Statistik Pernikahan
Statistik tdk bisa berbohong. Di singapore, tingkat perceraian naik dari 4.298 tahun 1995 menjadi 5.160 pada tahun 2000 dan di tahun 2008 menjadi 7.220. Artinya 20 pernikahan berantakan tiap hari, kota2 dunia seperti Shanghai, New York, Mumbai, Seoul, Jakarta, dll, mhadapi tantangan2 serupa bahkan lebih besar lagi. Angka ini hanya mengacu pd perceraian yang sah. Sebuah survei oleh LSM singapore, 2/3 pasangan2 yg menikah tinggal bersama demi penampilan, demi uang, demi anak2 meskipun suami atau istri mereka berselingkuh, meskipun 1/3 di antaranya tetap tdk pernah bahagia dan anak2 menderita depresi sbg akibatnya. Setelah anak2 dewasa/pergi kuliah/kerja/menikah, mereka akan membawa suami/istri mrka ke pengadilan dan cepat2 menceraikan mereka. Pasangan yg bercerai justru pasangan2 senior, seperti di Jepang tahun 1975, 6.510 pasangan bercerai setelah 20 thn lebih mrka menikah, dan tahun 2002 menjadi 45.536 pasangan yg bercerai.
Nilai yang menyimpang adalah masyarakt kita menempatkan nilai terlalu tinggi untuk uang. Cinta uang dan materialisme merupakan dua sisi mata uang yang sama.
Identitas diri kita hampir selalu sinonim dgn pekerjaan dan uang yang dihasilkan. Itulah sebabnya para ortu (tmsk saya) ingin anak2 menjadi banker, lawyer, doctor, engineer, bukan saja krn pekerjaan itu bergengsi, melainkan jg krn menghasilkan uang yang paling banyak. Masyarakat mengukur kita bdk. kontribusi ekonomi kita, demikian pula keluarga dan teman2 sebaya kita.
Perhatikan baik-baik. Uang membuat dunia berputar dan salah jalan. Perburuan kita akan kebahagiaan mjd pemburuan kita akan uang. Jangan salah paham, uang itu penting, ttpi sayang sekali bagi sebagian besar kita telah menjadikannya sbg prioritas tertinggi. Kita membawa perspektif ini dalam RELASI pernikahan, di mana setiap pasangan ingin menghasilkan lebih banyak dan lebih banyak lagi uang utk mbeli rumah lbh nyaman, peralatan yang bagus, liburan ke tempat wisata tereksotis setiap tahun, dsb.
Dan kita ingin mendapatkannya sesegera mungkin, bukan?? Kita bekerja susah payah, lembur, memperoleh lebih banyak uang lembur, mengambil dua pekerjaan spy dpt memenuhi kebutuhan kita. Sebagai akibatnya, kita mengorbankan RELASI. Uang di dlm krisis ini mjd test situasi genting di dlm relasi kita. Uang tdk mmutuskan relasi. Cinta kita pada uanglah yang memutuskan relasi pernikahan itu, jadi tidak mengherankan pd akhirnya jika kita tdk menyediakan wktu bagi pasangan2 kita, atau pasangan2 kita tdk menyediakan waktu bagi kita.
Fakta di Singapore (jg di Jakarta saya pikir), melaporkan tekanan pekerjaan utk mencapai target kerja yang fantastis "berhasil" mencipatakan kekacauan luar biasa dalam keseimbangan hidup pekerjaan-pernikahan.
Pasangan2 yang keduanya mencari nafkah memiliki lebih sedikit waktu utk saling berbagi, sehingga utk menciptakan ketegangan-ketegangan pernikahan, dan meningkatkan tingkat resiko perceraian sah maupun sembunyi-sembunyi.
Kita menjadi tidak begitu begitu sering berhubungan dan jarang melakukan hal-hal bersama contohnya untuk bersenang-senang. Kita tdk menyediakan waktu / berusaha melakukannya. Sungguh ironis, setelah menikah kita menjadi lebih sulit utk saling bersikap lebih manis ketimbang sebelum menikah; kurang sopan, kurang manis, kurang memaafkan, kurang meminta maaf, dan kurang bersyukur, di mana kita tdk lagi menunjukkan perhatian yg penuh kasih.
"Jangan pernah bekerja hanya utk uang dan kekuasaan, mereka tdk akan menyelamatkan jiwa Anda / mbuat Anda tertidur lelap pada malam hari" Marian Wright Edelman.
"Rantai-rantai tdk memersatukan pernikahan. Tetapi benang-benang. Ratusan ribu benang haluslah yang menjahit orang-orang bersama-sama selama bertahun-tahun". Simone Signoret
(Diambil dari Renungan "Dimsum utk Keluarga", John Ng, published in Singapore)
Friday, December 9, 2011
Sunday, October 30, 2011
Emosian bangeeet yaa...
Saat seorang laki2 sedang memoles mobil barunya, anaknya yg berumur 3 tahun membaret2 mobilnya dng batu. Dengan marah, laki2 tsb meraih tangan anaknya dan memukulnya berkali2; tanpa menyadari dia memukulnya dng kunci inggris.
Singkatnya, di rumah sakit, anak itu harus kehilangan jari2nya karena kerusakan tulang yg sangat parah.
Saat anak tsb melihat ayahnya, dng pandangan kesakitan, bertanya, "Ayah, akankah jari2ku tumbuh lagi?" Lelaki tsb,yg adalah ayahnya, sangat terluka, menyesal dan kehilangan kata2 ... ia kembali ke mobilnya lalu menendangnya berkali2 melampiaskan penyesalannya. Hatinya semakin hancur ketika dia berdiri tepat di hadapan mobilnya, ia melihat baret2 yg dilakukan anaknya di mobilnya tertulis;
"AKU CINTA AYAH!"
Teman - teman,
MARAH & CINTA tidak ada batasnya; pilihlah CINTA u/ mendapatkan hidup yg indah...
BENDA adalah sesuatu yg mestinya DIGUNAKAN & MANUSIA yg mestinya DICINTAI.
Masalahnya dalam dunia postmodern dan instant saat ini; MANUSIA lah yg "DIGUNAKAN" & BENDA-BENDALAH yg kamu CINTAI...!
Mulai saat ini, marilah lebih hati2 mengingatkan diri kita bahwa: BENDA utk DIGUNAKAN & MANUSIA yg mestinya DICINTAI, ini Perintah !
Hidup hanya sekejap, maka seharusnya kamu belajar dan tahu untuk :
Hati2 dng PIKIRAN2mu, karena akan menjadi KATA2mu.
Hati2 dng KATA2mu, karena akan menjadi TINDAKAN2mu.
Hati2 dng TINDAKAN2mu, karena akan menjadi KEBIASAAN2mu.
Hati2 dng KEBIASAAN2mu, karena akan menjadi KARAKTERmu.
Hati2 dng KARAKTERmu, karena akan menjadi TAKDIRmu.
Jika tidak hati2 TAKDIRmu berakhir menyedihkan...
Mari, jadikan HIDUP kita lebih berarti bagi orangtua, keluarga, dan komunitas mu !
Singkatnya, di rumah sakit, anak itu harus kehilangan jari2nya karena kerusakan tulang yg sangat parah.
Saat anak tsb melihat ayahnya, dng pandangan kesakitan, bertanya, "Ayah, akankah jari2ku tumbuh lagi?" Lelaki tsb,yg adalah ayahnya, sangat terluka, menyesal dan kehilangan kata2 ... ia kembali ke mobilnya lalu menendangnya berkali2 melampiaskan penyesalannya. Hatinya semakin hancur ketika dia berdiri tepat di hadapan mobilnya, ia melihat baret2 yg dilakukan anaknya di mobilnya tertulis;
"AKU CINTA AYAH!"
Teman - teman,
MARAH & CINTA tidak ada batasnya; pilihlah CINTA u/ mendapatkan hidup yg indah...
BENDA adalah sesuatu yg mestinya DIGUNAKAN & MANUSIA yg mestinya DICINTAI.
Masalahnya dalam dunia postmodern dan instant saat ini; MANUSIA lah yg "DIGUNAKAN" & BENDA-BENDALAH yg kamu CINTAI...!
Mulai saat ini, marilah lebih hati2 mengingatkan diri kita bahwa: BENDA utk DIGUNAKAN & MANUSIA yg mestinya DICINTAI, ini Perintah !
Hidup hanya sekejap, maka seharusnya kamu belajar dan tahu untuk :
Hati2 dng PIKIRAN2mu, karena akan menjadi KATA2mu.
Hati2 dng KATA2mu, karena akan menjadi TINDAKAN2mu.
Hati2 dng TINDAKAN2mu, karena akan menjadi KEBIASAAN2mu.
Hati2 dng KEBIASAAN2mu, karena akan menjadi KARAKTERmu.
Hati2 dng KARAKTERmu, karena akan menjadi TAKDIRmu.
Jika tidak hati2 TAKDIRmu berakhir menyedihkan...
Mari, jadikan HIDUP kita lebih berarti bagi orangtua, keluarga, dan komunitas mu !
If a Child Lives with Critism
IF A CHILD LIVES WITH CRITICISM
*Author Unknown*
If children live with criticism, they learn to condemn
If children live with hostility, they learn to fight
If children live with fear, they learn to be apprehensive
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves
If children live with ridicule, they learn to be shy
If children live with jealousy, they learn what envy is
If children live with shame, they learn to feel guilty
If children live with tolerance, they learn to be patient
If children live with encouragement, they learn to be confident
If children live with praise, they learn to appreciate
If children live with approval, they learn to like themselves
If children live with acceptance, they learn to find love in the world
If children live with recognition, they learn to have a goal
If children live with sharing, they learn to be generous
If children live with honesty and fairness, they learn what truth and
justice are
If children live with security, they learn to have faith in themselves
and in those around them
If children live with friendliness, they learn that the world is a
nice place in which to live
If children live with serenity, they learn to have peace of mind.
What are your children living with?
*Author Unknown*
If children live with criticism, they learn to condemn
If children live with hostility, they learn to fight
If children live with fear, they learn to be apprehensive
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves
If children live with ridicule, they learn to be shy
If children live with jealousy, they learn what envy is
If children live with shame, they learn to feel guilty
If children live with tolerance, they learn to be patient
If children live with encouragement, they learn to be confident
If children live with praise, they learn to appreciate
If children live with approval, they learn to like themselves
If children live with acceptance, they learn to find love in the world
If children live with recognition, they learn to have a goal
If children live with sharing, they learn to be generous
If children live with honesty and fairness, they learn what truth and
justice are
If children live with security, they learn to have faith in themselves
and in those around them
If children live with friendliness, they learn that the world is a
nice place in which to live
If children live with serenity, they learn to have peace of mind.
What are your children living with?
Tiga Hal yang Terutama
Tiga hal yang terutama :
3 hal berbahaya yg dapat menghancurkanmu (jika kamu mau lakukan): Kemarahan, Kesombongan, Keserakahan.
3 hal yang menjadikanmu berharga : Komitmen, Rendah Hati (bukan minder/ rendah diri !) , dan Kejujuran.
3 Hal yang membuatmu menjadi dewasa : Kesabaran, Ketulusan, Rasa Bersyukur
3 hal yang tidak pernah kembali padamu : Waktu, Perkataan-perkataan yang terucap, dan Kesempatan-kesempatan.
3 Hal yang tidak akan dilupakan : Cinta, Kejujuran dan Persahabatan.
3 hal tidak boleh hilang dari hati dan pikiranmu : Kasih, Sukacita dan Damai Sejahtera.
3 hal tidak pernah kekal (kecuali jika kamu memuja-mujanya) : Harta, Jabatan dan cinta manusia.
3 Hal yang membuatmu lebih kuat : Iman, pengharapan dan kasih.
3 hal berbahaya yg dapat menghancurkanmu (jika kamu mau lakukan): Kemarahan, Kesombongan, Keserakahan.
3 hal yang menjadikanmu berharga : Komitmen, Rendah Hati (bukan minder/ rendah diri !) , dan Kejujuran.
3 Hal yang membuatmu menjadi dewasa : Kesabaran, Ketulusan, Rasa Bersyukur
3 hal yang tidak pernah kembali padamu : Waktu, Perkataan-perkataan yang terucap, dan Kesempatan-kesempatan.
3 Hal yang tidak akan dilupakan : Cinta, Kejujuran dan Persahabatan.
3 hal tidak boleh hilang dari hati dan pikiranmu : Kasih, Sukacita dan Damai Sejahtera.
3 hal tidak pernah kekal (kecuali jika kamu memuja-mujanya) : Harta, Jabatan dan cinta manusia.
3 Hal yang membuatmu lebih kuat : Iman, pengharapan dan kasih.
Saturday, September 3, 2011
Berteman baik dengan Atasan! Kenapa tidak??
Berteman Baik dengan Atasan? Kenapa Tidak??
Post on 18-Jul-11
by DKS
Bagi sebagian orang Indonesia, atasan ibarat sebuah suara jauh yang tidak dapat disentuh. Kita hanya bisa mendengar apa yang diperintahkan, tanpa bisa mengenal lebih jauh siapa atasan kita. Entah karena warisan penjajahan Belanda atau tidak, tapi masyarakat kita masih cenderung menganut feodalisme dalam dunia kerja.
Padahal dalam dunia kerja modern, semua posisi sebenarnya memiliki kesetaraan. Yang membedakan atasan dengan bawahan hanyalah tugas dan tanggung jawab mereka. Pada dasarnya, dalam suatu organisasi, semua posisi saling membutuhkan. Seperti sebuah tubuh, mereka yang berada di posisi atas, berfungsi sebagai kepala yang bekerja menjadi pusat komando dan pemimpin untuk kaki dan tangan. Tanpa kaki dan tangan, tubuh tidak bisa melakukan aktifitas dengan baik. Begitu pula sebaliknya, tanpa kepala, kaki dan tangan tidak bisa melakukan apa-apa.
Untuk itu, dalam membangun sinergi tim yang baik, ada baiknya kita sebagai karyawan, bisa membangun hubungan baik antar rekan kerja. Tidak hanya kepada sesama karyawan, tapi juga kepada atasan kita. Lalu, bagaimana caranya supaya kita bisa berteman baik dengan atasan kita tanpa harus memberikan kesan "penjilat" atau "gila jabatan"? Berikut ini ada beberapa cara simple untuk membuka hubungan yang baik dengan atasan :
1. Memberikan Souvenir
Jika kita sedang melakukan tugas luar kota, atau sedang liburan ke luar negeri, sebaiknya jangan lupa memberikan sekedar cinderamata untuk atasan anda. Tentunya tidak lupa memberikan cinderamata yang sama kepada rekan kerja yang lain, agar tidak timbul kecemburuan sosial dan pikiran negatif.
2. Berempati dan Bersimpati
Atasan kita juga manusia biasa, tentunya memiliki cobaan yang sulit untuk dihadapai seperti kehilangan anggota keluarga atau sebagainya. Cobalah untuk sedikit menunjukan rasa empati anda kepada atasan anda. Tentunya dengan hati yang tulus tanpa berharap mendapat imbalan.
3. Mengundang atasan dalam beberapa acara kita.
Di luar jam kantor, tentunya kita semua adalah sama. Untuk itu, jika kita sedang mengadakan acara, alangkah baiknya kalau kita juga mengundang atasan kita secara pribadi untuk sekedar menjalin hubungan.
Itulah beberapa tips kerja dari kami, semoga bisa bermanfaat untuk anda.
http://id.jobsdb.com/ID/EN/Resources/JobSeekerArticle/after%20work?ID=558
Post on 18-Jul-11
by DKS
Bagi sebagian orang Indonesia, atasan ibarat sebuah suara jauh yang tidak dapat disentuh. Kita hanya bisa mendengar apa yang diperintahkan, tanpa bisa mengenal lebih jauh siapa atasan kita. Entah karena warisan penjajahan Belanda atau tidak, tapi masyarakat kita masih cenderung menganut feodalisme dalam dunia kerja.
Padahal dalam dunia kerja modern, semua posisi sebenarnya memiliki kesetaraan. Yang membedakan atasan dengan bawahan hanyalah tugas dan tanggung jawab mereka. Pada dasarnya, dalam suatu organisasi, semua posisi saling membutuhkan. Seperti sebuah tubuh, mereka yang berada di posisi atas, berfungsi sebagai kepala yang bekerja menjadi pusat komando dan pemimpin untuk kaki dan tangan. Tanpa kaki dan tangan, tubuh tidak bisa melakukan aktifitas dengan baik. Begitu pula sebaliknya, tanpa kepala, kaki dan tangan tidak bisa melakukan apa-apa.
Untuk itu, dalam membangun sinergi tim yang baik, ada baiknya kita sebagai karyawan, bisa membangun hubungan baik antar rekan kerja. Tidak hanya kepada sesama karyawan, tapi juga kepada atasan kita. Lalu, bagaimana caranya supaya kita bisa berteman baik dengan atasan kita tanpa harus memberikan kesan "penjilat" atau "gila jabatan"? Berikut ini ada beberapa cara simple untuk membuka hubungan yang baik dengan atasan :
1. Memberikan Souvenir
Jika kita sedang melakukan tugas luar kota, atau sedang liburan ke luar negeri, sebaiknya jangan lupa memberikan sekedar cinderamata untuk atasan anda. Tentunya tidak lupa memberikan cinderamata yang sama kepada rekan kerja yang lain, agar tidak timbul kecemburuan sosial dan pikiran negatif.
2. Berempati dan Bersimpati
Atasan kita juga manusia biasa, tentunya memiliki cobaan yang sulit untuk dihadapai seperti kehilangan anggota keluarga atau sebagainya. Cobalah untuk sedikit menunjukan rasa empati anda kepada atasan anda. Tentunya dengan hati yang tulus tanpa berharap mendapat imbalan.
3. Mengundang atasan dalam beberapa acara kita.
Di luar jam kantor, tentunya kita semua adalah sama. Untuk itu, jika kita sedang mengadakan acara, alangkah baiknya kalau kita juga mengundang atasan kita secara pribadi untuk sekedar menjalin hubungan.
Itulah beberapa tips kerja dari kami, semoga bisa bermanfaat untuk anda.
http://id.jobsdb.com/ID/EN/Resources/JobSeekerArticle/after%20work?ID=558
Menghadapi Anak Buah yang Tak Kooperatif
Menghadapi Anak Buah yang Tak Kooperatif
Post on 14-Dec-09
by Intan Iskandar
Akhirnya, Anda dapat juga posisi itu. Manager. Berarti, bisa mengarahkan subordinat untuk mengerjakan serangkaian tugas supaya tujuan perusahaan bisa dicapai. Tentu saja mereka harus melakukannya, lagipula Anda memang atasan mereka, bukan? Aaah, andaikan saja segampang itu. Sayang, perusahaan Anda tidak menggunakan prinsip militer di mana perintah dikeluarkan lantas dilakukan. Tak ada kata tapi, tak ada pertanyaan, muka marah ataupun penolakan.
Situasi di lingkungan kerja jelas berbeda. Bagian memberi perintah dan menjelaskan proses eksekusinya memang mudah. Tapi apakah mereka benar-benar menjalankan tugas tersebut sesuai yang Anda harapkan? Nah, di sini letak tantangannya. Memang, tidak semua bawahan Anda tidak kompeten. Namun di saat yang bersamaan, tidak semua tingkah laku mereka juga menguntungkan buat hasil akhir dari kerja tim. Bahkan bisa jadi ada salah satu yang bersikap seakan-akan dia tak bisa menerima perintah dari siapapun, tak juga Anda yang jelas-jelas atasannya.
Menghadapi karakter subordinat yang sulit memang bukan hal baru. Anda yang ditugaskan sebagai pihak untuk menangani tim diharapkan untuk siap menghadapinya. Namun apakah Anda telah benar-benar menangani karyawan yang tak gampang diajak bekerja sama itu? Memang tidak disarankan untuk bertindak impulsif, tapi di lain pihak Anda juga dituntut untuk bertindak cepat. Tentu saja karena taruhannya adalah kinerja tim. Semakin lama tindakan tak kooperatif itu berlangsung, semakin susah pula tindakan tersebut diubah atau berhenti. Berikut beberapa langkah yang perlu diingat setiap kali Anda sampai terbersit pertanyaan, "Sebenarnya yang bos itu siapa, sih?":
1.Hadapi Masalah. Lebih gampang memang rasanya untuk mengabaikan karyawan yang Anda rasa tidak memberikan yang terbaik untuk kesuksesan tim dengan melimpahkan tugas ke bawahan lain yang tampaknya lebih bisa diandalkan. Sama sekali bukan ide yang bagus. Ingat, hal ini justru salah satu bagian penting dalam pekerjaan Anda. Dan percayalah, masalah tersebut tidak akan terpecahkan dengan sendirinya. Bahkan bisa bertambah arah. Konfrontasi semacam ini sebenarnya sudah menjadi agenda Anda. Berikutnya, tinggal dilaksanakan.
2.Tangani Tingkah Laku, Bukan Pribadi. Tujuan Anda adalah mencapai satu solusi, bukan untuk “menang”. Jadi sebaiknya fokuskan pada tindakan-tindakan yang kurang kooperatif, tanpa perlu menyerang sang subordinat secara personal. Gunakan pernyataan-pernyataan menggunakan “Saya” seperti, “Saya butuh setiap orang di dalam tim ini untuk tepat waktu agar goal tiap akhir bulan bisa dicapai,” daripada menitikberatkan sang karyawan dengan menggunakan “Kamu” seperti, “Kamu selalu telat!” Lalu, beri kesempatan buat bawahan tersebut untuk ikut mencari jalan keluar dari masalahnya. Saat mereka juga diberi tanggungjawab untuk menghasilkan solusi, bawahan akan lebih merangkul jalan keluar tersebut saat akhirnya ditemukan.
3.Cari Penyebab. Saat mengajak diskusi dengan karyawan yang tak kooperatif, tetaplah bersikap tenang dan positif, tapi tetap adil. Lemparkan serangkaian pertanyaan kunci yang tak bisa dijawab dengan satu atau dua kata. Dan, saat Anda merespon terhadap tanggapannya, sekali lagi, berusahalah untuk menjaga emosi agar tetap tenang. Rangkum kembali kepadanya apa saja yang baru saja ia katakan, Dengan begini, ia akan mengerti bahwa Anda benar-benar mendengarkan. Jika dari diskusi tersebut Anda berhasil menemukan sumber dari tingkah lakunya yang sulit saat bekerja, berarti akan lebih besar kemungkinanya buat Anda untuk mendapatkan solusi yang paling tepat.
