakah itu perkebunan, minyak dan gas, pertambangan, logistik, airlines, dan sebagainya.
Semakin besar perusahaan dan semakin banyak paket "kenyamanan", maka makin betahlah seorang berkarir. Turn over kepindahan rendah. Dan tahukah Anda, perusahaan yang dirancang seperti ini rata-rata usia karyawannya cukup tua. Rata-rata usia karyawan di perusahaan perkebunan milik negara adalah 45-50 tahun, dosen di universitas tua, 40 tahun serta usia pegawai Pertamina saat mulai dipimpin Arie Sumarno adalah 45 tahun. Bandingkan dengan universitas yg masih muda (30 tahun), Trans TV (dugaan saya, 26 tahun), IT - based companies (rata-rata 27 tahun).
Saya rasakan bedanya, kalau mampir ke perusahaan yang mapan saya dipanggil bapak, sedangkan di Trans TV mereka memanggil saya "Oom". Sudah begitu turn over karyawannya tinggi sekali, sangat kompetitif, jam kerja padat, proaktif, dan kreatif.
Namun semakin ke sini banyak perusahaan yang membongkar diri menjadi lebih muda, dinamis, dan agresif. Dalam buku Cracking Zone, saya menyebutkan telah terjadi peralihan dari "budaya kucing" menjadi "budaya cheetah".
Kompetisi di dalam lebih keras, comfort zone menjadi musuh kemajuan. Kinerja semua orang diukur, yang rajin membolos atau tak menghasilkan apa-apa diberi paket pensiun dini atau keluar. Maka sejak lima tahun terakhir ini dunia karyawan Indonesia mulai mengenal istilah "karir kedua". Kalau berhenti bekerja atau keluar dari sangkar emas di usia kepala empat, apa yang mau dilakukan?
Segudang Pilihan
Orang-orang dulu hanya punya pilihan ganti kerja. Dari Guru sekolah negeri ke sekolah swasta, dari PTPN ke perkebunan swasta, dari Pertamina ke Shell atau Petronas dan seterusnya. Tetapi sekarang Anda punya banyak pilihan. Kemarin saya didatangi mantan pegawai departemen keuangan yang kini menjadi pengusaha SPBU. Seorang kepala bagian distribusi sebuah media cetak kini menjadi pemilik restoran bebek goreng. Mantan direktur keuangan BUMN menjadi politisi. Istri saya yang dulu bekerja kini menjadi penggiat sosial. Pilihannya luas sekali, mulai dari menjadi wirausaha, politisi, ustads atau pendeta, aktivis sosial, pendongeng, penyiar radio, pelukis, lobist, penulis buku, guru, dan sebagainya.
Semua pilihan ada di tangan Anda. Sekarang juga ada banyak alat tes yang dapat Anda andalkan untuk menemukan bakat. Mulai dari tes tertulis, foto aura, finger test, psikotes sampai fortune teller dan tes bakat melalui internet.
Tetapi harap diperhatikan, bakat itu hanya menggambarkan potensi belaka. Potensi itu baru bisa menjadi kekuatan kalau Anda berhasil menemukan "pintunya". Maka, keluarlah dari sangkar emas Anda, berjalanlah menemukan seribu satu orang, datangi berbagai pihak, niscaya Anda akan menemukan jalan tol yang membawa potensi itu ke pintu gerbang kebahagiaan.
Manajemen Frustasi
Namanya juga karir kedua, pasti tak senyaman hidup di ujung karir pertama. Di awal karir kedua semua orang akan memulai lagi hidupnya dari segala ketidaknyamanan. Tak peduli berapapun usia Anda, di awal karir kedua Anda adalah junior yang tengah berevolusi. Gamang, kurang luwes, ragu-ragu, banyak bengongnya, lebih sering kalah daripada menang, kurang pede, belum banyak dikenal, dan seterusnya.
Maka di Amerika Serikat, banyak universitas dan college yang menawarkan program transisi yang membantu karyawan-karyawan di usia 40-an yang ingin hijrah ke karir kedua. Program second career ini bisa Anda temui di hampir semua kota, dan pemerintah memberi dukungan yang tinggi supaya mereka tidak menjadi penganggur yang memberatkan negara dan keluarganya.
Saya pikir ada baiknya program seperti ini mulai digagas di sini. Namun apapun pilihan yang Anda ambil, saya kira setiap orang yang pindah kwadran hendaknya sadar bahwa tak ada keberhasilan tanpa kemampuan mengelola rasa frustrasi. Tak ada upaya baru yang seketika akan sukses, dan selama Anda memulainya Anda pasti akan mengalami masa-masa yang sulit. Dan kalau kurang berhasil, jangan diamkan. Lakukan sesuatu dan tiupkan ruh kesegaran agar cahaya kembali bersinar seperti ketika Anda memulai karir pertama dulu. Selamat memasuki karir kedua.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=91&Itemid=57
Lead by Heart - Michael D. Ruslim
Tribute To Michael Ruslim - Sindo 2 Juni 2011
Rabu sore (01 Juni 2011) keluarga besar PT. Astra International Tbk meluncurkan buku “Lead by Heart” yang ditulis sebagai a tribute (penghormatan) kepada CEO yang dicintai banyak orang. Michael adalah CEO PT. Astra International Tbk (2005-2010) yang meninggal dunia di puncak kariernya, 20 Januari 2010.
