Tuesday, March 31, 2009

Lima Alasan Utama Mengapa Anak Buah Benci Atasannya

Memang benar, sebagai atasan kita tidak bisa menyenangkan semua anak buah. Masalahnya, apakah kita tidak disukai mayoritas anak buah, atau malah sebaliknya? Mengapa ada atasan yang tidak disukai oleh para anak buah? Apa penyebabnya ? Berikut ini adalah 5 alasan yang paling utama.

Namun ada hal lain yang juga mempengaruhi motivasi dan kinerja kerja karyawan, seperti lingkungan kerja yang nyaman, jam kerja yang fleksible, atasan yang terbuka terhadap masukan dan lain sebagainya.


1. Karyawan butuh dihormati
Keluhan paling utama para karyawan adalah karena atasan mereka tidak menghormati mereka, dalam hal,
a. Waktu privasi (misalnya sering telpon diwaktu tengah malam hari atau saat merayakan ulang tahun anak )
b. Waktu kerja (sebentar-bentar selalu dipanggil oleh atasan, sehingga ia tidak punya waktu konsentrasi kerja )
c. Keterampilan anak buah. Selalu memandang rendah skill dan pengalaman anak buah. Jarang menanyakan pendapat atau sudut pandang bawahan.

2. Apakah Anda tipe "Watched-Dog Manager"atau "Under-Manager"?
Kedua tipe manager di atas sama-sama tidak dihormati oleh anak buah mereka.

Watched-Dog-Manager tidak pernah percaya pada anak buah, selalu mengawasi setiap gerakan anak buah, tidak pernah bertanya pendapat bawahan dan anak buah menjalankan tugasnya seperti mesin.

Tipe "Under-Manager" mengelola anak buahnya dengan banyak beri kebebasan dalam arti tanpa bimbingan, tanpa informasi yang cukup, tanpa komunikasi dua arah, susah bertemu dengan atasan, jarang diberikan dukungan moral, sehingga sepertinya serba “kekurangan” dukungan dari atasan. Atasan tipe seperti ini mungkin tidak galak atau pemarah, tetapi ia tipe atasan yang "tidak terlihat" ( invincible leader ).

Kedua tipe atasan ini menebar aura yang tidak dihormati oleh para bawahannya.

3. Gaji Kecil + Atasan Otoriter
“Sudah gaji tidak cukup, atasan saya orangnya otoriter lagi.”.

Banyak karyawan yang merasa gajinya kecil dan tidak cukup. Ditambah dengan beban kerja yang berat plus atasan yang otoriter, maka karyawan semakin “malas” mendukung atasan langsungnya dalam menuntaskan tugas.

Seorang karyawan pernah berkata,"Sebenarnya saya punya kemampuan kerjakan tugas dalam 3 jam, tapi buat apa saya kerjakan cepat-cepat, saya sengaja kerjakan 2 hari. Buat apa saya mendukung atasan saya, dia orangnya otoriter, tidak mau tahu kesulitan saya dan lagipula gaji saya juga kecil."

Sebetulnya apabila hubungan atasan langsung dengan anak buahnya baik, keduanya saling menghormati, anak buah respek pada atasan langsung, maka keluhan gaji kecil, bisa diminimalisir.

4. Killing-Field-Meeting
Pada umumnya para karyawan tidak suka dengan pemimpin yang sering "membunuh" produktivitas mereka melalui media yang bernama "MEETING".

Ciri-ciri rapat yang “membantai” produktivitas dan semangat kerja karyawan adalah :
1. Sering lakukan rapat yang mendadak, sehingga bawahan tidak sempat mengatur jadwal kerja dengan efektif.
2.Lakukan rapat tanpa notulen, sehingga membahas ulang masalah yang pernah dibahas ( ini membuang waktu bawahan sehingga ia harus kerja lembur, karena jam kerja normalnya tersita oleh rapat tidak efektif ).
3.Agenda rapat yang tidak jelas dan kemana-mana.
4.Rapat yang membahas masalah 1 orang tertentu, sedangkan yang lain "dipaksa"untuk mendengarkan ( walaupun tidak relevan dengan tugas mereka).
5.Rapat yang tidak ada time-limit dan time-keeper
6."Ditembak" dan dipermalukan oleh atasan di dalam rapat.