4.Ulangi Bila Perlu. Beberapa masalah sepele seperti telat datang ke kantor, bisa segera ditangani dengan percakapan singkat di ruangan Anda bersama sang karyawan. Namun masalah lebih berat seperti subordinat yang kerap bertindak seakan yang punya perusahaan terhadap rekan-rekannya yang lain karena memang punya kebiasaan menggertak, butuh lebih dari satu kali konfrontasi sebelum melihat perubahan. Bersabarlah. Jangan selalu mengharapkan hasil instan. Sebaliknya, usahakan untuk meraih peningkatan yang kontinu daripada ngotot meraih sukses instan.
http://id.jobsdb.com/ID/EN/Resources/JobSeekerArticle/Tak_Kooperatif?ID=43
Post on 14-Dec-09
by Intan Iskandar
Akhirnya, Anda dapat juga posisi itu. Manager. Berarti, bisa mengarahkan subordinat untuk mengerjakan serangkaian tugas supaya tujuan perusahaan bisa dicapai. Tentu saja mereka harus melakukannya, lagipula Anda memang atasan mereka, bukan? Aaah, andaikan saja segampang itu. Sayang, perusahaan Anda tidak menggunakan prinsip militer di mana perintah dikeluarkan lantas dilakukan. Tak ada kata tapi, tak ada pertanyaan, muka marah ataupun penolakan.
Situasi di lingkungan kerja jelas berbeda. Bagian memberi perintah dan menjelaskan proses eksekusinya memang mudah. Tapi apakah mereka benar-benar menjalankan tugas tersebut sesuai yang Anda harapkan? Nah, di sini letak tantangannya. Memang, tidak semua bawahan Anda tidak kompeten. Namun di saat yang bersamaan, tidak semua tingkah laku mereka juga menguntungkan buat hasil akhir dari kerja tim. Bahkan bisa jadi ada salah satu yang bersikap seakan-akan dia tak bisa menerima perintah dari siapapun, tak juga Anda yang jelas-jelas atasannya.
Menghadapi karakter subordinat yang sulit memang bukan hal baru. Anda yang ditugaskan sebagai pihak untuk menangani tim diharapkan untuk siap menghadapinya. Namun apakah Anda telah benar-benar menangani karyawan yang tak gampang diajak bekerja sama itu? Memang tidak disarankan untuk bertindak impulsif, tapi di lain pihak Anda juga dituntut untuk bertindak cepat. Tentu saja karena taruhannya adalah kinerja tim. Semakin lama tindakan tak kooperatif itu berlangsung, semakin susah pula tindakan tersebut diubah atau berhenti. Berikut beberapa langkah yang perlu diingat setiap kali Anda sampai terbersit pertanyaan, "Sebenarnya yang bos itu siapa, sih?":
1.Hadapi Masalah. Lebih gampang memang rasanya untuk mengabaikan karyawan yang Anda rasa tidak memberikan yang terbaik untuk kesuksesan tim dengan melimpahkan tugas ke bawahan lain yang tampaknya lebih bisa diandalkan. Sama sekali bukan ide yang bagus. Ingat, hal ini justru salah satu bagian penting dalam pekerjaan Anda. Dan percayalah, masalah tersebut tidak akan terpecahkan dengan sendirinya. Bahkan bisa bertambah arah. Konfrontasi semacam ini sebenarnya sudah menjadi agenda Anda. Berikutnya, tinggal dilaksanakan.
2.Tangani Tingkah Laku, Bukan Pribadi. Tujuan Anda adalah mencapai satu solusi, bukan untuk “menang”. Jadi sebaiknya fokuskan pada tindakan-tindakan yang kurang kooperatif, tanpa perlu menyerang sang subordinat secara personal. Gunakan pernyataan-pernyataan menggunakan “Saya” seperti, “Saya butuh setiap orang di dalam tim ini untuk tepat waktu agar goal tiap akhir bulan bisa dicapai,” daripada menitikberatkan sang karyawan dengan menggunakan “Kamu” seperti, “Kamu selalu telat!” Lalu, beri kesempatan buat bawahan tersebut untuk ikut mencari jalan keluar dari masalahnya. Saat mereka juga diberi tanggungjawab untuk menghasilkan solusi, bawahan akan lebih merangkul jalan keluar tersebut saat akhirnya ditemukan.
3.Cari Penyebab. Saat mengajak diskusi dengan karyawan yang tak kooperatif, tetaplah bersikap tenang dan positif, tapi tetap adil. Lemparkan serangkaian pertanyaan kunci yang tak bisa dijawab dengan satu atau dua kata. Dan, saat Anda merespon terhadap tanggapannya, sekali lagi, berusahalah untuk menjaga emosi agar tetap tenang. Rangkum kembali kepadanya apa saja yang baru saja ia katakan, Dengan begini, ia akan mengerti bahwa Anda benar-benar mendengarkan. Jika dari diskusi tersebut Anda berhasil menemukan sumber dari tingkah lakunya yang sulit saat bekerja, berarti akan lebih besar kemungkinanya buat Anda untuk mendapatkan solusi yang paling tepat.
4.Ulangi Bila Perlu. Beberapa masalah sepele seperti telat datang ke kantor, bisa segera ditangani dengan percakapan singkat di ruangan Anda bersama sang karyawan. Namun masalah lebih berat seperti subordinat yang kerap bertindak seakan yang punya perusahaan terhadap rekan-rekannya yang lain karena memang punya kebiasaan menggertak, butuh lebih dari satu kali konfrontasi sebelum melihat perubahan. Bersabarlah. Jangan selalu mengharapkan hasil instan. Sebaliknya, usahakan untuk meraih peningkatan yang kontinu daripada ngotot meraih sukses instan.
http://id.jobsdb.com/ID/EN/Resources/JobSeekerArticle/Tak_Kooperatif?ID=43
Pribadi Positifi = Meningkatkan Kinerja !
Pribadi Positif dapat Meningkatkan Kinerja
Post on 02-Mar-11
by AHW
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna ciptaan Tuhan yang dilengkapi dengan akal dan perasaan. Pada dasarnya, "porsi" yang diberikan adalah sama besar pada masing-masing manusia. Yang membedakan hanyalah cara menyeimbangkan kedua aspek tersebut. Proses penyeimbangan itu bermula saat manusia beranjak dewasa. Dalam dunia kerja, mental manusia akan ditempa dan prosesnya akan berbeda dengan pada saat dalam jenjang pendidikan. Hasil penempaan mental itu mempunyai dampak yang berbeda pada masing-masing individu. Untuk menjalaninya, masing-masing individu harus menumbuhkan positive mental attitude atau sikap mental yang positif.
Dengan berfikir secara positif, manusia bisa menjalankan kehidupannya dengan gembira. Seluruh beban pekerjaan yang setiap hari Anda emban akan terasa jauh lebih ringan dan Anda pun akan lebih cepat menyelesaikannya. Lalu bagaimana caranya? Berikut ini beberapa tips yang bisa Anda lakukan:
Awali pagi Anda dengan senyum. Dengan memberikan aura keceriaan di pagi hari, Anda akan merasa ringan dan tidak terbebankan oleh pekerjaan. Meskipun Anda harus berkemelut dengan kemacetan, disambangi oleh deadline yang menumpuk, dan segala tuntutan atasan Anda yang tidak bisa ditawar maka buatlah diri Anda seceria mungkin.
Bayangkan sesuatu yang menyenangkan. Sugestikan diri Anda dengan hal-hal menyenangkan. Dengan memberikan sugesti diri Anda, secara perlahan Anda akan terbawa oleh sugesti Anda sendiri. Misalnya, bayangkan Anda akan mendapat uang yang banyak, atau bayangkan Anda akan bertemu orang terkasih, atau cuti panjang bersama keluarga Anda.
Senandungkan lagu kesukaan Anda. Banyak yang bilang bahwa bernyanyi dapat merubah mood. Namun, senandungkanlah lagu-lagu yang ceria, jangan sampai mood Anda rusak karena Anda bersenandung lagu sedih.
Selalu berpikir positif. Jangan biarkan sedikit pun pikiran negatif merasuki alam pikir Anda, karena menurut “law of attraction”, apa yang Anda pikirkan adalah apa yang akan Anda dapatkan. Jadi, tetaplah berpikir positif.
Lakukan semuanya dengan Ikhlas. Hal ini juga sangat menunjang Anda dalam segala bidang. Karena jika segala aktivitas Anda dilakukan dengan ikhlas, maka secara tidak langsung Anda pun akan merasa nyaman melakukannya.
Apa yang Anda lakukan adalah cerminan diri Anda sendiri. Memiliki pribadi yang baik tentunya menyenangkan unutk semua orang termasuk rekan kerja Anda. Anda akan lebih mudah mempererat hubungan kerjasama dengan klien. Orang akan lebih mudah bersimpati terhadap Anda. Suasana kerja yang kondusif akan dapat meningkatkan kinerja Anda.
http://id.jobsdb.com/ID/EN/Resources/JobSeekerArticle/Tips%20Karir?ID=457
Post on 02-Mar-11
by AHW
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna ciptaan Tuhan yang dilengkapi dengan akal dan perasaan. Pada dasarnya, "porsi" yang diberikan adalah sama besar pada masing-masing manusia. Yang membedakan hanyalah cara menyeimbangkan kedua aspek tersebut. Proses penyeimbangan itu bermula saat manusia beranjak dewasa. Dalam dunia kerja, mental manusia akan ditempa dan prosesnya akan berbeda dengan pada saat dalam jenjang pendidikan. Hasil penempaan mental itu mempunyai dampak yang berbeda pada masing-masing individu. Untuk menjalaninya, masing-masing individu harus menumbuhkan positive mental attitude atau sikap mental yang positif.
Dengan berfikir secara positif, manusia bisa menjalankan kehidupannya dengan gembira. Seluruh beban pekerjaan yang setiap hari Anda emban akan terasa jauh lebih ringan dan Anda pun akan lebih cepat menyelesaikannya. Lalu bagaimana caranya? Berikut ini beberapa tips yang bisa Anda lakukan:
Awali pagi Anda dengan senyum. Dengan memberikan aura keceriaan di pagi hari, Anda akan merasa ringan dan tidak terbebankan oleh pekerjaan. Meskipun Anda harus berkemelut dengan kemacetan, disambangi oleh deadline yang menumpuk, dan segala tuntutan atasan Anda yang tidak bisa ditawar maka buatlah diri Anda seceria mungkin.
Bayangkan sesuatu yang menyenangkan. Sugestikan diri Anda dengan hal-hal menyenangkan. Dengan memberikan sugesti diri Anda, secara perlahan Anda akan terbawa oleh sugesti Anda sendiri. Misalnya, bayangkan Anda akan mendapat uang yang banyak, atau bayangkan Anda akan bertemu orang terkasih, atau cuti panjang bersama keluarga Anda.
Senandungkan lagu kesukaan Anda. Banyak yang bilang bahwa bernyanyi dapat merubah mood. Namun, senandungkanlah lagu-lagu yang ceria, jangan sampai mood Anda rusak karena Anda bersenandung lagu sedih.
Selalu berpikir positif. Jangan biarkan sedikit pun pikiran negatif merasuki alam pikir Anda, karena menurut “law of attraction”, apa yang Anda pikirkan adalah apa yang akan Anda dapatkan. Jadi, tetaplah berpikir positif.
Lakukan semuanya dengan Ikhlas. Hal ini juga sangat menunjang Anda dalam segala bidang. Karena jika segala aktivitas Anda dilakukan dengan ikhlas, maka secara tidak langsung Anda pun akan merasa nyaman melakukannya.
Apa yang Anda lakukan adalah cerminan diri Anda sendiri. Memiliki pribadi yang baik tentunya menyenangkan unutk semua orang termasuk rekan kerja Anda. Anda akan lebih mudah mempererat hubungan kerjasama dengan klien. Orang akan lebih mudah bersimpati terhadap Anda. Suasana kerja yang kondusif akan dapat meningkatkan kinerja Anda.
http://id.jobsdb.com/ID/EN/Resources/JobSeekerArticle/Tips%20Karir?ID=457
Friday, September 2, 2011
Berani Menghadapi Hal-hal Sulit - Jawapos 22 Agustus 2011
Pada tanggal 12 September 1962, di tengah-tengah Perang Dingin yang memisahkan dunia Barat dengan Timur, presiden Kennedy memberikan kuliah umum di Rice Stadium, Houston-Texas. Judulnya “Why We Choose to Go to the Moon". Sewaktu kuliah di Amerika Serikat, saya pernah bertanya kepada profesor yang membimbing thesis saya tentang situasi yang mereka hadapi di era Kennedy mengucapkan pidatonya itu, umumnya mereka menyeka keringat dingin.
Suasananya demikian mencekam, ujarnya. "Kalau bunyi alarm, kami segera berlari ke dalam rumah, bersembunyi, dan mematikan lampu. Sampai sekarang kalau bunyi alarm saya keringat dingin. Kita tak bisa membedakan apakah itu alarm tanda datangnya bencana tornado atau pertanda datangnya kepala nuklir yang ditembakkan komunis dari bumi Kuba ke negeri ini, " tambahnya.
John F Kennedy yang piawai berpidato mengucapkan janjinya untuk membawa Amerika keluar dari masa-masa sulit. "Ketika bangsa-bangsa lain mengembangkan teknologi untuk menaklukkan gunung, kita justru mengembangkan misi untuk menaklukkan bulan. Kita pilih itu karena dua hal: Pertama, kita tidak ingin membiarkan Rusia melihat bumi kita dari atas Amerika. Kedua, kita mengirimkan misi ke bulan bukan karena itu mudah, melainkan karena itu sulit."
Tepuk tangan bergemuruh, tetapi dari bahan-bahan sejarah yang saya baca, tak sedikit orang yang menyangsikan ucapan Kennedy itu. Namun dalam hitungan tahun, tak lama kemudian Kennedy membuktikan ucapannya dengan misi Apollo. Kita tidak tahu persis apakah benar Apollo sudah mendarat di bulan, karena rumor yang beredar di berbagai media dalam dua puluh tahun terakhir menyebutkan ada sejumlah kejanggalan dari gambar yang dipublikasikan oleh NASA saat itu. Pertama, di bulan tak ada cahaya matahari, tetapi mengapa foto yang diambil ada bayangannya? Kedua, kalau di bulan tak ada oksigen, mengapa bendera Amerika Serikat tampak berkibar?
Wallahualam, kita tak tahu mana yang benar, namun saat diumumkan pendaratan itu, bangsa Amerika tampaknya mendapatkan amunisi motivasi yang kuat untuk bangkit melawan ancaman perang nuklir. Riset-riset unggulan maju pesat, dan teknologi menggeliat. kalimat yang diucapkan Kennedy terus mengiang di telinga saya,"Kita memilih pergi ke bulan bukan karena hal itu mudah, melainkan karena sulit.”
Teknologi Sulit, Memberantas Korupsi Apalagi
Ucapan Kennedy kembali terngiang di telinga saya, saat saya mendengarkan ceramah Carol Dweck, psikolog dari Stanford yang penelitiannya pernah saya ulas di kolom ini. Ialah orang yang membedakan fixed mindset dengan growth mindset. Orang-orang yang berhasil, kata Dweck adalah orang yang mau melakukan hal-hal yang sulit. "mereka menyukai tantangan dan mau menghadapi kesulitan, karena melakukan hal-hal yang sulit merupakan jalan setapak menuju mastery, kehebatan," ujarnya.
Ibarat telepon genggam, sebelum dipakai Anda menyetelnya dulu, disetting. Maka demikian pulalah otak kita. Kita pula yang menyetelnya, sadar maupun diluar kesadaran, dan hasilnya menjadi mindset. Kalau tidak disadari, mindset juga bisa disetel salah oleh orang lain dan tetap kita pakai sekalipun tidak cocok untuk kita gunakan sehari-hari. Setelan yang bisa membuat kita maju itulah yang disebut Dweck sebagai growth mindset, yang tidak mudah menyerah kala menghadapi hal-hal yang sulit. Sedangkan setelan yang membuat hidup kita sulit, disebutnya sebagai fixed mindset.
Seminggu setelah menyelesaikan tugas yang diberikan negara untuk menyeleksi calon komisioner KPK, kami bertigabelas merasa lega. Namun saat yang bersamaan baru terasa otot-otot seperti akan lepas dari tulangnya. Pagi-siang hingga malam kami memotret dan menyeleksi satu persatu dari calon yang sangat terbatas. Sampai didapat delapan kandidat. Itulah hasil maksimal yang dapat kami berikan. Namun otot terasa lemas, bukan karena tugas ini menyita waktu dan pikiran, melainkan merasakan betapa beratnya negeri ini memberantas korupsi. Hampir setiap hari kita saksikan betapa menjijikannya para penegak hukum dan politisi bersekongkol dengan para koruptor.
Banyak pertanyaan yang muncul saat menyaksikan empat-lima orang oknum anggota DPR secara paksa memasuki ruang tahanan Nazaruddin dan berciuman pipi di depan kamera. Saya sebenarnya ingin tahu apa yang mereka bisik-bisikkan di telinga Nazar. Seorang politisi senior yang mempersoalkan perginya empat orang oknum anggota parlemen itu dengan tiga bus ke mako Brimob memberikan jokes, bisikannya begini. "tolong nanti jangan banyak omong di pengadilan ya, jangan sampai kau sebut-sebut proyek kita".
Saya menganggapnya jokes, tapi teman saya yang lain menimpali. "I know who they are."
Saya tak mengerti apa maksudnya. Yang jelas, cara mereka, bersama-sama dengan pengacara koruptor yang hebat-hebat itu pasti membuat upaya pemberantasan korupsi yang kita titipkan di KPK menjadi amat sulit. KPK menjadi terlihat compang-camping, dirangsek mereka dari segala sisi. Saat tak mengijinkan pengacara masuk, KPK dituding tidak professional. Namun saat rekaman dibuka dan menunjukkan ketidak inginan Nazar sendiri untuk tidak didampingi pengacara, KPK dituduh kurang Percaya Diri. Kasihan sekali Ibu Pertiwi ini.
Menjadi amat lebih sulit lagi, karena orang-orang yang bersahabat dengan koruptor kakap dan yang tak malu-malu berciuman pipi dengan para koruptor itulah yang kelak akan memilih empat dari delapan nama kandidat yang kami ajukan ke Presiden di Komisi tiga DPR. Saya hanya berharap akan ada keajaiban, mudah-mudahan Tuhan memberikan mereka pikiran yang bersih, yang akan dicatat oleh sejarah sebagai sebuah keajaiban. Ya siapa tahu tiba-tiba datang sakit perut, mules-mules, atau apa sajalah. Atau bisa juga muncul jiwa besar. Seorang yang berjiwa besar itu akan maju berdiri dan mengatakan, "karena saya memiliki conflict kepentingan, ijinkan saya kali ini tidak ikut memilih."
Namun bila Tuhan belum menghendaki, bagi saya itu berarti Ia memiliki rencana yang lebih besar. Bukankah hanya bangsa yang mau menghadapi hal-hal sulit yang akan menjadi besar dan teruji? Ini berarti KPK harus lebih pintar lagi menghadapi para koruptor dan jangan salah tangkap, apalagi salah menghukum.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
Pemasaran Bombastis - Jawapos 25 April 2011
Ada sesuatu yang berbeda di hari Paskah kemarin. Bukan hanya karena bantuan penjagaan dari petugas Banser dan polisi di gereja-gereja; melainkan beredarnya surat gembala dari Dalai Lama, seorang Budhist yang sangat dihormati.
“Agama terbaik adalah yang membawamu terdekat dengan Tuhan dan membuatmu menjadi lebih baik,” Demikian kalimat pembukanya.
Ia melanjutkan. “Apapun yang membuatmu lebih berwelas kasih, lebih masuk akal, lebih terlepas, lebih mencintai, memiliki rasa kemanusiaan, lebih bertanggung jawab, dan beretika.”
Saya tersedak karena tiba-tiba masuk sebuah email yang sangat bombastis. “Seminar Dasyat!!” Begitu tagline-nya. Kalimat-kalimat di bawahnya sudah sering saya lihat di internet. “Akan saya buka satu-satunya rahasia yang membuat Anda kaya dalam sekejap.”
Kalimat-kalimat seperti itu memiliki akar dari Robert Kiyosaki yang kecewa dengan ayahnya yang sekolah sangat tinggi tetapi tidak sekaya bapak tetangganya yang tidak bersekolah. Setelah mengejek ayahnya sendiri, ia membuka satu demi satu rahasia agar cepat menjadi kaya. Baginya, kebahagiaan sama dengan kekayaan.
Perhatikanlah judul-judul bukunya: “Bapak yang Kaya dan Bapak Yang Miskin!! Atau,: ” If You Want to Be Rich and Happy, Don’t go to School!“ Bombastis sekali bukan?
Yang saya tidak mengerti adalah mengapa Robert Kiyosaki dan para pengikutnya di sini tetap menyekolahkan anak-anaknya? Padahal mereka mengatakan , “Sekolah tidak penting. Yang penting kaya.”
Saya pantas terkejut karena dua malam sebelumnya beberapa anak muda pemenang penghargaan kewirausahaan mengajukan protes. “Pemasaran harus bombastis,” Ujarnya.
Saya pun meminta agar mengumpulkan kartu nama mereka yang ternyata hasil didikan seorang pembicara publik. Kartu-kartu nama mereka memiliki kesamaan. Ada foto diri berjas sambil mengepalkan tangan bak seorang motivator. Di dalamnya tertulis deskripsi jati diri: Motivator terkenal, penulis buku best seller, pembicara publik terbaik versi majalah ”X”, utusan pemerintah Indonesia untuk award ”X” tingkat Asia dan seterusnya.
Sewaktu saya tanya siapa yang memberi gelar-gelar itu, mereka hanya tersenyum. Semua deskripsi tadi ternyata hanya bohong belaka. ”Itu impian saya. Jadi sah saja, bukan? ”Ujar anak-anak yang ingin cepat kaya itu. Mereka tidak sadar bombastis sama dengan kebohongan. Tentu perlu diluruskan, bombastis bukanlah pemasaran.
Mereka mengaku semua ini mereka dapatkan dari guru mereka yang sering muncul di publik dan seminar-seminarnya selalu penuh. Setelah saya cek ternyata mereka satu jiwa. Sama-sama bombastis. Bahkan ”guru” itu pula yang mengajarkan,”Kalau tidak bombastis bukanlah pemasaran dan tidak ditengok pasar.””Guru” itu mengatakan seminarnya berharga Rp 8 Juta,-, tetapi untuk Anda disediakan diskon 80%. Hebat bukan?
Orang-orang yang waras mengatakan itu bukannya hebat, : ”Anda saja yang bodoh.” Mengapa ada banyak orang bodoh di sini? Atau jangan-jangan mereka tersihir dengan anggukan-anggukan kepala yang diajarkan sales theraphist? Saya tidak tahu persis.
Yang saya tahu pemasaran bombastis kini mewabah di mana-mana. Mulai dari money game, internet marketing, seminar-seminar motivasi sampai bisnis-bisnis yang di francise kan meski francisor-nya belum menangguk untung. Bukankah francise hanya boleh dilakukan kalau usaha Anda sudah terbukti menguntungkan dalam jangka panjang?