Kepergiannya meninggalkan banyak kenangan indah, karena ia seorang pemimpin yang tidak hanya baik hati saja, melainkan juga mewariskan prestasi yang sangat membanggakan. Banyak orang percaya, kinerja yang dicapai Astra hari ini, tidak lepas dari kepemimpinannya di masa lalu.
Seperti acara pemberian tribute lainnya yang pernah saya hadiri, penuh puji-puji. Dan almarhum Michael sepertinya layak mendapatkannya. Ia seorang CEO yang cerdas, cepat menangkap inti persoalan, rendah hati, sederhana, berbelas kasih, dan memiliki segudang empati. Sebagai pembicara dalam talkshow yang disampaikan sahabat-sahabat dan mentornya, saya diminta memberi kajian akademis tentang gaya manajemen dan leadership. Berikut adalah alasan saya.
Buaya atau Lumba-Lumba
Saya mulai penjelasan saya dengan tipologi dua jenis kepemimpinan yang diperkenalkan Joseph White beberapa tahun yang lalu. Manusia pekerja dan manajer umumnya terbagi ke dalam dua dikotomi, yaitu tipe buaya (reptil) dan tipe lumba-lumba (mamalia). Perbedaan antara keduanya ini sudah sering saya ulas, dan mungkin Anda sudah pernah membacanya.
Dalam berbagai pelatihan saya sering meminta pada para peserta agar mengidentifikasi diri masing-masing apakah mereka tipe buaya atau lumba-lumba. Dan seperti yang saya duga hampir semua peserta lebih senang menyebut dirinya sebagai lumba-lumba. Mengapa lumba-lumba?
“Karena lumba-lumba lucu, pandai, dan baik hati,” ujar mereka.
Satu-dua peserta mengaku sebagai buaya. Bagi mereka buaya itu bengis dan kalau cari makan berani jalan sendiri. Tetapi setelah saya berikan alat tes ternyata mereka saling berkebalikan. Banyak ditemui”buaya” yang merasa dirinya “lumba-lumba”, demikian juga sebaliknya.
Lantas seperti apakah kepemimpinan Michael D. Ruslim? Sepintas ia seperti mamalia, bukan? Mamalia biasanya punya ciri-ciri berempati, merawat (nurture), pandai, intuitif, partisipatif dan hangat. Tetapi dilain pihak, sahabat dan rekan-rekan kerjanya juga menyebut ciri-ciri lain yang dimiliki oleh “buaya” seperti disiplin, decisive, detail, rational dan number cruncher. Dalam buku “Lead by Heart” terungkap hal-hal yang demikian. Tetapi bedanya ia tidak memelihara sifat-sifat ”ganas” buaya seperti : berdarah dingin, memisahkan diri (detach), agresif, dan menyerang.
Menurut Jusuf Kalla yang hadir pada kesempatan itu, pemimpin bisnis biasanya memimpin dengan akal, bukan dengan hati. Itu sebabnya di Bugis, pengusaha disebut saudagar yang berarti memiliki seribu akal. Sedangkan almarhum Michael justru sebaliknya: Hati memimpin otaknya.
Bagaimana kita menjelaskan fenomena ini? Tentu saja keberhasilan Michael Ruslim tidak mudah ditiru oleh orang lain. Sebab setiap orang dibesarkan dalam suasana batin yang berbeda-beda. Hati manusia tidak sama. Michael dibesarkan dalam keluarga pengusaha yang praktis hidup dalam suasana yang “peaceful”. Ia tidak memiliki beban sejarah yang membuatnya mudah naik pitam atau kehilangan rasa percaya diri. Ia juga dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih dan santun.
Dalam karir sesorang, perjalanan pertamanya biasanya diisi oleh salah satu dari kedua dikotomi di atas. Tetapi berlangsungnya waktu, manusia yang belajar pun berubah.
Manusia reptilia yang pandai mampu melihat sisi-sisi positif mamalia, sekaligus sisi-sisi buruk reptilia. Demikian juga dengan manusia mamalia. Kalau mereka belajar, pasti dengan cepat mereka ingin mengambil kekuatan-kekuatan reptilia, sekaligus membuang sifat-sifat tertentu mamalia yang cenderung lunak dan populis.
Apa-apa saja yang dibuang dan apa-apa saja yang diambil akan menentukan mereka menjadi apa.
Yang jelas, pemimpin besar bukanlah salah satu dari kedua dikotomi diatas. Pemimpin besar justru lahir dari kombinasi pembelajaran keduanya yang saya sebut sebagai “mama-reptil”. Hanya saja, ada mama-reptil yang cenderung mammals dan ada yang cenderung reptiles. Orang-orang yang dibesarkan dalam tradisi profesi kenangan biasanya cenderung reptiles, sedangkan mereka yang dibesarkandalam tradisi SDM biasanya agak mammals. Nah, pembelajaran dan siapa mentor mereka akan menentukan mereka akan menjadi apa.
Dari pembicaraan orang-orang dekat almarhum Michael Ruslim, saya hampir dapat menyimpulkan, CEO baik hati ini sebagai mama-reptil dengan kecenderungan mamalia. Tidak mengherankan bila banyak orang yang mengenalnya menyebut almarhum sebagai angels (malaikat).
Datangkan Energy
Namun demikian, perlu saya garis bawahi nasehat Joseph White. Pemimpin besar, bukanlah seorang pekerja tekun. Ia adalah seorang besar yang memiliki kemampuan “helicopter view”.