5. Atasan tipe "Lempar Batu Sembunyi Tangan"
Karyawan :"Pak tugas seperti ini cara kerjakannya bagaimana?"
Atasan : "Terserah kamu, kamu yang pikirkan?"
Karyawan :"Tapi saya tidak punya pengalaman Pak dalam hal ini. Menurut Pak, lebih baik cara A atau cara B?"
Atasan :"Terserah kamu....saya sedang melatih inisiatif kamu"( padahal sesungguhnya ia juga tidak tahu cara kerjakannya)

Tetapi saat bawahan melakukan cara yang telah ia diskusikan, dan ternyata salah. Atasan marah dan menyalahkan anak buah.

Atasan model seperti ini sudah jelas telah kehilangan respek dari bawahan. Dari lima penyakit best seller diatas, dapat disimpulkan bahwa penyebab utama atasan yang tidak disukai oleh bawahan adalah :
1. Ketrampilan Leadership – Management – Communication si atasan yang tidak efektif
2.Karakter atasan yang memang tidak kondusif

Alasan pertama lebih mudah diperbaiki, kalau si atasan selalu mau belajar dan memperbaiki diri. Yang agak sulit adalah alasan kedua. Kalau sudah menjadi watak atau karakter, akan makan waktu cukup lama untuk memperbaikinya. Tetapi lebih baik terlambat untuk memperbaiki, dari pada tidak sama sekali, bukan?

Dan yang terpenting dari semuanya ini, Apakah Anda ingin dikenang sebagai pemimpin teladan dan memberkati anak buah Anda, atau Anda ingin dikenang sebagai atasan yang menyebalkan. Putuskan sekarang juga!

Quote ; Leadership

“I truly don’t think leadership is a gift. Calling it a gift is part of the voodoo of leadership. Leadership is accessible to anyone who wants it. It’s a choice; you decide what you want your life to be about and you go after it. It’s not that mystical.”

- Barbara Waugh

Thursday, March 26, 2009

Re Life (1) Hari gini Gaji Buta..???

Hahaha.. emang paling-paling gelo kalau ngebahas gaji buta.. siapapun pasti malu-malu untuk mengiyakan .. hem hemmm.. sebenarnya ngapain aja seharian di kantor, secara kerjaan juga biasaaa aja gitu loh.. rada binggung juga sih.. tapi honestly, sebagai penduduk yang hingga saat ini punya tag "karyawan" gw pikir pasti ada aja yang seharian di kantor benggong, atau setengah harian.. atau mondar-mandir sibuk ngisengin temen yang lagi saik-saiknya gawe, atauw malah diri loe yang menyibukkan diri dengan buka web itu ini di internet.. hahaha....

gak penting bangett ah, kalau memang loe pada ngerasa makanin gaji buta.. duuuhh.. hari gini kan lagi banyak orang yang nganggur, di PHK, di eliminasi kerennya gitu, belum lagi dirasionalisasi, bahkan di beberapa perusahaan termasuk di kantor gw bekerja sudah lebih dari 30% total karyawannya mengalami rasionalisasi alias PHK..

So WHAT gitu lohhh..?

Nah, ini dia.. mungkin ada saran yang lumayan memberikan pencerahan buat temen-temen di sini untuk mengimbangi atau katakanlah confession of Makan Gaji Butaaaa... hahaha....

a. yang jelas memang diperlukan tonik, tenaga super duper yang mumpuni untuk mau mengakui kalo loe teh udah keliru.. mengaku dosa gitu lah.. karena 'kan perusahaan udah bayar loe untuk menyelesaikan pekerjaan dan menyelesaikan masalah-masalah yang diharapkan manajemen

b. take your time..maksudnya lebih ke arah untuk merefleksikan seberapa waktu yang udah loe gunakan untuk kegiatan-kegiatan atau tugas-tugas atau ide-ide dan memikirkan tentang perusahaan di mana loe gawe....

c. first think first .. nah loh.. gini loh.. kalo ada telepon, atau bla-bla yang ga perlu dilakukan, ya lakukan aja yang menurut loe itu paling penting dan paling perlu diduluin.. hem hemmm.. gini gini.. maksudnya adalah kan loe bisa aja menganggap semua "pekerjaan" yang ada di muka eh salah .. maksudnya di meja loe teh udah bener-bener ngejelimet, semuanya harus diselesaikan, belum lagi telepon krang kringgg kringg terus-terusan..