Saya perlu mengingatkan bahwa pemasaran Bombastis tidak ada dalam literatur pemasaran. Pemasaran Bombastis hanya boleh diletakkan di rak-rak buku fiksi, bukan marketing. Muaranya juga jelas, bukanlah reputasi dan keuntungan, melainkan penjara dan neraka.
Di akhir surat gembalanya, Dalai Lama menulis.”Berhati-hatilah dengan pikiranmu karena ia akan menjadi perkataan. Apa yang kau ucapkan akan menjadi tindakan, dan tindakanmu akan menjadi kebiasaan, cermin kehidupan. Kebahagiaan bukanlah takdir melainkan sebuah pilihan.”
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
“Agama terbaik adalah yang membawamu terdekat dengan Tuhan dan membuatmu menjadi lebih baik,” Demikian kalimat pembukanya.
Ia melanjutkan. “Apapun yang membuatmu lebih berwelas kasih, lebih masuk akal, lebih terlepas, lebih mencintai, memiliki rasa kemanusiaan, lebih bertanggung jawab, dan beretika.”
Saya tersedak karena tiba-tiba masuk sebuah email yang sangat bombastis. “Seminar Dasyat!!” Begitu tagline-nya. Kalimat-kalimat di bawahnya sudah sering saya lihat di internet. “Akan saya buka satu-satunya rahasia yang membuat Anda kaya dalam sekejap.”
Kalimat-kalimat seperti itu memiliki akar dari Robert Kiyosaki yang kecewa dengan ayahnya yang sekolah sangat tinggi tetapi tidak sekaya bapak tetangganya yang tidak bersekolah. Setelah mengejek ayahnya sendiri, ia membuka satu demi satu rahasia agar cepat menjadi kaya. Baginya, kebahagiaan sama dengan kekayaan.
Perhatikanlah judul-judul bukunya: “Bapak yang Kaya dan Bapak Yang Miskin!! Atau,: ” If You Want to Be Rich and Happy, Don’t go to School!“ Bombastis sekali bukan?
Yang saya tidak mengerti adalah mengapa Robert Kiyosaki dan para pengikutnya di sini tetap menyekolahkan anak-anaknya? Padahal mereka mengatakan , “Sekolah tidak penting. Yang penting kaya.”
Saya pantas terkejut karena dua malam sebelumnya beberapa anak muda pemenang penghargaan kewirausahaan mengajukan protes. “Pemasaran harus bombastis,” Ujarnya.
Saya pun meminta agar mengumpulkan kartu nama mereka yang ternyata hasil didikan seorang pembicara publik. Kartu-kartu nama mereka memiliki kesamaan. Ada foto diri berjas sambil mengepalkan tangan bak seorang motivator. Di dalamnya tertulis deskripsi jati diri: Motivator terkenal, penulis buku best seller, pembicara publik terbaik versi majalah ”X”, utusan pemerintah Indonesia untuk award ”X” tingkat Asia dan seterusnya.
Sewaktu saya tanya siapa yang memberi gelar-gelar itu, mereka hanya tersenyum. Semua deskripsi tadi ternyata hanya bohong belaka. ”Itu impian saya. Jadi sah saja, bukan? ”Ujar anak-anak yang ingin cepat kaya itu. Mereka tidak sadar bombastis sama dengan kebohongan. Tentu perlu diluruskan, bombastis bukanlah pemasaran.
Mereka mengaku semua ini mereka dapatkan dari guru mereka yang sering muncul di publik dan seminar-seminarnya selalu penuh. Setelah saya cek ternyata mereka satu jiwa. Sama-sama bombastis. Bahkan ”guru” itu pula yang mengajarkan,”Kalau tidak bombastis bukanlah pemasaran dan tidak ditengok pasar.””Guru” itu mengatakan seminarnya berharga Rp 8 Juta,-, tetapi untuk Anda disediakan diskon 80%. Hebat bukan?
Orang-orang yang waras mengatakan itu bukannya hebat, : ”Anda saja yang bodoh.” Mengapa ada banyak orang bodoh di sini? Atau jangan-jangan mereka tersihir dengan anggukan-anggukan kepala yang diajarkan sales theraphist? Saya tidak tahu persis.
Yang saya tahu pemasaran bombastis kini mewabah di mana-mana. Mulai dari money game, internet marketing, seminar-seminar motivasi sampai bisnis-bisnis yang di francise kan meski francisor-nya belum menangguk untung. Bukankah francise hanya boleh dilakukan kalau usaha Anda sudah terbukti menguntungkan dalam jangka panjang?
Saya perlu mengingatkan bahwa pemasaran Bombastis tidak ada dalam literatur pemasaran. Pemasaran Bombastis hanya boleh diletakkan di rak-rak buku fiksi, bukan marketing. Muaranya juga jelas, bukanlah reputasi dan keuntungan, melainkan penjara dan neraka.
Di akhir surat gembalanya, Dalai Lama menulis.”Berhati-hatilah dengan pikiranmu karena ia akan menjadi perkataan. Apa yang kau ucapkan akan menjadi tindakan, dan tindakanmu akan menjadi kebiasaan, cermin kehidupan. Kebahagiaan bukanlah takdir melainkan sebuah pilihan.”
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
Dalai Lama said:
.”Berhati-hatilah dengan pikiranmu karena ia akan menjadi perkataan. Apa yang kau ucapkan akan menjadi tindakan, dan tindakanmu akan menjadi kebiasaan, cermin kehidupan. Kebahagiaan bukanlah takdir melainkan sebuah pilihan.”
(Dalai Lama)
(Dalai Lama)
Nasehat Anak Untuk Orang Tua
Jawapos 6 Juni 2011
Minggu-minggu ini, orangtua, sibuk memikirkan anak-anak. Liburan, kenaikan kelas, kuliah dan jurusan, pekerjaan yang cocok dan seterusnya. Orangtua merasa berhak mengatur, menentukan masa depan anak-anaknya.
Pada waktu yang bersamaan saya menerima kembali mahasiswa saya dari berbagai lokasi. Mahasiswa S1 yang belum pernah menumpang pesawat, saya wajibkan pergi berdua atau bertiga keluar negeri. Jangan anda tanya dari mana uangnya, pokoknya ada keajaiban. Anak- anak petani dan PNS yang hidupnya serba pas-pasan di UI itu sekarang sudah melihat macam-macam negara: Saudi, India, Jepang, Macau, Hongkong, China, Laos, Kamboja, Thailand, dan Vietnam. Pokoknya pergi ke negara yang penduduknya tak bisa diajak bahasa ibu mereka, dan tidak diantar oleh dosennya.
Sedangkan mahasiswa MM yang rata-rata berasal dari kelas menengah atas, yang datang ke kampus dengan mobil pribadi, saya kirim ke sebuah pesantren di Lamongan yang mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan dan kasih sayang lintas agama. Di sana mereka diajak mengasihi sesama, merawat kaum lansia yang dibuang anak-anaknya di hutan, merawat anak-anak balita yang dibuang orangtuanya sejak bayi, melakukan susur sungai, diskusi di pasar, berdialog bersama para santri dan petani.
Yang disharingkan dalam kolom ini adalah apa yang saya dapatkan dari dialog dengan anak-anak didik. Ada kerinduan anak-anak untuk menyampaikannya langsung kepada orangtua, namun entah mengapa leher mereka tercekat dan suaranya tak sampai ke sanubari kita. Tentu ada banyak cerita bagus dari mahasiswa berjiwa sehat yang tak bermasalah, namun saya batasi saja pada kasus-kasus penting yang perlu kita perhatikan yang tidak hanya saya temui di UI, melainkan merata di antara Generation C di berbagai kampus di nusantara.
Jangan Paksa Aku
"Selama bertahun-tahun hidupku hanya belajar dan menuruti kehendak orangtuaku. Mereka berpikir lebih mengetahui dan keputusannya selalu baik," begitu kata para mahasiswa. Mulanya saya terkejut juga, bukankah kuliah di universitas terkemuka suatu kebanggaan? "Itu kebanggan orang tua, bukan saya," ujar beberapa mahasiswa yang mengakui bahwa dirinya cukup pandai.
Suatu hari saya meluangkan waktu mendengarkan seluruh unek-unek mereka. Hari Minggu lalu, selama dua belas jam mereka maju ke depan berbicara tentang masa lalu dan masa depan. Tentu saja, banyak mahasiswa yang jiwanya sehat yang tak saya bahas di sini, namun semakin aneh perilaku mahasiswa, semakin tertantang saya mendengarkannya. Anda tentu ingin mengetahui apa yang saya maksud berperilaku aneh?
Begini, berpakaian tidak matching, aksesoris yang janggal. Menyebut diri handsome atau pintar dari kata-kata orangtua sendiri. Bercelana bahan kain seperti orang kantoran namun bersepatu kets. Jarang mandi, berpenampilan kumuh, aroma tak sedap. Berpenampilan religius, namun sorot matanya penuh amarah dan kata-katanya pedas.
Duduk menyendiri di sudut belakang tak berani memandang, setiap diajak bicara menunduk takut. Diminta maju ke depan tak bisa berbicara apa-apa. Bahkan anak-anak pandai pun, ada yang saat diminta maju ke depan, terlalu banyak bergerak. Dan seterusnya.
Orangtua mungkin berpikir tugasnya sudah selesai saat anaknya diterima di universitas terkenal, seakan terjamin masa depannya. Namun sewaktu saya "bongkar" melalui metode "naik panggung" terungkaplah segala unek-unek. Saya menemukan hidup sejumlah mahasiswa penuh larangan. Bahkan ada orangtua yang bila tahu anaknya pergi tanpa dosen akan panik dan melarang ikut.
Sebagian lagi sulit mengontrol amarah. Membanting tiga hingga enam buah ponsel atau seringkali ketinggalan dan hilang berturut-turut. Rupanya, ibunda sangat panik saat tak bisa menghubungi anak gadisnya. Karena itu, setiap kali hilang atau rusak, orangtua selalu menggantinya dengan ponsel baru.
Saya juga menemui satu dua rekaman-rekaman kurang sehat yang mengajarkan hanya cara mereka yang benar. Orang atau kelompok lain selalu salah dan pantas disingkirkan. Tak dapat saya bayangkan bagaimana masa depan anak-anak yang terpenjara belief-nya, miskin perspektif, tak punya empati. Selain itu, banyak orang pintar yang menganggap orang lain yang berhasil sebagai ancaman.
Life skill
Lantas apa hubungan antara perilaku-perilaku yang kurang baik itu dengan perjalanan ke luar negeri dan ke pesantren yang saya set di atas? Di atas pengetahuan yang dapat dibelikan orangtua untuk anak-anaknya, sesungguhnya mereka membutuhkan life skills. Life skills ini tidak didapatkan anak-anak dari guru kurikulum atau orangtua yang hanya mengejar nilai akademis, intelektual atau raport belaka. Mereka membutuhkan guru kehidupan, dan orang tua adalah guru hidup yang paling berarti bagi masa depan anak-anak.
Apa sajakah life skill itu? WHO pernah menyebutkan life skill adalah modal untuk hidup sehat, dan UNESCO mengatakan bangsa yang maju dan perekonomiannya memiliki daya saing adalah bangsa yang menaman life skill sedari dini.
Ellen Galinsky menyebutkan tujuh essential life skills, sedangkan yang lain menyebutkan sepuluh. Kemampuan mengelola rasa frustasi, cognitive flexibility, focus dan self control, kemampuan mengambil keputusan dengan jernih, menimbang resiko, berpikir logis, kritis dan kreatif, berkomunikasi artikulatif, berempati pada kesulitan orang lain, kemampuan melihat dari perspektif yang berbeda, dan terakhir adalah apa yang ditemukan psikolog Carol Dweck, growth mindset yang saya bahas dua minggu lalu.
Orangtua yang memaksa anak-anaknya perlu meluangkan waktu untuk mendengarkan dan introspeksi. Anak-anak yang berhasil adalah anak-anak yang memiliki life skills, dan bangsa yang menang adalah bangsa yang punya keterampilan untuk hidup dan yang cara berpikirnya sehat. Negeri ini membutuhkan orangtua yang cerdas dan guru yang pendidik, bukan pengajar yang sekedar memindahkan isi buku.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=68&Itemid=57
Minggu-minggu ini, orangtua, sibuk memikirkan anak-anak. Liburan, kenaikan kelas, kuliah dan jurusan, pekerjaan yang cocok dan seterusnya. Orangtua merasa berhak mengatur, menentukan masa depan anak-anaknya.
Pada waktu yang bersamaan saya menerima kembali mahasiswa saya dari berbagai lokasi. Mahasiswa S1 yang belum pernah menumpang pesawat, saya wajibkan pergi berdua atau bertiga keluar negeri. Jangan anda tanya dari mana uangnya, pokoknya ada keajaiban. Anak- anak petani dan PNS yang hidupnya serba pas-pasan di UI itu sekarang sudah melihat macam-macam negara: Saudi, India, Jepang, Macau, Hongkong, China, Laos, Kamboja, Thailand, dan Vietnam. Pokoknya pergi ke negara yang penduduknya tak bisa diajak bahasa ibu mereka, dan tidak diantar oleh dosennya.
Sedangkan mahasiswa MM yang rata-rata berasal dari kelas menengah atas, yang datang ke kampus dengan mobil pribadi, saya kirim ke sebuah pesantren di Lamongan yang mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan dan kasih sayang lintas agama. Di sana mereka diajak mengasihi sesama, merawat kaum lansia yang dibuang anak-anaknya di hutan, merawat anak-anak balita yang dibuang orangtuanya sejak bayi, melakukan susur sungai, diskusi di pasar, berdialog bersama para santri dan petani.
Yang disharingkan dalam kolom ini adalah apa yang saya dapatkan dari dialog dengan anak-anak didik. Ada kerinduan anak-anak untuk menyampaikannya langsung kepada orangtua, namun entah mengapa leher mereka tercekat dan suaranya tak sampai ke sanubari kita. Tentu ada banyak cerita bagus dari mahasiswa berjiwa sehat yang tak bermasalah, namun saya batasi saja pada kasus-kasus penting yang perlu kita perhatikan yang tidak hanya saya temui di UI, melainkan merata di antara Generation C di berbagai kampus di nusantara.
Jangan Paksa Aku
"Selama bertahun-tahun hidupku hanya belajar dan menuruti kehendak orangtuaku. Mereka berpikir lebih mengetahui dan keputusannya selalu baik," begitu kata para mahasiswa. Mulanya saya terkejut juga, bukankah kuliah di universitas terkemuka suatu kebanggaan? "Itu kebanggan orang tua, bukan saya," ujar beberapa mahasiswa yang mengakui bahwa dirinya cukup pandai.
Suatu hari saya meluangkan waktu mendengarkan seluruh unek-unek mereka. Hari Minggu lalu, selama dua belas jam mereka maju ke depan berbicara tentang masa lalu dan masa depan. Tentu saja, banyak mahasiswa yang jiwanya sehat yang tak saya bahas di sini, namun semakin aneh perilaku mahasiswa, semakin tertantang saya mendengarkannya. Anda tentu ingin mengetahui apa yang saya maksud berperilaku aneh?
Begini, berpakaian tidak matching, aksesoris yang janggal. Menyebut diri handsome atau pintar dari kata-kata orangtua sendiri. Bercelana bahan kain seperti orang kantoran namun bersepatu kets. Jarang mandi, berpenampilan kumuh, aroma tak sedap. Berpenampilan religius, namun sorot matanya penuh amarah dan kata-katanya pedas.
Duduk menyendiri di sudut belakang tak berani memandang, setiap diajak bicara menunduk takut. Diminta maju ke depan tak bisa berbicara apa-apa. Bahkan anak-anak pandai pun, ada yang saat diminta maju ke depan, terlalu banyak bergerak. Dan seterusnya.
Orangtua mungkin berpikir tugasnya sudah selesai saat anaknya diterima di universitas terkenal, seakan terjamin masa depannya. Namun sewaktu saya "bongkar" melalui metode "naik panggung" terungkaplah segala unek-unek. Saya menemukan hidup sejumlah mahasiswa penuh larangan. Bahkan ada orangtua yang bila tahu anaknya pergi tanpa dosen akan panik dan melarang ikut.
Sebagian lagi sulit mengontrol amarah. Membanting tiga hingga enam buah ponsel atau seringkali ketinggalan dan hilang berturut-turut. Rupanya, ibunda sangat panik saat tak bisa menghubungi anak gadisnya. Karena itu, setiap kali hilang atau rusak, orangtua selalu menggantinya dengan ponsel baru.
Saya juga menemui satu dua rekaman-rekaman kurang sehat yang mengajarkan hanya cara mereka yang benar. Orang atau kelompok lain selalu salah dan pantas disingkirkan. Tak dapat saya bayangkan bagaimana masa depan anak-anak yang terpenjara belief-nya, miskin perspektif, tak punya empati. Selain itu, banyak orang pintar yang menganggap orang lain yang berhasil sebagai ancaman.
Life skill
Lantas apa hubungan antara perilaku-perilaku yang kurang baik itu dengan perjalanan ke luar negeri dan ke pesantren yang saya set di atas? Di atas pengetahuan yang dapat dibelikan orangtua untuk anak-anaknya, sesungguhnya mereka membutuhkan life skills. Life skills ini tidak didapatkan anak-anak dari guru kurikulum atau orangtua yang hanya mengejar nilai akademis, intelektual atau raport belaka. Mereka membutuhkan guru kehidupan, dan orang tua adalah guru hidup yang paling berarti bagi masa depan anak-anak.
Apa sajakah life skill itu? WHO pernah menyebutkan life skill adalah modal untuk hidup sehat, dan UNESCO mengatakan bangsa yang maju dan perekonomiannya memiliki daya saing adalah bangsa yang menaman life skill sedari dini.
Ellen Galinsky menyebutkan tujuh essential life skills, sedangkan yang lain menyebutkan sepuluh. Kemampuan mengelola rasa frustasi, cognitive flexibility, focus dan self control, kemampuan mengambil keputusan dengan jernih, menimbang resiko, berpikir logis, kritis dan kreatif, berkomunikasi artikulatif, berempati pada kesulitan orang lain, kemampuan melihat dari perspektif yang berbeda, dan terakhir adalah apa yang ditemukan psikolog Carol Dweck, growth mindset yang saya bahas dua minggu lalu.
Orangtua yang memaksa anak-anaknya perlu meluangkan waktu untuk mendengarkan dan introspeksi. Anak-anak yang berhasil adalah anak-anak yang memiliki life skills, dan bangsa yang menang adalah bangsa yang punya keterampilan untuk hidup dan yang cara berpikirnya sehat. Negeri ini membutuhkan orangtua yang cerdas dan guru yang pendidik, bukan pengajar yang sekedar memindahkan isi buku.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=68&Itemid=57
Sekolah untuk apa??
Sekolah Untuk Apa? - Sindo 7 Juli 2011
Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak kita mencari sekolah. Masuk universitas pilihan, susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk, ternyata banyak yang "salah kamar". Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah.
Demikianlah, diterima di PTN masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja. Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S2. Jadi birokrat atau jendral pun, sekarang banyak yang ingin punya gelar S3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA tiga puluh tahun yang lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini. Bahkan sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya.
Mengapa hanya soal memindahkan anak karena pindah rumah ke sekolah negeri lain saja biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun. Lengkap sudah masalah kita.
Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa di negeri yang serba sulit ini?
Kesadaran Membangun SDM
Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, PM Malaysia Mahathir Mohammad sadar betul pentingnya pembangunan SDM. Ia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar S2 dan S3 ke berbagai negara maju. hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai sepuluh tahun, lulusan terbaik itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya anda bisa lihat sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan birokrasinya.
Perubahan bukan hanya sampai di situ. Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis, serta peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai ditinggalkan. Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan seterusnya. Tak mengherankan kalau sekolah-sekolah di berbagai belahan dunia pun mulai berubah.
Di negeri Belanda saya sempat terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa. "Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka yang mendaftar harus kami terima," ujar seorang dekan di Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik. Seleksinya sangat ketat.
Lantas bagaimana membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? "Mudah saja," ujar dekan itu. "Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan berbeda,"ujarnya.
Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di New Zealand. Meski murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA, angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi. Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah.
Yang lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di tingkat SLTA di New Zealand. Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam sepuluh besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk mewancarai lulusan sekolah itu masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan mengintip bagaimana pelajaran diajarkan. Di luar dugaan saya, pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.
Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang terlalu kognitif, dengan guru-guru yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai rata-rata diatas 80 (betapapun stress-nya mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif namun tak menguasai semua subjek. Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan kemampuan mengkopi isi buku dan cacatan. Entah dimana keguruan itu muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.
Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negri, mungkin guru-guru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri. Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? "undang-undang menjamin semua orang punya hak yang sama untuk belajar," ujar seorang guru di New Zealand.
Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan inputnya? "itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya," ujar putera sulung saya yang kuliah di Auckland University tahun ketiga. Maksudnya, tes masuk tetap ada, tetapi hanya dipakai untuk penempatan dan kualifikasi.
Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu matematika dan bahasa Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori: akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan. Sekolah dilarang hanya menerima anak-anak bernilai akademik tinggi karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak, khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka hanya super dikedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur. Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya diberikan secara kognitif semata.
Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masing-masing. Bagi mereka yang bercita-cita menjadi dokter maka biologi dan ilmu kimia wajib dikuasai. Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia. Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting, statistik, dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika. Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Bayangkan, bukankah cita-cita pembuat kurikulum itu orangnya hebat sekali? Mungkin dia manusia super. Seorang lulusan SLTA, tahun pertama harus menguasai 4 bidang science (biologi, ilmu kimia, fisika, dan Matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris, dan satu bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga, dan komputer. Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Sama seperti kurikulum program S1 dua puluh tahun yang lalu yang sejajar dengan program S1 yang digabung hingga S3 di Amerika. Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor menyelesaikan di atas 100 SKS, makanya hampir tak ada yang lulus. Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun.
Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian tapi tak ada masalah kok! Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah merubah banyak hal, anak-anak kita dikepung informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, namun datang dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, tapi dari segala resources. Ilmu belajar menjari lebih penting dari apa yang dipelajari itu sendiri, karena itu diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, Lifelong learning.
Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan, "Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak sepuluh tahun yang lalu. Makanya sekolah sekarang harus memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah, metode diperbaharui, fasilitas baru dibangun," ujar seorang guru.
Masih banyak yang ingin saya diskusikan, namun sampai di sini ada baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah, dan untuk apa kita bersekolah? Mudah-mudahan kita bisa mendiskusikan lebih dalam minggu depan dan semoga anak-anak kita mendapatkan masa depannya yang lebih baik.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/411134/34/
Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak kita mencari sekolah. Masuk universitas pilihan, susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk, ternyata banyak yang "salah kamar". Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah.