Tugas seorang pemimpin bukanlah mengerjakan hal-hal teknis, melainkan menciptakan tiga kondisi. Pertama, bangun aspirasi yang mungkin mendukung. Kedua, dapatkan orang-orang bagus (great leader). Dan ketiga, bawa energi besar ke tengah-tengah mereka dan bangun antusiasme untuk bergerak.
Saya percaya Anda semua merindukan pemimpin yang baik hati. Tetapi lebih dari itu kita butuh pemimpin yang bisa membawa energi besar untuk menciptakan perubahan. Jadilah pemimpin yang berhati mulia, bersih, namun tetap mengedepankan kinerja.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=65&Itemid=57
Rabu sore (01 Juni 2011) keluarga besar PT. Astra International Tbk meluncurkan buku “Lead by Heart” yang ditulis sebagai a tribute (penghormatan) kepada CEO yang dicintai banyak orang. Michael adalah CEO PT. Astra International Tbk (2005-2010) yang meninggal dunia di puncak kariernya, 20 Januari 2010.
Kepergiannya meninggalkan banyak kenangan indah, karena ia seorang pemimpin yang tidak hanya baik hati saja, melainkan juga mewariskan prestasi yang sangat membanggakan. Banyak orang percaya, kinerja yang dicapai Astra hari ini, tidak lepas dari kepemimpinannya di masa lalu.
Seperti acara pemberian tribute lainnya yang pernah saya hadiri, penuh puji-puji. Dan almarhum Michael sepertinya layak mendapatkannya. Ia seorang CEO yang cerdas, cepat menangkap inti persoalan, rendah hati, sederhana, berbelas kasih, dan memiliki segudang empati. Sebagai pembicara dalam talkshow yang disampaikan sahabat-sahabat dan mentornya, saya diminta memberi kajian akademis tentang gaya manajemen dan leadership. Berikut adalah alasan saya.
Buaya atau Lumba-Lumba
Saya mulai penjelasan saya dengan tipologi dua jenis kepemimpinan yang diperkenalkan Joseph White beberapa tahun yang lalu. Manusia pekerja dan manajer umumnya terbagi ke dalam dua dikotomi, yaitu tipe buaya (reptil) dan tipe lumba-lumba (mamalia). Perbedaan antara keduanya ini sudah sering saya ulas, dan mungkin Anda sudah pernah membacanya.
Dalam berbagai pelatihan saya sering meminta pada para peserta agar mengidentifikasi diri masing-masing apakah mereka tipe buaya atau lumba-lumba. Dan seperti yang saya duga hampir semua peserta lebih senang menyebut dirinya sebagai lumba-lumba. Mengapa lumba-lumba?
“Karena lumba-lumba lucu, pandai, dan baik hati,” ujar mereka.
Satu-dua peserta mengaku sebagai buaya. Bagi mereka buaya itu bengis dan kalau cari makan berani jalan sendiri. Tetapi setelah saya berikan alat tes ternyata mereka saling berkebalikan. Banyak ditemui”buaya” yang merasa dirinya “lumba-lumba”, demikian juga sebaliknya.
Lantas seperti apakah kepemimpinan Michael D. Ruslim? Sepintas ia seperti mamalia, bukan? Mamalia biasanya punya ciri-ciri berempati, merawat (nurture), pandai, intuitif, partisipatif dan hangat. Tetapi dilain pihak, sahabat dan rekan-rekan kerjanya juga menyebut ciri-ciri lain yang dimiliki oleh “buaya” seperti disiplin, decisive, detail, rational dan number cruncher. Dalam buku “Lead by Heart” terungkap hal-hal yang demikian. Tetapi bedanya ia tidak memelihara sifat-sifat ”ganas” buaya seperti : berdarah dingin, memisahkan diri (detach), agresif, dan menyerang.
Menurut Jusuf Kalla yang hadir pada kesempatan itu, pemimpin bisnis biasanya memimpin dengan akal, bukan dengan hati. Itu sebabnya di Bugis, pengusaha disebut saudagar yang berarti memiliki seribu akal. Sedangkan almarhum Michael justru sebaliknya: Hati memimpin otaknya.
Bagaimana kita menjelaskan fenomena ini? Tentu saja keberhasilan Michael Ruslim tidak mudah ditiru oleh orang lain. Sebab setiap orang dibesarkan dalam suasana batin yang berbeda-beda. Hati manusia tidak sama. Michael dibesarkan dalam keluarga pengusaha yang praktis hidup dalam suasana yang “peaceful”. Ia tidak memiliki beban sejarah yang membuatnya mudah naik pitam atau kehilangan rasa percaya diri. Ia juga dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih dan santun.
Dalam karir sesorang, perjalanan pertamanya biasanya diisi oleh salah satu dari kedua dikotomi di atas. Tetapi berlangsungnya waktu, manusia yang belajar pun berubah.
Manusia reptilia yang pandai mampu melihat sisi-sisi positif mamalia, sekaligus sisi-sisi buruk reptilia. Demikian juga dengan manusia mamalia. Kalau mereka belajar, pasti dengan cepat mereka ingin mengambil kekuatan-kekuatan reptilia, sekaligus membuang sifat-sifat tertentu mamalia yang cenderung lunak dan populis.
Apa-apa saja yang dibuang dan apa-apa saja yang diambil akan menentukan mereka menjadi apa.