nah kalao udah gini sebaiknya loe ambil secarik kertas dan sebilah eh sebuah pulpen atau pensil, terus tuliskan semacam daftar pekerjaan apa yang bakal dilakukan.. apa aja dah.. pokoknya segambbbreng juga boleh, yang penting pada hari itu dan seterusnya daftar "menu" yang loe bikin ini sebagai ujud doa.. eh salah.. ujud komitmen untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan yang dilakoni dalam posisi loe sesuai dengan job description dan beban kerja (work load) yang ditetapkan manajemen

Penasaran?

Hehehe.. silahkan dicoba yaa.. mungkin aja bermanfaat buat mengatasi Burnout atau kejenuhan yang kian kuat melanda diri loe, atau bahkan untuk memperbaiki kinerja jitu loe di hadapan bos-bos ketimbang ngerumpi atau cuman cari cari jati diri loe di depan bos-bos alias car muk..

Semoga Berhasil!

- Depok UI yang dingggin -

Wednesday, March 25, 2009

Change Maker - Changes Your DNA !

Quote from Re Code Your DNA book

"Seorang changes maker dapat menghancurkan nilai-nilai lama, tetapi semua dikerjakannya ada perkiraan waktu.

Seorang changes maker menghancurkan nilai-nilai lama dan sekaligus membangunnya kembali.
Semuanya berjalan secara sistematis, meski belum tentu dilakukan secara tertulis

Singggkat, padet, priority scale lah...

Meringkas Jumlah Undangan Pernikahan
Diskusikan dengan orangtua mengenai siapa yang harus diundang.

Orangtua Anda mungkin memiliki banyak klien, kolega, atau kerabat, sedangkan Anda pun termasuk orang yang aktif sehingga memiliki teman-teman di mana-mana. Hal ini ternyata menjadi merepotkan saat tiga waktunya Anda menyeleksi daftar tamu yang harus diundang pada pernikahan Anda. Anda bingung siapa yang harus "dieliminasi" dari daftar tamu, padahal Anda merasa orang-orang tersebut pernah terlibat dalam aktivitas Anda.

Bila Anda menghadapi hal seperti ini, ikuti cara memangkas jumlah tamu:

Mulailah dengan persentase. Setelah mengamati gedung perkawinan, dan jumlah tamu yang dapat ditampung, lalu bagi tamu menurut persentasenya: 50% untuk tamu Anda dan pasangan, 25% untuk tamu masing-masing orangtua. Menurut Anna Post, penulis buku Do I Have to Wear White?, jika orangtua Andalah yang membiayai pernikahan ini, Anda memang terpaksa memberikan persentase yang lebih tinggi. Jika belakangan terlihat ada "sisa" undangan, Anda dapat mengalokasikan tempat tersebut untuk siapa saja yang membutuhkan lebih banyak undangan.

Berikan pengarahan pada orangtua. Memang sulit jika hidup Anda masih dipengaruhi oleh orangtua. Namun Anda bisa memberikan "pengarahan" secara spesifik kepada orangtua untuk menyeleksi daftar undangan, sebelum mereka mulai menelepon teman-teman, keluarga, dan kerabat lain untuk ikut menghadiri acara pernikahan Anda.

Buat tingkatan. Begitu Anda menyelesaikan draft dari daftar undangan Anda secara lengkap, tempatkan setiap tamu ke dalam kategori hubungan, demikian saran Sharon Naylor, penulis 1001 Ways To Save Money... and Still Have a Dazzling Wedding. Urutan pertama terdiri atas anggota keluarga terpenting (kakek-nenek, kakak-adik, paman-bibi, dan sepupu langsung). Urutan kedua adalah teman-teman dekat dan keluarga dekat (sepupu tak langsung). Ketiga adalah teman kantor dan teman main. Ketika Anda mengetahui berapa banyak tamu yang dapat Anda undang, mulailah memotong daftar dari lapisan ketiga. Anda tidak akan merasa bersalah karena menghapus seluruh kelompok tingkatan ini (misalnya teman kantor, atau komunitas memasak Anda), daripada hanya mengundang beberapa dari mereka.