Demikianlah, diterima di PTN masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja. Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S2. Jadi birokrat atau jendral pun, sekarang banyak yang ingin punya gelar S3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA tiga puluh tahun yang lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini. Bahkan sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya.
Mengapa hanya soal memindahkan anak karena pindah rumah ke sekolah negeri lain saja biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun. Lengkap sudah masalah kita.
Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa di negeri yang serba sulit ini?
Kesadaran Membangun SDM
Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, PM Malaysia Mahathir Mohammad sadar betul pentingnya pembangunan SDM. Ia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar S2 dan S3 ke berbagai negara maju. hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai sepuluh tahun, lulusan terbaik itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya anda bisa lihat sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan birokrasinya.
Perubahan bukan hanya sampai di situ. Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis, serta peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai ditinggalkan. Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan seterusnya. Tak mengherankan kalau sekolah-sekolah di berbagai belahan dunia pun mulai berubah.
Di negeri Belanda saya sempat terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa. "Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka yang mendaftar harus kami terima," ujar seorang dekan di Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik. Seleksinya sangat ketat.
Lantas bagaimana membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? "Mudah saja," ujar dekan itu. "Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan berbeda,"ujarnya.
Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di New Zealand. Meski murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA, angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi. Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah.
Yang lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di tingkat SLTA di New Zealand. Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam sepuluh besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk mewancarai lulusan sekolah itu masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan mengintip bagaimana pelajaran diajarkan. Di luar dugaan saya, pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.
Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang terlalu kognitif, dengan guru-guru yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai rata-rata diatas 80 (betapapun stress-nya mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif namun tak menguasai semua subjek. Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan kemampuan mengkopi isi buku dan cacatan. Entah dimana keguruan itu muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.
Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negri, mungkin guru-guru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri. Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? "undang-undang menjamin semua orang punya hak yang sama untuk belajar," ujar seorang guru di New Zealand.
Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan inputnya? "itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya," ujar putera sulung saya yang kuliah di Auckland University tahun ketiga. Maksudnya, tes masuk tetap ada, tetapi hanya dipakai untuk penempatan dan kualifikasi.
Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu matematika dan bahasa Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori: akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan. Sekolah dilarang hanya menerima anak-anak bernilai akademik tinggi karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak, khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka hanya super dikedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur. Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya diberikan secara kognitif semata.
Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masing-masing. Bagi mereka yang bercita-cita menjadi dokter maka biologi dan ilmu kimia wajib dikuasai. Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia. Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting, statistik, dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika. Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Bayangkan, bukankah cita-cita pembuat kurikulum itu orangnya hebat sekali? Mungkin dia manusia super. Seorang lulusan SLTA, tahun pertama harus menguasai 4 bidang science (biologi, ilmu kimia, fisika, dan Matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris, dan satu bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga, dan komputer. Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Sama seperti kurikulum program S1 dua puluh tahun yang lalu yang sejajar dengan program S1 yang digabung hingga S3 di Amerika. Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor menyelesaikan di atas 100 SKS, makanya hampir tak ada yang lulus. Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun.
Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian tapi tak ada masalah kok! Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah merubah banyak hal, anak-anak kita dikepung informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, namun datang dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, tapi dari segala resources. Ilmu belajar menjari lebih penting dari apa yang dipelajari itu sendiri, karena itu diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, Lifelong learning.
Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan, "Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak sepuluh tahun yang lalu. Makanya sekolah sekarang harus memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah, metode diperbaharui, fasilitas baru dibangun," ujar seorang guru.
Masih banyak yang ingin saya diskusikan, namun sampai di sini ada baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah, dan untuk apa kita bersekolah? Mudah-mudahan kita bisa mendiskusikan lebih dalam minggu depan dan semoga anak-anak kita mendapatkan masa depannya yang lebih baik.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/411134/34/
Kualitas Hidup = Ketepatan - Kesalahan
Anda akan menjadi ahli dan terkemuka dalam apa pun,
jika Anda berupaya keras untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang sama.
Jika Anda harus membuat kesalahan, pastikanlah itu adalah kesalahan yang baru.
Siapa pun yang mengeluhkan kesalahan-kesalahan yang sama, adalah orang yang tidak belajar dari kesulitan yang disebabkan oleh kesalahan yang sudah sering dibuatnya.
Padahal, kesalahan mempunyai kelas, dan menunjukkan kelas dari orang yang melakukannya.
Sadarilah, bahwa melakukan kesalahan pada tingkat yang tinggi – bisa lebih mulia daripada tidak melakukan kesalahan dalam kehidupan kecil yang penuh kekhawatiran.
Maka,
Janganlah hanya menghindari kesalahan. Tetapi terutama, hindarkanlah diri dari melakukan kesalahan yang sama.
Karena,
Hanya orang yang tidak tumbuh kemampuan dan kebijakannya, yang membuat kesalahan yang sama.
………..
Sahabat saya yang sedang melebihkan kekuatannya untuk membangun kehidupan yang sejahtera dan berbahagia,
Kita diuntungkan oleh keputusan-keputusan kita yang tepat, dan dirugikan oleh kesalahan-kesalahan kita.
Marilah kita perhatikan,
Mengulangi keputusan yang tepat, bahkan yang sama, bahkan yang mengenai hal yang itu-itu juga – selama tepat, akan tetap menguntungkan kita.
Tetapi,
Mengulangi keputusan yang salah, yang sama, dan mengenai yang itu-itu juga – adalah tanda rendahnya perhatian.
Orang yang tidak memperhatikan bagaimana kehidupan ini memperlakukannya saat membuat kesalahan, akan dipaksa merasakan kerugian berulang dari rendahnya keikhlasan untuk belajar.
Yang tidak memperhatikan kehidupan, tidak akan diperhatikan oleh kehidupan.
Maka marilah kita memperhatikan formula sederhana ini, bahwa
Kualitas Hidup = Ketepatan - Kesalahan
Perhatikanlah dampak dari keputusan-keputusan Anda, baik keputusan yang Anda buat, atau saat Anda memutuskan untuk tidak memutuskan.
Orang yang bersyukur dan mengingat keuntungan dari keputusannya yang tepat, dan menyesal dan mengingat kerugian dari kesalahannya, akan menjadi pribadi yang sejahtera, berbahagia dan terhormat.
Orang yang menyombongkan diri dan memboroskan keuntungan dari keputusannya yang tepat, dan marah dan menyalahkan selain dirinya karena kerugian dari kesalahannya, akan menjadi pribadi yang serba kekurangan, gerah hatinya, dan dijadikan contoh yang buruk.
Mario Teguh Golden Way
Beauty and the Beast
MTGW – BEAUTY AND THE BEAST - Program Pointers
Sahabat Indonesia yang baik hatinya,
Berikut adalah pointers dari program
Mario Teguh Golden Ways
BEAUTY AND THE BEAST
Yang ditayangkan semalam di
METRO TV
19:05 – 20:00 WIB
Please kindly enjoy, absorb, and apply.
…………..
Life is a perpetual rivalry between the beauty and the beast, outside and inside us.
Kehidupan adalah persaingan abadi antara keindahan dan keburukan di luar dan di dalam diri kita.
Kedamaian adalah target bergerak.
Kita tidak mungkin bisa merasa damai untuk waktu yang lama, tanpa memelihara kemampuan hati kita untuk menjadi lebih kuat daripada keburukan yang terjadi dan yang ditujukan kepada kita.
Kedamaian kita hari ini sangat mungkin tidak menetap sampai besok pagi, dan sangat tidak mungkin untuk sesuai dengan tantangan kehidupan kita tahun depan.
Itu sebabnya kita harus tumbuh dalam kekuatan kita untuk mengabaikan yang tidak penting, dan mengutamakan keadaan, kejadian, dan orang yang penting bagi kebaikan hidup kita dan bagi peran kita untuk kebaikan sesama dan alam.
All great people have survived and take advantage of their internal personal contradictions.
Semua orang besar telah berhasil selamat dan mengambil keuntungan dari kontradiksi di dalam pribadi mereka.
Sesungguhnya mereka juga tercabik-cabik antara kepentingan dan ketertarikan yang saling bertentangan, antara yang enak sekarang dengan yang baik nanti, antara yang mengutamakan diri sendiri dan yang mengutamakan kepentingan orang lain, antara yang belum tentu benar dan yang tidak jelas kesalahannya, antara karir dan keluarga, dan antara cinta dan kewajiban.
Kita semua sesungguhnya adalah jiwa-jiwa yang dibingungkan dengan pilihan-pilihan yang menarik ke arah-arah yang berlawanan dengan kekuatan yang sama.
Itu sebabnya, Anda yang berhasil, adalah yang berhasil menyerahkan dirinya kepada kekuatan kebaikan yang menarik Anda kepada kedamaian dan peran-peran kehidupan yang membahagiakan sesama dan melestarikan keindahan alam.
There will be no peace outside when there is no peace inside.
Tidak akan ada kedamaian di luar, jika tidak ada kedamaian di dalam.
Indera kita tidak akan mampu melihat, mendengar, dan merasakan keindahan di sekitar kita, di rumah, di pekerjaan, dan di dunia ini jika hati kita sendiri tidak damai.
Kedamaian di dalam diri kita memampukan kita untuk melihat, mendengar, dan merasakan keindahan didalam kehidupan kita.
Hanya hati yang damai yang mampu merasakan kehidupan yang damai.
Do not try to defeat contradictions, you will never succeed; because they are the essence of life. Try instead float above them, gently and patiently.
Janganlah berusaha untuk mengalahkan kontradiksi, Anda tidak mungkin berhasil, karena kontradiksi adalah esensi dari kehidupan. Sebagai gantinya, cobalah untuk mengapung di atasnya, dengan anggun dan sabar.
Segala sesuatu di alam ini diciptakan berpasang-pasangan. Ada malam dan ada siang, ada kebaikan dan ada keburukan, ada kebahagiaan dan ada kesedihan, dan ada masa depan dan ada masa lalu.
Tapi bagi yang hatinya bening dan pikirannya jernih, sesungguhnya dalam setiap keadaan pun, ada pasangan kesempatan yang jika kita bijak memilihnya, kita akan diuntungkan; atau kita akan dirugikan jika kita mendahulukan sikap yang tidak baik.
Seperti,
Saat diberhentikan dari pekerjaan, reaksi alamiah Anda adalah marah, bersedih, atau kecewa karena diperlakukan tidak adil.
Atau, sangat bersyukur, karena sekarang Anda tidak perlu ragu-ragu lagi untuk memulai rencana wirausaha yang sudah lama tertahan, karena kekhawatiran Anda mengenai pekerjaan.
Bagi Anda yang memilih untuk bersikap baik, bahkan keburukan dan musibah pun adalah perintah untuk memperkuat diri dan memperbaiki kehidupan.
Jadi, tugas kita bukanlah untuk menghapus pertentangan antara kebaikan dan keburukan, antara kedamaian dan kekacauan, atau antara kesenangan dan penderitaan.
Tugas kita adalah untuk mengapung dengan anggun dan sabar di atas semua kontradiksi itu, dan menjadi sebaik-baik manusia; yaitu yang bermanfaat bagi kebaikan hidup sesama dan alam.
…………..
Tetaplah menjadi jiwa baik yang berbakat bagi kedamaian dan kesejahteraan
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh, SM 1
Founder | MTSuperClub | A Friend For Your Success | Jakarta
Sahabat Indonesia yang baik hatinya,
Berikut adalah pointers dari program
Mario Teguh Golden Ways
BEAUTY AND THE BEAST
Yang ditayangkan semalam di
METRO TV
19:05 – 20:00 WIB
Please kindly enjoy, absorb, and apply.
…………..
Life is a perpetual rivalry between the beauty and the beast, outside and inside us.
Kehidupan adalah persaingan abadi antara keindahan dan keburukan di luar dan di dalam diri kita.
Kedamaian adalah target bergerak.
Kita tidak mungkin bisa merasa damai untuk waktu yang lama, tanpa memelihara kemampuan hati kita untuk menjadi lebih kuat daripada keburukan yang terjadi dan yang ditujukan kepada kita.
Kedamaian kita hari ini sangat mungkin tidak menetap sampai besok pagi, dan sangat tidak mungkin untuk sesuai dengan tantangan kehidupan kita tahun depan.
Itu sebabnya kita harus tumbuh dalam kekuatan kita untuk mengabaikan yang tidak penting, dan mengutamakan keadaan, kejadian, dan orang yang penting bagi kebaikan hidup kita dan bagi peran kita untuk kebaikan sesama dan alam.
All great people have survived and take advantage of their internal personal contradictions.
Semua orang besar telah berhasil selamat dan mengambil keuntungan dari kontradiksi di dalam pribadi mereka.
Sesungguhnya mereka juga tercabik-cabik antara kepentingan dan ketertarikan yang saling bertentangan, antara yang enak sekarang dengan yang baik nanti, antara yang mengutamakan diri sendiri dan yang mengutamakan kepentingan orang lain, antara yang belum tentu benar dan yang tidak jelas kesalahannya, antara karir dan keluarga, dan antara cinta dan kewajiban.
Kita semua sesungguhnya adalah jiwa-jiwa yang dibingungkan dengan pilihan-pilihan yang menarik ke arah-arah yang berlawanan dengan kekuatan yang sama.
Itu sebabnya, Anda yang berhasil, adalah yang berhasil menyerahkan dirinya kepada kekuatan kebaikan yang menarik Anda kepada kedamaian dan peran-peran kehidupan yang membahagiakan sesama dan melestarikan keindahan alam.
There will be no peace outside when there is no peace inside.
Tidak akan ada kedamaian di luar, jika tidak ada kedamaian di dalam.
Indera kita tidak akan mampu melihat, mendengar, dan merasakan keindahan di sekitar kita, di rumah, di pekerjaan, dan di dunia ini jika hati kita sendiri tidak damai.
Kedamaian di dalam diri kita memampukan kita untuk melihat, mendengar, dan merasakan keindahan didalam kehidupan kita.
Hanya hati yang damai yang mampu merasakan kehidupan yang damai.
Do not try to defeat contradictions, you will never succeed; because they are the essence of life. Try instead float above them, gently and patiently.
Janganlah berusaha untuk mengalahkan kontradiksi, Anda tidak mungkin berhasil, karena kontradiksi adalah esensi dari kehidupan. Sebagai gantinya, cobalah untuk mengapung di atasnya, dengan anggun dan sabar.
Segala sesuatu di alam ini diciptakan berpasang-pasangan. Ada malam dan ada siang, ada kebaikan dan ada keburukan, ada kebahagiaan dan ada kesedihan, dan ada masa depan dan ada masa lalu.
Tapi bagi yang hatinya bening dan pikirannya jernih, sesungguhnya dalam setiap keadaan pun, ada pasangan kesempatan yang jika kita bijak memilihnya, kita akan diuntungkan; atau kita akan dirugikan jika kita mendahulukan sikap yang tidak baik.
Seperti,
Saat diberhentikan dari pekerjaan, reaksi alamiah Anda adalah marah, bersedih, atau kecewa karena diperlakukan tidak adil.
Atau, sangat bersyukur, karena sekarang Anda tidak perlu ragu-ragu lagi untuk memulai rencana wirausaha yang sudah lama tertahan, karena kekhawatiran Anda mengenai pekerjaan.
Bagi Anda yang memilih untuk bersikap baik, bahkan keburukan dan musibah pun adalah perintah untuk memperkuat diri dan memperbaiki kehidupan.
Jadi, tugas kita bukanlah untuk menghapus pertentangan antara kebaikan dan keburukan, antara kedamaian dan kekacauan, atau antara kesenangan dan penderitaan.
Tugas kita adalah untuk mengapung dengan anggun dan sabar di atas semua kontradiksi itu, dan menjadi sebaik-baik manusia; yaitu yang bermanfaat bagi kebaikan hidup sesama dan alam.
…………..
Tetaplah menjadi jiwa baik yang berbakat bagi kedamaian dan kesejahteraan
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh, SM 1
Founder | MTSuperClub | A Friend For Your Success | Jakarta
Ide yang terbaik adalah ide yang paling sederhana
MT Super Note - IDE YANG TERBAIK ADALAH IDE YANG PALING SEDERHANA
Sahabat saya yang baik hatinya,
Siapa pun yang memiliki kemampuan untuk menyederhanakan kepelikan hidup, akan menjadi pribadi yang berharga.
Perhatikanlah,
Ide-ide terbaik dalam kehidupan pribadi, karir, dan bisnis kita selalu sederhana.
Dan pribadi yang menarik bagi kita, adalah pribadi yang menyederhanakan sikap dan cara-cara pribadinya, sehingga kita mudah mengerti maksud baiknya, mudah mempercayai kemungkinan keuntungan yang bisa disampaikannya, dan mudah merasa damai dalam kebersamaan dengannya.
Kita tidak ingin menghabiskan hari-hari dalam kehidupan kita dengan orang yang kompleks, yang masih terkoyak antara kepelikan dan konflik antara logika dan perasaannya, antara idealisme dan kepalsuannya.
Setiap pribadi dari kita sesungguhnya sedang mengupayakan sudut pandang yang tepat, agar kita bisa melihat jalan naik yang menyederhanakan kepelikan pikiran dan emosi kita.
Maka apa dan siapa pun yang tidak membantu Anda menemukan sikap dan cara hidup yang sederhana, pasti akan membingungkan Anda dengan kepelikan.
Ingatlah, cara yang sederhana – saja, sulit untuk diterapkan, apalagi cara-cara yang sulit dan pelik.
Ide yang terbaik adalah ide yang paling sederhana.
Mario Teguh
Founder | MTSuperClub | A Friend For Your Success | Jakarta
Sahabat saya yang baik hatinya,
Siapa pun yang memiliki kemampuan untuk menyederhanakan kepelikan hidup, akan menjadi pribadi yang berharga.
Perhatikanlah,
Ide-ide terbaik dalam kehidupan pribadi, karir, dan bisnis kita selalu sederhana.
Dan pribadi yang menarik bagi kita, adalah pribadi yang menyederhanakan sikap dan cara-cara pribadinya, sehingga kita mudah mengerti maksud baiknya, mudah mempercayai kemungkinan keuntungan yang bisa disampaikannya, dan mudah merasa damai dalam kebersamaan dengannya.
Kita tidak ingin menghabiskan hari-hari dalam kehidupan kita dengan orang yang kompleks, yang masih terkoyak antara kepelikan dan konflik antara logika dan perasaannya, antara idealisme dan kepalsuannya.
Setiap pribadi dari kita sesungguhnya sedang mengupayakan sudut pandang yang tepat, agar kita bisa melihat jalan naik yang menyederhanakan kepelikan pikiran dan emosi kita.
Maka apa dan siapa pun yang tidak membantu Anda menemukan sikap dan cara hidup yang sederhana, pasti akan membingungkan Anda dengan kepelikan.
Ingatlah, cara yang sederhana – saja, sulit untuk diterapkan, apalagi cara-cara yang sulit dan pelik.
Ide yang terbaik adalah ide yang paling sederhana.
Mario Teguh
Founder | MTSuperClub | A Friend For Your Success | Jakarta
Melihat hal-hal biasa dari sudut pandang yg tidak biasa
MT Super Note - MELIHAT HAL-HAL BIASA DARI SUDUT PANDANG YANG TIDAK BIASA
Mario Teguh Mentoring Forum
Melihat Hal-Hal Biasa Dari Sudut Pandang Yang Tidak Biasa
dengan sub pokok bahasannya adalah:
1. tanggung-jawab pribadi bagi keberhasilan
2. sudut pandang yang meneroboskan
3. berbicara dengan logika yang jelas
4. berbicara dengan daya tarik yang kuat
5. personal style yang memikat
6. menjual pendapat
………..
Sahabat saya yang baik hatinya,
Semua pencapaian keberhasilan dalam kehidupan pribadi, karir, atau bisnis Anda, sangat bergantung kepada kemampuan pribadi Anda, untuk:
1. Melihat hal-hal biasa dari sudut pandang yang tidak biasa,
dan
2. Menyampaikannya dengan kejelasan logika dan daya tarik yang tidak biasa baiknya.
Sesungguhnya, tidak ada kebutuhan baru dalam kehidupan ini. Karena, semua yang kita sebut baru itu adalah cara-cara baru untuk memenuhi kebutuhan lama kita, yang berupa cara-cara yang lebih baik dari pada cara-cara lama kita.
Anda yang bisa melihat cara baru untuk memenuhi kebutuhan yang penting, akan ditempatkan pada posisi yang dihargai tinggi, dan yang dipercayakan kepemimpinan dalam bidang itu.
Lebih hebat lagi, jika Anda memiliki kemampuan untuk ‘menjual’ pengamatan unik Anda itu dengan paparan logika yang kejelasannya tak terpikirkan oleh orang lain, dan dengan daya tarik ‘personal style’ Anda yang juga tidak lazim baiknya.
Mohon selalu Anda sadari, bahwa keberhasilan apa pun yang sudah Anda capai, dan keberhasilan berikutnya yang masih berada dalam daftar impian Anda, semuanya berdiri di atas kualitas pribadi Anda.
Hanya Anda lah yang bisa memberhasilkan Anda.
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh
………..
Mudah-mudahan pointer di atas dapat membantu Anda memelihara fokus yang baik untuk menghormati hal-hal biasa yang selama ini tidak dilihat potensinya sebagai penghebat kehidupan pribadi dan karir.
Mudah-mudahan Tuhan memberkati Anda dengan hati yang ikhlas menghargai yang sudah ada pada Anda, dan menggunakannya sebagai modal dan sarana awal bagi peningkatan kebahagiaan, kemandirian finansial, dan pengembangan peran sosial yang bernilai.
Mohon Anda sampaikan comment dan pertanyaan Anda di www.mtsuperclub.com, agar rekan-rekan Moderator, Greeters, dan saya dapat membantu Anda menikmati penggunaan pengertian dari pointer di atas bagi kebaikan hidup Anda dan keluarga terkasih.
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh
Founder | MTSuperClub | Loving you all as always
Mario Teguh Mentoring Forum
Melihat Hal-Hal Biasa Dari Sudut Pandang Yang Tidak Biasa
dengan sub pokok bahasannya adalah:
1. tanggung-jawab pribadi bagi keberhasilan
2. sudut pandang yang meneroboskan
3. berbicara dengan logika yang jelas
4. berbicara dengan daya tarik yang kuat
5. personal style yang memikat
6. menjual pendapat
………..
Sahabat saya yang baik hatinya,
Semua pencapaian keberhasilan dalam kehidupan pribadi, karir, atau bisnis Anda, sangat bergantung kepada kemampuan pribadi Anda, untuk:
1. Melihat hal-hal biasa dari sudut pandang yang tidak biasa,
dan
2. Menyampaikannya dengan kejelasan logika dan daya tarik yang tidak biasa baiknya.
Sesungguhnya, tidak ada kebutuhan baru dalam kehidupan ini. Karena, semua yang kita sebut baru itu adalah cara-cara baru untuk memenuhi kebutuhan lama kita, yang berupa cara-cara yang lebih baik dari pada cara-cara lama kita.