Yang jelas, pemimpin besar bukanlah salah satu dari kedua dikotomi diatas. Pemimpin besar justru lahir dari kombinasi pembelajaran keduanya yang saya sebut sebagai “mama-reptil”. Hanya saja, ada mama-reptil yang cenderung mammals dan ada yang cenderung reptiles. Orang-orang yang dibesarkan dalam tradisi profesi kenangan biasanya cenderung reptiles, sedangkan mereka yang dibesarkandalam tradisi SDM biasanya agak mammals. Nah, pembelajaran dan siapa mentor mereka akan menentukan mereka akan menjadi apa.
Dari pembicaraan orang-orang dekat almarhum Michael Ruslim, saya hampir dapat menyimpulkan, CEO baik hati ini sebagai mama-reptil dengan kecenderungan mamalia. Tidak mengherankan bila banyak orang yang mengenalnya menyebut almarhum sebagai angels (malaikat).
Datangkan Energy
Namun demikian, perlu saya garis bawahi nasehat Joseph White. Pemimpin besar, bukanlah seorang pekerja tekun. Ia adalah seorang besar yang memiliki kemampuan “helicopter view”.
Tugas seorang pemimpin bukanlah mengerjakan hal-hal teknis, melainkan menciptakan tiga kondisi. Pertama, bangun aspirasi yang mungkin mendukung. Kedua, dapatkan orang-orang bagus (great leader). Dan ketiga, bawa energi besar ke tengah-tengah mereka dan bangun antusiasme untuk bergerak.
Saya percaya Anda semua merindukan pemimpin yang baik hati. Tetapi lebih dari itu kita butuh pemimpin yang bisa membawa energi besar untuk menciptakan perubahan. Jadilah pemimpin yang berhati mulia, bersih, namun tetap mengedepankan kinerja.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=65&Itemid=57
Leadership Style: Decisive
Gaya Pengambilan Keputusan Decisive
Prof. Michael J. Driver dan koleganya telah meneliti bahwa selain perbedaan dalam jumlah informasi yang dipergunakan dan jumlah alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam mengambil keputusan, setiap orang juga bervariasi dalam melakukan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Variasi tersebut antara lain dalam beberapa hal seperti faktor yang dihargai, perencanaan, tujuan, organisasi, komunikasi, dan kepemimpinan.
Decisive. Seperti telah disinggung, individu yang menggunakan gaya ini memanfaatkan jumlah informasi yang minimum untuk sampai pada satu kesimpulan. Gaya ini sangat menghargai faktor kecepatan, efisiensi, dan konsistensi.
Mereka tergolong individu-individu yang berorientasi pada kerja dan hasil. Mereka menggunakan data dasar yang minimal untuk merancang perencanaan yang terorganisasi dan terkontrpl secara cermat. Perencanaan hanya dalam jangka pendek saja, dan deadline dibuat secara kritis. Hanya satu atau dua tujuan yang hendak diraih.
Tipe ini memiliki fokus tunggal, biasanya terhadap tujuan atau sasaran organisasi. Tipe Decisive lebih suka struktur organisasi yang hirarkhis dengan rantai kontrol dan peraturan-peraturan yang singkat dan jelas. Komunikasi haruslah ringkas dan to the point. Kemudian semuanya harus melewati manajer. Laporan tertulis haruslah dalam format ringkas dan terfokus pada hasil dan tindakan yang direkomendasikan. Seorang yang tergolong Decisive hanya suka menerima satu solusi, dan umumnya laporan yang detail sering dikembalikan, didiamkan, atau diserahkan kepada seseorang untuk disimpulkan.
Seorang Dicisive menerima wewenang didasarkan pada posisi dalam perusahaan. Mereka memotivasi karyawan dengan sistem hukuman terhadap yang melakukan kesalahan. Keputusan bersifat unilateral, dan bawahan diharuskan untuk melaksanakannya segera.
Satu contoh yang tepat dari Decisive style adalah pemimpin militer dan Presiden AS utama, Dwight Eisenhower. Dikenal sangat menjunjung sistem nilai, Eisenhower juga dikenal atas kejujuran dan integritasnya. Dia tertarik pada tindakan, bukan ide. Hasil kongkrit sangat penting baginya, dan dia tak suka mengacu pada berbagai ideologi ekonomi yang komprehensif.
Eisenhower membuat keputusan berdasarkan data yang sesedikit mungkin dan meminta stafnya untuk hanya menyampaikan informasi yang paling penting saja serta membuat laporan ringkas. Dia mendirikan organisasi tipe militer yang ketat yang didasarkan atas loyalitas. Dia melihat jabatannya sebagai pemilik perusahaan dan membuat keputusan yang penting sendirian setelah bawahannya menyampaikan pemikiran masing-masing. Meskipun banyak intelektual yang mengkritik kebiasaannya yang kurang menggunakan data, toh integritas dan kejujurannya mampu mengangkat dirinya sebagai figur yang dihormati masyarakat.
Sumber : MAjalah Eksekutif edisi Oktober 1989.
http://rajapresentasi.com/2009/12/gaya-pengambilan-keputusan-decisive/
Prof. Michael J. Driver dan koleganya telah meneliti bahwa selain perbedaan dalam jumlah informasi yang dipergunakan dan jumlah alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam mengambil keputusan, setiap orang juga bervariasi dalam melakukan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Variasi tersebut antara lain dalam beberapa hal seperti faktor yang dihargai, perencanaan, tujuan, organisasi, komunikasi, dan kepemimpinan.
Decisive. Seperti telah disinggung, individu yang menggunakan gaya ini memanfaatkan jumlah informasi yang minimum untuk sampai pada satu kesimpulan. Gaya ini sangat menghargai faktor kecepatan, efisiensi, dan konsistensi.