Lakukan tes "satu tahun". Jika Anda tidak yakin siapa yang akan diundang, tanyakan pada diri Anda sendiri, pernahkah Anda bertemu, menelepon, berkirim SMS atau email, dengan teman Anda ini dalam setahun? Menurut David Tutera, event planner dan host acara TV My Fair Wedding, "Jika jawabannya tidak, Anda tidak perlu resah karena menghapusnya dari daftar undangan.

Buat konsep pernikahan yang lebih pribadi. Boleh dibilang, inilah cara paling mudah untuk menjaga daftar tamu Anda tidak membludak. Anda bisa kok menyelenggarakan acara pernikahan untuk keluarga dan teman-teman dekat saja. Setelah kembali dari berbulan madu, Anda bisa mengadakan acara makan-makan bersama -misalnya- teman-teman kantor yang tidak Anda undang.

Sumber : Real Simple

Tuesday, March 24, 2009

Never Ending or dinosaurus nich..?

Hari gini kok masih juga bingung mau ngapain ya..? Gini aja dech.. daripada cerita panjang lebar dan menyita banyak waktu, gw cuman mau sharing tentang sesuatu yang "hebat" di lingkungan kerja gw belakangan ini,anyway semuanya sedang berjalan dan bagaimanapun ini telah menjadi challenges lah, ada asa juga di situ, ada juga optimisme dan banyak hal yang dipelajari dari lingkungan di mana kita boleh memberikan kontribusi.

Oke ini yang mau gw sharing kan di blog ini. Semoga bermanfaat buat inspirasi yaaaa...

Supaya tumbuh ke atas dan semakin kuat, maka fondasinya juga harus kuat yaitu filosofi berpikir . Quote ini gw peroleh dari buku CHANGE nya RHENALD Kasali yang memberikan inspirasi - relevan ama si filsuf Sorcrates : Saya Berpikir maka Saya ada. Hahaha... udah ah, ntar aja yang ini dibahasnya.. rada ribet gitu sich.. filsafat eksistensi kan identik dengan keterlibatan manusia untuk memenuhi banyak hal yang dia mau.

Untuk itu ada satu hal yang katanya dapat membantu kita untuk mengembangkan filosofi berpikir yang semakin terbuka _ openness dan never ending.. yang pasti, itulah yang membuat kita semakin terbuka dan memahami realitas sehari-hari

Ada beberapa cara untuk membuka diri terhadap pengalaman hidup, namun di sini yang diungkap adalah 2 hal yang ekstrem menurut gw yaitu:
yang pertama, adalah cara berpikir "museum" di mana seseorang cenderung untuk :
1. fokus pada "sekarang" dan "di sini", apa yang kasat mata; leibh menyukai hal-hal yang rutin dan sudah dikenal
2. lebih menyukai hal-hal yang rutin dan sudah dikenal (familiar)
3. memiliki sedikit minat
4. leibh menykai hal-hal yang kontroversial
5. tidak menganggap penting emosi
6. cenderung dogmatik (paternalistik)

yang kedua, adalah cara berpikir terbuka, cenderng untuk
1. imaginatif dan kreatif
2. lebih menyukai keberagaman (variety) dan hal-hal baru (novelty)
3. banyak pilihan dan minat
4. mengutamakan hal-hal baru yang original
5. sangat menghargai emosi
6. cenderung fleksibel

Selanjutnya ada lagi nich yang disebut dengan keterbukaan terhadap kesepakatan (negotiable), yaitu
A. keterbukaan yang rendah, cenderung:
1. Skeptis/ ragu-ragu
2. Merasa super
3. Arogan / tinggi hati
4. Enggan bekerja sama
5. Menolak/ kasar
6. Agresif
7. Kompetitif

B. Keterbukaan tinggi, cenderung:
1. Mempercayai
2. Sederhana
3. Ingin melimpahkan wewenang
4. Kooperatif
5. Altruistic, memberi dan bersahabat
6. Menerima
7. Mengorbankan pribadi sendiri


Nah loh.. menurut loe bagian mana yang secara _ cocok banggget ama diri loe.. ?

hehehe..

have a good day..

-margonda raya, depok 24 maret 2009-