Anda yang bisa melihat cara baru untuk memenuhi kebutuhan yang penting, akan ditempatkan pada posisi yang dihargai tinggi, dan yang dipercayakan kepemimpinan dalam bidang itu.
Lebih hebat lagi, jika Anda memiliki kemampuan untuk ‘menjual’ pengamatan unik Anda itu dengan paparan logika yang kejelasannya tak terpikirkan oleh orang lain, dan dengan daya tarik ‘personal style’ Anda yang juga tidak lazim baiknya.
Mohon selalu Anda sadari, bahwa keberhasilan apa pun yang sudah Anda capai, dan keberhasilan berikutnya yang masih berada dalam daftar impian Anda, semuanya berdiri di atas kualitas pribadi Anda.
Hanya Anda lah yang bisa memberhasilkan Anda.
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh
………..
Mudah-mudahan pointer di atas dapat membantu Anda memelihara fokus yang baik untuk menghormati hal-hal biasa yang selama ini tidak dilihat potensinya sebagai penghebat kehidupan pribadi dan karir.
Mudah-mudahan Tuhan memberkati Anda dengan hati yang ikhlas menghargai yang sudah ada pada Anda, dan menggunakannya sebagai modal dan sarana awal bagi peningkatan kebahagiaan, kemandirian finansial, dan pengembangan peran sosial yang bernilai.
Mohon Anda sampaikan comment dan pertanyaan Anda di www.mtsuperclub.com, agar rekan-rekan Moderator, Greeters, dan saya dapat membantu Anda menikmati penggunaan pengertian dari pointer di atas bagi kebaikan hidup Anda dan keluarga terkasih.
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh
Founder | MTSuperClub | Loving you all as always
PERSONAL VISION - KEMAMPUAN UNTUK MELIHAT YANG BELUM DILIHAT OLEH ORANG LAIN
Sahabat saya yang besar impiannya,
Setiap orang adalah pemimpin.
Jika dia bukan pemimpin bagi keluarganya dan bagi orang lain, dia harus menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.
Orang yang tidak mampu mengalahkan kecenderungan pribadinya untuk menjadi pribadi yang kalah melawan rasa malas, menyerah di bawah paksaan kesenangan sementara, dan mendahulukan kebiasaan untuk menunda, tidak akan mampu memimpin siapa pun untuk mencapai apa pun.
Dalam bahasan di MT Super Forum kali ini, marilah kita memeriksa kembali keefektifan dari visi kita mengenai peran kita dalam kehidupan kita hari ini dan di masa depan.
Mario Teguh Super Forum
PERSONAL VISION
KEMAMPUAN UNTUK MELIHAT YANG BELUM DILIHAT OLEH ORANG LAIN
Di www.MTSuperClub.com
Sahabat saya yang jernih pikirannya,
RAHASIA KEBERHASILAN DI MASA DEPAN ADALAH KEMAMPUAN UNTUK MELIHAT YANG BELUM DILIHAT OLEH ORANG LAIN.
Kita menghargai diri kita sendiri dari kejelasan kemungkinan yang bisa kita capai.
Dan orang-orang yang kita pimpin menghargai kita dari kejelasan kemungkinan yang bisa mereka capai di bawah kepemimpinan kita.
Sebagai pemimpin, kita dituntut untuk mampu melihat potensi dari bisnis, organisasi, dan melihat potensi pasar lebih baik dari yang bisa dilihat oleh para pemimpin dari bisnis pesaing kita.
Kemampuan untuk mengenali potensi inilah yang membuat seorang pemimpin memiliki business confidence, keyakinan bisnis, yang terkadang sulit diikuti oleh anggota organisasinya.
Seorang pemimpin yang efektif memiliki business confidence dan kepiawaian untuk menularkan keyakinan bisnis-nya itu ke seluruh anggota organisasinya.
Sebagian di antara kita tidak bisa duduk tenang atau tidur dengan lelap karena kegirangan yang kuat atas janji-janji kemungkinan yang bisa kita capai di masa depan.
Tapi tidak sedikit rekan kita yang telah tidak bermimpi lagi.
Mereka tidak lagi percaya bahwa mereka berhak untuk berhasil, untuk mencapai kemungkinan yang sebetulnya menjadi hak kelahiran mereka.
Mereka tidak digirangkan oleh kemungkinan-kemungkinan yang bisa mereka capai, dan tidak menyadari nilai dari memimpikan pencapaian kemungkinan.
Mereka tidak sadar bahwa
MIMPI ADALAH SEBUAH BENTUK PERENCANAAN.
Marilah selalu kita ingat, bahwa
Orang yang hanya memimpikan yang kecil, tidak mungkin pantas untuk memimpin keluarga atau organisasi yang impiannya besar.
bagaimana mungkin pribadi yang tak bermimpi, jadi menarik bagi calon pasangan hidup yang memimpikan peran kehidupan yang besar?
Bagaimana mungkin seorang suami yang impiannya kecil dan penakut, bisa membahagiakan istri yang rencananya besar bagi kemajuan pendidikan dan kehidupan anak-anaknya di masa depan?
Bagaimana mungkin seorang istri yang maunya hanya menyenangkan dirinya dengan hiburan murahan yang tak berguna, bisa pantas mendampingi seorang suami yang seorang profesional senior atau pebisnis yang besar impiannya dan yang berkelas pergaulannya?
MIMPI ADALAH SEBUAH BENTUK PERENCANAAN
Maka jika rencana Anda besar, hati Anda akan ramah kepada impian-impian besar.
Maka jika impian Anda besar, ramahkanlah diri Anda kepada rencana-rencana yang besar.
Dan jika rencana-rencana Anda besar, biasakanlah untuk bersegera melakukan hal-hal kecil yang terdekat dengan Anda, yang penyelesaiannya akan mengantarkan Anda kepada hasil-hasil yang besar.
Apakah Anda melihat diri Anda sebagai pribadi yang besar di masa depan?
Ingatlah,
Anda menghargai diri Anda sendiri dari kejelasan kemungkinan yang bisa Anda capai.
………..
Sahabat saya yang baik hatinya,
Sampaikanlah komentar dan pertanyaan Anda di sini, agar kami semua bisa terlibat dalam diskusi yang mencerahkan pengertian kita bagi peran-peran kehidupan yang bisa kita emban sendiri-sendiri atau secara bersama.
Tetaplah menjadi jiwa baik yang dicintai Tuhan, yang memantaskan diri bagi sebesar-besarnya rezeki.
Terima kasih dan salam super,
Mario Teguh, SM 1
Founder | MTSuperClub | A Friend For Your Success | Jakarta
Karir Kedua
Artikel ini dimuat di Jawapos 25 Juli 2011
Di masa lalu, rata-rata pegawai dan eksekutif Indonesia hanya menikmati satu karier saja sepanjang hidupnya. Maksud saya, bukan hanya pada satu jenis industri saja, melainkan juga pada satu perusahaan. Orangtua saya dulu bekerja untuk sebuah perusahaan pelayaran, dan ia hanya bekerja di sana sampai pensiun. Demikian pula para pegawai yang bekerja di BUMN dan perusahaan-perusahaan besar, apakah itu perkebunan, minyak dan gas, pertambangan, logistik, airlines, dan sebagainya.
Semakin besar perusahaan dan semakin banyak paket "kenyamanan", maka makin betahlah seorang berkarir. Turn over kepindahan rendah. Dan tahukah Anda, perusahaan yang dirancang seperti ini rata-rata usia karyawannya cukup tua. Rata-rata usia karyawan di perusahaan perkebunan milik negara adalah 45-50 tahun, dosen di universitas tua, 40 tahun serta usia pegawai Pertamina saat mulai dipimpin Arie Sumarno adalah 45 tahun. Bandingkan dengan universitas yg masih muda (30 tahun), Trans TV (dugaan saya, 26 tahun), IT - based companies (rata-rata 27 tahun).
Saya rasakan bedanya, kalau mampir ke perusahaan yang mapan saya dipanggil bapak, sedangkan di Trans TV mereka memanggil saya "Oom". Sudah begitu turn over karyawannya tinggi sekali, sangat kompetitif, jam kerja padat, proaktif, dan kreatif.
Namun semakin ke sini banyak perusahaan yang membongkar diri menjadi lebih muda, dinamis, dan agresif. Dalam buku Cracking Zone, saya menyebutkan telah terjadi peralihan dari "budaya kucing" menjadi "budaya cheetah".
Kompetisi di dalam lebih keras, comfort zone menjadi musuh kemajuan. Kinerja semua orang diukur, yang rajin membolos atau tak menghasilkan apa-apa diberi paket pensiun dini atau keluar. Maka sejak lima tahun terakhir ini dunia karyawan Indonesia mulai mengenal istilah "karir kedua". Kalau berhenti bekerja atau keluar dari sangkar emas di usia kepala empat, apa yang mau dilakukan?
Segudang Pilihan
Orang-orang dulu hanya punya pilihan ganti kerja. Dari Guru sekolah negeri ke sekolah swasta, dari PTPN ke perkebunan swasta, dari Pertamina ke Shell atau Petronas dan seterusnya. Tetapi sekarang Anda punya banyak pilihan. Kemarin saya didatangi mantan pegawai departemen keuangan yang kini menjadi pengusaha SPBU. Seorang kepala bagian distribusi sebuah media cetak kini menjadi pemilik restoran bebek goreng. Mantan direktur keuangan BUMN menjadi politisi. Istri saya yang dulu bekerja kini menjadi penggiat sosial. Pilihannya luas sekali, mulai dari menjadi wirausaha, politisi, ustads atau pendeta, aktivis sosial, pendongeng, penyiar radio, pelukis, lobist, penulis buku, guru, dan sebagainya.
Semua pilihan ada di tangan Anda. Sekarang juga ada banyak alat tes yang dapat Anda andalkan untuk menemukan bakat. Mulai dari tes tertulis, foto aura, finger test, psikotes sampai fortune teller dan tes bakat melalui internet.
Tetapi harap diperhatikan, bakat itu hanya menggambarkan potensi belaka. Potensi itu baru bisa menjadi kekuatan kalau Anda berhasil menemukan "pintunya". Maka, keluarlah dari sangkar emas Anda, berjalanlah menemukan seribu satu orang, datangi berbagai pihak, niscaya Anda akan menemukan jalan tol yang membawa potensi itu ke pintu gerbang kebahagiaan.
Manajemen Frustasi
Namanya juga karir kedua, pasti tak senyaman hidup di ujung karir pertama. Di awal karir kedua semua orang akan memulai lagi hidupnya dari segala ketidaknyamanan. Tak peduli berapapun usia Anda, di awal karir kedua Anda adalah junior yang tengah berevolusi. Gamang, kurang luwes, ragu-ragu, banyak bengongnya, lebih sering kalah daripada menang, kurang pede, belum banyak dikenal, dan seterusnya.
Maka di Amerika Serikat, banyak universitas dan college yang menawarkan program transisi yang membantu karyawan-karyawan di usia 40-an yang ingin hijrah ke karir kedua. Program second career ini bisa Anda temui di hampir semua kota, dan pemerintah memberi dukungan yang tinggi supaya mereka tidak menjadi penganggur yang memberatkan negara dan keluarganya.
Saya pikir ada baiknya program seperti ini mulai digagas di sini. Namun apapun pilihan yang Anda ambil, saya kira setiap orang yang pindah kwadran hendaknya sadar bahwa tak ada keberhasilan tanpa kemampuan mengelola rasa frustrasi. Tak ada upaya baru yang seketika akan sukses, dan selama Anda memulainya Anda pasti akan mengalami masa-masa yang sulit. Dan kalau kurang berhasil, jangan diamkan. Lakukan sesuatu dan tiupkan ruh kesegaran agar cahaya kembali bersinar seperti ketika Anda memulai karir pertama dulu. Selamat memasuki karir kedua.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=91&Itemid=57
Di masa lalu, rata-rata pegawai dan eksekutif Indonesia hanya menikmati satu karier saja sepanjang hidupnya. Maksud saya, bukan hanya pada satu jenis industri saja, melainkan juga pada satu perusahaan. Orangtua saya dulu bekerja untuk sebuah perusahaan pelayaran, dan ia hanya bekerja di sana sampai pensiun. Demikian pula para pegawai yang bekerja di BUMN dan perusahaan-perusahaan besar, apakah itu perkebunan, minyak dan gas, pertambangan, logistik, airlines, dan sebagainya.
Semakin besar perusahaan dan semakin banyak paket "kenyamanan", maka makin betahlah seorang berkarir. Turn over kepindahan rendah. Dan tahukah Anda, perusahaan yang dirancang seperti ini rata-rata usia karyawannya cukup tua. Rata-rata usia karyawan di perusahaan perkebunan milik negara adalah 45-50 tahun, dosen di universitas tua, 40 tahun serta usia pegawai Pertamina saat mulai dipimpin Arie Sumarno adalah 45 tahun. Bandingkan dengan universitas yg masih muda (30 tahun), Trans TV (dugaan saya, 26 tahun), IT - based companies (rata-rata 27 tahun).
Saya rasakan bedanya, kalau mampir ke perusahaan yang mapan saya dipanggil bapak, sedangkan di Trans TV mereka memanggil saya "Oom". Sudah begitu turn over karyawannya tinggi sekali, sangat kompetitif, jam kerja padat, proaktif, dan kreatif.
Namun semakin ke sini banyak perusahaan yang membongkar diri menjadi lebih muda, dinamis, dan agresif. Dalam buku Cracking Zone, saya menyebutkan telah terjadi peralihan dari "budaya kucing" menjadi "budaya cheetah".
Kompetisi di dalam lebih keras, comfort zone menjadi musuh kemajuan. Kinerja semua orang diukur, yang rajin membolos atau tak menghasilkan apa-apa diberi paket pensiun dini atau keluar. Maka sejak lima tahun terakhir ini dunia karyawan Indonesia mulai mengenal istilah "karir kedua". Kalau berhenti bekerja atau keluar dari sangkar emas di usia kepala empat, apa yang mau dilakukan?
Segudang Pilihan
Orang-orang dulu hanya punya pilihan ganti kerja. Dari Guru sekolah negeri ke sekolah swasta, dari PTPN ke perkebunan swasta, dari Pertamina ke Shell atau Petronas dan seterusnya. Tetapi sekarang Anda punya banyak pilihan. Kemarin saya didatangi mantan pegawai departemen keuangan yang kini menjadi pengusaha SPBU. Seorang kepala bagian distribusi sebuah media cetak kini menjadi pemilik restoran bebek goreng. Mantan direktur keuangan BUMN menjadi politisi. Istri saya yang dulu bekerja kini menjadi penggiat sosial. Pilihannya luas sekali, mulai dari menjadi wirausaha, politisi, ustads atau pendeta, aktivis sosial, pendongeng, penyiar radio, pelukis, lobist, penulis buku, guru, dan sebagainya.
Semua pilihan ada di tangan Anda. Sekarang juga ada banyak alat tes yang dapat Anda andalkan untuk menemukan bakat. Mulai dari tes tertulis, foto aura, finger test, psikotes sampai fortune teller dan tes bakat melalui internet.
Tetapi harap diperhatikan, bakat itu hanya menggambarkan potensi belaka. Potensi itu baru bisa menjadi kekuatan kalau Anda berhasil menemukan "pintunya". Maka, keluarlah dari sangkar emas Anda, berjalanlah menemukan seribu satu orang, datangi berbagai pihak, niscaya Anda akan menemukan jalan tol yang membawa potensi itu ke pintu gerbang kebahagiaan.
Manajemen Frustasi
Namanya juga karir kedua, pasti tak senyaman hidup di ujung karir pertama. Di awal karir kedua semua orang akan memulai lagi hidupnya dari segala ketidaknyamanan. Tak peduli berapapun usia Anda, di awal karir kedua Anda adalah junior yang tengah berevolusi. Gamang, kurang luwes, ragu-ragu, banyak bengongnya, lebih sering kalah daripada menang, kurang pede, belum banyak dikenal, dan seterusnya.
Maka di Amerika Serikat, banyak universitas dan college yang menawarkan program transisi yang membantu karyawan-karyawan di usia 40-an yang ingin hijrah ke karir kedua. Program second career ini bisa Anda temui di hampir semua kota, dan pemerintah memberi dukungan yang tinggi supaya mereka tidak menjadi penganggur yang memberatkan negara dan keluarganya.
Saya pikir ada baiknya program seperti ini mulai digagas di sini. Namun apapun pilihan yang Anda ambil, saya kira setiap orang yang pindah kwadran hendaknya sadar bahwa tak ada keberhasilan tanpa kemampuan mengelola rasa frustrasi. Tak ada upaya baru yang seketika akan sukses, dan selama Anda memulainya Anda pasti akan mengalami masa-masa yang sulit. Dan kalau kurang berhasil, jangan diamkan. Lakukan sesuatu dan tiupkan ruh kesegaran agar cahaya kembali bersinar seperti ketika Anda memulai karir pertama dulu. Selamat memasuki karir kedua.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=91&Itemid=57
Lead by Heart - Michael D. Ruslim
Tribute To Michael Ruslim - Sindo 2 Juni 2011
Rabu sore (01 Juni 2011) keluarga besar PT. Astra International Tbk meluncurkan buku “Lead by Heart” yang ditulis sebagai a tribute (penghormatan) kepada CEO yang dicintai banyak orang. Michael adalah CEO PT. Astra International Tbk (2005-2010) yang meninggal dunia di puncak kariernya, 20 Januari 2010.
Kepergiannya meninggalkan banyak kenangan indah, karena ia seorang pemimpin yang tidak hanya baik hati saja, melainkan juga mewariskan prestasi yang sangat membanggakan. Banyak orang percaya, kinerja yang dicapai Astra hari ini, tidak lepas dari kepemimpinannya di masa lalu.
Seperti acara pemberian tribute lainnya yang pernah saya hadiri, penuh puji-puji. Dan almarhum Michael sepertinya layak mendapatkannya. Ia seorang CEO yang cerdas, cepat menangkap inti persoalan, rendah hati, sederhana, berbelas kasih, dan memiliki segudang empati. Sebagai pembicara dalam talkshow yang disampaikan sahabat-sahabat dan mentornya, saya diminta memberi kajian akademis tentang gaya manajemen dan leadership. Berikut adalah alasan saya.
Buaya atau Lumba-Lumba
Saya mulai penjelasan saya dengan tipologi dua jenis kepemimpinan yang diperkenalkan Joseph White beberapa tahun yang lalu. Manusia pekerja dan manajer umumnya terbagi ke dalam dua dikotomi, yaitu tipe buaya (reptil) dan tipe lumba-lumba (mamalia). Perbedaan antara keduanya ini sudah sering saya ulas, dan mungkin Anda sudah pernah membacanya.
Dalam berbagai pelatihan saya sering meminta pada para peserta agar mengidentifikasi diri masing-masing apakah mereka tipe buaya atau lumba-lumba. Dan seperti yang saya duga hampir semua peserta lebih senang menyebut dirinya sebagai lumba-lumba. Mengapa lumba-lumba?
“Karena lumba-lumba lucu, pandai, dan baik hati,” ujar mereka.
Satu-dua peserta mengaku sebagai buaya. Bagi mereka buaya itu bengis dan kalau cari makan berani jalan sendiri. Tetapi setelah saya berikan alat tes ternyata mereka saling berkebalikan. Banyak ditemui”buaya” yang merasa dirinya “lumba-lumba”, demikian juga sebaliknya.
Lantas seperti apakah kepemimpinan Michael D. Ruslim? Sepintas ia seperti mamalia, bukan? Mamalia biasanya punya ciri-ciri berempati, merawat (nurture), pandai, intuitif, partisipatif dan hangat. Tetapi dilain pihak, sahabat dan rekan-rekan kerjanya juga menyebut ciri-ciri lain yang dimiliki oleh “buaya” seperti disiplin, decisive, detail, rational dan number cruncher. Dalam buku “Lead by Heart” terungkap hal-hal yang demikian. Tetapi bedanya ia tidak memelihara sifat-sifat ”ganas” buaya seperti : berdarah dingin, memisahkan diri (detach), agresif, dan menyerang.
Menurut Jusuf Kalla yang hadir pada kesempatan itu, pemimpin bisnis biasanya memimpin dengan akal, bukan dengan hati. Itu sebabnya di Bugis, pengusaha disebut saudagar yang berarti memiliki seribu akal. Sedangkan almarhum Michael justru sebaliknya: Hati memimpin otaknya.
Bagaimana kita menjelaskan fenomena ini? Tentu saja keberhasilan Michael Ruslim tidak mudah ditiru oleh orang lain. Sebab setiap orang dibesarkan dalam suasana batin yang berbeda-beda. Hati manusia tidak sama. Michael dibesarkan dalam keluarga pengusaha yang praktis hidup dalam suasana yang “peaceful”. Ia tidak memiliki beban sejarah yang membuatnya mudah naik pitam atau kehilangan rasa percaya diri. Ia juga dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih dan santun.
Dalam karir sesorang, perjalanan pertamanya biasanya diisi oleh salah satu dari kedua dikotomi di atas. Tetapi berlangsungnya waktu, manusia yang belajar pun berubah.
Manusia reptilia yang pandai mampu melihat sisi-sisi positif mamalia, sekaligus sisi-sisi buruk reptilia. Demikian juga dengan manusia mamalia. Kalau mereka belajar, pasti dengan cepat mereka ingin mengambil kekuatan-kekuatan reptilia, sekaligus membuang sifat-sifat tertentu mamalia yang cenderung lunak dan populis.
Apa-apa saja yang dibuang dan apa-apa saja yang diambil akan menentukan mereka menjadi apa.
Yang jelas, pemimpin besar bukanlah salah satu dari kedua dikotomi diatas. Pemimpin besar justru lahir dari kombinasi pembelajaran keduanya yang saya sebut sebagai “mama-reptil”. Hanya saja, ada mama-reptil yang cenderung mammals dan ada yang cenderung reptiles. Orang-orang yang dibesarkan dalam tradisi profesi kenangan biasanya cenderung reptiles, sedangkan mereka yang dibesarkandalam tradisi SDM biasanya agak mammals. Nah, pembelajaran dan siapa mentor mereka akan menentukan mereka akan menjadi apa.
Dari pembicaraan orang-orang dekat almarhum Michael Ruslim, saya hampir dapat menyimpulkan, CEO baik hati ini sebagai mama-reptil dengan kecenderungan mamalia. Tidak mengherankan bila banyak orang yang mengenalnya menyebut almarhum sebagai angels (malaikat).