Mereka tergolong individu-individu yang berorientasi pada kerja dan hasil. Mereka menggunakan data dasar yang minimal untuk merancang perencanaan yang terorganisasi dan terkontrpl secara cermat. Perencanaan hanya dalam jangka pendek saja, dan deadline dibuat secara kritis. Hanya satu atau dua tujuan yang hendak diraih.
Tipe ini memiliki fokus tunggal, biasanya terhadap tujuan atau sasaran organisasi. Tipe Decisive lebih suka struktur organisasi yang hirarkhis dengan rantai kontrol dan peraturan-peraturan yang singkat dan jelas. Komunikasi haruslah ringkas dan to the point. Kemudian semuanya harus melewati manajer. Laporan tertulis haruslah dalam format ringkas dan terfokus pada hasil dan tindakan yang direkomendasikan. Seorang yang tergolong Decisive hanya suka menerima satu solusi, dan umumnya laporan yang detail sering dikembalikan, didiamkan, atau diserahkan kepada seseorang untuk disimpulkan.
Seorang Dicisive menerima wewenang didasarkan pada posisi dalam perusahaan. Mereka memotivasi karyawan dengan sistem hukuman terhadap yang melakukan kesalahan. Keputusan bersifat unilateral, dan bawahan diharuskan untuk melaksanakannya segera.
Satu contoh yang tepat dari Decisive style adalah pemimpin militer dan Presiden AS utama, Dwight Eisenhower. Dikenal sangat menjunjung sistem nilai, Eisenhower juga dikenal atas kejujuran dan integritasnya. Dia tertarik pada tindakan, bukan ide. Hasil kongkrit sangat penting baginya, dan dia tak suka mengacu pada berbagai ideologi ekonomi yang komprehensif.
Eisenhower membuat keputusan berdasarkan data yang sesedikit mungkin dan meminta stafnya untuk hanya menyampaikan informasi yang paling penting saja serta membuat laporan ringkas. Dia mendirikan organisasi tipe militer yang ketat yang didasarkan atas loyalitas. Dia melihat jabatannya sebagai pemilik perusahaan dan membuat keputusan yang penting sendirian setelah bawahannya menyampaikan pemikiran masing-masing. Meskipun banyak intelektual yang mengkritik kebiasaannya yang kurang menggunakan data, toh integritas dan kejujurannya mampu mengangkat dirinya sebagai figur yang dihormati masyarakat.
Sumber : MAjalah Eksekutif edisi Oktober 1989.
http://rajapresentasi.com/2009/12/gaya-pengambilan-keputusan-decisive/
Kepemimpinan
Pengertian Kepemimpinan
Pengertian Kepemimpinan Dalam suatu organisasi kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi. Kepemimpinan merupakan titik sentral dan penentu kebijakan dari kegiatan yang akan dilaksanakan dalam organisasi. Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Thoha, 1983:123). Sedangkan menurut Robbins (2002:163) Kepemimpian adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan. Sedangkan menurut Ngalim Purwanto (1991:26) Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.
Dari pengertian diatas kepemimpinan mengandung beberapa unsur pokok antara lain:
1) kepemimpinan melibatkan orang lain dan adanya situasi kelompok atau organisasi tempat pemimpin dan anggotanya berinteraksi,
2) di dalam kepemimpinan terjadi pembagian kekuasaan dan proses mempengaruhi bawahan oleh pemimpin, dan
3) adanya tujuan bersama yang harus dicapai.
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu.
Beberapa pendapat ahli mengenai Kepemimipinan :
1. Menurut John Piffner, Kepemimpinan merupakan seni dalam mengkoordinasikan dan
mengarahkan individu atau kelompok untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki
(H. Abu Ahmadi, 1999:124-125)
2. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu
(Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
3. Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti Kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan
(Jacobs & Jacques, 1990, 281)
4. Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan, proses, atau fungsi pada umumnya untuk mempengaruhi orang-orang agar berbuat sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
(Slamet, 2002: 29)
5. Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
(Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7)
6. Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu
(Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 29)
7. Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Thoha, 1983:123).
8. Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.
( Ngalim Purwanto ,1991:26)
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku Aeseorang atau sekelompok orang untuk meneapai tujuan tertentu pada situasi tertentu. Kepemimpinan merupakan masalah sosial yang di dalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara mempengafuhi, membujuk, memotivasi dan mengkoordinasi. Dari sini dapat dipahami bahwa tugas utatna seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya tidak hanya terbatas pada kemampuannya dalam melaksanakan program-program saja, tetapi lebih dari itu yaitu pemimpin harus mempu melibatkan seluruh lapisan organisasinya, anggotanya atau masyarakatnya untuk ikut berperan aktif sehingga mereka mampu memberikan kontribusi yang posetif dalam usaha mencapai tujuan.
Faktor-faktor penting yang terdapat dalam pengertian kepemimpinan:
1. Pendayagunaan Pengaruh
2. Hubungan Antar Manusia
3. Proses Komunikasi dan
4. Pencapaian Suatu Tujuan.
Unsur-Unsur Mendasar
Unsur-unsur yang mendasari kepemimpinan dari defmisi-defmisi yang dikemukakan di atas, adalah:
1. Kemampuan mempengaruhi orang lain (kelompok/bawahan).
2. Kemampuan mengarahkan atau memotivasi tingkah laku orang lain atau kelompok.
3. Adanya unsur kerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Prinsip-Prinsip Dasar Kepemimpinan
Karakteristik seorang pemimpin didasarkan kepada prinsip-prinsip (Stephen R. Coney) sebagai berikut:
1. Seorang yang belajar seumur hidup : Tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga diluar sekolah. Contohnya, beJajar melalui membaca, menulis, observasi, dan mendengar. Mempunyai pengalaman yang baik maupun yang buruk sebagai sumber belajar.