Datangkan Energy
Namun demikian, perlu saya garis bawahi nasehat Joseph White. Pemimpin besar, bukanlah seorang pekerja tekun. Ia adalah seorang besar yang memiliki kemampuan “helicopter view”.
Tugas seorang pemimpin bukanlah mengerjakan hal-hal teknis, melainkan menciptakan tiga kondisi. Pertama, bangun aspirasi yang mungkin mendukung. Kedua, dapatkan orang-orang bagus (great leader). Dan ketiga, bawa energi besar ke tengah-tengah mereka dan bangun antusiasme untuk bergerak.
Saya percaya Anda semua merindukan pemimpin yang baik hati. Tetapi lebih dari itu kita butuh pemimpin yang bisa membawa energi besar untuk menciptakan perubahan. Jadilah pemimpin yang berhati mulia, bersih, namun tetap mengedepankan kinerja.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=65&Itemid=57
Rabu sore (01 Juni 2011) keluarga besar PT. Astra International Tbk meluncurkan buku “Lead by Heart” yang ditulis sebagai a tribute (penghormatan) kepada CEO yang dicintai banyak orang. Michael adalah CEO PT. Astra International Tbk (2005-2010) yang meninggal dunia di puncak kariernya, 20 Januari 2010.
Kepergiannya meninggalkan banyak kenangan indah, karena ia seorang pemimpin yang tidak hanya baik hati saja, melainkan juga mewariskan prestasi yang sangat membanggakan. Banyak orang percaya, kinerja yang dicapai Astra hari ini, tidak lepas dari kepemimpinannya di masa lalu.
Seperti acara pemberian tribute lainnya yang pernah saya hadiri, penuh puji-puji. Dan almarhum Michael sepertinya layak mendapatkannya. Ia seorang CEO yang cerdas, cepat menangkap inti persoalan, rendah hati, sederhana, berbelas kasih, dan memiliki segudang empati. Sebagai pembicara dalam talkshow yang disampaikan sahabat-sahabat dan mentornya, saya diminta memberi kajian akademis tentang gaya manajemen dan leadership. Berikut adalah alasan saya.
Buaya atau Lumba-Lumba
Saya mulai penjelasan saya dengan tipologi dua jenis kepemimpinan yang diperkenalkan Joseph White beberapa tahun yang lalu. Manusia pekerja dan manajer umumnya terbagi ke dalam dua dikotomi, yaitu tipe buaya (reptil) dan tipe lumba-lumba (mamalia). Perbedaan antara keduanya ini sudah sering saya ulas, dan mungkin Anda sudah pernah membacanya.
Dalam berbagai pelatihan saya sering meminta pada para peserta agar mengidentifikasi diri masing-masing apakah mereka tipe buaya atau lumba-lumba. Dan seperti yang saya duga hampir semua peserta lebih senang menyebut dirinya sebagai lumba-lumba. Mengapa lumba-lumba?
“Karena lumba-lumba lucu, pandai, dan baik hati,” ujar mereka.
Satu-dua peserta mengaku sebagai buaya. Bagi mereka buaya itu bengis dan kalau cari makan berani jalan sendiri. Tetapi setelah saya berikan alat tes ternyata mereka saling berkebalikan. Banyak ditemui”buaya” yang merasa dirinya “lumba-lumba”, demikian juga sebaliknya.
Lantas seperti apakah kepemimpinan Michael D. Ruslim? Sepintas ia seperti mamalia, bukan? Mamalia biasanya punya ciri-ciri berempati, merawat (nurture), pandai, intuitif, partisipatif dan hangat. Tetapi dilain pihak, sahabat dan rekan-rekan kerjanya juga menyebut ciri-ciri lain yang dimiliki oleh “buaya” seperti disiplin, decisive, detail, rational dan number cruncher. Dalam buku “Lead by Heart” terungkap hal-hal yang demikian. Tetapi bedanya ia tidak memelihara sifat-sifat ”ganas” buaya seperti : berdarah dingin, memisahkan diri (detach), agresif, dan menyerang.
Menurut Jusuf Kalla yang hadir pada kesempatan itu, pemimpin bisnis biasanya memimpin dengan akal, bukan dengan hati. Itu sebabnya di Bugis, pengusaha disebut saudagar yang berarti memiliki seribu akal. Sedangkan almarhum Michael justru sebaliknya: Hati memimpin otaknya.
Bagaimana kita menjelaskan fenomena ini? Tentu saja keberhasilan Michael Ruslim tidak mudah ditiru oleh orang lain. Sebab setiap orang dibesarkan dalam suasana batin yang berbeda-beda. Hati manusia tidak sama. Michael dibesarkan dalam keluarga pengusaha yang praktis hidup dalam suasana yang “peaceful”. Ia tidak memiliki beban sejarah yang membuatnya mudah naik pitam atau kehilangan rasa percaya diri. Ia juga dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih dan santun.
Dalam karir sesorang, perjalanan pertamanya biasanya diisi oleh salah satu dari kedua dikotomi di atas. Tetapi berlangsungnya waktu, manusia yang belajar pun berubah.
Manusia reptilia yang pandai mampu melihat sisi-sisi positif mamalia, sekaligus sisi-sisi buruk reptilia. Demikian juga dengan manusia mamalia. Kalau mereka belajar, pasti dengan cepat mereka ingin mengambil kekuatan-kekuatan reptilia, sekaligus membuang sifat-sifat tertentu mamalia yang cenderung lunak dan populis.
Apa-apa saja yang dibuang dan apa-apa saja yang diambil akan menentukan mereka menjadi apa.
Yang jelas, pemimpin besar bukanlah salah satu dari kedua dikotomi diatas. Pemimpin besar justru lahir dari kombinasi pembelajaran keduanya yang saya sebut sebagai “mama-reptil”. Hanya saja, ada mama-reptil yang cenderung mammals dan ada yang cenderung reptiles. Orang-orang yang dibesarkan dalam tradisi profesi kenangan biasanya cenderung reptiles, sedangkan mereka yang dibesarkandalam tradisi SDM biasanya agak mammals. Nah, pembelajaran dan siapa mentor mereka akan menentukan mereka akan menjadi apa.
Dari pembicaraan orang-orang dekat almarhum Michael Ruslim, saya hampir dapat menyimpulkan, CEO baik hati ini sebagai mama-reptil dengan kecenderungan mamalia. Tidak mengherankan bila banyak orang yang mengenalnya menyebut almarhum sebagai angels (malaikat).
Datangkan Energy
Namun demikian, perlu saya garis bawahi nasehat Joseph White. Pemimpin besar, bukanlah seorang pekerja tekun. Ia adalah seorang besar yang memiliki kemampuan “helicopter view”.
Tugas seorang pemimpin bukanlah mengerjakan hal-hal teknis, melainkan menciptakan tiga kondisi. Pertama, bangun aspirasi yang mungkin mendukung. Kedua, dapatkan orang-orang bagus (great leader). Dan ketiga, bawa energi besar ke tengah-tengah mereka dan bangun antusiasme untuk bergerak.
Saya percaya Anda semua merindukan pemimpin yang baik hati. Tetapi lebih dari itu kita butuh pemimpin yang bisa membawa energi besar untuk menciptakan perubahan. Jadilah pemimpin yang berhati mulia, bersih, namun tetap mengedepankan kinerja.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=65&Itemid=57
Leadership Style: Decisive
Gaya Pengambilan Keputusan Decisive
Prof. Michael J. Driver dan koleganya telah meneliti bahwa selain perbedaan dalam jumlah informasi yang dipergunakan dan jumlah alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam mengambil keputusan, setiap orang juga bervariasi dalam melakukan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Variasi tersebut antara lain dalam beberapa hal seperti faktor yang dihargai, perencanaan, tujuan, organisasi, komunikasi, dan kepemimpinan.
Decisive. Seperti telah disinggung, individu yang menggunakan gaya ini memanfaatkan jumlah informasi yang minimum untuk sampai pada satu kesimpulan. Gaya ini sangat menghargai faktor kecepatan, efisiensi, dan konsistensi.
Mereka tergolong individu-individu yang berorientasi pada kerja dan hasil. Mereka menggunakan data dasar yang minimal untuk merancang perencanaan yang terorganisasi dan terkontrpl secara cermat. Perencanaan hanya dalam jangka pendek saja, dan deadline dibuat secara kritis. Hanya satu atau dua tujuan yang hendak diraih.
Tipe ini memiliki fokus tunggal, biasanya terhadap tujuan atau sasaran organisasi. Tipe Decisive lebih suka struktur organisasi yang hirarkhis dengan rantai kontrol dan peraturan-peraturan yang singkat dan jelas. Komunikasi haruslah ringkas dan to the point. Kemudian semuanya harus melewati manajer. Laporan tertulis haruslah dalam format ringkas dan terfokus pada hasil dan tindakan yang direkomendasikan. Seorang yang tergolong Decisive hanya suka menerima satu solusi, dan umumnya laporan yang detail sering dikembalikan, didiamkan, atau diserahkan kepada seseorang untuk disimpulkan.
Seorang Dicisive menerima wewenang didasarkan pada posisi dalam perusahaan. Mereka memotivasi karyawan dengan sistem hukuman terhadap yang melakukan kesalahan. Keputusan bersifat unilateral, dan bawahan diharuskan untuk melaksanakannya segera.
Satu contoh yang tepat dari Decisive style adalah pemimpin militer dan Presiden AS utama, Dwight Eisenhower. Dikenal sangat menjunjung sistem nilai, Eisenhower juga dikenal atas kejujuran dan integritasnya. Dia tertarik pada tindakan, bukan ide. Hasil kongkrit sangat penting baginya, dan dia tak suka mengacu pada berbagai ideologi ekonomi yang komprehensif.
Eisenhower membuat keputusan berdasarkan data yang sesedikit mungkin dan meminta stafnya untuk hanya menyampaikan informasi yang paling penting saja serta membuat laporan ringkas. Dia mendirikan organisasi tipe militer yang ketat yang didasarkan atas loyalitas. Dia melihat jabatannya sebagai pemilik perusahaan dan membuat keputusan yang penting sendirian setelah bawahannya menyampaikan pemikiran masing-masing. Meskipun banyak intelektual yang mengkritik kebiasaannya yang kurang menggunakan data, toh integritas dan kejujurannya mampu mengangkat dirinya sebagai figur yang dihormati masyarakat.
Sumber : MAjalah Eksekutif edisi Oktober 1989.
http://rajapresentasi.com/2009/12/gaya-pengambilan-keputusan-decisive/
Prof. Michael J. Driver dan koleganya telah meneliti bahwa selain perbedaan dalam jumlah informasi yang dipergunakan dan jumlah alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam mengambil keputusan, setiap orang juga bervariasi dalam melakukan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Variasi tersebut antara lain dalam beberapa hal seperti faktor yang dihargai, perencanaan, tujuan, organisasi, komunikasi, dan kepemimpinan.
Decisive. Seperti telah disinggung, individu yang menggunakan gaya ini memanfaatkan jumlah informasi yang minimum untuk sampai pada satu kesimpulan. Gaya ini sangat menghargai faktor kecepatan, efisiensi, dan konsistensi.
Mereka tergolong individu-individu yang berorientasi pada kerja dan hasil. Mereka menggunakan data dasar yang minimal untuk merancang perencanaan yang terorganisasi dan terkontrpl secara cermat. Perencanaan hanya dalam jangka pendek saja, dan deadline dibuat secara kritis. Hanya satu atau dua tujuan yang hendak diraih.
Tipe ini memiliki fokus tunggal, biasanya terhadap tujuan atau sasaran organisasi. Tipe Decisive lebih suka struktur organisasi yang hirarkhis dengan rantai kontrol dan peraturan-peraturan yang singkat dan jelas. Komunikasi haruslah ringkas dan to the point. Kemudian semuanya harus melewati manajer. Laporan tertulis haruslah dalam format ringkas dan terfokus pada hasil dan tindakan yang direkomendasikan. Seorang yang tergolong Decisive hanya suka menerima satu solusi, dan umumnya laporan yang detail sering dikembalikan, didiamkan, atau diserahkan kepada seseorang untuk disimpulkan.
Seorang Dicisive menerima wewenang didasarkan pada posisi dalam perusahaan. Mereka memotivasi karyawan dengan sistem hukuman terhadap yang melakukan kesalahan. Keputusan bersifat unilateral, dan bawahan diharuskan untuk melaksanakannya segera.
Satu contoh yang tepat dari Decisive style adalah pemimpin militer dan Presiden AS utama, Dwight Eisenhower. Dikenal sangat menjunjung sistem nilai, Eisenhower juga dikenal atas kejujuran dan integritasnya. Dia tertarik pada tindakan, bukan ide. Hasil kongkrit sangat penting baginya, dan dia tak suka mengacu pada berbagai ideologi ekonomi yang komprehensif.
Eisenhower membuat keputusan berdasarkan data yang sesedikit mungkin dan meminta stafnya untuk hanya menyampaikan informasi yang paling penting saja serta membuat laporan ringkas. Dia mendirikan organisasi tipe militer yang ketat yang didasarkan atas loyalitas. Dia melihat jabatannya sebagai pemilik perusahaan dan membuat keputusan yang penting sendirian setelah bawahannya menyampaikan pemikiran masing-masing. Meskipun banyak intelektual yang mengkritik kebiasaannya yang kurang menggunakan data, toh integritas dan kejujurannya mampu mengangkat dirinya sebagai figur yang dihormati masyarakat.
Sumber : MAjalah Eksekutif edisi Oktober 1989.
http://rajapresentasi.com/2009/12/gaya-pengambilan-keputusan-decisive/
Kepemimpinan
Pengertian Kepemimpinan
Pengertian Kepemimpinan Dalam suatu organisasi kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi. Kepemimpinan merupakan titik sentral dan penentu kebijakan dari kegiatan yang akan dilaksanakan dalam organisasi. Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Thoha, 1983:123). Sedangkan menurut Robbins (2002:163) Kepemimpian adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan. Sedangkan menurut Ngalim Purwanto (1991:26) Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.
Dari pengertian diatas kepemimpinan mengandung beberapa unsur pokok antara lain:
1) kepemimpinan melibatkan orang lain dan adanya situasi kelompok atau organisasi tempat pemimpin dan anggotanya berinteraksi,
2) di dalam kepemimpinan terjadi pembagian kekuasaan dan proses mempengaruhi bawahan oleh pemimpin, dan
3) adanya tujuan bersama yang harus dicapai.
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu.
Beberapa pendapat ahli mengenai Kepemimipinan :
1. Menurut John Piffner, Kepemimpinan merupakan seni dalam mengkoordinasikan dan
mengarahkan individu atau kelompok untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki
(H. Abu Ahmadi, 1999:124-125)
2. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu
(Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
3. Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti Kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan
(Jacobs & Jacques, 1990, 281)
4. Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan, proses, atau fungsi pada umumnya untuk mempengaruhi orang-orang agar berbuat sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
(Slamet, 2002: 29)
5. Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
(Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7)
6. Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu
(Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 29)
7. Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Thoha, 1983:123).
8. Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.
( Ngalim Purwanto ,1991:26)
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku Aeseorang atau sekelompok orang untuk meneapai tujuan tertentu pada situasi tertentu. Kepemimpinan merupakan masalah sosial yang di dalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara mempengafuhi, membujuk, memotivasi dan mengkoordinasi. Dari sini dapat dipahami bahwa tugas utatna seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya tidak hanya terbatas pada kemampuannya dalam melaksanakan program-program saja, tetapi lebih dari itu yaitu pemimpin harus mempu melibatkan seluruh lapisan organisasinya, anggotanya atau masyarakatnya untuk ikut berperan aktif sehingga mereka mampu memberikan kontribusi yang posetif dalam usaha mencapai tujuan.
Faktor-faktor penting yang terdapat dalam pengertian kepemimpinan:
1. Pendayagunaan Pengaruh
2. Hubungan Antar Manusia
3. Proses Komunikasi dan
4. Pencapaian Suatu Tujuan.
Unsur-Unsur Mendasar
Unsur-unsur yang mendasari kepemimpinan dari defmisi-defmisi yang dikemukakan di atas, adalah:
1. Kemampuan mempengaruhi orang lain (kelompok/bawahan).
2. Kemampuan mengarahkan atau memotivasi tingkah laku orang lain atau kelompok.
3. Adanya unsur kerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Prinsip-Prinsip Dasar Kepemimpinan
Karakteristik seorang pemimpin didasarkan kepada prinsip-prinsip (Stephen R. Coney) sebagai berikut:
1. Seorang yang belajar seumur hidup : Tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga diluar sekolah. Contohnya, beJajar melalui membaca, menulis, observasi, dan mendengar. Mempunyai pengalaman yang baik maupun yang buruk sebagai sumber belajar.
2. Berorientasi pada pelayanan : Seorang pemimpin tidak dilayani tetapi melayani, sebab prinsip pemimpjn dengan prinsip melayani berdasarkan karir sebagai tujuan utama. Dalam memberi pelayanan, pemimpin seharusnya lebih berprinsip pada pelayanan yang baik.
3. Membawa energi yang positif : Setiap orang mempunyai energi dan semangat. Menggunakan energi yang positif didasarkan pada keikhlasan dan keinginan mendukung kesuksesan orang lain. Untuk itu dibutuhkan energi positif untuk membangun hubungan baik. Seorang pemimpin hams dapat dan mau bekerja untuk jangka waktu yang lama dan kondisi tidak ditentukan. Oleh karena itu, seorang pemimpin haras dapat menunjukkan energi yang positif, seperti;
a. Percaya pada orang lain : Seorang pemimpin mempercayai orang lain termasuk staf bawahannya, sehingga mereka mempunyai motivasi dan mempertahankan pekerjaan yang baik. Oleh karena itu, kepercayaan harus diikuti dengan kepedulian.
b. Keseimbangan dalam kehidupan : Seorang pemimpin haras dapat menyeimbangkan tugasnya. Berorientasi kepada prinsip kemanusiaan dan keseimbangan diri antara kerja dan olah raga, istirahat dan rekreasi. Keseimbangan juga berarti seimbang antara kehidupan dunia dan akherat.
c. Melihat kehidupan sebagai tantangan : Kata ‘tantangan’ sering diinterpretasikan negatif. Dalam hal ini tantangan berarti kemampuan untuk menikmati hidup dan segala konsekuensinya. Sebab kehidupan adalah suatu tantangan yang dibutuhkan, mempunyai rasa aman yang datang dari dalam diri sendiri. Rasa aman tergantung pada inisiatif, ketrampilan, kreatifitas, kemauan, keberanian, dinamisasi dan kebebasan.
d. Sinergi : Orang yang berprinsip senantiasa hidup dalam sinergi dan satu katalis perubahan, Mereka selalu mengatasi kelemahannya sendiri dan lainnya. Sinergi adalah kerja kelompok dan memberi keuntungan kedua belah pihak. Menurut The New Brolier Webster International Dictionary, Sinergi adalah satu kerja kelompok, yang mana memberi hasil lebih efektif dari pada bekerja secara perorangan. Seorang pemimpin harus dapat bersinergis dengan setiap orang,
atasan, staf, teman sekerja.
e. Latihan mengembangkan diri sendiri :
Seorang pemimpin harus dapat memperbaharui diri sendiri untuk mencapai keberhasilan yang tinggi. Jadi dia tidak hanya berorientasi pada proses. Proses dalam mengembangkan diri terdiri dari beberapa komponen yang berhubungan dengan:
1) pemahaman materi;
2) memperluas materi melalui belajar dan pengalaman;
3) mengajar materi kepada orang lain;
4) mengaplikasikan prinsip-prinsip;
5) memonitoring hasil;
6) merefleksikan kepada hasil;
7) menambahkan pengetahuan baru yang diperlukan materi;
Blog dengan ID 26250 Tidak ada
Persyaratan Pemimpin
Di dalam Islam seorang pemimpin haruslah mempunyai sifat:
1. S1DDIQ artinya jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan
2. FATHONAH artinya jerdas, memiliki intelektualitas tinggi dan professional
3. AMANAH artinya dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel
4. TABLIGH artinya senantiasa menyammpaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan, dan komunikatif.
Di dalam Alkitab peminipin harus mempunya sifat dasar :
Bertanggung jawab, Berorientasi pada sasaran, Tegas, Cakap, Bertumbuh, Memberi Teladan, Dapat membangkitkan semangat, Jujur, Setia, Murah hati, Rendah hati, Efisien, Memperhatikan, Mampu berkomunikasi, Dapat mempersatukan, serta Dapat mengajak.
Pada ajaran Budha di kenal dengan DASA RAJA DHAMMA yang terdiri dari :
• DHANA (suka menolong, tidak kikir dan ramah tamah),
• SILA (bermoralitas tinggi),
• PARICAGA Imengorban segala sesuatu demi rakyat),
• AJJAVA (jujur dan bersih),
• MADDAVA (ramah tamah dan sopan santun),
• TAPA (sederhana dalam penghidupan),
• AKKHODA (bebas dari kebencian dan permusuhan),
• AVIHIMSA (tanpa kekerasan)
• KHANTI (sabar, rendah hati, dan pemaaf),
• AVIRODHA (tidak menentang dan tidak menghalang-halangi).
Pada ajaran Hindu, falsafah kepemimpinan dijelaskan dengan istilah-istilah:
• PANCA STITI DHARMENG PRABHU yang artinya lima ajaran seorang pemimpin,
• CATUR KOTAMANING NREPATI yang artinya empat sifat utama seorang pemimpin
• ASTA BRATlA yang artinya delapan sifat mulia para dewa,
CATUR NAYA SANDHI yang artinya empat tindakan seorang pemimpin, Dalam Catur Naya Shandi pemimpin harus mempunyai sifat yaitu :
- SAMA /dapat menandingi kekuatan musuh
- BHEDA /dapat melaksanakan tata tertib dan disiplin kerja
- DHANA /dapat mengutamakan sandang dan papan untuk rakyat
- DANDHA / dapat menghukum dengan adil mereka yang bersalah.
Trait Theory (Keith Davis)
Ciri Utama Pemimpin Yang Berhasil
• Intelegensia
• Kematangan Sosial
• Inner Motivation
• Human Relation Attitude
Ciri-Ciri Pemimpin Sukses ( Stogdill; 1974)
• Adaptable To Situations
• Alert To Social Environment
• Ambitious And Achievement Oriented
• Assertive
• Cooperative
• Decisive
• Dependable
• Dominant (Desire To Influence Others)
• Energetic (High Activity Level)
• Persistent
. Self-Confident
• Tolerant Of Stress
• Willing To Assujne Responsibility
Skills Pemimpin Sukses (Stogdill; 1974)
. Clever
. Conceptually Skilled
• Creative
• Diplomatic And Tactful
• Fluent In Speaking
• Knowledgeable About Group Task
• Organized (Administrative Ability)
• Persuasive
• Socially Skilled
http://pakarbisnisonline.blogspot.com/2010/01/pengertian-kepemimpinan.html
Pengertian Kepemimpinan Dalam suatu organisasi kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi. Kepemimpinan merupakan titik sentral dan penentu kebijakan dari kegiatan yang akan dilaksanakan dalam organisasi. Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Thoha, 1983:123). Sedangkan menurut Robbins (2002:163) Kepemimpian adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan. Sedangkan menurut Ngalim Purwanto (1991:26) Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.