2. Berorientasi pada pelayanan : Seorang pemimpin tidak dilayani tetapi melayani, sebab prinsip pemimpjn dengan prinsip melayani berdasarkan karir sebagai tujuan utama. Dalam memberi pelayanan, pemimpin seharusnya lebih berprinsip pada pelayanan yang baik.
3. Membawa energi yang positif : Setiap orang mempunyai energi dan semangat. Menggunakan energi yang positif didasarkan pada keikhlasan dan keinginan mendukung kesuksesan orang lain. Untuk itu dibutuhkan energi positif untuk membangun hubungan baik. Seorang pemimpin hams dapat dan mau bekerja untuk jangka waktu yang lama dan kondisi tidak ditentukan. Oleh karena itu, seorang pemimpin haras dapat menunjukkan energi yang positif, seperti;
a. Percaya pada orang lain : Seorang pemimpin mempercayai orang lain termasuk staf bawahannya, sehingga mereka mempunyai motivasi dan mempertahankan pekerjaan yang baik. Oleh karena itu, kepercayaan harus diikuti dengan kepedulian.
b. Keseimbangan dalam kehidupan : Seorang pemimpin haras dapat menyeimbangkan tugasnya. Berorientasi kepada prinsip kemanusiaan dan keseimbangan diri antara kerja dan olah raga, istirahat dan rekreasi. Keseimbangan juga berarti seimbang antara kehidupan dunia dan akherat.
c. Melihat kehidupan sebagai tantangan : Kata ‘tantangan’ sering diinterpretasikan negatif. Dalam hal ini tantangan berarti kemampuan untuk menikmati hidup dan segala konsekuensinya. Sebab kehidupan adalah suatu tantangan yang dibutuhkan, mempunyai rasa aman yang datang dari dalam diri sendiri. Rasa aman tergantung pada inisiatif, ketrampilan, kreatifitas, kemauan, keberanian, dinamisasi dan kebebasan.
d. Sinergi : Orang yang berprinsip senantiasa hidup dalam sinergi dan satu katalis perubahan, Mereka selalu mengatasi kelemahannya sendiri dan lainnya. Sinergi adalah kerja kelompok dan memberi keuntungan kedua belah pihak. Menurut The New Brolier Webster International Dictionary, Sinergi adalah satu kerja kelompok, yang mana memberi hasil lebih efektif dari pada bekerja secara perorangan. Seorang pemimpin harus dapat bersinergis dengan setiap orang,
atasan, staf, teman sekerja.
e. Latihan mengembangkan diri sendiri :
Seorang pemimpin harus dapat memperbaharui diri sendiri untuk mencapai keberhasilan yang tinggi. Jadi dia tidak hanya berorientasi pada proses. Proses dalam mengembangkan diri terdiri dari beberapa komponen yang berhubungan dengan:
1) pemahaman materi;
2) memperluas materi melalui belajar dan pengalaman;
3) mengajar materi kepada orang lain;
4) mengaplikasikan prinsip-prinsip;
5) memonitoring hasil;
6) merefleksikan kepada hasil;
7) menambahkan pengetahuan baru yang diperlukan materi;
Blog dengan ID 26250 Tidak ada
Persyaratan Pemimpin
Di dalam Islam seorang pemimpin haruslah mempunyai sifat:
1. S1DDIQ artinya jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan
2. FATHONAH artinya jerdas, memiliki intelektualitas tinggi dan professional
3. AMANAH artinya dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel
4. TABLIGH artinya senantiasa menyammpaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan, dan komunikatif.
Di dalam Alkitab peminipin harus mempunya sifat dasar :
Bertanggung jawab, Berorientasi pada sasaran, Tegas, Cakap, Bertumbuh, Memberi Teladan, Dapat membangkitkan semangat, Jujur, Setia, Murah hati, Rendah hati, Efisien, Memperhatikan, Mampu berkomunikasi, Dapat mempersatukan, serta Dapat mengajak.
Pada ajaran Budha di kenal dengan DASA RAJA DHAMMA yang terdiri dari :
• DHANA (suka menolong, tidak kikir dan ramah tamah),
• SILA (bermoralitas tinggi),
• PARICAGA Imengorban segala sesuatu demi rakyat),
• AJJAVA (jujur dan bersih),
• MADDAVA (ramah tamah dan sopan santun),
• TAPA (sederhana dalam penghidupan),
• AKKHODA (bebas dari kebencian dan permusuhan),
• AVIHIMSA (tanpa kekerasan)
• KHANTI (sabar, rendah hati, dan pemaaf),
• AVIRODHA (tidak menentang dan tidak menghalang-halangi).
Pada ajaran Hindu, falsafah kepemimpinan dijelaskan dengan istilah-istilah:
• PANCA STITI DHARMENG PRABHU yang artinya lima ajaran seorang pemimpin,
• CATUR KOTAMANING NREPATI yang artinya empat sifat utama seorang pemimpin
• ASTA BRATlA yang artinya delapan sifat mulia para dewa,
CATUR NAYA SANDHI yang artinya empat tindakan seorang pemimpin, Dalam Catur Naya Shandi pemimpin harus mempunyai sifat yaitu :
- SAMA /dapat menandingi kekuatan musuh
- BHEDA /dapat melaksanakan tata tertib dan disiplin kerja
- DHANA /dapat mengutamakan sandang dan papan untuk rakyat
- DANDHA / dapat menghukum dengan adil mereka yang bersalah.