Dari pengertian diatas kepemimpinan mengandung beberapa unsur pokok antara lain:
1) kepemimpinan melibatkan orang lain dan adanya situasi kelompok atau organisasi tempat pemimpin dan anggotanya berinteraksi,
2) di dalam kepemimpinan terjadi pembagian kekuasaan dan proses mempengaruhi bawahan oleh pemimpin, dan
3) adanya tujuan bersama yang harus dicapai.
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu.
Beberapa pendapat ahli mengenai Kepemimipinan :
1. Menurut John Piffner, Kepemimpinan merupakan seni dalam mengkoordinasikan dan
mengarahkan individu atau kelompok untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki
(H. Abu Ahmadi, 1999:124-125)
2. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu
(Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
3. Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti Kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan
(Jacobs & Jacques, 1990, 281)
4. Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan, proses, atau fungsi pada umumnya untuk mempengaruhi orang-orang agar berbuat sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
(Slamet, 2002: 29)
5. Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
(Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7)
6. Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu
(Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 29)
7. Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Thoha, 1983:123).
8. Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.
( Ngalim Purwanto ,1991:26)
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku Aeseorang atau sekelompok orang untuk meneapai tujuan tertentu pada situasi tertentu. Kepemimpinan merupakan masalah sosial yang di dalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara mempengafuhi, membujuk, memotivasi dan mengkoordinasi. Dari sini dapat dipahami bahwa tugas utatna seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya tidak hanya terbatas pada kemampuannya dalam melaksanakan program-program saja, tetapi lebih dari itu yaitu pemimpin harus mempu melibatkan seluruh lapisan organisasinya, anggotanya atau masyarakatnya untuk ikut berperan aktif sehingga mereka mampu memberikan kontribusi yang posetif dalam usaha mencapai tujuan.
Faktor-faktor penting yang terdapat dalam pengertian kepemimpinan:
1. Pendayagunaan Pengaruh
2. Hubungan Antar Manusia
3. Proses Komunikasi dan
4. Pencapaian Suatu Tujuan.
Unsur-Unsur Mendasar
Unsur-unsur yang mendasari kepemimpinan dari defmisi-defmisi yang dikemukakan di atas, adalah:
1. Kemampuan mempengaruhi orang lain (kelompok/bawahan).
2. Kemampuan mengarahkan atau memotivasi tingkah laku orang lain atau kelompok.
3. Adanya unsur kerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Prinsip-Prinsip Dasar Kepemimpinan
Karakteristik seorang pemimpin didasarkan kepada prinsip-prinsip (Stephen R. Coney) sebagai berikut:
1. Seorang yang belajar seumur hidup : Tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga diluar sekolah. Contohnya, beJajar melalui membaca, menulis, observasi, dan mendengar. Mempunyai pengalaman yang baik maupun yang buruk sebagai sumber belajar.
2. Berorientasi pada pelayanan : Seorang pemimpin tidak dilayani tetapi melayani, sebab prinsip pemimpjn dengan prinsip melayani berdasarkan karir sebagai tujuan utama. Dalam memberi pelayanan, pemimpin seharusnya lebih berprinsip pada pelayanan yang baik.
3. Membawa energi yang positif : Setiap orang mempunyai energi dan semangat. Menggunakan energi yang positif didasarkan pada keikhlasan dan keinginan mendukung kesuksesan orang lain. Untuk itu dibutuhkan energi positif untuk membangun hubungan baik. Seorang pemimpin hams dapat dan mau bekerja untuk jangka waktu yang lama dan kondisi tidak ditentukan. Oleh karena itu, seorang pemimpin haras dapat menunjukkan energi yang positif, seperti;
a. Percaya pada orang lain : Seorang pemimpin mempercayai orang lain termasuk staf bawahannya, sehingga mereka mempunyai motivasi dan mempertahankan pekerjaan yang baik. Oleh karena itu, kepercayaan harus diikuti dengan kepedulian.
b. Keseimbangan dalam kehidupan : Seorang pemimpin haras dapat menyeimbangkan tugasnya. Berorientasi kepada prinsip kemanusiaan dan keseimbangan diri antara kerja dan olah raga, istirahat dan rekreasi. Keseimbangan juga berarti seimbang antara kehidupan dunia dan akherat.
c. Melihat kehidupan sebagai tantangan : Kata ‘tantangan’ sering diinterpretasikan negatif. Dalam hal ini tantangan berarti kemampuan untuk menikmati hidup dan segala konsekuensinya. Sebab kehidupan adalah suatu tantangan yang dibutuhkan, mempunyai rasa aman yang datang dari dalam diri sendiri. Rasa aman tergantung pada inisiatif, ketrampilan, kreatifitas, kemauan, keberanian, dinamisasi dan kebebasan.
d. Sinergi : Orang yang berprinsip senantiasa hidup dalam sinergi dan satu katalis perubahan, Mereka selalu mengatasi kelemahannya sendiri dan lainnya. Sinergi adalah kerja kelompok dan memberi keuntungan kedua belah pihak. Menurut The New Brolier Webster International Dictionary, Sinergi adalah satu kerja kelompok, yang mana memberi hasil lebih efektif dari pada bekerja secara perorangan. Seorang pemimpin harus dapat bersinergis dengan setiap orang,
atasan, staf, teman sekerja.
e. Latihan mengembangkan diri sendiri :
Seorang pemimpin harus dapat memperbaharui diri sendiri untuk mencapai keberhasilan yang tinggi. Jadi dia tidak hanya berorientasi pada proses. Proses dalam mengembangkan diri terdiri dari beberapa komponen yang berhubungan dengan:
1) pemahaman materi;
2) memperluas materi melalui belajar dan pengalaman;
3) mengajar materi kepada orang lain;
4) mengaplikasikan prinsip-prinsip;
5) memonitoring hasil;
6) merefleksikan kepada hasil;
7) menambahkan pengetahuan baru yang diperlukan materi;
Blog dengan ID 26250 Tidak ada
Persyaratan Pemimpin
Di dalam Islam seorang pemimpin haruslah mempunyai sifat:
1. S1DDIQ artinya jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan
2. FATHONAH artinya jerdas, memiliki intelektualitas tinggi dan professional
3. AMANAH artinya dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel
4. TABLIGH artinya senantiasa menyammpaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan, dan komunikatif.
Di dalam Alkitab peminipin harus mempunya sifat dasar :
Bertanggung jawab, Berorientasi pada sasaran, Tegas, Cakap, Bertumbuh, Memberi Teladan, Dapat membangkitkan semangat, Jujur, Setia, Murah hati, Rendah hati, Efisien, Memperhatikan, Mampu berkomunikasi, Dapat mempersatukan, serta Dapat mengajak.
Pada ajaran Budha di kenal dengan DASA RAJA DHAMMA yang terdiri dari :
• DHANA (suka menolong, tidak kikir dan ramah tamah),
• SILA (bermoralitas tinggi),
• PARICAGA Imengorban segala sesuatu demi rakyat),
• AJJAVA (jujur dan bersih),
• MADDAVA (ramah tamah dan sopan santun),
• TAPA (sederhana dalam penghidupan),
• AKKHODA (bebas dari kebencian dan permusuhan),
• AVIHIMSA (tanpa kekerasan)
• KHANTI (sabar, rendah hati, dan pemaaf),
• AVIRODHA (tidak menentang dan tidak menghalang-halangi).
Pada ajaran Hindu, falsafah kepemimpinan dijelaskan dengan istilah-istilah:
• PANCA STITI DHARMENG PRABHU yang artinya lima ajaran seorang pemimpin,
• CATUR KOTAMANING NREPATI yang artinya empat sifat utama seorang pemimpin
• ASTA BRATlA yang artinya delapan sifat mulia para dewa,
CATUR NAYA SANDHI yang artinya empat tindakan seorang pemimpin, Dalam Catur Naya Shandi pemimpin harus mempunyai sifat yaitu :
- SAMA /dapat menandingi kekuatan musuh
- BHEDA /dapat melaksanakan tata tertib dan disiplin kerja
- DHANA /dapat mengutamakan sandang dan papan untuk rakyat
- DANDHA / dapat menghukum dengan adil mereka yang bersalah.
Trait Theory (Keith Davis)
Ciri Utama Pemimpin Yang Berhasil
• Intelegensia
• Kematangan Sosial
• Inner Motivation
• Human Relation Attitude
Ciri-Ciri Pemimpin Sukses ( Stogdill; 1974)
• Adaptable To Situations
• Alert To Social Environment
• Ambitious And Achievement Oriented
• Assertive
• Cooperative
• Decisive
• Dependable
• Dominant (Desire To Influence Others)
• Energetic (High Activity Level)
• Persistent
. Self-Confident
• Tolerant Of Stress
• Willing To Assujne Responsibility
Skills Pemimpin Sukses (Stogdill; 1974)
. Clever
. Conceptually Skilled
• Creative
• Diplomatic And Tactful
• Fluent In Speaking
• Knowledgeable About Group Task
• Organized (Administrative Ability)
• Persuasive
• Socially Skilled
http://pakarbisnisonline.blogspot.com/2010/01/pengertian-kepemimpinan.html
Monday, August 22, 2011
Financial Habits (Kebiasaan Keuangan)
Financial Habits (Kebiasaan Keuangan)
Dikemukakan di berbagai buku bahwa kebiasaan kita yang telah dilakukan terus-menerus akan menjadi karakter kepribadian kita. Orang yang baik keuangannya bisa dibilang adalah orang yang terbiasa dengan memanajemen keuangannya dengan baik. Karena itu kita dianjurkan menjalani kebiasaan keuangan yang baik tersebut.
Kebiasaan Keuangan yang baik seperti :
1. Menabung
Hanya dengan menabung kita menjadi tenteram kehidupan kita. Kita nyaman karena pengeluaran kedepan sudah ada di tabungan. Menabung adalah tangga menuju ke kemakmuran kita.
2. Cerdas berbelanja
Cerdas berbelanja yaitu menghindari belanja berlebihan, berbelanja sesuai dengan kebutuhan dan budget. Dengan Cerdas berbelanja kita dapat menabung lebih banyak sehingga ada cukup dana berlebih untuk berinvestasi.
3. Mencatat pengeluaran pemasukan
Mencatat pengeluaran adalah suatu metode untuk kita agar mudah mengendalikan pengeluaran kita. Kita dapat mudah melihat bagaimana pengeluaran kita pada suatu hari. Dengan pencatatan kita dapat melihat lebih detil setiap perputaran keuangan dan memperbaiki kebiasaan keuangan yang kurang baik.
4. Menghindari hutang
Hutang terutama hutang konsumtif dapat merugikan kita karena bunga hutang sangat memberatkan kita. Bunga kartu-kredit yang sering kita pakai berbelanja misal sebesar 3 % perbulan saja jika disetahunkan menjadi berbunga 36%. Bunga itu lebih tinggi daripada deposito bahkan investasi di pasar modal. Hutang ini harus dikendalikan untuk mewujudkan kondisi finansial yang baik.
5. Mengendalikan pengeluaran
Berbagai cara bisa dilakukan dengan mencatat pengeluaran. Sebagai contoh dengan sistem amplop sehingga kita tidak sembarangan dan disiplin memakai dana di mesin atm, kita dipaksa memakai dana di amplop pada sistem tersebut.
6. Menjaga keamanan finansial keluarga
Bisa dilakukan dengan menerapkan pembelian asuransi seperti asuransi jiwa serta asuransi kesehatan. Asuransi jiwa berfungsi melindungi keluarga dari kehilangan nafkah sumber penghasilan seseorang yang menjadi tumpuan keluarga jika dia meninggal dunia. Asuransi kesehatan berfungsi sebagai perencanaan resiko karena sakit dan pengganti nafkah karena pemberi nafkah tidak bisa bekerja saat sakit.
7. Berinvestasi
Berinvestasi ada berbagai macam cara bisa dengan membeli emas logam mulia, menabung di deposito, membeli reksadana dan saham. Komponen Investasi tersebut memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan serta resiko, sehingga tergantung daripada profil kita sebagai investor.
Dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan tersebut semoga kita dapat menuju kebiasaan finansial yang baik dan kita dapat menjadi pribadi yang lebih positif.
Article by: Arief Bachtiar,SKom, RPP®
Dikemukakan di berbagai buku bahwa kebiasaan kita yang telah dilakukan terus-menerus akan menjadi karakter kepribadian kita. Orang yang baik keuangannya bisa dibilang adalah orang yang terbiasa dengan memanajemen keuangannya dengan baik. Karena itu kita dianjurkan menjalani kebiasaan keuangan yang baik tersebut.
Kebiasaan Keuangan yang baik seperti :
1. Menabung
Hanya dengan menabung kita menjadi tenteram kehidupan kita. Kita nyaman karena pengeluaran kedepan sudah ada di tabungan. Menabung adalah tangga menuju ke kemakmuran kita.
2. Cerdas berbelanja
Cerdas berbelanja yaitu menghindari belanja berlebihan, berbelanja sesuai dengan kebutuhan dan budget. Dengan Cerdas berbelanja kita dapat menabung lebih banyak sehingga ada cukup dana berlebih untuk berinvestasi.
3. Mencatat pengeluaran pemasukan
Mencatat pengeluaran adalah suatu metode untuk kita agar mudah mengendalikan pengeluaran kita. Kita dapat mudah melihat bagaimana pengeluaran kita pada suatu hari. Dengan pencatatan kita dapat melihat lebih detil setiap perputaran keuangan dan memperbaiki kebiasaan keuangan yang kurang baik.
4. Menghindari hutang
Hutang terutama hutang konsumtif dapat merugikan kita karena bunga hutang sangat memberatkan kita. Bunga kartu-kredit yang sering kita pakai berbelanja misal sebesar 3 % perbulan saja jika disetahunkan menjadi berbunga 36%. Bunga itu lebih tinggi daripada deposito bahkan investasi di pasar modal. Hutang ini harus dikendalikan untuk mewujudkan kondisi finansial yang baik.
5. Mengendalikan pengeluaran
Berbagai cara bisa dilakukan dengan mencatat pengeluaran. Sebagai contoh dengan sistem amplop sehingga kita tidak sembarangan dan disiplin memakai dana di mesin atm, kita dipaksa memakai dana di amplop pada sistem tersebut.
6. Menjaga keamanan finansial keluarga
Bisa dilakukan dengan menerapkan pembelian asuransi seperti asuransi jiwa serta asuransi kesehatan. Asuransi jiwa berfungsi melindungi keluarga dari kehilangan nafkah sumber penghasilan seseorang yang menjadi tumpuan keluarga jika dia meninggal dunia. Asuransi kesehatan berfungsi sebagai perencanaan resiko karena sakit dan pengganti nafkah karena pemberi nafkah tidak bisa bekerja saat sakit.
7. Berinvestasi
Berinvestasi ada berbagai macam cara bisa dengan membeli emas logam mulia, menabung di deposito, membeli reksadana dan saham. Komponen Investasi tersebut memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan serta resiko, sehingga tergantung daripada profil kita sebagai investor.
Dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan tersebut semoga kita dapat menuju kebiasaan finansial yang baik dan kita dapat menjadi pribadi yang lebih positif.
Article by: Arief Bachtiar,SKom, RPP®
Menyampaikan BAD NEWS kepada Tim Anda
Menyampaikan the Bad News Kepada Karyawan Anda
Siapapun bisa melihat kalau keadaan ekonomi dunia yang belum juga stabil di tahun ini sedikit banyak memberikan pengaruh untuk pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dalam negeri. Sampai dengan Januari 2009 sendiri, diperkirakan ada sekitar 20 juta pengangguran di seluruh dunia (ILO). Sementara di Indonesia sendiri jumlah pengangguran akan meningkat sebanyak 8.87% akibat krisis global ini.
Lay off atau pemutusan hubungan kerja seringkali jadi salah satu langkah strategi yang harus dilakukan perusahaan untuk tetap bertahan di dunia bisnis. Beberapa orang harus ´pergi´ demi efisiensi agar perusahaan tetap bisa hidup. Hal ini mungkin terjadi juga di perusahaan tempat Anda bekerja. Manajemen memutuskan beberapa orang bawahan Anda terpaksa harus ´dirumahkan´ akibat produktifitas yang tidak mencapai target dan pasar yang sedang tidak ´sehat´.
Sebagai atasan karyawan tersebut, Andalah yang pertama kali menyampaikan berita ini kepada mereka, sebelum langkah selanjutnya di lakukan oleh manajemen. Memang tidak ada cara yang baik untuk menyampaikan berita buruk. Namun sebagai leader yang sudah sepantasnya juga berperan sebagai good communicator, ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk meminimalkan dampak buruk akibat hal ini, sehingga walaupun mereka merasa kecewa karena telah mengalami pemutusan hubungan kerja, kekecewaan mereka tidak bertambah dengan cara manajemen dan Anda melakukan hal tersebut.
1. Pilihlah waktu yang tepat untuk menyampaikan berita ini.
Umumnya karyawan sudah bisa "mencium" kabar buruk yang akan disampaikan kepada mereka. Anda bisa menyampaikan berita ini pada akhir jam kerja ketika si karyawan sudah menyelesaikan pekerjaannya dan ketika kantor mulai sepi. Atau Anda juga bisa menyampaikan berita ini ketika jam kerja baru dimulai sehingga karyawan yang bersangkutan bisa membereskan beberapa pekerjaannya sebelum ia pergi.
2. Sampaikan berita tersebut dengan personal.
Panggilah karyawan satu-persatu walaupun manajemen memutuskan hubungan kerja dengan beberapa orang karyawan Anda. Keadaan ini akan memudahkan Anda untuk melihat reaksi karyawan yang bersangkutan sehingga penanganannya akan situasional.
3. Berikan penjelasan yang jujur dan jelas
Jangan menutupi hal yang sebenarnya terjadi. Jelaskan posisi perusahaan yang sesungguhnya, namun jangan memberikan informasi terlalu mendetail mengenai keadaan perusahaan yang menurut manajemen merupakan informasi classified. Hal terpenting adalah membuat mereka mengetahui dan memahami alasan diambilnya langkah pemutusan hubungan kerja tersebut.
4. Berikan kesempatan untuk bertanya.
Sebelum Anda menyampaikan berita ini, buatlah daftar pertanyaan yang mungkin ditanyakan dan berikan jawaban dengan cara yang tidak defensif. Sampaikan jawaban dengan penuh rasa empati dan simpati, bahwa Anda mengerti situasi yang merekasedang hadapi. Dua kata magic seperti "maaf" dan "terima kasih" adalah kata-kata yang harus Anda gunakan ketika menyampaikan berita ini.
5. Berikan hak mereka.
Untuk memudahkan masa transisi dan meringankan beban mereka, pastikan bahwa perusahaan memberikan hak mereka secara utuh sebagai karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja seperti uang pesangon yang proporsional dan benefit lainnya.
6. No public shaming.
Dengan cara apapun jangan mempermalukan karyawan yang mengalami pemutusan kerja, misalnya dengan membersihkan mejanya segera setelah berita tersebut disampaikan, langsung memutus akses telefon, atau mematikan komputernya sebelum yang bersangkutan kembali untuk membereskan mejanya. Jika hal tersebut memang prosedur yang harus dilakukan, berilah kelonggaran sedikit karena hal ini bisa mempermalukan si karyawan di depan rekan kerjanya.
Pemutusan hubungan kerja yang tidak dilakukan dengan benar dan cermat akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Karyawan yang merasa dirugikan bukan tidak mungkin menuntut perusahaan Anda sehingga masalah ini menjadi berlarut-larut. Karena itulah jangan pernah mengira bahwa masalah ini tidak perlu mendapatkan perhatian lebih dari manajemen dan Anda sebagai pemimpin karyawan tersebut.
Remember! :
Staf Anda juga manusia, punya rasa, punya hati, jangan samakan dengan mesin produksi. So be persuasive mendekati karyawan Anda.
Siapapun bisa melihat kalau keadaan ekonomi dunia yang belum juga stabil di tahun ini sedikit banyak memberikan pengaruh untuk pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dalam negeri. Sampai dengan Januari 2009 sendiri, diperkirakan ada sekitar 20 juta pengangguran di seluruh dunia (ILO). Sementara di Indonesia sendiri jumlah pengangguran akan meningkat sebanyak 8.87% akibat krisis global ini.
Lay off atau pemutusan hubungan kerja seringkali jadi salah satu langkah strategi yang harus dilakukan perusahaan untuk tetap bertahan di dunia bisnis. Beberapa orang harus ´pergi´ demi efisiensi agar perusahaan tetap bisa hidup. Hal ini mungkin terjadi juga di perusahaan tempat Anda bekerja. Manajemen memutuskan beberapa orang bawahan Anda terpaksa harus ´dirumahkan´ akibat produktifitas yang tidak mencapai target dan pasar yang sedang tidak ´sehat´.
Sebagai atasan karyawan tersebut, Andalah yang pertama kali menyampaikan berita ini kepada mereka, sebelum langkah selanjutnya di lakukan oleh manajemen. Memang tidak ada cara yang baik untuk menyampaikan berita buruk. Namun sebagai leader yang sudah sepantasnya juga berperan sebagai good communicator, ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk meminimalkan dampak buruk akibat hal ini, sehingga walaupun mereka merasa kecewa karena telah mengalami pemutusan hubungan kerja, kekecewaan mereka tidak bertambah dengan cara manajemen dan Anda melakukan hal tersebut.
1. Pilihlah waktu yang tepat untuk menyampaikan berita ini.
Umumnya karyawan sudah bisa "mencium" kabar buruk yang akan disampaikan kepada mereka. Anda bisa menyampaikan berita ini pada akhir jam kerja ketika si karyawan sudah menyelesaikan pekerjaannya dan ketika kantor mulai sepi. Atau Anda juga bisa menyampaikan berita ini ketika jam kerja baru dimulai sehingga karyawan yang bersangkutan bisa membereskan beberapa pekerjaannya sebelum ia pergi.
2. Sampaikan berita tersebut dengan personal.
Panggilah karyawan satu-persatu walaupun manajemen memutuskan hubungan kerja dengan beberapa orang karyawan Anda. Keadaan ini akan memudahkan Anda untuk melihat reaksi karyawan yang bersangkutan sehingga penanganannya akan situasional.
3. Berikan penjelasan yang jujur dan jelas
Jangan menutupi hal yang sebenarnya terjadi. Jelaskan posisi perusahaan yang sesungguhnya, namun jangan memberikan informasi terlalu mendetail mengenai keadaan perusahaan yang menurut manajemen merupakan informasi classified. Hal terpenting adalah membuat mereka mengetahui dan memahami alasan diambilnya langkah pemutusan hubungan kerja tersebut.