Trait Theory (Keith Davis)
Ciri Utama Pemimpin Yang Berhasil
• Intelegensia
• Kematangan Sosial
• Inner Motivation
• Human Relation Attitude
Ciri-Ciri Pemimpin Sukses ( Stogdill; 1974)
• Adaptable To Situations
• Alert To Social Environment
• Ambitious And Achievement Oriented
• Assertive
• Cooperative
• Decisive
• Dependable
• Dominant (Desire To Influence Others)
• Energetic (High Activity Level)
• Persistent
. Self-Confident
• Tolerant Of Stress
• Willing To Assujne Responsibility
Skills Pemimpin Sukses (Stogdill; 1974)
. Clever
. Conceptually Skilled
• Creative
• Diplomatic And Tactful
• Fluent In Speaking
• Knowledgeable About Group Task
• Organized (Administrative Ability)
• Persuasive
• Socially Skilled
http://pakarbisnisonline.blogspot.com/2010/01/pengertian-kepemimpinan.html
Pengertian Kepemimpinan Dalam suatu organisasi kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi. Kepemimpinan merupakan titik sentral dan penentu kebijakan dari kegiatan yang akan dilaksanakan dalam organisasi. Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Thoha, 1983:123). Sedangkan menurut Robbins (2002:163) Kepemimpian adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan. Sedangkan menurut Ngalim Purwanto (1991:26) Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.
Dari pengertian diatas kepemimpinan mengandung beberapa unsur pokok antara lain:
1) kepemimpinan melibatkan orang lain dan adanya situasi kelompok atau organisasi tempat pemimpin dan anggotanya berinteraksi,
2) di dalam kepemimpinan terjadi pembagian kekuasaan dan proses mempengaruhi bawahan oleh pemimpin, dan
3) adanya tujuan bersama yang harus dicapai.
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu.
Beberapa pendapat ahli mengenai Kepemimipinan :
1. Menurut John Piffner, Kepemimpinan merupakan seni dalam mengkoordinasikan dan
mengarahkan individu atau kelompok untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki
(H. Abu Ahmadi, 1999:124-125)
2. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu
(Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
3. Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti Kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan
(Jacobs & Jacques, 1990, 281)
4. Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan, proses, atau fungsi pada umumnya untuk mempengaruhi orang-orang agar berbuat sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
(Slamet, 2002: 29)
5. Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
(Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7)
6. Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu
(Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 29)
7. Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Thoha, 1983:123).
8. Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.
( Ngalim Purwanto ,1991:26)
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku Aeseorang atau sekelompok orang untuk meneapai tujuan tertentu pada situasi tertentu. Kepemimpinan merupakan masalah sosial yang di dalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara mempengafuhi, membujuk, memotivasi dan mengkoordinasi. Dari sini dapat dipahami bahwa tugas utatna seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya tidak hanya terbatas pada kemampuannya dalam melaksanakan program-program saja, tetapi lebih dari itu yaitu pemimpin harus mempu melibatkan seluruh lapisan organisasinya, anggotanya atau masyarakatnya untuk ikut berperan aktif sehingga mereka mampu memberikan kontribusi yang posetif dalam usaha mencapai tujuan.
Faktor-faktor penting yang terdapat dalam pengertian kepemimpinan:
1. Pendayagunaan Pengaruh
2. Hubungan Antar Manusia
3. Proses Komunikasi dan
4. Pencapaian Suatu Tujuan.
Unsur-Unsur Mendasar
Unsur-unsur yang mendasari kepemimpinan dari defmisi-defmisi yang dikemukakan di atas, adalah:
1. Kemampuan mempengaruhi orang lain (kelompok/bawahan).
2. Kemampuan mengarahkan atau memotivasi tingkah laku orang lain atau kelompok.
3. Adanya unsur kerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Prinsip-Prinsip Dasar Kepemimpinan
Karakteristik seorang pemimpin didasarkan kepada prinsip-prinsip (Stephen R. Coney) sebagai berikut:
1. Seorang yang belajar seumur hidup : Tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga diluar sekolah. Contohnya, beJajar melalui membaca, menulis, observasi, dan mendengar. Mempunyai pengalaman yang baik maupun yang buruk sebagai sumber belajar.
2. Berorientasi pada pelayanan : Seorang pemimpin tidak dilayani tetapi melayani, sebab prinsip pemimpjn dengan prinsip melayani berdasarkan karir sebagai tujuan utama. Dalam memberi pelayanan, pemimpin seharusnya lebih berprinsip pada pelayanan yang baik.