4. Berikan kesempatan untuk bertanya.
Sebelum Anda menyampaikan berita ini, buatlah daftar pertanyaan yang mungkin ditanyakan dan berikan jawaban dengan cara yang tidak defensif. Sampaikan jawaban dengan penuh rasa empati dan simpati, bahwa Anda mengerti situasi yang merekasedang hadapi. Dua kata magic seperti "maaf" dan "terima kasih" adalah kata-kata yang harus Anda gunakan ketika menyampaikan berita ini.
5. Berikan hak mereka.
Untuk memudahkan masa transisi dan meringankan beban mereka, pastikan bahwa perusahaan memberikan hak mereka secara utuh sebagai karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja seperti uang pesangon yang proporsional dan benefit lainnya.
6. No public shaming.
Dengan cara apapun jangan mempermalukan karyawan yang mengalami pemutusan kerja, misalnya dengan membersihkan mejanya segera setelah berita tersebut disampaikan, langsung memutus akses telefon, atau mematikan komputernya sebelum yang bersangkutan kembali untuk membereskan mejanya. Jika hal tersebut memang prosedur yang harus dilakukan, berilah kelonggaran sedikit karena hal ini bisa mempermalukan si karyawan di depan rekan kerjanya.
Pemutusan hubungan kerja yang tidak dilakukan dengan benar dan cermat akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Karyawan yang merasa dirugikan bukan tidak mungkin menuntut perusahaan Anda sehingga masalah ini menjadi berlarut-larut. Karena itulah jangan pernah mengira bahwa masalah ini tidak perlu mendapatkan perhatian lebih dari manajemen dan Anda sebagai pemimpin karyawan tersebut.
Remember! :
Staf Anda juga manusia, punya rasa, punya hati, jangan samakan dengan mesin produksi. So be persuasive mendekati karyawan Anda.
Perkuat Posisi di Masa Sulit
Perkuat Posisi di Masa Sulit
Dari hari ke hari, kita tak pernah dibuat lupa soal resesi yang sekarang ini tengah berlangsung. Media kian sering menjadikannya sebagai headline, lalu muncullah kekhawatiran itu: Apakah karier saya akan terpengaruh karenanya? Saat dihadapi dengan kemungkinan hilangnya pekerjaan, Anda punya dua pilihan. Entah itu membiarkan karier Anda dibayang-bayangi oleh rasa khawatir yang berlebihan atau justru memilih untuk menghadapi situasi tersebut dengan melakukan sesuatu untuk menghindarinya. Berikut beberapa sikap profesional yang perlu Anda rangkul agar untuk mempertahankan posisi Anda di perusahaan, bahkan menjadikan situasi buruk ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan karier dalam jangka panjang.
Tingkatkan Eksistensi
Begitu kemungkinan pemutusan hubungan kerja ada di depan mata, bisa jadi insting pertama Anda adalah diam atau bahkan “bersembunyi” dan berharap bila tidak terlalu menonjol, nama Anda tidak akan masuk dalam daftar kandidat yang akan di-PHK. Ini adalah taktik yang salah. Lagipula siapa sih yang lebih dipilih oleh perusahaan untuk diberhentikan? Karyawan yang dengan jelas-jelas menunjukkan bahwa ia telah melakukan beberapa hal penting untuk memberikan kontribusi kepada perusahaan atau si-siapa-namanya-itu yang seringkali membenamkan diri di kubikel dan sulit ditemukan saat hendak dimintai bantuan? Ya, Anda pasti tahu jawabannya. Jadi, hadiri semua rapat yang diselenggarakan dan berpartisipasilah dalam ajang kantor. Hal ini akan menunjukkan semangat tinggi Anda yang tetap terjaga, komitmen senantiasa dijalani dan juga membuktikan Anda pemain tim yang baik. Jangan lupa pula untuk menjaga hubungan baik dengan atasan. Bukan berarti menjadi penjilat, melainkan secara rutin memastikan atasan tahu bahwa Anda ada di kantor untuk membantunya dan perusahaan melewati masa-masa sulit.
Jadi Relawan Untuk Kerja Tambahan
Berkurangnya staf dijamin membuat beberapa proyek atau tugas jadi terlantar. Ini adalah kesempatan bagi Anda untuk mengajukan diri dan menciptakan kesan profesional yang baik. Sikap inisiatif untuk mengerjakan tugas tambahan ini akan menunjukkan kesediaan Anda untuk berusaha maksimal dalam membantu perusahaan selama masa-masa krisis. Bisa dipastikan bos akan mengingat kontribusi tersebut dan memberikan penghargaan yang pantas atas usaha Anda saat kondisi membaik. Bukan hanya itu, keahlian kerja juga meluas karenanya dan menjadikan Anda lebih bernilai.
Kembangkan Sikap Positif
Sekarang ini bukanlah saatnya untuk mengeluh soal berkurangnya kualitas beberapa fasilitas di kantor atau menurunnya uang saku perjalanan dinas. Kesengsaraan memang senang mencari teman dan orang-orang dengan sikap negatif akan memikat pribadi-pribadi negatif pula. Percaya atau tidak, pemikiran yang merugikan ini bisa menular. Bahkan, sikap buruk ini adalah salah satu sifat yang tak diinginkan perusahaan dari karyawan mereka. Intinya, semua pihak harus melakukan beberapa pengorbanan selama periode kekacauan finansial seperti ini. Ketimbang mengeluh, tetaplah bersemangat dan berikan kontribusi positif. Bisa jadi perusahaan akan melihat Anda sebagai "hikmah" dari sebuah musibah.
Jadi Pemain Tim
Wajar untuk serta-merta mengutamakan keselamatan sendiri saat dihadapi kemungkinan terburuk soal karier. Namun sikap egois ini tak akan memberikan Anda nilai tambah dari manajemen atau kolega yang lain. Kerjasama dan komunikasi sangatlah vital di masa-masa sulit. Jadi, jangan buat situasi jadi tambah buruk dengan menghindari partisipasi dalam gosip dalam bentuk apapun, terutama soal siapa yang berikutnya akan kena PHK. Tindakan tersebut hanya akan mencoreng sikap profesional yang selama ini telah Anda bangun, dan jangan dikira perusahaan tidak akan mengetahui aksi mempertahankan posisi yang kurang terpuji tersebut. Lebih baik, tunjukkan loyalitas Anda kepada perusahaan beserta karyawan-karyawan mereka lewat komunikasi formal dan informal di dalam tim.
Buat Diri Anda Tak Tergantikan
Tak perlu jadi jenius untuk tahu bahwa karyawan yang andal dalam multitasking dan bersedia menangani beberapa peran sekaligus sangatlah berharga buat perusahaan. Semakin besar Anda dijadikan tumpuan oleh perusahaan, semakin berkuranglah kemungkinan mereka membiarkan Anda pergi. Dan walaupun menjadi yang tak tergantikan seperti ini merupakan suatu posisi yang perlu dijaga setiap waktu, hal ini justru lebih penting saat masa-masa tengah kritis. Mengarahkan diri Anda ke posisi tersebut saat perusahaan tengah mengalami penurunan drastis bisa menjadi suatu modal jangka panjang. Betul sekali, alasan kuat yang bisa Anda ajukan saat meminta kenaikan gaji atau jabatan di kemudian hari.
By: Intan Iskandar
Redaktur Pelaksana Cosmopolitan Indonesia
Dari hari ke hari, kita tak pernah dibuat lupa soal resesi yang sekarang ini tengah berlangsung. Media kian sering menjadikannya sebagai headline, lalu muncullah kekhawatiran itu: Apakah karier saya akan terpengaruh karenanya? Saat dihadapi dengan kemungkinan hilangnya pekerjaan, Anda punya dua pilihan. Entah itu membiarkan karier Anda dibayang-bayangi oleh rasa khawatir yang berlebihan atau justru memilih untuk menghadapi situasi tersebut dengan melakukan sesuatu untuk menghindarinya. Berikut beberapa sikap profesional yang perlu Anda rangkul agar untuk mempertahankan posisi Anda di perusahaan, bahkan menjadikan situasi buruk ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan karier dalam jangka panjang.
Tingkatkan Eksistensi
Begitu kemungkinan pemutusan hubungan kerja ada di depan mata, bisa jadi insting pertama Anda adalah diam atau bahkan “bersembunyi” dan berharap bila tidak terlalu menonjol, nama Anda tidak akan masuk dalam daftar kandidat yang akan di-PHK. Ini adalah taktik yang salah. Lagipula siapa sih yang lebih dipilih oleh perusahaan untuk diberhentikan? Karyawan yang dengan jelas-jelas menunjukkan bahwa ia telah melakukan beberapa hal penting untuk memberikan kontribusi kepada perusahaan atau si-siapa-namanya-itu yang seringkali membenamkan diri di kubikel dan sulit ditemukan saat hendak dimintai bantuan? Ya, Anda pasti tahu jawabannya. Jadi, hadiri semua rapat yang diselenggarakan dan berpartisipasilah dalam ajang kantor. Hal ini akan menunjukkan semangat tinggi Anda yang tetap terjaga, komitmen senantiasa dijalani dan juga membuktikan Anda pemain tim yang baik. Jangan lupa pula untuk menjaga hubungan baik dengan atasan. Bukan berarti menjadi penjilat, melainkan secara rutin memastikan atasan tahu bahwa Anda ada di kantor untuk membantunya dan perusahaan melewati masa-masa sulit.
Jadi Relawan Untuk Kerja Tambahan
Berkurangnya staf dijamin membuat beberapa proyek atau tugas jadi terlantar. Ini adalah kesempatan bagi Anda untuk mengajukan diri dan menciptakan kesan profesional yang baik. Sikap inisiatif untuk mengerjakan tugas tambahan ini akan menunjukkan kesediaan Anda untuk berusaha maksimal dalam membantu perusahaan selama masa-masa krisis. Bisa dipastikan bos akan mengingat kontribusi tersebut dan memberikan penghargaan yang pantas atas usaha Anda saat kondisi membaik. Bukan hanya itu, keahlian kerja juga meluas karenanya dan menjadikan Anda lebih bernilai.
Kembangkan Sikap Positif
Sekarang ini bukanlah saatnya untuk mengeluh soal berkurangnya kualitas beberapa fasilitas di kantor atau menurunnya uang saku perjalanan dinas. Kesengsaraan memang senang mencari teman dan orang-orang dengan sikap negatif akan memikat pribadi-pribadi negatif pula. Percaya atau tidak, pemikiran yang merugikan ini bisa menular. Bahkan, sikap buruk ini adalah salah satu sifat yang tak diinginkan perusahaan dari karyawan mereka. Intinya, semua pihak harus melakukan beberapa pengorbanan selama periode kekacauan finansial seperti ini. Ketimbang mengeluh, tetaplah bersemangat dan berikan kontribusi positif. Bisa jadi perusahaan akan melihat Anda sebagai "hikmah" dari sebuah musibah.
Jadi Pemain Tim
Wajar untuk serta-merta mengutamakan keselamatan sendiri saat dihadapi kemungkinan terburuk soal karier. Namun sikap egois ini tak akan memberikan Anda nilai tambah dari manajemen atau kolega yang lain. Kerjasama dan komunikasi sangatlah vital di masa-masa sulit. Jadi, jangan buat situasi jadi tambah buruk dengan menghindari partisipasi dalam gosip dalam bentuk apapun, terutama soal siapa yang berikutnya akan kena PHK. Tindakan tersebut hanya akan mencoreng sikap profesional yang selama ini telah Anda bangun, dan jangan dikira perusahaan tidak akan mengetahui aksi mempertahankan posisi yang kurang terpuji tersebut. Lebih baik, tunjukkan loyalitas Anda kepada perusahaan beserta karyawan-karyawan mereka lewat komunikasi formal dan informal di dalam tim.
Buat Diri Anda Tak Tergantikan
Tak perlu jadi jenius untuk tahu bahwa karyawan yang andal dalam multitasking dan bersedia menangani beberapa peran sekaligus sangatlah berharga buat perusahaan. Semakin besar Anda dijadikan tumpuan oleh perusahaan, semakin berkuranglah kemungkinan mereka membiarkan Anda pergi. Dan walaupun menjadi yang tak tergantikan seperti ini merupakan suatu posisi yang perlu dijaga setiap waktu, hal ini justru lebih penting saat masa-masa tengah kritis. Mengarahkan diri Anda ke posisi tersebut saat perusahaan tengah mengalami penurunan drastis bisa menjadi suatu modal jangka panjang. Betul sekali, alasan kuat yang bisa Anda ajukan saat meminta kenaikan gaji atau jabatan di kemudian hari.
By: Intan Iskandar
Redaktur Pelaksana Cosmopolitan Indonesia
The 10 Laws of Sales Success
Follow these rules, and selling will become one of the easiest tasks you'll undertake.
A recent Gallup poll on the honesty and ethical conduct of business professionals found that insurance salespeople and car salespeople ranked at the bottom of the list. Bet you're not surprised to hear this. But did you know that it's not just car salespeople who have a bad reputation? Bill Brooks of the Brooks Group estimates that more than 85 percent of customers have a negative view of all salespeople.
But it doesn't have to be that way: You can prove the masses wrong, and learn to develop the skills that will have people thinking differently about the selling process. In fact, selling can be one of the most rewarding tasks you'll undertake as a business owner-but only if you follow these 10 tactics:
Law #1: Keep your mouth shut and your ears open. This is crucial in the first few minutes of any sales interaction. Remember:
1. Don't talk about yourself.
2. Don't talk about your products.
3. Don't talk about your services.
4. And above all, don't recite your sales pitch!
Obviously, you want to introduce yourself. You want to tell your prospect your name and the purpose of your visit (or phone call), but what you don't want to do is ramble on about your product or service. After all, at this point, what could you possibly talk about? You have no idea if what you're offering is of any use to your prospect.
Law #2: Sell with questions, not answers. Remember this: Nobody cares how great you are until they understand how great you think they are.
Forget about trying to "sell" your product or service and focus instead on why your prospect wants to buy. To do this, you need to get fascinated with your prospect; you need to ask questions (lots and lots of them) with no hidden agenda or ulterior motives.
Many years ago, I was selling CDs at a music festival. It didn't take me long to figure out that it wasn't my job to sell the CDs-it was my job to get the earphones on every person who walked by my booth!
I noticed right away that whenever people sensed I was attempting to "sell" them a CD, their walls of defense immediately went up and they did everything in their power to get as far away from me as they could.
So instead, I made it my job to introduce new music to anyone who wanted to put on the earphones. Once they heard the music, they either liked it or they didn't. I didn't do any "selling," and I made more money that week than any other CD hawkers at the festival.
Back then, I didn't know anything about sales, but I knew enough about human nature to understand that sales resistance is an oxymoron: The act of selling creates the resistance! Which leads us to the next principle:
Law #3: Pretend you're on a first date with your prospect. Get curious about them. Ask about the products and services they're already using. Are they happy? Is what they're using now too expensive, not reliable enough, too slow? Find out what they really want. Remember, you're not conducting an impersonal survey here, so don't ask questions just for the sake of asking them. Instead, ask questions that will provide you with information about what your customers really need.
When you learn what your customers need and you stop trying to convince or persuade them to do something they may not want to do, you'll find them trusting you as a valued advisor and wanting to do more business with you as a result.
Law #4: Speak to your prospect just as you speak to your family or friends. There's never any time that you should switch into "sales mode" with ham-handed persuasion clichés and tag lines. Affected speech patterns, exaggerated tones, and slow, hypnotic sounding "sales inductions" are never acceptable in today's professional selling environments. Speak normally, (and of course, appropriately) just as you would when you're around your friends and loved ones.
Law #5: Pay close attention to what your prospect isn't saying. Is your prospect rushed? Does he or she seem agitated or upset? If so, ask "Is this a good time to talk? If it's not, perhaps we can meet another day." Most salespeople are so concerned with what they're going to say next that they forget there's another human being involved in the conversation.
Law #6: If you're asked a question, answer it briefly and then move on. Remember: This isn't about you; it's about whether you're right for them.
Law #7: Only after you've correctly assessed the needs of your prospect do you mention anything about what you're offering. I knew a guy who pitched a mannequin (I'm not kidding)! He was so stuck in his own automated, habitual mode, he never bothered to notice that his prospect wasn't breathing. Don't get caught in this trap. Know whom you're speaking with before figuring out what it is you want to say.
Law #8: Refrain from delivering a three-hour product seminar. Don't ramble on and on about things that have no bearing on anything your prospect has said. Pick a handful of things you think could help with your prospect's particular situation, and tell him or her about it. (And if possible, reiterate the benefits in his own words, not yours.)
Law #9: Ask the prospect if there are any barriers to them taking the next logical step. After having gone through the first eight steps, you should have a good understanding of your prospect's needs in relation to your product or service. Knowing this, and having established a mutual feeling of trust and rapport, you're now ready to bridge the gap between your prospect's needs and what it is you're offering. You're now ready for:
Law #10: Invite your prospect to take some kind of action. This principle obliterates the need for any "closing techniques" because the ball is placed on the prospect's court. A sales close keeps the ball in your court and all the focus on you, the salesperson. But you don't want the focus on you. You don't want the prospect to be reminded that he or she is dealing with a "salesperson." You're not a salesperson, you're a human being offering a particular product or service. And if you can get your prospect to understand that, you're well on your way to becoming an outstanding salesperson.
________________________________________
Len Foley, a renowned sales and sales management trainer, is the creator of the bestselling program "Sales Without the Sucker Punch!" Foley's technology has been used by dozens of corporations, and offers simple, cutting-edge strategies applicable to any business that sells directly to the end-user. He is also co-author of the book, Your Successful Sales Career.
http://www.entrepreneur.com/sales/tipsfromexperts/article65984.html#ixzz0L190deL7&D
A recent Gallup poll on the honesty and ethical conduct of business professionals found that insurance salespeople and car salespeople ranked at the bottom of the list. Bet you're not surprised to hear this. But did you know that it's not just car salespeople who have a bad reputation? Bill Brooks of the Brooks Group estimates that more than 85 percent of customers have a negative view of all salespeople.
But it doesn't have to be that way: You can prove the masses wrong, and learn to develop the skills that will have people thinking differently about the selling process. In fact, selling can be one of the most rewarding tasks you'll undertake as a business owner-but only if you follow these 10 tactics:
Law #1: Keep your mouth shut and your ears open. This is crucial in the first few minutes of any sales interaction. Remember:
1. Don't talk about yourself.
2. Don't talk about your products.
3. Don't talk about your services.
4. And above all, don't recite your sales pitch!
Obviously, you want to introduce yourself. You want to tell your prospect your name and the purpose of your visit (or phone call), but what you don't want to do is ramble on about your product or service. After all, at this point, what could you possibly talk about? You have no idea if what you're offering is of any use to your prospect.
Law #2: Sell with questions, not answers. Remember this: Nobody cares how great you are until they understand how great you think they are.
Forget about trying to "sell" your product or service and focus instead on why your prospect wants to buy. To do this, you need to get fascinated with your prospect; you need to ask questions (lots and lots of them) with no hidden agenda or ulterior motives.
Many years ago, I was selling CDs at a music festival. It didn't take me long to figure out that it wasn't my job to sell the CDs-it was my job to get the earphones on every person who walked by my booth!
I noticed right away that whenever people sensed I was attempting to "sell" them a CD, their walls of defense immediately went up and they did everything in their power to get as far away from me as they could.
So instead, I made it my job to introduce new music to anyone who wanted to put on the earphones. Once they heard the music, they either liked it or they didn't. I didn't do any "selling," and I made more money that week than any other CD hawkers at the festival.
Back then, I didn't know anything about sales, but I knew enough about human nature to understand that sales resistance is an oxymoron: The act of selling creates the resistance! Which leads us to the next principle:
Law #3: Pretend you're on a first date with your prospect. Get curious about them. Ask about the products and services they're already using. Are they happy? Is what they're using now too expensive, not reliable enough, too slow? Find out what they really want. Remember, you're not conducting an impersonal survey here, so don't ask questions just for the sake of asking them. Instead, ask questions that will provide you with information about what your customers really need.
When you learn what your customers need and you stop trying to convince or persuade them to do something they may not want to do, you'll find them trusting you as a valued advisor and wanting to do more business with you as a result.
Law #4: Speak to your prospect just as you speak to your family or friends. There's never any time that you should switch into "sales mode" with ham-handed persuasion clichés and tag lines. Affected speech patterns, exaggerated tones, and slow, hypnotic sounding "sales inductions" are never acceptable in today's professional selling environments. Speak normally, (and of course, appropriately) just as you would when you're around your friends and loved ones.
Law #5: Pay close attention to what your prospect isn't saying. Is your prospect rushed? Does he or she seem agitated or upset? If so, ask "Is this a good time to talk? If it's not, perhaps we can meet another day." Most salespeople are so concerned with what they're going to say next that they forget there's another human being involved in the conversation.
Law #6: If you're asked a question, answer it briefly and then move on. Remember: This isn't about you; it's about whether you're right for them.
Law #7: Only after you've correctly assessed the needs of your prospect do you mention anything about what you're offering. I knew a guy who pitched a mannequin (I'm not kidding)! He was so stuck in his own automated, habitual mode, he never bothered to notice that his prospect wasn't breathing. Don't get caught in this trap. Know whom you're speaking with before figuring out what it is you want to say.
Law #8: Refrain from delivering a three-hour product seminar. Don't ramble on and on about things that have no bearing on anything your prospect has said. Pick a handful of things you think could help with your prospect's particular situation, and tell him or her about it. (And if possible, reiterate the benefits in his own words, not yours.)
Law #9: Ask the prospect if there are any barriers to them taking the next logical step. After having gone through the first eight steps, you should have a good understanding of your prospect's needs in relation to your product or service. Knowing this, and having established a mutual feeling of trust and rapport, you're now ready to bridge the gap between your prospect's needs and what it is you're offering. You're now ready for:
Law #10: Invite your prospect to take some kind of action. This principle obliterates the need for any "closing techniques" because the ball is placed on the prospect's court. A sales close keeps the ball in your court and all the focus on you, the salesperson. But you don't want the focus on you. You don't want the prospect to be reminded that he or she is dealing with a "salesperson." You're not a salesperson, you're a human being offering a particular product or service. And if you can get your prospect to understand that, you're well on your way to becoming an outstanding salesperson.
________________________________________
Len Foley, a renowned sales and sales management trainer, is the creator of the bestselling program "Sales Without the Sucker Punch!" Foley's technology has been used by dozens of corporations, and offers simple, cutting-edge strategies applicable to any business that sells directly to the end-user. He is also co-author of the book, Your Successful Sales Career.
http://www.entrepreneur.com/sales/tipsfromexperts/article65984.html#ixzz0L190deL7&D
Subscribe to:
Posts (Atom)