3. Membawa energi yang positif : Setiap orang mempunyai energi dan semangat. Menggunakan energi yang positif didasarkan pada keikhlasan dan keinginan mendukung kesuksesan orang lain. Untuk itu dibutuhkan energi positif untuk membangun hubungan baik. Seorang pemimpin hams dapat dan mau bekerja untuk jangka waktu yang lama dan kondisi tidak ditentukan. Oleh karena itu, seorang pemimpin haras dapat menunjukkan energi yang positif, seperti;
a. Percaya pada orang lain : Seorang pemimpin mempercayai orang lain termasuk staf bawahannya, sehingga mereka mempunyai motivasi dan mempertahankan pekerjaan yang baik. Oleh karena itu, kepercayaan harus diikuti dengan kepedulian.
b. Keseimbangan dalam kehidupan : Seorang pemimpin haras dapat menyeimbangkan tugasnya. Berorientasi kepada prinsip kemanusiaan dan keseimbangan diri antara kerja dan olah raga, istirahat dan rekreasi. Keseimbangan juga berarti seimbang antara kehidupan dunia dan akherat.
c. Melihat kehidupan sebagai tantangan : Kata ‘tantangan’ sering diinterpretasikan negatif. Dalam hal ini tantangan berarti kemampuan untuk menikmati hidup dan segala konsekuensinya. Sebab kehidupan adalah suatu tantangan yang dibutuhkan, mempunyai rasa aman yang datang dari dalam diri sendiri. Rasa aman tergantung pada inisiatif, ketrampilan, kreatifitas, kemauan, keberanian, dinamisasi dan kebebasan.
d. Sinergi : Orang yang berprinsip senantiasa hidup dalam sinergi dan satu katalis perubahan, Mereka selalu mengatasi kelemahannya sendiri dan lainnya. Sinergi adalah kerja kelompok dan memberi keuntungan kedua belah pihak. Menurut The New Brolier Webster International Dictionary, Sinergi adalah satu kerja kelompok, yang mana memberi hasil lebih efektif dari pada bekerja secara perorangan. Seorang pemimpin harus dapat bersinergis dengan setiap orang,
atasan, staf, teman sekerja.
e. Latihan mengembangkan diri sendiri :
Seorang pemimpin harus dapat memperbaharui diri sendiri untuk mencapai keberhasilan yang tinggi. Jadi dia tidak hanya berorientasi pada proses. Proses dalam mengembangkan diri terdiri dari beberapa komponen yang berhubungan dengan:
1) pemahaman materi;
2) memperluas materi melalui belajar dan pengalaman;
3) mengajar materi kepada orang lain;
4) mengaplikasikan prinsip-prinsip;
5) memonitoring hasil;
6) merefleksikan kepada hasil;
7) menambahkan pengetahuan baru yang diperlukan materi;
Blog dengan ID 26250 Tidak ada
Persyaratan Pemimpin
Di dalam Islam seorang pemimpin haruslah mempunyai sifat:
1. S1DDIQ artinya jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan
2. FATHONAH artinya jerdas, memiliki intelektualitas tinggi dan professional
3. AMANAH artinya dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel
4. TABLIGH artinya senantiasa menyammpaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan, dan komunikatif.
Di dalam Alkitab peminipin harus mempunya sifat dasar :
Bertanggung jawab, Berorientasi pada sasaran, Tegas, Cakap, Bertumbuh, Memberi Teladan, Dapat membangkitkan semangat, Jujur, Setia, Murah hati, Rendah hati, Efisien, Memperhatikan, Mampu berkomunikasi, Dapat mempersatukan, serta Dapat mengajak.
Pada ajaran Budha di kenal dengan DASA RAJA DHAMMA yang terdiri dari :
• DHANA (suka menolong, tidak kikir dan ramah tamah),
• SILA (bermoralitas tinggi),
• PARICAGA Imengorban segala sesuatu demi rakyat),
• AJJAVA (jujur dan bersih),
• MADDAVA (ramah tamah dan sopan santun),
• TAPA (sederhana dalam penghidupan),
• AKKHODA (bebas dari kebencian dan permusuhan),
• AVIHIMSA (tanpa kekerasan)
• KHANTI (sabar, rendah hati, dan pemaaf),
• AVIRODHA (tidak menentang dan tidak menghalang-halangi).
Pada ajaran Hindu, falsafah kepemimpinan dijelaskan dengan istilah-istilah:
• PANCA STITI DHARMENG PRABHU yang artinya lima ajaran seorang pemimpin,
• CATUR KOTAMANING NREPATI yang artinya empat sifat utama seorang pemimpin
• ASTA BRATlA yang artinya delapan sifat mulia para dewa,
CATUR NAYA SANDHI yang artinya empat tindakan seorang pemimpin, Dalam Catur Naya Shandi pemimpin harus mempunyai sifat yaitu :
- SAMA /dapat menandingi kekuatan musuh
- BHEDA /dapat melaksanakan tata tertib dan disiplin kerja
- DHANA /dapat mengutamakan sandang dan papan untuk rakyat
- DANDHA / dapat menghukum dengan adil mereka yang bersalah.
Trait Theory (Keith Davis)
Ciri Utama Pemimpin Yang Berhasil
• Intelegensia
• Kematangan Sosial
• Inner Motivation
• Human Relation Attitude
Ciri-Ciri Pemimpin Sukses ( Stogdill; 1974)
• Adaptable To Situations
• Alert To Social Environment
• Ambitious And Achievement Oriented
• Assertive
• Cooperative
• Decisive
• Dependable
• Dominant (Desire To Influence Others)
• Energetic (High Activity Level)
• Persistent
. Self-Confident
• Tolerant Of Stress
• Willing To Assujne Responsibility
Skills Pemimpin Sukses (Stogdill; 1974)
. Clever
. Conceptually Skilled
• Creative
• Diplomatic And Tactful
• Fluent In Speaking
• Knowledgeable About Group Task
• Organized (Administrative Ability)
• Persuasive
• Socially Skilled
http://pakarbisnisonline.blogspot.com/2010/01/pengertian-kepemimpinan.html
Subscribe to:
Posts (Atom)